Namaku Auryn, seorang mahasiswa yang berkuliah di salah satu kampus swasta di ibu kota. Aku merupakan mahasiswa yang bermasalah dan sangat tertutup pada orang lain kecuali dengan teman-temanku yang sama bermasalahnya denganku.
Orang lain menilaiku sebagai gadis yang berkepribadian dingin dan tidak memperdulikan sekitarku, aku mengakui semua itu.
Perlahan sifatku mulai berubah sejak mengenal Dosen yang bergelar Doktor muda di kampusku. Aku tertarik padanya dan melakukan hal yang tidak biasa kulakukan untuk bisa akrab dengannya.
Sifatnya yang berbeda dari kebanyakan orang membuatku penasaran padanya, karena dia aku berusaha ingin menjadi lebih baik lagi.
Aku berharap dialah takdirku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menyukaimu
Waktu berjalan sangat cepat, kini aku tiba di penghujung semester. Banyak perubahan yang terjadi pada diriku semenjak mengenal kak Rafqi, akupun makin dekat dengannya dan mulai berbicara dengan nyaman saat kami diluar pertemuan kelas.
Sifat Auryn yang dulu benar-benar sudah hampir hilang bersamaan dengan munculnya Auryn yang baru. Kak Rafqi yang membantuku mengubah semua itu, kini aku bukanlah Auryn yang kacau dan tidak terarah. Perlahan aku memiliki keinginan-keinginan baru, cita-cita yang baru dan harapan-harapan yang baru. Sekarang akupun lebih sering menghabiskan waktuku dengan membaca buku diperpustakaan atau sekedar ke toko buku membeli beberapa buku bacaan. Aku juga sudah sangat jarang berkumpul dengan teman-temanku lagi kecuali dengan Laras yang satu atap denganku, akan tetapi aku tetap rutin bertukar kabar dengan yang lain termasuk kak Shandi melalui sosial media. Satu-satunya yang tidak berubah dariku adalah aku masih menjadi Auryn yang berkepribadian dingin dan keras, masih belum bisa terbuka dengan orang lain dan aku masih menyimpan masalahku di masa lalu dan masih tidak bisa berdamai dengan keluargaku.
***
Hari ini aku telah berjanji untuk menemani kak Rafqi ke toko buku sekalian aku juga ingin membeli buku bacaan untuk di baca malam ini. Entah kapan aku mulai akrab dengannya, semua mengalir seperti air saat ini. Disaat dulu aku terus saja berusaha menghindarinya malah sekarang dia adalah orang yang paling dekat denganku, selalu mengajariku dan memberikanku motivasi serta berusaha membawaku ke arah yang benar.
Aku berdiri di jalan raya depan kos ku menunggu kedatangannya. Sebelumnya kak Rafqi mengirim pesan bahwa ia sudah dalam perjalan jadi segera mungkin aku bersiap dan menunggunya di seberang jalan. Tidak lama kemudian sebuah mobil yang ku ketahui milik kak Rafqi berhenti tepat didepanku.
"Naiklah" ucapnya ketika membuka kaca mobil tersebut. Dengan langkah yang cepat aku berjalan ke pintu mobil sebelah kemudi membukanya kemudian duduk didalam sana dengan tenang setelah memasang safety belt.
"Kau sudah lama menungguku?" Tanyanya begitu aku selesai memasang safety belt tersebut
"Tidak, aku baru saja keluar dari kamar kos tadi" Jawabku menggelengkan kepala sembari tersenyum kecil
Kak Rafqi kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Selama perjalanan kami banyak mengobrol dengan diiringi candaan kecil, kak Rafqi adalah orang kedua setelah kak Shandi yang bisa membuatku tersenyum dan merasa nyaman saat didekatnya. Sejak menjadi akrab dengan dosenku ini, aku lebih banyak tertawa. Tidak ku sangka juga ternyata kak Rafqi adalah orang yang humoris dan humble namun tetap menjaga sopan santunnya, aku bahkan belum pernah bersentuhan langsung dengannya dan aku juga tidak pernah melihatnya berkontak fisik dengan wanita manapun meskipun seringkali aku melihat ia mengobrol dengan wanita dengan akrabnya.
Mobil yang ku tumpangi dengan kak Rafqi berhenti di toko buku yang sering kami datangi bersama. Kak Rafqi kemudian memarkirkan mobilnya lalu mengajakku turun dari mobil dan masuk ke dalam toko buku bersama.
"Kau ingin membeli buku apa?" Tanyanya sembari menatapku sebentar menunggu jawaban
"Entah, aku sungguh bosan dengan buku pelajaran yang ku baca setiap hari dan lagi masih ada beberapa buku yang belum ku baca di kos. Sepertinya hari ini aku mau membaca novel saja, lagi pula inikan akhir pekan. Kak Rafqi sendiri, ingin membeli buku apa?"
"Buku filsafat, akhir-akhir ini Aku senang membacanya" jawabnya sembari memilih buku yang di maksud
"Kalau begitu, aku pergi mencari buku juga"
"Baiklah, nanti ku susul" aku mengganguk kecil mengiyakannya
Kususuri rak-rak buku yang sudah ku hapal di toko buku tersebut dengan niat mencari buku yang barangkali bisa menarik minatku untuk membacanya. Mataku tertuju pada sebuah buku yang memiliki sampul unik, seperti biasa jika tidak ada buku yang menarik minatku maka aku akan memilihnya dengan melihat sampulnya. Aneh bukan?
"Kau sudah menemukan bukunya?" Tanya kak Rafqi ketika bertemu denganku
"Sudah" jawabku sembari menunjukkan buku yang ku ambil tadi
"Ya sudah, sekarang kita ke kasir"
Setelah membayar buku tersebut kamipun keluar dari toko buku menuju ke tempat parkir dimana mobil kak Rafqi terparkir
"Apa kau lapar?" Tanyanya begitu kami berada di dalam mobil
"Sedikit" Jawabku seadanya karena merasa tidak terlalu lapar
"Baiklah kalau begitu kita makan sebentar" putusnya kemudian, lalu mengemudikan mobilnya menuju restoran terdekat
Setelah selesai makan, kamipun kembali ke mobil kemudian kak Rafqi mengantarkanku pulang ke kos.
"Masuklah" katanya begitu mobilnya sudah berada didepan kos ku, kemudian aku turun dari mobilnya dan berjalan dengan cepat ke arah kursi kemudi
"Terima kasih banyak kak, hati-hatilah menyetir" ucapku dengan senyum kecil
"Baiklah, masuklah ke kamarmu" Aku mengangguk mengiyakan
"Kabari aku jika kau sudah sampai dirumahmu" kataku sebelum berlalu pergi dari sana dan melangkahkan kakiku menuju kamarku.
Aku berdiam diri sejenak lalu berbalik untuk memastikan kak Rafqi sudah pergi atau belum. Ku lihat mobilnya sudah tidak ada disana, akupun kembali melangkah sambil mencari kunciku didalam tas kecil yang kubawa. Namun niatku untuk masuk ke kamar terurungkan karena mendengar seseroang memanggilku
"Zaidan" sapaku kepada si pemanggil
"Kau dari mana?" Tanyanya begitu tiba dihadapanku
"Aku baru saja kembali dari toko buku" jawabku seadanya
"Apa kau bisa meluangkan waktumu untukku?, aku ingin memberitahumu sesuatu"
"Apa yang ingin dia bicarakan?" batinku bertanya-tanya. Aku sejenak berpikir untuk ikut dengannya karena aku merasa lelah setelah pulang dari toko buku tadi, namun kemudian aku tetap mengiyakannya karena aku tidak enak dengan Zaidan yang sudah berteman lumayan lama juga denganku. Ia kemudian mengajakku ke mobilnya dan segera membawaku pergi dari sana
***
Aku dan Zaidan saat ini berada di taman mini tempatku dan kak Rafqi sering menghabiskan waktu ketika sedang tidak ada kesibukan. Karena tidak bisa berlama-lama, akupun segera menyuruh Zaidan untuk to the point dengan apa yang ingin di katakannya
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyaku tidak sabaran karena aku benar-benar merasa lelah hari ini
"Aku... " Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi entah apa itu. Yang ku lihat raut wajahnya telihat sangat gugup, aku masih setia menunggu perkataannya yang masih ia susun sebelum di keluarkan
"Kau kenapa?" Desakku karena merasa kesal menunggu perkataannya yang bekum keluar dari mulutnya dan cukup lama ia tahan
"Aku menyukaimu" Ucapnya kemudian yang tidak ku mengerti sama sekali. Setelah kata itu keluar dari mulutnya dia menjadi lebih gugup lagi
"Aku juga jelas menyukaimu bodoh, kita kan teman" jawabku dengan polosnya sambil terkekeh karena tidak mengetahui maksud dari perkataannya.
"Bukan itu maksudku" Ia menggaruk kepalanya frustasi
"Lalu maksudmu apa?" seruku dengan kesal karena dia membuatku kebingungan
"Aku menyukaimu, aku menyimpan rasa padamu sebagai lelaki bukan sebagai teman. Aku tidak tau kapan dimulainya, tapi...aku merasa senang jika kau ada di dekatku" jelasnya gugup
Perlahan aku mengerti maksudnya, tapi aku tidak tau bagaimana harus bersikap. Ekspresiku langsung berubah menjadi datar, apa yang harus ku katakan pada Zaidan sekarang?. Ini adalah ungkapan cinta untukku yang pertama kali ku dengar tapi aku tidak merasakan apa-apa selain rasa terkejut dan bingung menanggapinya
"Kenapa kau hanya diam?"
"Lalu aku harus bagaimana?"Tanyaku bingung
"Apa kau tidak merasakan hal yang sama"
"Aku juga senang berada di dekatmu, aku juga menyukai mu tapi itu semua berlaku untuk teman-temanku yang lainnya" Jawabku jujur
"Kau sama sekali tidak memiliki perasaan yang khusus untukku?" ucapnya dengan wajah yang penuh harap
"Maaf tapi aku hanya menganggapmu sebatas teman, hanya itu tidak lebih. kau orang yang baik, aku sangat senang berteman denganmu" Ia hanya menundukkan kepalanya mendengar kata-kataku.
Apa aku baru saja menolaknya?
Ini adalah ungkapan cinta yang pertama kali ku dengar dan aku menolak dengan mudahnya?
Tapi jika tidak menolaknya, aku harus apa? tidak mungkin juga jika aku menerimanya karena jelas-jelas aku tidak memiliki perasaan khusus kepadanya
"Baiklah, aku mengerti"
dsaat pad KUMpul psti ada laras
novelnya👍👍