Nuna, gadis cantik berhidung mancung dengan kulitnya yang putih bersih, diam diam menyukai seorang laki laki yang biasa ditemuinya di cafe langganannya, dalam diam nuna hanya bisa memperhatikan pujaan hatinya tersebut,
Tanpa berusaha untuk mengenalnya lebih dalam, tak jarang Nuna mencuri curi foto dengan kamera ponselnya...
Dimas, laki laki yang dcintai nuna dalam diam, seorang pengusaha di bidang properti, tampan, kaya dan arogan dan dia tak mudah jatuh cinta.
Akankah mereka bisa slaing mengenal dan jatuh cinta satu sama lain????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bag.16
"ya Allah sekarang aku harus bagaimana?? Dimas sudah tau aku bekerja di perusahaannya dan dia pasti akan terus menggangguku" gumamku dalam kebingungan.
Ya demi sebuah kontrak kerja yang sudah aku tanda tangani, aku harus tetap masuk kantor seperi biasa meskipun hatiku enggan untuk berangkat, jika tidak aku harus membayar biaya ganti rugi, yang tak sedikit jumlah nominalnya, bahkan menguras tabunganku pun masih tak cukup untuk membayarnya.
Sampai di kantor, tak seperti biasanya, semua karyawan berkumpul di ruang meeting, entah ada acara apa sampai semua karyawan harus dikumpulkan di ruang meeting.
Akupun bergegas bergabung dengan teman temanku, sesaat setelah aku masuk, sang direktur pun memasuki ruang meeting dengan di dampingi oleh dua orang sekretarisnya, Sendi dan Luna.
"selamat pagi semua, saya langsung saja pada intinya kalau begitu untuk mempersingkat waktu"
"maksud saya mengumpulkan kalian disini, untuk memberi tahukan, bahwa saya akan menetap di perusahaan ini untuk sementara waktu dan tidak dapat ditentukan sampai kapan, dan perusahaan saya di Kota B, saya serahkan pada sekretaris saya Luna, jadi untuk selanjutnya saya mohon kerja sama kalian, terima kasih" kata Dimas membuat para karyawan memberi ekspresi beragam, ada yang suka, ada yang tidak bahkan ada yang hanya diam saja tanpa ekspresi.
Tak terkecuali denganku, ekspresiku nano nano, resah dan gelisah serta tak suka seakan menari nari di dalam pikiranku, sungguh kabar yang sangat buruk yang ku terima hari ini.
"kalian bisa kembali bekerja sekarang, dan untuk kamu, Nuna, tetap tinggal karena saya masih ada urusan denganmu!" kata Dimas dengan tegas.
"ckkk....." decakku sambil menghentakkan kaki ketika aku telah siap kabur dari tempat itu.
Setelah para karyawan telah berhamburan ke mejanya masing masing, yang tinggal hanya aku dan Dimas saja di ruangan itu.
Sendi yang paling terakhir keluar dari ruangan tersebut, di suruh menutup pintu dengan rapat dan Dimas berpesan agar tidak ada yang boleh masuk atau mengganggunya saat ini.
"bagaimana? apa kau suka dengan kabar ini?" tanya Dimas sambil berjalan ke arahku.
"ckk... bisa bisanya kau gunakan kekuasaanmu untuk terus menggangguku?" aku kembali berdecak kesal.
"itulah gunanya kekuasaan" kekehnya.
"sebenarnya apa maumu? kenapa kau masih saja mengangguku? sedang dulu kau telah membuangku begitu saja?" kataku dengan emosi.
Raut wajah Dimas sedikit berubah dan melunak,
"aku tak membuangmu, hanya saja..."
"hanya apa? hanya mencampakkanku ketika aku mulai benar benar mencintaimu??" kataku menyela kata kata Dimas dengan setengah berteriak.
"maafkan aku, awalnya aku memang hanya ingin mempermainkanmu tapi entah mulai kapan,aku malah jatuh hati sungguhan padamu" jawabnya.
"apa? semudah itu kau meminta maaf?? apa kau tau bagaimana keadaanku setelah kau tinggalkan begitu saja hah???" sungutku kali ini aku mulai menangis.
"lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu?"
"enyah dari hidupku, biarkan aku hidup tenang tanpa kehadiranmu lagi!" jawabku dengan suara bergetar.
"tapi aku sangat mencintaimu Nuna dan memang perasaan ini terlambat aku sadari! aku sadar setelah menjauh darimu, setelah menyakitimu, dan ketika aku benar benar yakin dengan perasaanku,aku berusaha menghubungimu, tapi nomormu tak aktif, dan ketika aku mendatangi kostmu, saat itu aku melihatmu sedang dengan seorang laki laki yang kukira kekasihmu, salahku saat itu tak bertanya dulu malah langsung pergi begitu saja dan tak pernah kembali, aku terlalu takut menerima hukuman darimu saat itu karena tiba tiba menghilang setelah menyatakan perasaanku yang kukira hanya sandiwara, ternyata dengan waktu singkat kau benar benar membuatku terjerat dalam cintamu" kata Dimas berusaha menjelaskan.
Aku sudah tak butuh penjelasanmu dan aku harap kau menjauh dari hidupku, aku sangat membencimu!!!!!" kataku sambil berjalan keluar ruangan dan menyeka airmataku dengan kasar.
Dimas tak berusaha mencegahku, dia membiarkannku pergi begitu saja dari hadapannya, seolah memberiku waktu untuk meredam semua emosiku yang meluap begitu saja.
"Nun... kamu kenapa?? apa kamu baik baik saja?" tanya Cila.
"tolong ijinkan aku pada pihak HRD ya Cil, aku mau pulang!" kataku.
"iya, tapi kamu kenapa??"
"aku hanya sakit perut Cil, kalau begitu aku pulang ya..." pamitku pada Cila yang masih bingung dengan keadaanku.
"baiklah, kau hati hati ya! apa tak sebaiknya kau naik taksi saja Nun?"
"aku masih bisa menyetir sendiri Cil, terimakasih karena selalu mengkhawatirkanku" jawabku lalu berlalu dari hadapan Cila.
Pikiranku benar benar kalut mengehtahui kenyataan bahwa Dimas hanya mempermainkan perasaanku saat itu, dengan begitu teganya dia memanfaatkan situasi dimana posisiku memang sedang jatuh hati padanya. apa salahku hingga dia tega berbuat itu padaku? batinku, aku kembali menangis sejadi jadinya di mobil.
Tanpa sadar aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tak seperti biasanya, kondisi jalanan yang licin karena hujan, membuat mobil melesat cepat dan tak terkendali, dan...
Brakkk.....
Seketika pandanganku kabur dan sebelum kesadaranku benar benar menghilang,sayup sayup ku dengar orang berteriak,
"kecelakaaaaan......."
Lalu aku tak tau apa apa lagi, sakit sekujur tubuh yang ku rasakan membuatku berat untuk membuka mata kembali.
🍲🍲🍲🍲🍲🍲
Polisi tampak berlalu lalang sedang berusaha menolong seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan, aku yang awalnya keluar dari kantor hanya untuk mencari udara segar setelah bertengkar hebat dengan Nuna di ruangan meeting, dikejutkan dengan kecelakaan yang baru saja terjadi, dan ketika melihat mobilnya, mobil yang sangat aku kenal, aku langsung menghentikan mobilku dpinggir jalan lalu segera mencari cari pengemudinya yang tak lain adalah Nuna.. yaaa mobil Nuna baru saja mengalami kecelakaan, mobilnya menabrak pembatas jalan tol.
"anda siapa? dilarang menerobos garis polisi!" bentak seorang polisi padaku.
"saya mengenal pengemudinya!!!" sungutku.
"apa anda keluarganya?" tanya polisi yang terus saja menghalangiku untuk melihat keadaan Nuna.
"saya kekasihnya, tolong biarkan saya melihat keadaannya!" jawabku sangat ketus.
"maaf pak korban harus segera di evakuasi, dia mengalami luka yang cukup parah kami khawatir dia kehabisan banyak darah jika anda menghalangi kerja kami"
"tolong lakukan yang terbaik pak" sahutku yang mulai di serang rasa panik.
"sebaiknya anda langsung kerumah sakit dan nanti temui kami disana!" jawab polisi itu.
Akupun mengikuti ambulan yang membawa tubuh Nuna menuju rumah sakit, aku berteriak dan menangis di dalam mobil menyesali kebodohanku, seharusnya aku tak membiarkannya keluar dari ruangan meeting dengan keadaan emosi seperti tadi,
"Nuna maafkan aku, aku mohon bertahanlah, aku sangat mencintaimu" lirihku sambil terus meneteskan airmata.
Aku menghubungi Sendi, dan memberitahukan tentang kecelakaan yang di alami Nuna, dan menyuruhnya untuk segera menghubungi keluarga Nuna.
Sepanjang jalan aku hanya bisa merutuki kebodohanku, sesampainya di rumah sakit aku langsung berdiri disamping rolling bed yang membawa tubuh Nuna yang bermandikan darah, hatiku benar benar pilu melihat keadaan Nuna yang lemah tak berdaya.
Ketika sampai di Instalasi Gawat Darurat, perawat melarangku ikut masuk dan menyuruhku untuk menunggu diluar.
Sejam kemudian, ada seorang ibu ibu yang duduk di atas kursi rodanya datang bersama seorang gadis muda sepantaran usia Nuna, menangis memanggil manggil nama Nuna.
"Nuna...." ratap ibu itu memanggil nama Nuna,
Aku bisa menebak kalau wanita itu adalah ibunya Nuna,
Ibunya terus saja menangis sambil menunggu dengan cemas dokter yang sedang merawat Nuna keluar dari ruangannya.
semangat Thor dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak Thor dah buat kami terhibur 🙏🙏🙏