NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Slamet berdiri di depan gerbang kayu yang mulai lapuk dimakan cuaca sambil memegang sebuah kotak kayu berukuran sedang.

Kotak itu berisi obat-obatan herbal untuk para relawan yang mulai terserang demam di pos utara. Musim dingin yang berkepanjangan membuat semakin banyak orang jatuh sakit. Neia memilih Slamet untuk mengantarkan kiriman itu karena pos utara merupakan salah satu lokasi yang paling jarang didatangi kurir. Jalannya rusak, letaknya jauh, dan kebanyakan orang enggan pergi ke sana.

Tentu saja Slamet tidak mengetahui alasan tersebut.

Dia hanya tahu ada kotak yang harus diantar.

Seorang penjaga gerbang yang bertubuh kurus dan mengenakan jubah tebal menatapnya dengan ekspresi ragu.

"Kau kurir dari kelompok relawan?" tanyanya.

"Iya."

"Apa isi kotak itu?"

"Obat. Kata Neia buat yang lagi demam."

Penjaga itu mengernyit.

"Kami tidak memesan obat."

"Ya. Tapi Neia bilang kalian butuh."

Jawaban itu membuat penjaga tersebut terdiam.

Pandangannya bergerak dari rambut Slamet yang berantakan hingga kaki kirinya yang telanjang. Sandal jepit yang tinggal sebelah, pakaian lusuh yang tampak tidak pernah diganti, serta tanda hitam di jidatnya membuat penampilan pria itu semakin sulit diabaikan.

Orang aneh.

Kesan itu langsung muncul di benaknya.

Meski begitu, orang aneh tersebut datang dari jauh sambil membawa obat-obatan. Mungkin memang ada kiriman yang belum diberitahukan kepadanya.

Namun tanda di jidat itu tetap mengganggunya.

Sekilas terlihat seperti simbol kultus.

Atau bekas luka akibat sihir.

Atau sesuatu yang lebih buruk.

"Kau tidak perlu takut."

Suara datar Slamet memotong pikirannya.

Penjaga itu langsung tersentak.

"Aku tidak takut."

"Kalau gitu bagus." Slamet sedikit mengangkat kotak kayu di tangannya. "Ini mau ditaruh di mana?"

Penjaga itu menghela napas pelan.

"Ikut aku."

Mereka melewati gerbang dan memasuki area pos.

Beberapa tenda kecil berjajar rapi di sekeliling lapangan. Api unggun di tengah hanya menyisakan bara merah yang berkedip lemah. Sejumlah relawan duduk mengelilinginya dengan tubuh terbungkus selimut tebal sambil sesekali batuk.

Seorang perempuan berambut pirang kusut menoleh ke arah mereka.

Wajahnya pucat dan matanya sayu karena kurang istirahat.

"Siapa itu?" tanyanya dengan suara serak.

"Kurir dari kelompok relawan," jawab penjaga tersebut. "Dia membawa obat."

Perempuan itu mengamati Slamet lebih lama sebelum pandangannya berhenti pada tanda hitam di jidatnya.

"Tanda di dahimu itu apa?"

Slamet mengangkat bahu.

"Gak tahu. Tiba-tiba ada."

Perempuan itu menunggu beberapa saat, berharap mendapat penjelasan yang lebih masuk akal.

Tidak ada.

Jawaban itu benar-benar selesai sampai di situ.

Akhirnya ia menghela napas dan memilih untuk tidak bertanya lagi.

Orang aneh atau tidak, yang penting pria itu membawa obat.

Penjaga gerbang kemudian mengantarnya ke tenda logistik kecil di sisi barat pos. Ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan gudang logistik di kamp utama. Hanya ada beberapa peti kayu dan karung goni yang tersusun seadanya di atas lantai tanah.

"Taruh di sana."

Ia menunjuk ke sebuah sudut kosong.

Slamet meletakkan kotak kayu tersebut tanpa banyak bicara.

Setelah itu ia berdiri dan menunggu.

Penjaga itu balas menatapnya.

"Kau bisa kembali sekarang."

"Oke."

Slamet segera berbalik dan berjalan menuju gerbang.

Suara sandal jepitnya terdengar pelan di jalan yang membeku.

Plak.

Plok.

Plak.

Plok.

Penjaga itu memperhatikan punggungnya sampai benar-benar menghilang dari pandangan.

Perasaan aneh kembali muncul.

Pria itu datang dari jauh hanya untuk mengantar obat. Tidak meminta bayaran tambahan, tidak mengeluh, dan tidak menunjukkan sikap mencurigakan selain penampilannya yang memang sudah cukup mencurigakan.

Mungkin dia memang hanya kurir biasa.

Namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Penjaga itu menggelengkan kepala dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.

Di tenda logistik kamp utama, Neia sedang menyusun laporan harian.

Tangannya bergerak cepat mencatat keluar masuknya berbagai kebutuhan, mulai dari tali busur, anak panah, obat-obatan, hingga persediaan makanan.

Kain penutup pintu tersibak.

Slamet masuk.

"Sudah selesai?" tanya Neia tanpa mengangkat kepala.

"Sudah. Obatnya sampai. Mereka bilang gak pesan, tapi gue bilang itu kiriman dari lo."

Baru kali ini Neia mengangkat pandangannya.

"Bagaimana reaksi mereka?"

"Bingung. Agak takut. Habis itu diterima."

Neia mengangguk pelan sebelum kembali menulis.

"Besok ke pos barat. Ada kiriman makanan."

"Oke."

Slamet berjalan menuju sudut tenda dan langsung merebahkan diri di atas tumpukan karung goni.

Kaki kirinya masih terasa nyeri.

Lecet yang muncul beberapa hari terakhir memang tidak terlihat parah, tetapi kulit di sekitarnya mulai melepuh dan terasa panas setiap kali terkena udara dingin. Meski begitu, ia tidak berniat memeriksanya.

Baginya, istirahat jauh lebih penting.

Dari balik meja, Neia memperhatikannya sejenak.

Slamet tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah mengaku lelah.

Tidak pernah meminta sesuatu.

Setiap hari yang dia lakukan hanya berangkat, mengantar barang, kembali, lalu tidur.

Rutinitas itu terus berulang tanpa perubahan.

Orang yang aneh.

Namun sejauh ini dia juga tidak pernah membuat masalah.

Neia akhirnya mengalihkan perhatiannya kembali ke laporan.

Mungkin memang tidak ada yang perlu dipikirkan.

Di Ruang Takhta Nazarick, Demiurge sedang menyampaikan perkembangan terbaru kepada Ainz.

"Persiapan operasi hampir selesai, Ainz-sama. Unit-unit Shadow Demon telah ditempatkan di berbagai titik strategis di Holy Kingdom dan siap bergerak kapan saja."

Ainz mengangguk pelan.

"Tunggu beberapa hari lagi. Pastikan tidak ada yang mulai curiga."

"Perintah diterima."

Demiurge membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.

Ainz kembali menatap peta besar yang tergantung di samping singgasananya.

Holy Kingdom.

Operasi penculikan.

Semua harus berjalan sempurna.

Tidak boleh ada yang mengetahui keterlibatan Nazarick.

Tidak boleh ada yang menghubungkan operasi ini dengan mereka.

Untuk saat ini, kerahasiaan adalah hal yang paling penting.

Cahaya hijau kembali berdenyut di rongga dadanya.

Ainz mengembuskan napas panjang sambil tetap menatap peta di hadapannya.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!