Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Ma! Besok jangan lupa bawa baju ganti, habis lihat pengumuman kita jelong-jelong." Tiara mengingatkan Rahma lagi sebelum pulang.
Tiara bertandang ke rumah Rahma untuk mengajak Rahma jalan-jalan besok. Besok adalah hari pengumuman kelulusan, sehingga Tiara ingin mengajak Rahma jalan-jalan. Kebetulan besok juga bertepatan dengan hari lahir Rahma. Rahma tidak mengingatnya karena bagi Rahma itu tidaklah penting.
"Iya... iya. Besok aku bawa baju double biar kamu puas! Hahaha!" jawab Rahma mengiyakan ajakan sahabat baiknya.
Sebenarnya Tiara sudah menyiapkan surprise party kecil-kecilan untuk Rahma. Tiara mengundang beberapa teman kelas mereka dan tentunya tidak lupa Frans dan Rio. Tiara ingin mengetahui seberapa dekat hubungan Frans dengan Rahma. Oleh karena itu, Tiara sengaja mengundang Frans di acaranya.
Selama menjadi kenal dengan Rahma, Tiara tidak pernah melihat Rahma merayakan hari jadinya. Bahkan Rahma cenderung melupakannya, setiap Tiara memberi kado dan ucapan selamat ulang tahun Rahma selalu menanggapi dengan datar.
"Kalian besok mau kemana?" tanya bu Sarifah ketika Rahma sudah masuk ke rumah.
"Nggak tahu, Bu! Tiara nggak ada bilang mau kemana," jawab Rahma mendekati kemudian duduk di samping ibunya.
"Hati-hati kalau jadi pergi jalan-jalan, jaga diri baik-baik. Jangan salah pergaulan! Anak jaman sekarang terlalu bebas berekspresi dan terkesan berani. Beda waktu jaman Ibu sekolah dulu, keluar rumah saja tidak berani karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan." kata bu Sarifah menasehati panjang lebar.
"Iya, Bu! Rahma pasti akan jaga diri baik-baik. Ibu tidak usah khawatir. Ibu juga jaga kesehatannya, sudah setengah jalan ibu berobat. Jangan sampai mengulang lagi dari awal!" jawab Rahma ikut menasehati ibunya. (Durhaka nggak sih, kalau anak nasehati orang tua 🤔)
*
*
*
Rahma bangun pagi seperti biasanya, sebelum waktu Subuh dia sudah merendam pakaian di ember. Setelahnya mulai mengisi ember-ember untuk membilas cucian nantinya. Setelah selesai mengisi ember-ember, Rahma pun menunaikan kewajibannya.
Rahma harus menyelesaikan semua pekerjaannya dalam waktu singkat. Pagi ini dia harus ke sekolah untuk melihat hasil ujian, lulus atau tidak.
Rahma sudah menyiapkan baju ganti di dalam tasnya. Kaos oblong putih dan celana jeans berwarna hitam. Rahma pun membawa beberapa lembar uang tabungannya, untuk berjaga-jaga jika dia ingin membeli sesuatu saat jalan-jalan bersama Tiara nanti.
"Bu, Rahma pergi ke sekolah ya!" ucap Rahma sambil mencari keberadaan ibunya.
Tadi setelah selesai makan sarapan, ibunya masih duduk di ruang tamu. Rahma yang tidak tahu di mana ibunya pun terus berteriak memanggil.
"Bu! Ibu!" Rahma berjalan mengelilingi rumah untuk mencari ibunya.
Ternyata bu Sarifah di belakang rumah sedang memetik daun ubi kayu untuk dijual dan dimasak sendiri.
"Iya, sudah mau berangkat sekarang?" tanya bu Sarifah.
"Iya, Bu! Rahma pergi dulu, ibu di rumah jangan terlalu capek!" pamit Rahma sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Kamu hati-hati di jalan!" jawab bu Sarifah mengusap rambut Rahma dengan tangan kiri masih memanggul bakul berisi daun ubi kayu.
Rahma pun mengayuh sepedanya menuju sekolah. Butuh waktu empat puluh lima menit untuk mencapai sekolah dengan sepeda.
Rahma sampai di sekolah ternyata sudah ramai dengan teman-teman setingkat yang ingin melihat pengumuman. Tiara pun sudah duduk di depan kelasnya.
"Rahma! Sini, cepat!" teriak Tiara dari tempatnya.
Rahma pun mendekati Tiara dan beberapa teman sekelasnya.
"Aku simpan tasku dulu!" ucap Rahma ketika sudah dekat dengan teman-temannya.
"Iya, cepat! Gak pakai lama!" jawab Tiara sambil tersenyum.
Rahma pun bergegas menuju kelasnya untuk meletakkan tas. Setelah itu Rahma kembali mendatangi teman-temannya yang tadi.
Tiara langsung memeluk Rahma begitu Rahma tiba di depannya.
"Ada apa sih? Pakai acara pelukan segala!" tanya Rahma heran melihat tingkah Tiara.
"Hehehe!" jawab Tiara sambil nyengir kuda.
"Dasar lebay, kurang kerjaan!" dengus Rahma.
"Wkwkwk..."
Teman-teman Rahma yang berada disitu pun ikut tertawa melihat tingkah Tiara, apalagi ditambah kata-katanya tadi.
"Gitu ya kalian? Suka banget gue dibully!" kata Tiara cemberut.
"Bukan membully, Tiara! Hanya lucu aja lihat tingkah Lo. Hahaha!" jawab Santi.
Tak lama kemudian saat mereka masih ngobrol dan saling berdebat, terdengar suara yang meminta para siswa kelas XII untuk berkumpul di lapangan.
Ternyata di ujung lapangan terdapat beberapa papan yang sengaja diletakkan untuk menempel kertas pengumuman. Para siswa diminta untuk berbaris untuk melihat hasil ujian mereka.
Tiba saatnya giliran Rahma melihat hasilnya. Nama Rahma ternyata berada di urutan pertama. Nilai Rahma paling tinggi diantara semua anak-anak kelas XII di SMA itu.
"Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah!" ucap Rahma sambil bersujud syukur di tanah lapangan.