Pesona yang ditawarkan seorang Rindu terkadang membuat para laki laki tidak dapat menahan perasaannya.
Bahkan adik kandung Papanya sendiri begitu menggilainya hingga mengklaim bahwa Rindu adalah wanitanya.
"Rindu.. sayang.."
Dirga menatap dalam wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdenyut.
"Uncle aku takut"
Jawab Rindu dengan bola mata berkaca kaca.
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia atau bahkan sebaliknya?!.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR YAA MAKKKK...
LIKE, KOMENT, VOTE DAN JUGA FAVORITKAN MAKKK 🙏🙏🙏🙏
Happy reading dan untuk para readers 💙💙💙💙💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahyuma_Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
D&R 16
🍂Happy Reading Yaa Makkk.... hati hati mak, haredang tipis tipis ini🍂
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Braakkk
Taaaakkk
Suara pintu yang tertutup dan dikunci oleh seseorang, membuat penghuni ruangan tersebut sedikit terlonjak kaget.
"Sayang.."
Dengan penampilan sedikit menggoda, mama Rindu menatap sang suami yang sudah mulai terpancing.
"Apa yang semalam belum cukup untuk kamu"
Laki laki itu langsung menyergap pinggang sang istri, dan memberikan ciuman sekilas dibibir merah tersebut.
Hmmm.. hmmm..
"Siapa bilang.. a.aku.."
Suara parau sedikit tertahan itu hilang seketika saat salah satu dari bagian menonjolnya direm.as tanpa aba aba.
"Aku apa hmmm, lalu kenapa hanya memakai ini saja"
Tunjuk papa Rindu pada satu set underwear yang melekat ditubuh sintal mama Rindu, begitu terlihat masih se.ksi diusia paruh baya itu.
"Apa kamu masih merindukan rudal rusiaku ini"
Laki laki itu menekan tubuh sintal mama Rindu merapat kedinding hingga yang dibawah menekan dengan begitu keras kearah milik sang istri.
Mama Rindu hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat merasakan rudal rusia favoritnya telah kembali aktif itu.
"Sayang.. hmmm.. aku fikir kamu salah paham, aku hanya ingin mandi tadi"
Perempuan itu sesekali menahan nafasnya akibat tangan liar sang suami terus bergerak nakal keseluruh tubuhnya.
Mendengar ucapan sang istri, papa Rindu mendekatkan bibirnya kearah telinga perempuan itu.
"Oh iya.. apa kamu tidak mau merasakan lagi bagaimana kedasyatan nya dia"
Bisik papa Rindu sambil menekan lagi yang dibawah.
Teeeggkk
Pengait bagian atas terlepas.!
laki laki itu memang tidak mau menyia nyiakan kesempatan, terus bergerak menyantap makanan penutup sarapan paginya, dari bibir leher dan bahu tidak luput dari sapuan bibir papa rindu.
"Bukankah kamu akan pergi seben... aaakkhh"
Tangan mama Rindu mencengkram kuat bahu suaminya saat laki laki itu sudah tenggelam didalam kedua gundukan bulat yang ranum miliknya itu.
Perempuan itu fikir sang suami memang masih terlihat perkasa diusia yang sudah hampir setengah abad itu, bahkan laki laki ini termasuk golongan tua tua keladi semakin tua dia semakin menjadi.
Dan kegiatan seperti ini hampir setiap hari laki laki itu lakukan, tak jarang mama Rindu harus siap kapanpun saat sang suami menginginkan dirinya, karena diapun juga menyukai kegiatan tersebut.
Tangan nakal papa Rindu mulai bergerak kebawah memastikan apa tempat melesatnya sang rudal siap untuk diluncurkan, membuat tangan mama Rindu merem.as kuat rambut sang suami karena lagi lagi dia harus merasakan kepawaian tangan kokoh itu yang selalu membuat dia hilang kendali atas dirinya.
"Sayang.."
Seolah tahu apa yang diinginkan sang istri, laki laki itu melepas gerakan bibirnya menatap wajah sang istri yang sudah dipenuhi oleh gair.ah itu.
"Kita pindah ketempat tidur"
Laki laki itu langsung membawah sang istri keatas ranjangnya, dia bergerak membuang pakaiannya sebentar dan langsung membawah sang istri pada kekuasaannya.
Dan pada akhirnya pasangan yang dimabuk has.rat dan gair.ah itu sama sama melepas kembali rasa yang membuncah didalam diri masing masing.
Menciptakan moment pagi yang indah tanpa harus mengenal usia, terus berlabu dalam kenikmatan yang terus mereka berikan satu sama lain.
...----------------...
Ditempat lain...
Diwaktu yang sama
Begitu melihat mobil Dirga menjauh pergi, Lenna mencari ponselnya didalam tas dan menggerakan jarinya menekan satu buah nomer.
"Rencana pertamanya berhasil"
Perempuan itu berbicara saat sudah tersambung dengan seseorang diluar sana.
"Hmmm baiklah.. kita akan bertemu setengah jam lagi ditempat biasa, aku akan kesana sekarang"
Lenna berbicara sembari tangannya bergerak memanggil taksi.
Setelah sambungan telponnya terputus Lenna langsung masuk kedalam taksi tersebut dan membawanya pergi melaju kesesuatu tempat.
...----------------...
Dirga memarkirkan mobilnya didepan lobby perusahan begitu saja, melempar kunci kearah security yang seolah tanggap dengan perintah sang atasan.
Laki laki itu begerak kearah elevator yang langsung membawanya kelantai dimana ruangan pibadinya.
Begitu Dirga sampai ruangan, laki laki itu langsung menghubungi seseorang agar segera menghadap dirinya, dan setelah itu menghempaskan tubuhnya keatas kursi seraya mengurai simpul dasi yang membuat dia merasa sesak hari ini.
Sial.. sial.. siaaalll..
harusnya Rindu tidak melihatnya tadi.!
Oohh Shi.t
Ketukan pintu terdengar dan menculnya seseorang yang sudah Dirga tunggu.
Dirga langsung berdiri, berjalan kearah laki laki yang ada didepannya itu dan meraih kera kemejanya kuat kuat.
"Di..Dirga"
Rian terkejut dengan aksi menyalah tajam yang keluar dari dalam diri Dirga, hingga membuat dirinya menelan saliva begitu kasar.
Bahkan Lala yang datang bersama Rian tadi hingga memundurkan langkahnya refleks karena terkejut.
"Apa kamu ikut campur dengan kedatangan Lenna yang tiba tiba ini"
Geram Dirga, hingga rahang laki laki itu mengeras dengan mata yang menyalah.
"No, Dirga aku tidak tahu"
Iya.. memang Rian tidak tahu kalau Lenna tiba tiba datang ke indonesia dan langsung mencari muka pada temannya ini.
"Oh come bodoh, apa perlu aku menunjukan cctv nya padamu"
Oh shi.t
aku lupa pertemuan itu, haaiiss pasti laki laki ini salah paham
tapi kenapa dia bisa semarah ini?!.
Melihat Rian hanya diam menambah api yang tersulut dalam diri Dirga, membuat dia menghantam tubuh temannya kearah dinding.
Buuukkkk
"Jawab breng.sek"
Oohh shi.t
laki laki ini benar benar marah
"Kamu salah paham Dirga, aku bisa menjelaskan semuanya, oke"
Rian mengangkat tangannya tanda menyerah, berharap Dirga tidak menghajar wajah atau tubuhnya itu.
"Kita duduk dulu hmmm jangan seperti ini, kamu membuat Lala ketakutan"
Ekor mata Dirga melirik kearah Lala, sembari menghela nafas beratnya.
melepas cengkraman kera Rian dan belalu menuju kursi sofa.