Marquellia Anderson, dikenal sebagai Lia, adalah ketua mafia yang ditakuti di seluruh dunia. Keahliannya dalam strategi dan pertarungan telah menjadikannya raja di dunia bawah tanah. Namun, suatu hari, dalam pertempuran sengit, Lia mengalami nasib yang tak terduga. Dia terbangun dan mendapati dirinya dalam tubuh seorang gadis muda bernama Felicia Lauren Filipe.
Felicia adalah anak yang diabaikan oleh keluarganya. Lahir dari keluarga bangsawan yang kaya raya, dia selalu dianggap sebagai beban karena penampilannya yang tidak menarik dan kekurangannya dalam segala hal. Keluarga Filipe memperlakukannya dengan dingin dan merendahkan, membuat Felicia hidup dalam bayang-bayang kebencian dan penghinaan.
Namun, kini, dengan jiwa Lia yang kuat dan tak kenal takut dalam tubuh Felicia, segalanya akan berubah. Lia bertekad untuk membalas dendam kepada mereka yang telah meremehkan dan menyakiti Felicia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mealvineaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Happy Reading guys....
Jangan lupa tombol suka dan comment!!
-----
Pagi itu, setelah malam yang penuh ketegangan, Lia dan Eleanor berdiri di balkon istana, memandang ke arah hutan yang gelap di kejauhan. Angin pagi yang sejuk membawa aroma tanah basah dan kabut tipis yang melayang di atas pepohonan. Suasana di istana masih terasa tegang, dengan para penjaga yang berjaga lebih ketat dari biasanya.
"Lia, apa langkah kita selanjutnya?" tanya Eleanor dengan suara lirih, wajahnya penuh kekhawatiran. "Musuh kita masih di luar sana, dan kita belum tahu siapa saja yang terlibat."
Lia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang berkecamuk. "Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang siapa yang memimpin serangan ini dan apa tujuan mereka. Kita tidak bisa hanya bertahan, kita harus mengambil inisiatif."
Saat mereka berbicara, Kapten Bernard mendekati mereka dengan ekspresi serius. "Nona Lia, Eleanor, kami telah menemukan beberapa jejak di hutan. Sepertinya musuh telah mundur ke arah utara. Saya menyarankan agar kita mengirim tim untuk menyelidiki."
Lia mengangguk. "Baiklah, Kapten. Pilih orang-orang terbaikmu. Kita perlu informasi sebanyak mungkin."
Kapten Bernard mengangguk dan segera bergegas pergi untuk mempersiapkan timnya. Sementara itu, Lia dan Eleanor kembali ke dalam istana untuk merencanakan langkah-langkah selanjutnya.
Di ruang pertemuan, mereka duduk bersama Duke Richard yang terlihat lelah tetapi tetap tegar. "Ayah, kita harus bertindak cepat. Musuh telah mundur, tetapi kita tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya," kata Lia.
Duke Richard mengangguk. "Kamu benar, Lauren. Kita tidak bisa membiarkan mereka merencanakan serangan berikutnya tanpa kita ketahui. Tapi kita juga harus berhati-hati. Mereka mungkin meninggalkan jebakan."
Eleanor mengajukan saran. "Mungkin kita bisa mengirim mata-mata ke wilayah musuh untuk mencari tahu lebih banyak. Ada beberapa pelayan yang ahli dalam hal itu."
Duke Richard mempertimbangkan saran itu. "Itu ide yang baik. Kita harus menggunakan semua sumber daya yang kita miliki. Lauren, Eleanor, aku ingin kalian berdua memimpin penyelidikan ini. Kalian berdua yang paling bisa dipercaya."
Lia merasa beban tanggung jawab yang berat, tetapi dia juga merasa tekadnya semakin kuat. "Baik, Ayah. Kita akan melakukannya."
---
Sore itu, Lia dan Eleanor bersama tim yang dipimpin oleh Kapten Bernard berangkat menuju hutan utara. Mereka bergerak dengan hati-hati, mengamati setiap jejak dan tanda-tanda keberadaan musuh. Hutan terasa sunyi, hanya suara burung dan angin yang sesekali terdengar.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di sebuah tempat yang tampaknya bekas perkemahan musuh. Lia berjongkok dan memeriksa tanah. "Mereka baru saja pergi dari sini. Jejak ini masih segar."
Kapten Bernard mengangguk. "Kita harus berhati-hati. Mereka mungkin meninggalkan mata-mata atau jebakan."
Saat mereka melanjutkan penyelidikan, mereka menemukan sebuah gua tersembunyi di balik semak-semak tebal. Lia memberi isyarat kepada timnya untuk berhenti. "Kita harus periksa tempat ini. Mungkin ada petunjuk di dalam."
Mereka masuk ke dalam gua dengan hati-hati, memastikan tidak ada bahaya yang mengintai. Di dalam gua, mereka menemukan beberapa dokumen yang ditinggalkan oleh musuh. Lia segera memeriksa dokumen-dokumen tersebut, matanya tertuju pada sebuah peta yang menunjukkan rencana serangan ke beberapa wilayah keluarga Filipe.
"Ini bukti yang kita butuhkan," kata Lia dengan suara tegas. "Kita harus membawa ini kembali ke istana dan menyusun rencana untuk menghentikan mereka."
Saat mereka bersiap untuk pergi, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Lia memberi isyarat kepada semua orang untuk bersembunyi. Beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit musuh masuk ke dalam gua, berbicara dengan suara rendah.
"Kita harus bergerak cepat," kata salah satu prajurit. "Mereka mungkin sudah menemukan jejak kita. Kita harus melaporkan ini kepada pemimpin."
Lia dan timnya menahan napas, berusaha tidak membuat suara. Ketika prajurit musuh akhirnya pergi, mereka keluar dari persembunyian. "Kita harus cepat," kata Lia. "Mereka akan segera tahu bahwa kita menemukan ini."
---
Malam itu, mereka kembali ke istana dengan membawa bukti yang mereka temukan. Lia segera menemui Duke Richard dan menunjukkan peta tersebut. "Ayah, ini adalah rencana mereka. Mereka berencana menyerang beberapa wilayah kita secara serentak."
Duke Richard memeriksa peta dengan seksama. "Ini lebih besar dari yang kita kira. Kita harus bersiap untuk perang total."
Lia mengangguk. "Kita harus memperingatkan semua sekutu kita dan menyusun pertahanan. Kita tidak bisa membiarkan mereka mengalahkan kita."
Saat mereka merencanakan strategi, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Seorang penjaga berlari masuk dengan wajah panik. "Tuan, Nona, ada pasukan besar yang bergerak menuju istana. Mereka akan tiba dalam beberapa jam!"
Duke Richard berdiri dengan tegas. "Kita harus bersiap. Semua orang harus berada di posisi mereka. Ini akan menjadi pertempuran yang sulit."
Lia merasakan ketegangan yang semakin meningkat. "Ayah, aku akan memimpin pasukan di gerbang utama. Kita harus bertahan."
Duke Richard menatap putrinya dengan penuh kebanggaan. "Kamu adalah harapan kita, Lauren. Jaga dirimu dan jangan biarkan mereka melewati kita."
Dengan tekad yang kuat, Lia memimpin pasukan ke gerbang utama. Malam itu, istana dipenuhi dengan ketegangan dan persiapan untuk pertempuran besar. Semua orang tahu bahwa ini akan menjadi malam yang panjang dan berat.
---
Saat fajar mulai menyingsing, pasukan musuh terlihat mendekati istana. Lia berdiri di depan pasukannya, merasakan angin pagi yang sejuk. Dia tahu bahwa ini adalah saat yang menentukan. Dengan hati yang berdebar kencang, dia mengangkat pedangnya.
"Siapkan diri kalian! Kita akan bertahan dan melindungi rumah kita!" teriak Lia, memimpin pasukannya dengan penuh semangat.
Pasukan musuh mulai mendekat, dan suara perang segera memenuhi udara. Lia berjuang dengan segenap kekuatannya, setiap ayunan pedangnya penuh dengan tekad untuk melindungi keluarganya. Namun, di tengah kekacauan pertempuran, dia melihat seorang pria bertopeng yang familiar di kejauhan, memberikan perintah kepada pasukan musuh.
Lia tahu bahwa pria bertopeng itu adalah kunci dari semua ini. Dia harus menghentikannya. Dengan keberanian yang tak tergoyahkan, Lia melawan dan mendekati pria bertopeng itu. Namun, setiap langkah terasa semakin sulit, dan musuh tampaknya tak pernah habis.
Di tengah pertempuran yang sengit, Lia akhirnya berhadapan langsung dengan pria bertopeng itu. "Ini adalah akhir bagimu!" teriak Lia, mengarahkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
Pria bertopeng itu tertawa sinis. "Kamu pikir kamu bisa menghentikanku? Ini baru permulaan."
Dengan satu gerakan cepat, pria bertopeng itu menghindari serangan Lia dan menyerangnya balik. Lia terjatuh, merasakan sakit yang luar biasa. Dia berusaha bangkit, tetapi tubuhnya terasa lemah.
"Eleanor! Lindungi ayahku!" teriak Lia dengan suara penuh ketegangan.
Eleanor berlari mendekati Lia, mencoba membantu. "Kita harus keluar dari sini, Lia! Ini terlalu berbahaya!"
Namun, sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, suara dentuman besar terdengar dari arah istana. Lia melihat ke belakang dan melihat api mulai menyebar, menghancurkan bagian istana.
"Ayah!" teriak Lia dengan suara penuh keputusasaan. Dia tahu bahwa mereka harus bertindak cepat, tetapi musuh tampaknya selalu satu langkah lebih maju.
Di tengah kekacauan dan api yang membara, Lia merasakan ketidakpastian yang mendalam. Pertempuran ini belum berakhir, dan musuh masih bersembunyi di bayang-bayang. Dia tahu bahwa ini adalah saat yang menentukan, tetapi apa yang akan terjadi selanjutnya masih menjadi misteri.
Dengan hati yang penuh tekad dan mata yang berkobar dengan semangat juang, Lia bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Perjuangan ini belum selesai, dan dia siap untuk melanjutkan pertempuran demi keluarganya dan masa depan mereka.
---
Saat api berkobar di sekeliling istana dan suara pertempuran semakin memekakkan telinga, Lia berdiri dengan tekad yang tak tergoyahkan. Dia tahu bahwa ini adalah saat yang menentukan, dan dia tidak akan menyerah.
Namun, di tengah kebingungan dan kekacauan, Lia merasa ada sesuatu yang besar dan berbahaya yang sedang mendekat. Sesuatu yang akan menguji kekuatan dan tekadnya lebih dari sebelumnya. Tetapi dia siap. Pertarungan ini baru saja dimulai, dan masa depan keluarga Filipe bergantung pada kekuatan.
_Bersambung_
semangat terus ya kak buat cerita novel nya💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯💯