NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Trauma Masa Lalu Saqira**

Langit kontrakan 5x4 jam 01.12. Lampu teplok udah mati. Tinggal cahaya bulan nyelinap dari ventilasi.

Kirana merem di sofa. Bandana pink Saqira masih dipeluk. Napasnya teratur.

Saqira duduk di lantai. Sandaran tembok. High heels sebelah dilepas. Kaki kapalan dia urut pelan. Di tangannya ada foto lusuh. Pinggirannya sobek. Foto keluarga: 4 orang, baju batik, senyum kaku di depan rumah 2 lantai.

Kirana kebangun. Ngeliat Saqira bengong ke foto itu. “Mas... belum tidur?”

Saqira ngangkat muka. Lipstik udah dihapus. Yang sisa cuma Saqir. Mata laki-laki 30 tahun yang capek dandan tiap hari buat nutup luka. “Belum, Ra. Saya cerita ya. Cerita kenapa dari Saqir... jadi Saqira. Kalo Ra nggak kuat denger, Ra tidur lagi aja.”

Kirana duduk di lantai. Jaraknya tetep satu meter. “Kirana denger, Mas. Kirana mau tau Mas yang asli. Bukan Mas MC kondangan.”

Saqira ketawa kecil. Nggak ada lengkingan bencong. “Oke. Dengerin ya. Tapi janji nggak jijik.”

RUMAH MEWAH YANG DINGIN

“Nama asli saya Saqir Indrawan. Anak kedua. Bungsu. Kakak saya Ikhsan. Beda 4 tahun.”

Saqira nunjuk foto. Cowok paling kiri, jas, senyum tipis. “Itu Bapak. Pak Indrawan. Pengusaha suplaier alat elektronik. TV, kulkas, AC. Toko bapak di Mangga Dua 3 ruko. Pegawai 40 orang. Bapak keras, Ra. Kerasnya orang yang dari miskin jadi kaya. Prinsip bapak: ‘Laki-laki nggak boleh nangis. Laki-laki harus nguasain dunia’.”

Jari Saqira geser ke kanan. Perempuan baju kebaya. “Itu Ibu. Bu Indah. Pemilik butik ‘Indah Bridal’ di Blok M. Langganannya artis, istri pejabat. Ibu cantik, Ra. Cantik + sibuk. Dari gue SD, Ibu udah punya 15 karyawan. Hidupnya fitting, jahit, fashion show.”

“Rumah kita di Pondok Indah. 2 lantai. 5 kamar. 3 pembantu. Mbak Sumi, Mbak Yanti, Pak Jono sopir. Dari luar orang bilang: ‘Keluarga Indrawan sempurna’. Dari dalem... dingin, Ra. Dinginnya AC 18 derajat. Dinginnya rumah yang penghuninya nggak pernah makan malem bareng.”

Kirana nyelip. “Mas sering ditinggal ya?”

Saqira ngangguk. “Iya. Bapak ke Mangga Dua jam 6 pagi, pulang jam 11 malem. Ibu ke butik jam 8 pagi, pulang jam 10 malem. Kak Ikhsan? Dia anak emas. Dari SMP udah les fisika, kimia, bimbel kedokteran. Target Bapak: ‘Ikhsan harus jadi dokter + nerusin bisnis bapak’. Ikhsan nggak punya pilihan, Ra.”

“Terus saya? Saya Saqir. Umur 5 tahun. Badan kecil. Mata gede. Bulu mata lentik. Kulit putih. Kalo di foto... orang ngiranya saya cewe.”

“Masalah mulai pas saya TK. Mbak Sumi yang jagain saya. Mbak Sumi baik, Ra. Tapi dia kesepian. Anaknya 2 di kampung. Jadi pelampiasannya saya.”

Saqira ketawa pahit. “Tiap Ibu Bapak pergi, Mbak Sumi dandanin saya. Pakein baju adiknya Mbak Sumi. Rok pink. Jepit kupu-kupu. Lipstik merek ‘Sari Ayu’ yang expired. Dia bilang: ‘Dedek Saqir cantik banget kayak putri. Sini Mbak Sumi fotoin’.”

“Bapak pernah liat sekali. Umur saya 6 tahun. Saya lagi pakein rok dan kalung imitasi Mbak Sumi. Bapak diem. Mukanya merah. Dia nggak mukul saya. Dia mukul tembok, Ra. Terus dia teriak ke Mbak Sumi: ‘Kalo anak gue jadi banci, lo gue pecat! Lo gue pulangin ke kampung !’”

Kirana nutup mulut. “Terus Mbak Sumi...”

“Dipecat, Ra. Besoknya. Padahal dia satu-satunya yang mau peluk saya pas saya demam. Abis itu saya nggak berani pake baju cewe lagi di depan Bapak. Tapi... di dalem hati, saya ngerasa: ‘Kok pas pake rok, Mbak Sumi seneng liat saya? Kok pas pake celana, Bapak mukanya jutek?’”

“Bibitnya dari situ, Ra. Saya bingung. Jadi laki-laki \= Bapak marah. Jadi kayak cewe \= Mbak Sumi sayang. Otak anak 6 tahun mana ngerti gender, Ra. Yang dia ngerti: ‘Kalo gue kayak gini, gue disayang’.”

“SD-SMP, rumah makin panas. Bapak KDRT Ibu, Ra. Bukan tiap hari. Tapi kalo Bapak stres, supplier telat bayar, kontainer nyangkut di Tanjung Priok... Ibu jadi sasaran.”

Suara Saqira turun. “Saya sering ngumpet di balik gorden. Denger Bapak teriak: ‘Indah! Gue kerja banting tulang buat lo! Lo malah sibuk sama butik lo! Rumah berantakan!’ Terus ada suara... _buk!_ Piring pecah. Ibu nangis. Nggak teriak. Nangisnya ditahan. Kayak malu kalo pembantu denger.”

“Saya umur 12 tahun pernah misahin, Ra. Saya lari, peluk kaki Bapak. ‘Pak jangan, Pak’. Bapak nendang saya. Nggak kenceng. Tapi cukup buat saya kebanting ke sofa. Abis itu Bapak diem. Ngeliat saya nangis. Dia bilang: ‘Laki-laki nggak nangis, SAKIR!’. Nama saya dia teriak kayak bentakan.”

“Kak Ikhsan? Dia nggak di rumah, Ra. Dia di pesantren. Dia nggak mau di rumah. Karena Bapak maksa dia: ‘Lulus FK, terus masuk bisnis gue. Jadi dokter cuma buat gengsi’. Padahal Ikhsan sukanya bedah, Ra. Dia suka liat orang sembuh. Bukan liat laporan keuangan.”

“Saqir kecil ngeliat semua itu. Kesimpulannya: ‘Jadi laki-laki sama dengan nyakitin. Jadi laki-laki sama dengan dipaksa. Jadi laki-laki sama dengan Bapak’. Saya takut, Ra. Saya takut gede jadi kayak Bapak.”

“SMA saya masuk sekolah swasta elit. Anak orang kaya semua. Saya Saqir Indrawan. Bapaknya seorang pengusaha terkenal cabang perusahaan nya sudah 2 waktu itu. Tas saya LV . Sepatu Nike ori. Tapi hati saya... kosong.”

“Saya mulai ‘nyoba’ lagi, Ra. Pelan-pelan. Di kamar. Pas semua tidur. Saya pake scarf Ibu. Saya pake lipstik Ibu. Ngaca. Saya bisik: ‘Saqira’. Nama itu muncul sendiri. Saqir + a di belakang. Kedengerannya... lembut. Nggak ngebentak. Nggak nyuruh saya jadi pengusaha elektronik.”

“Temen SMA ada 2 yang tau. Dina + Rani. Mereka nggak ngejauh. Malah bilang: ‘Qir, kalo lo jadi cewe, lo cantik banget sumpah’. Mereka yang ajarin saya ngalis. Ngajarin saya jalan pake heels. Di toilet sekolah. 10 menit. Abis itu hapus lagi sebelum pulang.”

“Masanya saya seneng, Ra. 10 menit itu saya ngerasa ‘utuh’. Nggak ada Bapak yang teriak. Nggak ada Ibu yang nangis. Cuma saya + cermin + nama ‘Saqira’.”

“Tapi malemnya... rasa bersalahnya dateng. Saya sujud. Nangis. ‘Ya Allah, saya kenapa jadi gini? Saya laki-laki kan? Bapak pasti kecewa’. Saya robek scarf Ibu. Saya buang lipstiknya ke kloset. Besoknya saya jadi ‘Saqir’ lagi. Laki-laki dingin. Pendiem. Nilai bagus. Biar Bapak bangga.”

 

“Kejadiannya pas saya semester 2 kuliah. Ambil Manajemen. Jurusan pilihan Bapak. ‘Biar nanti gampang nerusin bisnis’. Padahal saya sukanya desain. Saya suka gambar baju. Tapi saya pendem.”

“Malem itu Bapak ultah ke-50. Pesta gede di rumah. Tamu 100 orang. Pejabat, juragan, artis langganan Ibu. Saya disuruh MC dadakan. MC pake jas. Ngomong formal. ‘Selamat datang Bapak-bapak Ibu-ibu...’”

“Jam 11 malem, pesta bubar. Bapak mabuk. Bukan mabuk miras. Mabuk marah. Karena ada tamu ngomong ke dia: ‘Pak Indrawan, anak Bapak yang bungsu... kok gerak-geriknya lembut ya Pak? Kayak cewe’. Bapak ketawa. Tapi matanya... matanya mau ngebunuh saya.”

“Malam itu juga di ruang kerja. Cuma saya + Bapak. Pintu dikunci. Meja mahoni. Di atasnya ada ikat pinggang Bapak.”

Saqira berhenti. Napasnya berat. Kirana megang ujung dasternya sendiri. Nahan takut.

“Bapak nggak mukul saya, Ra. Dia nggak perlu. Dia cuma nunjuk pintu. Terus dia bilang 3 kalimat. 3 kalimat yang saya inget sampe mati:”

Saqira niru suara Bapak. Suaranya rendah, datar, dingin. “Saqir. Bapak malu punya anak kayak kamu. Kamu banci. Kamu aib keluarga. Mulai malam ini, kamu bukan anak Bapak lagi. Keluar. Jangan balik sebelum kamu jadi laki-laki beneran.”

Kirana netes air mata. “Mas...”

“Saya nggak nangis, Ra. Saya Saqir. Laki-laki. Laki-laki nggak nangis, kan? Saya jalan ke kamar. Ngambil 1 koper. Isinya: 3 kaos, 2 celana jeans, ijazah SMA, sama foto keluarga ini.”

Saqira ngangkat foto lusuh. “Saya nengok ke Ibu. Ibu di tangga. Dia mau turun. Tapi Bapak nahan lengannya. Ibu cuma bisa ngomong: ‘Qir... jaga diri ya Nak...’ Air matanya jatuh. Tapi dia nggak berani turun. Karena kalo dia turun, Bapak bakal bentak dia juga.”

“Kak Ikhsan? Dia di kamar. Denger semua. Tapi dia nggak keluar. 2 minggu kemudian dia chat saya: ‘Qir, maaf gue nggak bisa nolong. Gue juga tahanan di rumah ini. Jaga diri ya Dek’. Abis itu nomor dia ganti. Sampai sekarang saya nggak tau dia di mana. Katanya udah jadi dokter di Papua. Ngobatin orang. Jauh dari Bapak.”

“Jam 02.17 pagi. Saya keluar dari gerbang rumah 2 lantai itu. Satpam nunduk. Nggak berani natap mata saya. Sopir Pak Jono nyodorin amplop. ‘Ini dari Bapak. 5 juta. Buat modal kamu. Tapi jangan balik lagi kalau Mas saqir masih kayak perempuan'. Saya terima. Terus saya jalan kaki ke gerbang komplek. High heels nggak ada. Yang ada sandal jepit. Hujannya deres, Ra.”

JADI SAQIRA DI JALAN - UMUR 20-30 TAHUN

“Malam pertama di luar, saya tidur di masjid. Sajadah dipake selimut. Saya bisik: ‘Ya Allah, saya Saqir apa Saqira?’. Nggak ada jawaban. Yang ada cuma suara adzan Subuh. Muadzinnya suaranya lembut. Saya nangis di situ. Pertama kali nangis sejak Bapak usir saya.”

“5 juta abis 2 bulan buat kontrakan + makan. Saya ngelamar kerja. 17 kali ditolak, Ra. ‘Mas, maaf. Kita butuh yang maskulin’. ‘Mas, customer kita nggak nyaman’. Saya Saqir di CV. Tapi pas interview... gerak saya, suara saya, mata saya... udah ‘Saqira’.”

“Titik baliknya pas saya umur 22. Saya jadi asisten MC di hajatan. Bos MC-nya, Mas Dodi, liat saya ngerapihin sound. Dia bilang: ‘Lu suaranya bagus. Lembut. Berani naik panggung nggak?’

Saya bilang: ‘Berani, Mas. Tapi saya...’

"Tapi lu banci? Ya udah. Dunia MC butuh yang berani beda. Namamu siapa?’ ‘Saqir’. ‘Terlalu kaku. Saqira aja. Lebih jual’.”

“Sejak itu saya Saqira, Ra. Nama panggung. Nama topeng. Nama tameng. Saya pake lipstik tebal biar orang liat ‘bencong lucu’ dulu, bukan liat ‘anak yang diusir bapak’ dulu. Saya ketawa _kik_ melengking biar orang fokus ke suaranya, bukan nanya ‘Bapak kamu siapa?’”

“10 tahun, Ra. 10 tahun saya MC kondangan. Ketawa di panggung, nangis di kontrakan. Dandan 1 jam buat nutup luka 20 tahun. Orang bilang saya ‘berisik’. Padahal saya berisik biar nggak kedengeran suara Bapak di kepala saya: ‘Kamu aib keluarga’.”

Saqira diem lama. Foto keluarga dia cium pelan. Terus dia masukin ke balik sajadah.

Kirana nyodorin air putih. “Mas minum dulu.”

Saqira minum. Satu teguk. “Itu cerita saya, Ra. Trauma saya bukan karena saya ‘milih’ jadi waria. Trauma saya karena saya ‘dipaksa milih’: jadi Saqir yang dibenci Bapak, atau jadi Saqira yang setidaknya ada yang mau manggil ‘Mbak MC, suaranya merdu’.”

“Jadi kalo orang bilang ‘bencong itu dosa’, saya diem, Ra. Karena saya tau: dosa paling gede saya bukan pake lipstik. Dosa paling gede saya adalah 20 tahun nggak bisa bilang ke Bapak: ‘Pak, saya capek jadi Saqir yang Bapak mau. Boleh nggak saya jadi Saqir yang Allah mau?’”

Kirana peluk lututnya sendiri. “Mas Saqira... Kirana nggak jijik. Kirana malah sedih. Sedih karena Mas 20 tahun jalan sendirian.”

Saqira senyum. Senyum Saqir + senyum Saqira jadi satu. “Udah, Ra. Cerita udah. Luka udah dibuka. Sekarang kita tutup lagi pake sajadah. Besok kita kerja. Mas ngajarin kamu potong kain. Kamu ngajarin Mas sabar. Deal?”

“Deal, Mas Saqir Indrawan. Deal, Mbak Saqira MC.”

Jam 02.00. Saqira gelar sajadah. Takbir. Allahu Akbar. Suaranya nggak melengking. Suaranya laki-laki 30 tahun yang akhirnya berani manggil Tuhannya pake nama aslinya: “Ya Allah... hamba-Mu Saqir...”

Kirana di belakangnya amin. Pelan. “Amin, Mas.”

Luar kontrakan, Bu RT masih melek. Dia denger suara takbir itu. Dia bisik ke suaminya: “Pak... ternyata bencong juga bisa nangis pas sholat ya...”

Suaminya nggak jawab. Cuma narik selimut lebih kenceng. Tapi matanya... sedih.

1
Miss Danica
@Sarah inilah uniknya. baca terus ya.. novel ini menarik banyak pesan moral dan pertentang etika.
Sarah
Masa iya sih... di pondok itu gak ada seorang pun yang rada bener. Sekelas pondok pesantren, lho ini. Masa sih masih pada percaya sama yang namanya “Orang yang jadi pembawa sial”. Itu kan mendekati musyrik juga. Percaya sesuatu semacam itu. Pondoknya yang di kampung banget kah? Sampai gak ada satu pun yang kuat iman gitu? Atau pondoknya... pondok-pondok sesat kayak di berita-berita? 😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!