NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23. ternyata bukan mimpi

Leon terus memutar kembali setiap kejadian itu dalam pikirannya, seolah sedang menonton sebuah film yang sangat jelas dan terasa nyata. Ia bisa merasakan hembusan angin di Hutan Kenangan, mendengar alunan lagu dari Pegunungan Suara, bahkan merasakan hangatnya pelukan Liora dan tawa lepas Zarek. Semua itu terasa begitu hidup, jauh lebih terperinci dibandingkan mimpi-mimpi biasa yang pernah ia alami. Namun kenyataan di hadapannya sekarang justru berbicara lain: ia sudah terbaring koma selama lima tahun, dan tempat yang ia anggap sebagai titik awal kepergiannya kamar kos ternyata tidak pernah ada dalam sejarah hidupnya.

“Gimana kalau itu cuma khayalan yang terbentuk selama otak gue tidak sadarkan diri?” gumam Leon pelan, hampir tak terdengar. Ia mengusap pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut, berusaha menyatukan dua kenyataan yang terasa bertolak belakang.

Melihat putranya yang semakin tertekan, Bu Ina segera mendekat dan memegang tangan Leon dengan lembut. “Sudah, Nak… jangan dipikirkan terlalu berat. Nanti kalau waktunya tiba, pasti semuanya akan jelas dengan sendirinya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu pulih sepenuhnya,” ucapnya menenangkan, berusaha menghapus rasa cemas yang terlihat jelas di wajah anaknya.

Pak Indra pun mengangguk setuju. “Iya benar kata Ibu. Lima tahun itu waktu yang sangat lama untuk tubuh dan pikiranmu. Beristirahatlah yang cukup, makan dengan teratur, biarkan tubuhmu menyesuaikan diri kembali. Jangan dipaksa untuk mengingat apa pun yang terasa membingungkan.”

Leon hanya mengangguk lemah, meski keraguan di hatinya belum juga sirna. Ia mencoba menuruti saran orang tuanya, berbaring kembali dan memejamkan mata, namun bayangan-bayangan dari dunia itu terus melintas di benaknya sepanjang malam.

Beberapa hari berikutnya berlalu dengan lambat. Kondisi fisik Leon membaik sangat pesat, melebihi perkiraan dokter. Ia sudah bisa berjalan-jalan kecil di koridor rumah sakit, makan dengan lahap, dan bercakap-cakap seperti sedia kala. Namun satu hal yang tidak berubah ingatan tentang dunia ciptaannya tetap terasa nyata, sementara ingatan tentang lima tahun terakhir di dunia ini masih kosong melompong.

Suatu sore, saat kedua orang tuanya pulang sebentar untuk mengambil keperluan di rumah, Leon duduk sendirian di tepi jendela kamar. Ia menatap langit senja yang berwarna jingga kemerahan, dan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Di dalam saku baju rumah sakit yang baru saja ia kenakan, ia meraba sesuatu yang keras dan tidak biasa.

Dengan rasa penasaran, ia mengeluarkan benda itu. Matanya terbelalak tak percaya. Di tangannya tergenggam sebuah buku catatan kecil berkulit cokelat tua, pinggirannya terlihat sedikit usang namun tetap terawat. Itu adalah buku yang sama..buku catatan tempat ia menulis seluruh kisah dunia itu, yang selalu ia bawa ke mana pun selama berada di sana.

“Tidak mungkin… ini hanya ada di dalam cerita, kan?” gumam Leon dengan suara bergetar.

Tangannya gemetar saat membuka halaman pertamanya. Di sana tertulis tulisan tangannya sendiri, rapi dan jelas Dunia Cerita Sembarangan. Semua catatan perjalanan, sketsa pemandangan, hingga nama-nama tempat dan orang yang ia temui tertera dengan lengkap. Halaman terakhir yang ia biarkan kosong kini tertulis satu kalimat tambahan yang membuat air matanya tanpa sadar menetes.

“Kisah tidak harus memilih satu dunia. Ia bisa hidup di hati, melintasi ruang dan waktu.”

Saat itu juga, samar-samar ia mendengar suara lembut yang hanya bisa didengar olehnya..suara Liora yang terdengar hangat dan menenangkan, seolah berbisik tepat di samping telinganya.

“Kamu tidak bermimpi, Leon. Kami tetap ada, di tempat yang sama. Ingatan ini adalah bukti bahwa ikatan yang terjalin tidak akan pernah putus, meski jarak dan kenyataan memisahkan kita sementara waktu.”

Leon memeluk buku itu erat-erat di dadanya, merasakan beban keraguan yang selama ini membebani hatinya perlahan menghilang. Ia akhirnya mengerti: apa yang ia alami bukanlah sekadar khayalan atau mimpi. Itu adalah bagian dari hidupnya yang nyata, sama seperti kehidupan yang sedang ia jalani sekarang. Ia memiliki dua dunia, dua keluarga, dan dua kebahagiaan yang harus ia jaga dengan sepenuh hati.

Saat pintu kamar terbuka dan kedua orang tuanya kembali dengan senyum di wajah mereka, Leon mengangkat wajahnya, kali ini dengan ketenangan yang utuh. Ia tidak lagi merasa bingung atau terbelah. Ia adalah Leon Arleno ,penulis, putra, sahabat, dan seseorang yang telah diberi kesempatan luar biasa untuk menjalani dua kehidupan yang sama berharganya.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!