Siapa bilang seorang suami tidak bisa bertanggung jawab dan adil pada kedua istrinya. Ada kok sebagian suami yang bisa adil dengan kedua istrinya.
Abimana Baratama, seorang pengusaha yang memiliki ketampanan dan sangat menyayangi kedua istrinya yaitu Aisyah Nandaratna dan Zahra Jasmine.
Awalnya Abi tak menerima tentang pernikahan kedua ini. Abi terlalu mencintai Aisyah tapi Aisyah juga menginginkan Zahra untuk menjadi madunya.
Aisyah berpikir jika Zahra masuk dalam kehidupan Abi, suaminya itu bisa lebih bahagia daripada bersamanya.
Apakah Abi bisa bertanggung jawab dan adil pada kedua istrinya. Atau malah hanya mencintai disatu pihak saja.
Baca terus novelku disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput
Happy reading
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 sudah waktunya istirahat kedua hingga membuat Aisyah mengakhiri jamnya.
Sesuai janjinya dengan Pak Andi, Aisyah mengajak Reva untuk ikut makan bersama di kafe bersama pak Andi.
"Siang Pak," sapa Aisyah dan Reva pada Andi yang sudah duduk disana.
"Siang juga."
Sebenarnya Andi sedikit kecewa karena Aisyah membawa teman tapi mau bagaimana lagi. Aisyah sudah punya suami pasti suaminya yang menyuruh Aisyah membawa teman.
"Udah pesan makan pak Andi?" tanya Aisyah dengan senyum.
"Sudah Bu. Silahkan kalian pesan juga nanti biar saya yang bayar," ucap Pak Andi dan dianggukkan oleh mereka.
Keduanya memesan makanan yang sekiranya enak di lidah mereka nanti.
Setelah memesan makan, mereka mengobrol ringan layaknya teman. Walau Aisyah sedikit tak nyaman dengan apa yang dilakukan Pak Andi. Bahkan tatapan Pak Andi membuat Aisyah bergidik. Reva pun merasakan hal demikian. Ia tak suka dengan Andi entah apa alasannya.
"Pak Andi mau ngomong apa ya?" tanya Aisyah pada Andi. Seingatnya tadi Andi ingin mengatakan sesuatu.
"Bisa Bu Reva pergi dulu, saya ingin berbicara empat mata dengan Bu Aisyah."
"Biarkan saya disini, lagian saya juga gak akan bocor kok. Anggap aja saya ini hanya vas bunga ini," jawab Reva dengan santainya.
Akhirnya Andi mengangguk dan memulai pembicaraannya pada Aisyah.
Andi menyatakan perasaannya selama ini yang membuat kedua wanita ini terkejut. Tapi sebisa mungkin mereka biasa.
"Maaf ya Pak. Saya sudah punya suami dan saya juga sangat mencintai suami saya. Lebih baik berikan aja cinta bapak pada wanita yang juga mencintai bapak," jawab Aisyah dengan tegas.
Jika tidak begini maka laki laki ini pasti akan terus mengganggu dirinya dan juga suaminya.
"Tapi bukannya suami kamu menikah lagi. Aku yakin seratus persen kamu akan segera diceraikan oleh suamimu," ucap Pak Andi dengan kasar.
Ia tak suka penolakan walaupun Andi tahu ini yang akan didapat jika menembak wanita yang sudah bersuami.
"Aku siap menerima jandamu Aisyah, bahkan aku masih sanggup untuk menafkahi kamu yang sudah diceraikan oleh suami kamu," ucap Pak Andi dengan to the poin melukai hati Aisyah.
Bugh
Bugh
Bugh
"Mas Abi."
Yah Andi di pukul oleh Abi yang sudah berada disana. Entah sejak kapan Abi disana tapi Abi mendengar semua ucapan Pak Andi yang mengatakan jika ia akan menceraikan Aisyah. Sumpah demi apapun ia tak akan menyerahkan Aisyah walau istrinya sendiri yang meminta. Karena ia sudah terlanjur cinta mati dengan Aisyah.
"Berani kamu bilang seperti itu pada Istri saya!!"
Suara tegas dan dingin itu membuat Pak Andi yang tadinya sok sok berani malah menciut. Kenapa ia jadi takut melihat nada bicara dan apa yang dilakukan Abi.
"Saya tak akan tinggal diam atas apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Istri saya tak serendah itu untuk pergi bersama laki laki seperti Anda. Dia masih SAH istri saya. Bahkan saya tak akan pernah menceraikan Aisyah."
"Ingat saja Pak Andi, saya tak akan tinggal diam akan semua ini."
Abi melepaskan tarikannya pada kerah Pak Andi kemudian menuju sekali lagi perut yang sedikit buncit itu.
Abi menarik tangan Aisyah pelan dan keluar dari kafe itu.
"Bayar dulu makanan istriku, aku tak mau istriku melihat bajingan ini lagi."
Para pengunjung disana melihat keributan itu, mereka juga tahu siapa Abi dan yang baru mereka tahu adalah seorang guru cantik di SMA itu adalah istri dari Abi yang sangat jarang terekspos.
Aisyah takut melihat wajah marah Abi, ia menatap Abi yang dengan kasar menghabiskan minuman yang ada dimobil.
"Mas, jangan marah lagi. Aku gak apa apa kok," ucap Aisyah mengelus dada suaminya.
"Mas marah bukan karena dia menyatakan cinta sama kamu sayang. Tapi dia sudah merendahkan kamu dan juga aku, aku tak suka laki laki seperti dia. Secara tidak langsung dia mengatakan akan menjadi pengganti Mas sayang."
"Dan hal itu pasti menyakiti hatimu, aku gak mau kamu tertekan dengan pernikahan ini. Aku gak mau kamu menyerah akan semua ini, aku tak mau kamu pergi meninggalkan aku."
Aisyah yang mendengar itu langsung memeluk suaminya. Ia tak apa jika harus direndahkan tapi yang membuat marah Aisyah tadi adalah Andi tanpa sadar mengatakan jika Abi tidak akan bertanggung jawab akan kedua istrinya.
"Sudah jangan marah. Semua akan baik baik aja," jawab Aisyah dengan senyumnya.
"Setelah ini kita ke hotel biasanya. Aku gak mau kamu kembali ke sekolah itu untuk berberapa saat. Melihat wajah Andi membuatku ingin melayangkan bogem mentah padanya," ucap Abi yang hanya dibalas anggukan oleh Aisyah.
"Aku juga udah gak ada kelas kok Mas, jadi tenang aja."
"Mbak Zahra gimana mas?" tanya Aisyah menanyakan bagaimana Aisyah.
"Memangnya Zahra kenapa?"
"Dia baik kok, tadi masih tidur mungkin dia kelelahan."
Mendengar kata kelelahan membuat Aisyah sendu pasti suaminya sudah melakukan hal itu berulang kali mengingat bagaimana naf** suaminya di atas ranjang.
"Sayang kamu sedih aku mengatakan hal itu?" tanya Abi yang peka dengan keadaan.
"Gak apa apa Mas. Kan ini juga sudah menjadi kewajiban kamu, kamu suami kami. Tak adil rasanya jika kamu bersamaku tapi tidak bersama Mbak Zahra," jawab Aisyah dengan senyum manisnya.
"Tapi aku tetap memikirkan kamu saat berhubungan dengannya. Aku merasa bersalah sudah menghianati cinta kita, aku merasa aku sedang berhubungan denagnmu sayang. Aku tak bisa seperti ini terus."
"Mas coba pelan pelan buka hati buat Mbak Zahra. Aisyah gak apa apa kalau harus berbagi suami," jawab Aisyah dengan tulus.
"Memang awalnya susah tapi Aisyah akan berusaha untuk hal itu."
Abi tahu istrinya ini sedih tapi ia juga tak bisa melakukan apa apa selain menguatkan Aisyah. Ia sendiri juga bimbang, ingin rasanya selalu bersama Aisyah tapi tanggung jawabnya pada Zahra juga sama besarnya sama Aisyah.
"Mas kok ke hotel sih, kan Aisyah maunya ke mall."
"Aku males ke mall. Mau kurung kamu aja di kamar hotel."
"Mas ih," cemberut Aisyah saat mendengar suaminya ingin mengurungnya.
"Bibirnya minta dicium ya?" tanya Abi mengelus tangan lembut Aisyah kemudian meletakkannya di paha kirinya.
"Mau."
Cups
Dengan gerakan cepat Abi mencium bibir Aisyah, bahkan hanya sepersekian detik saja sudah bisa membuat Aisyah malu.
Bersambung
Semangat terus untuk bunda bunda hebat....
enthlah...trserah emak mo di bawa kmna...tu cinta segitiga aisah..