Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA LICIK CATALINA
"Biarkan dia ngerasa aman dulu di atas sana. Tugas kamu sekarang adalah cari cara buat dapet foto perutnya yang membuncit atau salinan hasil pemeriksaan medis dari Dokter Fanya," perintah Catalina dengan suara yang terdengar tajam dan menusuk.
"Begitu bukti itu ada di tangan aku, aku sendiri yang akan mengundurkan reputasi dia di depan semua investor dan rekan bisnisnya. Aku mau lihat, apa dia masih bisa pasang tampang sombong itu setelah semua orang tahu kalau dia cuma wanita murahan yang hamil tanpa suami," lanjut Catalina, disusul tawa sinis yang menggema di dalam kamar tidurnya yang mewah.
"Baik, Nona, saya akan pastikan tim kita bergerak tanpa menimbulkan kecurigaan. Dokter Fanya akan kami awasi lebih ketat lagi," ucap pria itu sambil membungkuk hormat, bersiap untuk undur diri.
"Ingat, jangan sampai ceroboh! Naya itu punya mata dan telinga di mana-mana. Siska, sekretarisnya yang sok pintar itu, pasti bakal sadar kalau kalian bergerak terlalu kelihatan," ucap Catalina, berbalik dari jendela dan menatap bawahannya dengan pandangan mengancam.
"Mengerti, Nona. Kami akan bertindak sangat rapi," jawab pria itu sebelum akhirnya keluar dari kamar, meninggalkan Catalina sendirian dengan ambisi busuknya.
"Kanaya, Kanaya... insting kamu boleh tajam di dunia bisnis, tapi untuk urusan seperti ini, kamu cukup ceroboh," cibir Catalina, lalu merebahkan tubuhnya sambil membayangkan kehancuran saingan terberatnya itu.
Sementara itu, Naya masih berdiri mematung di dekat jendela, tangannya yang memegang pisau lipat perlahan mulai rileks.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang bukan karena takut, melainkan karena syok mendengar bisikan gaib yang menggema di kepalanya tadi.
"Darah... penerus... raja..."
Naya mengulang kata-kata itu dengan suara berbisik, dahinya berkerut dalam.
"Raja apa maksudnya? Ini zaman modern, bukan negeri dongeng," gerutu Naya kesal, merasa situasi ini semakin tidak masuk akal.
Naya melangkah kembali ke meja kerjanya, melipat pisau kecil itu lalu memasukkannya ke dalam laci.
Rasa hangat di perutnya kini mulai berganti lagi menjadi rasa lapar yang sangat mengganggu. Namun kali ini, ingatan tentang daging ayam mentah berdarah tadi tidak lagi membuatnya merinding.
"Nggak mungkin aku harus makan daging mentah, aku manusia, bukan kanibal," gumam Naya pada dirinya sendiri.
Naya berjalan ke area dapur lagi. Dia membuka lemari penyimpanan atas, mencari alternatif lain yang setidaknya bisa mengalihkan rasa lapar aneh ini. Matanya tertuju pada sebungkus steak daging sapi wagyu beku berkualitas premium yang ada di freezer bawah.
"Oke, kalau emang butuh protein instan karena pertumbuhan bayi ini terlalu cepat, aku masak steak aja, tapi harus matang," ucap Naya, berbicara pada perutnya sendiri seolah sang bayi bisa mendengarnya.
Kali ini Naya mengeluarkan daging sapi, menggunakan microwave untuk mencairkannya dengan cepat, lalu memanaskan teflon anti lengket di atas kompor listrik.
Naya yang biasanya menyukai steak dengan tingkat kematangan medium rare, kali ini sengaja membiarkan daging itu di atas wajan lebih lama, dia tidak mau melihat ada setetes pun cairan merah yang keluar dari daging tersebut.
Setelah dirasa benar-benar matang sempurna, Naya memindahkan steak itu ke atas piring porselen putih, membawa piring itu ke meja makan kecil di dekat dapur, lalu memotongnya menjadi bagian kecil menggunakan pisau dan garpu.
Naya menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan.
Srett...
Naya mendadak berhenti mengunyah. Wajahnya berubah masam, daging wagyu mahal yang biasanya terasa sangat lembut dan gurih di lidahnya, kini terasa hambar, kesat, dan sama sekali tidak nikmat. Teksturnya seperti mengunyah karet kering di dalam mulutnya.
"Kenapa rasanya kayak gini? Apa lidahku yang bermasalah?" tanya Naya heran.
Naya mencoba menelan paksa potongan daging itu, lalu memotong bagian lain yang bagian dalamnya masih menyisakan sedikit sekali warna merah muda.
Begitu potongan kedua masuk ke mulutnya, rasa gurih yang samar dari sisa sari daging itu mendadak membuat matanya berbinar.
Naya tertegun, menatap sisa daging di piringnya dengan pandangan tidak percaya.
"Jadi... bayi ku ini beneran nolak makanan yang matang sempurna?" bisik Naya, pada kehamilan misterius nya.
Tak
Dia meletakkan garpunya dengan pelan, mendadak kehilangan selera makan karena frustrasi dengan kondisi tubuhnya sendiri. Naya bersandar pada kursi makan, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Ting
Ponsel Naya yang diletakkan di atas meja makan bergetar, menampilkan pesan masuk dari Siska.
Naya langsung meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.
Siska 💌
"Nona Muda, maaf mengganggu malam-malam. Saya baru saja mendapat laporan dari tim lapangan. Orang-orang Wijaya Group sepertinya mulai mendekati beberapa rekan bisnis kita di bank swasta untuk mencari tahu riwayat transaksi pribadi Anda dalam sebulan terakhir. Apakah perlu saya blokir aksesnya sekarang?"
Membaca pesan dari sekretaris setianya itu, raut wajah Naya yang tadinya penuh kebingungan langsung berubah menjadi dingin dan tajam.
Masalah kehamilan dan makhluk aneh ini memang memusingkan, tapi urusan Catalina adalah hal mudah yang bisa dia selesaikan dengan otaknya.
Naya langsung mengetik balasan dengan cepat.
"Biarkan saja mereka mencari tahu, tapi pastikan pihak bank hanya memberikan data palsu atau data lama yang tidak penting. Buat mereka berpikir kalau mereka berhasil mendapat informasi berharga."
Tidak butuh waktu lama, Siska langsung membalas pesan itu.
Siska 💌
"Baik, Nona Muda. Berarti kita gunakan ini sebagai umpan untuk menjebak mereka?
Naya tersenyum miring, mengetik balasan terakhirnya sebelum meletakkan ponselnya kembali.
"Tepat! Biarkan Catalina bersenang-senang dulu dengan informasinya. Besok pagi jam tujuh, saya mau semua data pelanggaran pajak Wijaya Group sudah ada di laptop saya. Kita hancurkan mainannya satu per satu."
Setelah mengirim pesan terakhir pada sekertaris nya itu, Naya mengunci layar ponselnya, lalu dia berdiri dari kursi makan, mengabaikan piring steak-nya yang baru termakan dua suap, lalu berjalan menuju kamar utamanya untuk beristirahat, karena tubuhnya terasa sangat lelah setelah semua kejadian gila yang bertubi-tubi menimpanya.
Hah....
Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size yang empuk, menghela nafas nya panjang, sambil menarik selimut tebal hingga sebatas dada.
Tangan kanannya kembali bergerak, mengusap perutnya yang mulai menonjol di balik baju tidur nya, rasa hangat dan denyutan kuat dari dalam rahimnya kembali terasa, seolah-olah sang bayi sedang menenangkannya agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Siapa pun ayah kamu, dan makhluk apa pun yang mendatangi kita tadi... Mama tidak peduli, selama Mama masih bernafas, akan Mama pastikan tidak akan ada yang bisa menyentuh kamu," bisik Naya pelan, matanya perlahan mulai terpejam, masuk ke alam mimpinya.