Kabut adalah sesuatu yang kelam dan suram. Kabut juga menutupi banyak hal yang tidak terduga. Oleh sebab itu, ada banyak misteri dibalik kabut. Untuk bisa melihat semua misteri itu, butuh keberanian, keteguhan dan kekuatan. Banyak orang lemah tidak akan sanggup melewatinya.
Begitu juga dengan kabut kehidupan, datangnya tidak bergantung pada usia atau keinginan seseorang. Hanya orang berani, kuat dan tangguh yang mampu menyibak kabut dalam hidupnya.
👉🏻Adakah yang mempesona di balik sesuatu
yang kelam dan suram?
👉🏻Bukankah semua yang dijadikan-Nya memiliki
makna bagi yang percaya pada-Nya?
*Mari ikuti kisah perjuangan Carren Briana,
Aaric Elimus dan Recky Biantra melewati
kabut hidup dan menikmati
pesona di baliknya.
Selamat Membaca.
❤️ 🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Parry Hutama 2.
...~•Happy Reading•~...
Di sisi lain ; Setelah turun dari kereta api, Carren berjalan cepat keluar menuju halte Stasiun Sudirman untuk menunggu Parry menjemput.
Sebagaimana yang dijanjikan, dari jauh Parry melihat Carren sudah menunggunya di halte. Dia segera memperlambat mobil dan menepi untuk menjemput Carren.
Ketika melihat Carren tidak menggubris, padahal dia sudah berhenti di depannya, Parry menurunkan kaca mobil.
Carren tetap tidak melihat ke arahnya, membuat Parry tersenyum. Dia ingin mengganggunya, tetapi karena kendaraan sedang padat Parry memanggil nama Carren.
Mendengar namanya dipanggil, Carren menunduk dan melihat ke dalam mobil lewat kaca mobil yang dibuka. Saat melihat Parry di dalam, Carren melangkah dan berjalan mendekat.
"Sorry. Sudah menunggu lama, ya. Tadi aku ke kantor Papi dulu." Ucap Parry, saat Carren naik dan duduk di sampingnya. Lalu memukul lengan Parry karena kesal.
"Ngga juga, aku belum lama berdiri di halte. Aku tadi pikir siapa yang berhenti di depanku. Kau ganti mobil, ya." Ucap Carren, karena tadi bersikap cuek. Dia tidak menyangka Parry ada dalam mobil yang berhenti depannya. Untung Parry menurunkan kaca dan memanggil namanya.
"Aku pakai mobil Papi, karena orang tuaku lagi ngga ada di sini. Sekalian mau ajak kau jalan-jalan naik mobil mereka. Hehehe...." Parry jadi tertawa ingat wajah cuek dan tidak senang Carren, saat melihat mobil berhenti di depannya.
"Oooh, pantesan. Habis kau ngga bilang mau ganti mobil, aku kira ada orang iseng yang mau menggangguku. Apalagi dengan mobil begini, aku kira sultan lagi nyasar atau salah jalan. Hehehe..." Carren jadi tertawa ingat sejak dia berdiri menunggu di halte. Ada saja mobil yang melambat di depan halte dan membunyikan klakson.
"Makanya, lain kali ngga usah tunggu di halte. Kalau aku ngga bisa jemput, biar sopir yang menjemput di rumah saja. Apakah kau ngga tau, kalau kau berdiri seperti tadi, sangat mengganggu lelaki mata donat?" Tanya Parry sambil tersenyum sendiri mendengar yang diucapkannya.
Walaupun Carren hanya mengenakan kemeja kotak-kotak santai dengan celana jeans dan sepatu lepes, serta mengikat rambutnya asal tidak bisa menyamarkan wajahnya yang ayu dan cantik.
Dengan penampilannya yang demikian mala menarik perhatian orang. Baik yang sedang berjalan di trotoar, juga pengendara mobil dan motor yang lewat di depannya.
"Aahhh... Mereka saja yang matanya kebanyakan piknik, sampai lupa konek dengan otak. Masa wanita ngga bisa berdiri di pinggir jalan, dan juga di halte." Ucap Carren asal, dan juga protes sambil tersenyum.
Dia ingat pengendara mobil atau motor yang menjadi iseng melihatnya berdiri sendiri. Padahal penampilannya wajar saja, dan dia juga berdiri dengan sopan sambil memeluk laptop di dada.
"Emang mata mereka emoticon (👀), yang ngga konek dengan otak? Tadi aku saja hampir mau mengganggumu, kalau jalanan ngga padat. Hahaha..." Ucap Parry, sambil tertawa mendengar yang dikatakan Carren, mata kebanyakan piknik dan pikirannya yang mau mengganggu Carren.
"Hehehe... Keseringan chat, sampai hapal emoticon. Kalau tadi kau menggangguku, aku langsung balik masuk stasiun. Lagian juga, sejak kapan kau terjangkit virus iseng?" Tanya Carren, dengan wajah tersenyum.
"Sejak tadi melihatmu berdiri di halte dan cuek tidak melihatku yang sudah berhenti di depanmu." Jawab Parry, sambil tersenyum ingat keinginannya yang tiba-tiba ingin mengganggu Carren.
"Stop, isengnya. Ini kita mau ke mana dengan mobil beginian?" Tanya Carren, karena mereka tidak bisa ke tempat sembarang dengan mobil mewah orang tua Parry. Bisa-bisa mereka tidak bisa berdiskusi, tetapi hanya memikirkan keamanan mobil papinya.
"Tenang saja, aku akan membawamu ke tempat yang tenang untuk belajar dan makan enak." Ucap Parry, sambil mengangkat tangan dan menautkan jarinya untuk mengisyaratkan tanda OK.
"Baiklah, aku serahkan pada yang punya hajatan saja. Silahkan..." Ucap Carren, sambil tangannya mempersilahkan Parry untuk menjalankan mobil.
Parry tersenyum melihat Carren yang sudah lebih santai. Dia membawa mobil melaju ke Kebayoran di bilangan Jakarta Selatan seperti yang dikatakan tadi malam kepada Carren.
Setelah tiba di tempat tujuan, Carren tersenyum senang. Selain tempat parkir yang aman, suasananya juga tenang. Parry memarkir mobilnya di sebuah restoran ekslusif, bisa dilihat dari beberapa mobil mewah yang sedang parkir. Restoran yang sangat bersih, nyaman, view nya indah dan sejuk.
Setelah Carren setuju mau membantunya, tadi malam Parry langsung reservasi tempat untuk mereka. Saat masuk ke restoran, Carren takjub melihat ruangan restoran yang mewah dan nyaman.
Carren buru-buru mengalihkan perhatiannya, mengikuti pelayan yang mengantar mereka ke tempat yang telah di pilih Parry, agar dia tidak terlihat seperti kerbau melihat payung.
Setelah duduk di tempat yang dipesan Parry, pelayan meninggalkan mereka. Tetapi suasana dan interior restoran sangat menggoda Carren. "Parry, tolong foto, ya. Buat kenang-kenangan, aku pernah ke sini." Ucap Carren sambil menyerahkan ponselnya kepada Parry untuk foto.
Setelah selesai, Parry menyerahkan ponselnya. Carren tersenyum melihat hasil jepretan Parry. Benar-benar bagus dan dia sangat suka melihat hasilnya.
"Mari ponselmu, biar aku foto kau juga." Ucap Carren, sambil mengulurkan tangan untuk minta ponsel Parry.
"Kalau foto berdua denganmu, baru aku mau. Kalau foto sendiri, aku sudah punya, difoto sama Kak Naina." Ucap Parry, sambil terus memegang ponselnya.
"Eeehh... Apa nanti ulang tahunku dirayakan di sini saja, ya." Ucap Parry, karena telah keceplosan jadi dia mengalihkan pembicaraan, saat melihat Carren terdiam mendengar ucapannya tentang untuk foto berdua.
"Fokuuuss... Sekarang datang untuk belajar, ngga usah mikirin ulang tahun. Karena ulang tahunmu ngga usah direncanakan. Besok mau ulang tahun, sekarang kau telpon untuk tutup restoran, bisa. Ayooo..." Ucap Carren, lalu mengeluarkan laptopnya.
Parry mengikuti Carren mengeluarkan laptop dari dalam tas dan letakan di atas meja. Tetapi hatinya belum tenang dengan pikirannya. "Carrennn ..." Ucap Parry terputus, dipotong oleh ucapan Carren.
"Apa lagi, Parriii...? Ulang tahunmu masih lama, jadi ngga usah pikirkan dulu. Tuuuu, diperhatikan." Ucap Carren, karena mengira Parry hendak membicarakan ulang tahunnya. Lalu menunjuk laptop Parry dengan wajahnya.
"Astaga, Carren. Kau galak sekali. Siapa juga yang mau bicarakan ulang tahunku. Sudah kau bilang tadi kan? Saat ulang tahunku, aku akan menutup tempat ini, dari siang sampai malam." Ucap Parry, dengan wajah terkejut karena baru pernah melihat Carren galak.
"Abis, aku kira kau masih mau membahas ulang tahunmu. Bagus kan, bisa melihatku galak?" Tanya Carren, sambil tersenyum untuk menetralkan suasana, karena dia melihat wajah Parry yang terkejut.
"Awas, ya. Berani kau galak lagi mendengar pertanyaanku, aku ngga akan tunggu persetujuanmu, tetapi langsung eksekusi." Ucap Parry, serius.
"Eeeh, ternyata kau sudah bisa galak juga, ya. Kau mau tanya apa? Cepatan, nanti tiba-tiba sore, belum bahas apa pun tentang materimu." Ucap Carren, dengan suara yang lebih santai.
"Aku cuma mau tanya, apakah kau ngga berniat ganti ponselmu? Karena ponselmu itu dibeli saat aku mengantarmu, kan?" Tanya Parry berhati-hati, karena khawatir Carren tersinggung. Karena tadi saat pegang ponsel Carren, dia tahu ponsel Carren dibeli saat dia masih sekolah.
"Begini, Parry. Niat itu ada, tetapi harus tunggu waktunya. Jadi sementara ini, Carren yang sabar, yaaa..." Canda Carren, sambil mengelus dada. Dia jadi bercanda dan tersenyum melihat Parry.
Carren tidak mau berbicara galak, karena khawatir dengan ancaman Parry yaitu eksekusi. Parry bisa membeli ponsel baru untuknya tanpa persetujuan dan mereka akan ribut, karena Carren tidak mau menerima.
...♡•~¤~•♡...