"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16. Panggilan Sayang
Arruna melangkah mendekat ke arah Revald dengan penuh percaya diri. Kalau gaun yang dia pilih, Revald juga akan menyukaimya. Sehingga Arruna tidak perlu capek-capek mencoba beberapa gaun lagi. Karena jujur, saat ini perutnya butuh diisi makanan. Dia merasa begitu lapar, namun enggan mengatakannya.
"Ya udah, ambil ini aja," putus Arruna karena Revald tidak kunjung memberi tanggapan.
"Tunggu!" cegah pria yang tengah mengenakan kemeja dengan lengan yang digulung sampai siku. Membuat Arruna menghentikan langkahnya yang ingin beranjak dari sana.
"Kenapa lagi?" tanya Arruna dengan wajah yang mulai kesal.
Di saat dirinya bertanya bagaimana gaun yang dia kenakan saat ini, namun pria itu justru mengabaikan. Giliran akan berganti dengan gaun yang lain, malah mencegah dirinya. Benar-benar pria yang suka bertingkah seenaknya sendiri.
"Diem jangan banyak protes." tegas Revald menatap dingin Arruna.
Pun Arruna menurutinya daripada ia yang akan rugi nantinya. Membiarkan pria itu menelisik penampilannya. Bahkan sampai menyuruhnya berputar sekali lagi.
"Ini udah paling bagus di antara yang lain," ujar Arruna tanpa disuruh. Membuat Revald menatap Arruna seraya mengangkat satu alis.
"Kamu mau nikah atau mau ke pantai?"
Pertanyaan yang terlontar dari pria datar tersebut begitu menyebalkan. Tidak tahu apa baju apa yang tengah Arruna kenakan saat ini.
"Kamu nggak pernah liat gaun pengantin, ya?" Arruna balik bertanya sembari menatap penuh wajah pria yang lebih tinggi darinya. Padahal tinggi Arruna saja mencapai seratus enam puluh delapan. Lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita.
Revald mendengkus. Wanita itu pikir, dirinya berasal dari goa yang tidak tahu seperti apa modelan gaun pengantin.
"Ini terlalu terbuka di bagian depan," ungkap Revald. Ia malas berdebat dengan Arruna. Terlebih lagi mereka saat ini sedang berada di tempat umum.
Arruna mengikuti arah dari telunjuk Revald yang menunjuk bagian dadanya. Wanita itu merasa tidak ada yang salah dengan bagian dadanya. Karena memang tidak terlalu terbuka seperti pakaiannya dulu sewaktu datang ke club malam. Menurutnya ini masih sangat sopan dan sangat tertutup. Hanya terlihat bagian belahan yang tidak terlalu rendah. Tidak sampai memperlihatkan bulatan yang memang ukurannya lebih besar dari pada milik teman barunya.
"Enggak, ih. Biasa aja, Pak--" Arruna langsung menutup mulutnya karena salah memanggil Revald dengan sebutan bapak. "Eh, mmmm ...." Arruna bingung mau memanggil Revald dengan sebutan bagaimana. Dia belum terbiasa memanggil Revald dengan sebutan 'sayang' seperti yang pria itu intruksikan kepada dirinya. Mau memanggil dengan sebutan 'mas' pun Arruna merasa aneh.
"Biasa saja. Di sini nggak ada orang." sahut Revald yang sepertinya tahu kesulitan Arruna dalam memanggil namanya.
Sementara itu beberapa staf butik yang berada di sekitar mereka pun saling melirik. Memangnya mereka tidak terhitung sebagai orang? Namun, kenyataannya mereka tidak berani menyuarakan keberatan yang tetap terpendam di dalam hati.
"Ini nggak terlalu terbuka dibanding pakaianku yang dulu, Vald," ujar Arruna sedikit ragu memanggil pria yang sebenarnya atasannya tersebut dengan hanya menyebut namanya saja. Tetapi jika melihat dari reaksi Revald uang tampak tidak keberatan, Arruna pun mulai membiasakan diri.
Arruna mundur ketika Revald maju satu langkah hingga kemudian pria itu mencondongkan wajahnya ke arahnya.
"Mas. Panggil aku dengan sebutan itu," bisik Revald memerintah Arruna memanggil dirinya dengan sebutan yang dia inginkan. Karena itu lebih baik daripada hanya memanggil dengan namanya saja. Sebab usia mereka terpaut lumayan jauh.
Kali ini Arruna yang terbengong dengan permintaan pria ini. Pasalnya yang dia tahu, panggilan seperti itu Naomi pakai untuk orang yang berjualan makanan di pinggir jalan. Naomi selalu memanggil mereka dengan sebutan itu.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah