Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilamar Kian
Kian malah mengajak Wanda ke tempat lain, menjauh dari keramaian. Tepatnya di halaman samping rumah Dira dan Vira. Ada kolam.renang di sana dengan lampu yang temaran.
"Kok, kita ke sini?" Wanda celingukan melihat ke arah kanan dan kiri sekitarnya. Tidak ada orabg lain selain mereka.
Kian membimbing Wanda ke kursi yang ada di sana, dan memintanya duduk. Wanda tidak menolak yang dilakukan Kian, tapi wajahnya sangat merona dan jantungnya berdegup keras dan sangat kencang seakan ingin meretakkan tulang tulang dadanya. Tatapnya tak bisa dialihkan dari Kian.
Kian sekarang meraih saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang penuh ukiran dan berwana putih, berkilauan akibat tertimpa sinar lampu.
Jantung Wanda makin ngga beraturan. Dia mulai merasa gugup karena bisa menebak apa yang ada di dalam kotak indah itu.
Tanpa ragu kemudian Kian bersimpuh di depan Wanda.
"Kian, celana kamu kotor," kaget Wanda dengan gerakan tiba tiba Kian. Dia bermaksud memegang pundak Kian agar cowo tanggung itu segera berdiri. Tapi Kian menepis lembut.
"Ngga apa apa."
Wanda terdiam ketika tatap mata mereka bertaut. Lekat dan dalam.
"Aku ingin bicara serius. Sudah sejak lama," ucap Kian setelah terdiam beberapa lama tadi. Dia menarik nafas berulang kali untuk.menenangkan gejolak di dalam rongga dadanya.
Wanda bisa melihat kegugupan dibalik sosok tenang Kian. Dia juga sama, mungkin lebih gugup dari Kian.
Apa yang mau dia bicarakan? batin Wanda ngga tenang. Mendadak dia teringat tatap lembut Kian di hari pertama mereka masuk ke SMA.
Mungkin penampilannya yang terlalu mencolok hingga dengan mudah bisa menarik perhatian seorang Kian. Walaupun seragam sekolah mereka sama tapi aura penampilannya saat itu tidak bisa dibohongi. Dia berbeda jauh dari yang lain.
Aditama juga sangat jelas menunjukkan batasan itu.
"Aku sudah lama memperhatikanmu. Awalnya aku hanya ingin menolongmu lepas dari Aditama karena ngga tega. Tapi perkataanmu yang melarangku membuat aku jadi berpikir ulang. Sebenarnya apa yang aku inginkan." Kian menghembuskan nafas panjang dan perlahan, tapi tatapnya tetap tertuju ke manik mata Wanda.
DEG DEG
Wanda tak sabar menunggu kelanjutan omongan Kian.
"Hampir satu semester aku bingung dengan apa yang aku rasakan dan inginkan. Tapi sekarang aku sudah tau."
DEG DEG
Suhu tubuh Wanda mendadak dingin ketika Kian menyentuh jari jari tangannya.
"Aku mau menikahi kamu."
Wanda terperangah. Bola matanya sedikit membesar.
Dia bermimpi?
Tatap mereka masih bertaut. Kian seolah memberi jeda sebentar untuk dia memikirkan permintaannya.
Kian membuka kotak cincinnya dan mengambilnya. Kemudian tersenyum sambil.menatap Wanda dengan lembut.
"Mau, kan, menikah denganku?"
Wanda masih bergeming. Menatap Kian yang sudah mengulurkan cincin padanya.
"Kian ...." Lidah Wanda kelu. Dia merasa ngga pantas untuk Kian.
"Jangan biarkan aku merasa ditolak, ya ....." Kian tetap tersenyum saat mengatakannya.
Wanda akui, Kian sangat percaya diri.
"Tapi .... aku ngga sebanding dengan kamu."
Kian menaikkan alisnya. Senyumnya masih terukir manis.
"Siapa yang bilang?"
"Kan, kelihatan jelas," kilah Wanda tetap dengan suara perlahan.
Senyum Kian makin lebar mendengar jawabannya.
"Ngga kasian, nih, aku kelamaan jongkoknya." Kain mengalihkan pembicaraan yang menurutnya ngga penting.
Wanda bingung harus melakukan apa. Dia ngga berani menerima cincin itu, tapi juga ngga tega melihat Kian bersimpuh begini.Wanda takut disalahkan kalo ada yang melihatnya.
Tapi Kian dengan tenang menarik pelan tangan kanan Wanda, dan menyarungkan jari manis lentik itu dengan cincin yang sudah diulurkan sejak tadi.
"Kian ....?" Wanda menatap cowo itu dengan terkejut. Dia mengira Kian akan langsung berdiri.
"Cincin itu cantik banget di jari tangan kamu," pujinya sambil bangkit berdiri. Wajahnya terlihat senang. Tangannya masjh memegang jari jari Wanda seakan saat berdiri, dia menggunakannya sebagai tumpuan.
Tatap mata Wanda masih fokus pada cincin di jari manisnya Cincin yang berwarna pink dengan ukiran beberapa kelopak bunga kecil tapi sangat indah. Yang melihatnya pasti akan langsung memgatakannya cantik.
"Kamu setuju, kan?" Pertanyaan Kian menyadarkan lamunan Wanda.
Wanda menatap Kian bingung.
"Cincin ini," ulang Kian lagi.
"Cantik seperti kamu."
DEG DEG
Sayap kupu kupu berebutan keluar dari dalam perut Wanda.
Kian menatap lekat mata Wanda yang masih sedikit terbelalak menatapnya.
"Kita bisa menikah secepatnya. Tapi .... mungkin kita harus menunda punya anak sampai kita lulus SMA."
Wanda hampir ternganga mendengarnya. Wajahnya memanas. Kian sudah memikirkannya sampai sejauh ini.
"Ngga apa apa, kan?"
Lidah Wanda kelu, dia tidak bisa memberikan jawaban. Hatinya bercampur aduk dengan perasaan bahagia juga takut.
"Kian ...."
"Ya ....?"
"Kata kamu ... kamu hanya merasa kasian ...." Agak sakit hatinya mengulang perkataan yang Kian katakan tadi.
Kian masih tersenyum, kemudian menggenggam jari jari tangan Wanda dengan lembut
"Kan, awalnya aku mengira begitu. Tapi nyatanya aku memang sudah suka kamu sejak pertama kali kita bertemu," jawab Kian lugas.
DEG DEG DEG
Wanda tertegun.
Bisakah dia percaya?
Kalo saja Kian bisa mendengar suara detak jantungnya, pasti dia akan tau yang dirasakannya juga pada Kian. Perasaan yang sama.
Ngga jauh dari tempat sejoli itu berada, di balik tembok pemisah, suara suara usil berdengung pelan.
"Berhasil dapat foto sama video juga," tukas Alen sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Kirim ke si lemah itu. Biar dia makin terbakar dan membersihkan kamar mandi selamanya," usul Denish dengan wajah liciknya.
Alen tergelak pelan. Tapi dia setuju dengan usul Denish
"Foto yang ini aja." Azka mulai memilih foto yang menurutnya bisa membuat Aditama tantrum.
"Ya, memang bagus yang ini. Videonya ketika Kian sedang pakein cincin," timbrung Reyhan ikut memberikan masukan.
"Siap siap besok kita melihat amukan si lemah ini," kekeh Zio pelan. Di sampingnya Gio juga tersenyum miring.
"Untung tadi aku lihat dia bawa Wanda ke sini." Alen berucap dengan nada sombong.
Dia merasa aneh melihat Kian membawa Wanda bukan ke arah meja yang bertaburkan aneka makanan dan minuman. Tapi malah membawanya menepi ke arah kolam renang.
Masa mau ngajak berenang malam malam gini, batinnya kepo.
Yang lainnya langsung saja mengikuti ajakannya karena yakin Kian akan melakukan sesuatu yang spesial.
"Aku berharapnya ada adegan ci-um bibir setelah cincinnya di pasang ke jari," komen Alen lagi dengan nada kecewa.
Yang lainnya hanya nyengir karena juga berharap hal yang sama.
"Tapi ini sudah sangat cukup membuat si lemah itu merasa terbakar. Kalo.ada ci-um@n, mungkin dia bakalan kena stroke," tawa Zio berderai pelan.
"Sakit jantung, mungkin," timpal Emil.
"Masuk ICU," sumpah Denish dengan nada penuh ejekan.
Tawa yang lain berderai pelan mendengarnya.
Sementara itu di ruangan yang bertaburkan makanan beraneka macam, Dira menatap Vira dan Keyra dengan bingung.
"Kian ngga jadi ngajak Wanda makan.?" Dira tidak melihat ada Kian dan Wanda di sini.
"Lantas mereka kemana?" Vira yang menyahut. Dia sampai celingukan mencari keduanya.
"Entahlah." Keyra mengedikkan bahunya. Tapi sudut matanya tadi sempat melihat rombongan cowo cowo tengil itu tadi pergi ke arah kolam renang.
Firasatnya meyakini kalo Alen cs tau dimana keberadaan Kian dan Wanda sekarang.