Namaku Rania, ini adalah kisah sederhana tentang cinta yang sederhana, rasa yang sederhana, untuk seorang pria yang sederhana pula.
Tapi ini bukan kisah cinta yang berakhir bahagia, kisah ini berakhir dengan sebuah perpisahan yang cukup menguras air mata.
Tidak mudah menuliskan tentang kisah ini, karena aku harus mempersiapkan hati dan ingatan yang cukup kuat untuk menceritakannya dan mengingat semua nya kembali, dan percayalah, itu semua sangatlah tidak mudah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon millano jh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunung Api Purba Ngelanggeran
"Men, aku masuk ya?" Via memanggilku dari luar.
"Masuk aja Vi, nggak tak kunci." jawabku.
"Piye keadaanmu?" tanyanya sambil duduk di sampingku yang masih terbaring.
"Udah mendingan, nggak pusing lagi, tapi masih agak lemes." jawabku.
"Semalem mas Farhan SMS aku, nanya keadaanmu, dan nanya ada apa sama kamu sebenarnya."
"Terus kamu jawab apa?" tanyaku
"Aku jawab aja kalau aku nggak bisa jelasin apa-apa, biar nanti kamu aja yang ngomong sendiri ke dia kalau nanti keadaanmu sudah membaik."
"Hmmm, aku nggak tau Vi, bisa nggak cerita ke dia soal ini, aku takut dia sedih, baru aja dia seneng karena ibu nya sudah bisa menerima hubungan kami. Ini malah ada lagi." kataku.
"Kamu kok yo nggak kepikiran sih soal ini sebelumnya? Andai kamu kepikiran, kan kamu bisa meyakinkan ayahmu terlebih dahulu, baru yang lainnya, mungkin bisa lain ceritanya."
"Entahlah, tapi yang jelas aku sama sekali nggak pernah kepikiran kalau Bima muncul lagi. Karena kalau dia nggak muncul lagi, ayah ku pasti nggak punya pembanding Vi." jawabku merasa sedih.
"Kayaknya memang sudah takdir Ran, tinggal gimana kamu ngejalaninnya, kuat nggak, kalau kuat bisa jadi masalah ini juga selesai, dan kamu bisa sama mas Farhan." katanya menguatkanku.
"Tapi sejauh ini aku nggak pernah bisa menentang ayahku Vi." jawabku sambil menghapus air mata yang mulai mengalir lagi.
"Yo wes, kamu coba obrolin masalah ini ke mas Farhan, siapa tau dia ada solusinya, jangan kamu pendem sendiri, bisa-bisa kamu nya stress dianya khawatir kan kasian." sarannya pada ku.
"InshaAllah Vi, nanti kalau aku sudah pulih aku akan coba ngomong sama mas Farhan." kataku.
"Yaudah, aku ke kampus dulu sebentar, kamu istirahat ya, kalau butuh apa-apa SMS aja." katanya.
"Terimakasih Via." jawabku tersenyum.
Untung aku punya Via, sahabat yang selalu ada dalam keadaan apapun.
Siang itu Via pulang dari kampus dan membawakanku makanan, dan aku coba untuk memakannya, walau semua terasa pahit, tapi aku nggak mau sakit. Aku nggak mau mas Farhan melihatku begini.
Selesai makan aku pun mandi, selesai mandi aku merasakan kepalaku agak sedikit lebih ringan, dan badan ku terasa lebih segar.
Sore nya saat sedang melanjutkan istirahat, tiba-tiba hp ku bergetar. Dan itu SMS dari Bima.
"Ran, di kos nggak?" tanya nya.
"Kenapa?"
"Aku mau mampir." katanya.
Aku pengen banget rasanya ketemu Bima, aku pengen nanya ke dia apa sebenarnya yang dia bicarakan ke Ayah, sampai ayah begitu memujinya. Dan aku putuskan untuk mempersilahkan dia datang.
15 menit kemudian Bima datang dan menunggu ku di teras, aku pun ke luar.
"Kok pucet?" tanya nya saat melihatku.
"Lagi kurang enak badan." jawabku.
"Yaudah istirahat dulu ajalah, aku pulang aja." katanya.
"Mas Bima, jujur sama Rania ya, mas Bima ngomong apa sama ayah?" tanya ku to the point.
"Ngomong apa? Aku nggak ngomong apa-apa, waktu itu aku telepon hanya untuk nanya kabar dan bilang kalau usaha yang aku impikan dari dulu sudah mulai ku bangun walau baru permulaan, kenapa memangnya?" tanya nya.
"Terus niat mu kayak gitu tu apa?"
"Niat apa? Aku nggak paham."
"Mas Bima, bukannya kamu sudah tau ya kalau aku sudah tidak punya perasaan lagi sama kamu? Bukannya kamu tau kalau saat ini aku sama Farhan? Bukannya kamu tau ya kalau kamu ngomongin soal usaha mu itu, ayah pasti bangga banget sama kamu dan akhirnya ayah nggak mau tau soal perasaanku?" aku membombardirnya dengan semua pertanyaan yang sudah ku simpan dari kemarin.
"Ran, aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kalau akhirnya ayahmu jadi bangga sama aku, ya itu di luar kendali ku. Dan satu lagi, selama ijab qobul itu belum terucap, apapun bisa terjadi." katanya percaya diri.
"Jadi maksudmu? Kamu berharap aku selesai sama Farhan dan balik sama kamu? Dan kalau aku tidak mau kamu meminta bantuan ayah? Karena kamu tau aku patuh sama ayah begitu kah?" tanyaku emosi.
"Ran, cintaku sama kamu sedikitpun nggak pernah berubah dari dulu, aku berusaha wujudkan impianku supaya bisa layak untuk mu." katanya sambil menatap mataku.
"Terimakasih atas cintanya, tapi cintaku udah nggak ada buat kamu."
"Akan aku tunggu." jawabnya.
"Kalau kamu sayang sama aku, tolong bilang ke ayah, kamu nggak akan maksa untuk menikahiku, bilang sama ayah kalau jodoh itu Allah yang atur, pokoknya bilang ke ayah kalau biarkan perasaanku mengalir dan biar aku yang menentukan pilihan." kataku geram.
"Oke aku akan bilang, tapi kamu juga harus tau, aku masih nunggu. Dan kamu sendiri kan yang bilang, jodoh di tangan Tuhan, jadi kamu nggak perlu khawatir donk, kalau memang jodohmu si Farhan, pasti akan kejadian kok." Katanya santai.
"Iya bener, tapi selama kamu masih bawa-bawa ayah dalam hal ini, proses yang akan aku lalui itu sakit, karena apa? Karena ayah akan terus membandingkan Farhan dengan kamu. Dan aku nggak suka itu."
"Kita pernah pacaran dua tahun, selama pacaran aku selalu berusaha jadi yang terbaik buat kamu, oke aku salah karena aku terlalu mengejar impianku, sampai aku mengabaikanmu, tapi semua impian itu aku raih ya buat kamu."
"Tapi kamu nggak pernah sama sekali mengatakan itu dulu, saat kamu pergi kamu kok pergi gitu aja? Satu hal yang perlu kamu tau cinta itu mengukir senyum, bukan memahat luka." kataku emosi.
"Aku pulang dulu lah, aku minta maaf atas apa yang pernah aku perbuat, yang sudah membuatmu sedih, mungkin cara ku salah, dan aku benar-benar minta maaf atas semua itu." katanya dan kemudian berlalu pergi.
Ada rasa lega di hati karena setidaknya Bima tau kalau apa yang dia lakukan, justru membuat aku nggak suka. Memang benar jodoh itu Tuhan yang atur, tapi untuk menjalani nya aku ingin jalan yang damai-damai aja, bukan yang begini, aku paling nggak bisa kalau harus menentang ayah, aku paling nggak bisa kalau ayah sudah marah, rasanya sakit sekali. Mau melawan nggak mungkin, nggak di lawan kok rasanya nggak terima sama semua nya.
"Sabaaaar Rania, Sabaaaar, banyak di luar sana yang cobaan hidupnya lebih berat, cobaan mu ini nggak seberapa, banyak diluar sana orang yang justru terpisahnya dengan cara yang lebih menyakitkan." kataku berusaha menguatkan hatiku.
Sore sekitar jam 17.00 mas Farhan SMS, dia menanyakan keadaanku, dia bertanya apakah boleh menjengukku, tapi aku menolaknya, karena menurutku aku harus benar-benar pulih dulu, setidaknya hatiku tenang dulu, barulah aku siap menemuinya, dan dia memaklumi itu.
Tiga hari berlalu, dan aku sudah benar-benar pulih, aku sudah beraktivitas seperti biasanya. Aku mulai ke kampus lagi dan sudah bisa tersenyum lagi.
Aku tidak mau terlalu ambil pusing sama ucapan Ayah, bukan karena aku mau jadi anak durhaka, tapi aku tidak mau membuat diriku sendiri stress dengan hal itu, yang ada sekarang hanyalah jalani, soal hasil dan keputusan akhir, biar Allah saja yang tentukan.
Pukuk 14.00 aku pulang ke kos, dan aku memanjakan diriku di kamar, mendengarkan lagu-lagu favoritku sambil membaca komik.
"Rameeeeeen." teriak Via sambil berlari masuk kamar ku yang memang tidak ku kunci.
"Hei, kaget aku, happy banget kayaknya, ada apa?" tanyaku.
"Ini adalah hal yang paling tidak aku sangka dalam hidupku, dan ini adalah hal yang paling aku tunggu dalam diam ku dari dulu." katanya sambil melompat-lompat.
"Apa? Skripsi finish?" tanyaku.
"Bukan." jawabnya senyum.
"Transferan dari ortu di lebihin 50%." tanyaku.
"Iiiissssshh dudu yoo." jawabnya manyun.
"Terus apaaa?" tanyaku penasaran sambil beranjak dari pembaringanku.
"Mas Iwan nembak aku loh meeeeen." jawabnya sambil menggoyang-goyang kedua bahu ku.
"Hah? Serius?" tanyaku memastikan.
"Sepuluh rius." jawabnya.
"Alhamdulillah akhirnyaaa." kataku ikut bahagia mendengarnya.
"Dan aku sama mas Iwan mau ajak kamu sama mas Farhan untuk merayakan ini, PJ raaan PJ." katanya heboh sendiri.
"Oke, kapan?" tanyaku.
"Besok, besok sore jam 15.00 bisa?" tanya nya.
"Aku sih bisa, entah kalau mas Farhan." jawabku.
"Nanti aku yang tanya dia ya." kata Via.
"Okelah, selamat yaaa sahabatku." ucapku sambil memeluk nya.
Saat Via keluar dari kamarku, aku pun tiba-tiba langsung teringat lagi dengan masalah yang sedang ku hadapi dalam hubungan ku dengan mas Farhan.
"Apa yang harus aku lakukan supaya ayah bisa menerima mas Farhan, bagaimana caranya supaya ayah mau mengenal mas Farhan sekali saja, bagaimana cara menjelaskan ke ayah bahwa aku bisa bahagia bersama mas Farhan walau pekerjaan mas Farhan biasa saja, bagaimana caranya supaya ayah tau kalau aku bukan mengagungkan cinta semata, tapi aku tau kalau mas Farhan pasti akan bertanggung jawab tentang semua kebutuhanku nantinya, aaaaaggghhhhh Raniaaaaa, kenapa harus ada hal seperti ini dalam hidupmu." gumamku dalam hati sambil sesekali menekan kepalaku yang terasa penuh.
Keesokan harinya Via bilang padaku, kalau ternyata mas Iwan tiba-tiba ada rapat mendadak dengan anak-anak pecinta alam. Jadi jalan-jalannya di ganti hari sabtu dan itu dari pagi katanya. Aku pun meng-iyakan saja, toh itu hari mereka, milik mereka.
Dari kejadian aku sakit sampai hari jumat pun aku belum bertemu sama sekali dengan mas Farhan, karena kebetulan mas Farhan sedang memasang komputer untuk lab di salah satu kampus di Yogya. Dan aku tidak mau mengganggu nya.
Hari sabtu itu pun tiba, sudah dari pagi Via heboh menyuruhku untuk bersiap, katanya saat para laki-laki datang, kita sudah siap. Melihat kebahagiaan Via, akupun ikut bahagia dan ikut bersiap untuk perjalanan kami hari itu.
"Meeen, dah pada dateng tuh di depan, dah siap belum?" tanya Via dari luar kamarku.
"Udah, bentar aku keluar." jawabku.
"Weeee sejak kapan punya baju warna kuning? Gini kan cerah ceria, ora mung ireng, abu-abu, cokelat, bosen aku le nyawang, kamu kan putih, jadi PD aja make warna warni." cerocos nya.
Ya, baju kuning ini di berikan oleh ibu saat aku pulang ke sumatera kemarin, karena modelnya bagus, ya sudah aku terima. Dan entah kenapa hari itu aku ingin memakainya.
"Sudah ceria lagi Raniaku." kata mas Farhan saat melihatku.
"Udah, keceriaan itu aku yang menularkannya, tsaaaaah." kata Via sambil menyenggolku.
"Alhamdulillah mas." jawab ku sambil tersenyum.
"Yo, gek ndang, selak awan." kata mas Iwan.
"Ini kita mau kemana ya?" tanyaku.
"Gunung Api Purba Nglanggeran." jawab mas Iwan.
"Jauh kah?" tanyaku.
"Lumayan." kata Via.
"Aku nggak bawa apa-apa, Via nggak bilang kalau mau ke sana." kataku.
"Aku bawa." kata mas Farhan tersenyum.
Dan kamipun memulai perjalanan itu. Entah kenapa aku merasa canggung selama di perjalanan, seperti baru pertama kali bertemu dengan mas Farhan, untuk memegang pinggangnyapun aku merasa sungkan.
Tapi saat ada lampu merah dan cukup lama, mas Farhan menarik ke dua tangan ku dan melingkarkannya di pingganya.
"Pegangan ya." katanya.
Tercium aroma wangi khas dirinya di jaket yang dia kenakan, dan membuatku seketika merasa nyaman, bukannya menarik tanganku karena rasa canggung, aku justru memeluknya lebih erat.
Dan seperti biasa, tangan kirinya terus memegang kedua tanganku, seolah dia tidak mau melepaskan nya.
Akhirnya kamipun tiba di lokasi yang dimaksud. Gunung Api Purba Ngelanggeran. Pemandangan yang luar biasa indah menurutku, beberapa batu besar yang menjulang tinggi mengelilingi lokasi, entah bagaimana aku bisa menggambarkannya, tapi yang jelas tempat itu asri dan indah sekali. Dan lagi-lagi, itu pertama kalinya aku kesana.
Mas Iwan pun mengajak kami menaiki jalan setapak untuk menuju salah satu bukit batu yang ada disana, motor di parkir di bawah.
Ternyata pemandangan dari atas bukit batu itu jauh lebih indah lagi.
Mas Iwan dan Via sibuk berfoto, sementara aku dan mas Farhan mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan menikmati pemandangannya.
"Sudah siap untuk cerita?" tanya mas Farhan memulai obrolan.
Aku tidak langsung menjawabnya, aku menoleh ke arahnya yang duduk tepat disampingku.
"Ya Tuhan, aku sangat merindukannya." ucapku dalam hati, sambil melihat matanya.
"Kangen ya?" tanya nya mengejutkanku.
Dan akupun tersenyum.
"Aku nggak tau mau mulai ceritanya darimana mas, aku bingung." kataku.
"Semampunya saja, aku akan coba memahaminya." katanya sambil tersenyum.
"Ayahku tidak setuju dengan hubungan kita, dan semua itu karena Bima, dari dulu memang ayah suka sama Bima, terlebih dengan cita-cita nya untuk menjadi seorang wiraswasta. Ayah merasa bahwa Bima sama seperti ayah dulu, ayah berpikir bahwa sebuah pernikahan tetap bisa berjalan baik, walau cinta itu tidak ada di awal, ayah berpikir Bima adalah orang yang paling pantas dan bisa membahagiakan aku, ayah dulu pernah cerita bahwa pernikahan ayah dan ibupun tanpa pacaran, tanpa cinta, tapi perlahan itu semua tumbuh dengan sendirinya. Dan ayah yakin kalau aku juga bisa menjalani hal yang sama, dengan Bima." jelas ku panjang lebar.
"Lalu?" tanya mas Farhan.
"Aku mencoba memberi pengertian ke ayah, bahwa aku tidak bisa seperti itu, aku meminta ayah untuk mengenalmu dulu, aku meminta ayah bertemu dengamu dulu walau hanya sekali, aku ingin ayah tau kamu sosok yang seperti apa, aku ingin ayah tau tentang kesungguhanmu." ucapku.
Dan tanpa kusadari, air mataku mengalir lagi, perlahan membasahi pipi.
Mas Farhan merubah posisi duduknya sehingga bisa berhadapan dengaku. Dia mengusap air mataku perlahan.
"Jangan menangis, karena tangisanmu membuat hatikupun menangis." ucapnya sambil menggenggam tanganku.
"Aku takut mas, aku takut tidak bisa membuat ayah luluh, dulu aku selalu berpikir bagaimana caranya meluluhkan hati ibumu, tanpa aku sadari bahwa ada yang lebih besar dari itu, ayahku." ucapku sambil menunduk menahan sesak di dadaku.
Mas Farhan berdiri dan menarik tangan kananku, akupun berdiri, dan merasa heran dengan sikapnya.
Saat kami sudah berdiri, aku kaget karena mas farhan menarik kedua bahuku hingga mendekat ke arahnya, sampai aku terhentak karena tarikannya yang mengejutkan. Diapun memelukku. Benar-benar memelukku. Tanpa bicara apapun.
Akupun membalas pelukan itu, dan lagi-lagi aku menangis sejadi-jadinya. Ku lepaskan semua tangisanku, aku bisa merasakan seolah dia ingin aku meluapkan semuanya, semua rasa yang ada di hatiku saat itu, takut, sedih, sakit, bingung, dan rindu.
Saat merasa tangisanku mulai sedikit mereda, dia melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata yang sudah entah berapa banyak meleleh di pipiku.
"Lega?" tanyanya sambil meletakkan kedua tangannya di pipiku.
"Sedikit." jawabku sambil tersedan.
"Jangan takut, serahkan semuanya kepada Sang Pemberi Rasa, kepada Nya yang mempertemukan kita, KepadaNya yang merangkai cerita ini, KepadaNya yang sudah menakdirkan semua ini."
"Tapi aku takut, aku takut skenarioNya berbeda dengan harapanku." kataku.
"Percayalah, apapun hasilnya nanti, itu adalah hal terbaik yang sudah Dia tentukan untuk kita, karena baik bagi kita, belum tentu baik bagiNya. Tapi baik bagiNya, pasti baik untuk kita, kadang tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan, tapi apapun yang kita dapatkan, itu berarti adalah yang terbaik menurutNya, selama yang aku mampu, aku masih akan disini bersamamu, tapi jika memang ada masanya kita harus berpisah, aku minta padamu Rania ainun sofia, jangan sesekali menyalahkan takdir TUHAN, karena aku tidak mau menjadi alasanmu menyalahkan takdir." ucapnya panjang lebar.
Dan itu pertama kalinya aku melihat mata mas Farhan berkaca-kaca.
"Astagfirullah, sabar Rania, kuatkan hatimu."
bikin lanjutannya dong kak penasaran nih sama Farhan nikah sama siapa
Terima kasih author, terima kasih u yg sdh merekomendasikan novel ini