Ini sebuah kisah dari sebuah kehidupan seorang wanita muda yang menjalani semua kehidupannya.
"Sayang, cepat bajunya!" seru seorang pria.
"Sebentar, sayang!" jawab Amelia.
"Mungkin mas bakal di pindah tugas." ucap Zaki.
Kisah hidup seorang wanita muda yang baru menikah dua Minggu namun harus di tinggal pergi oleh sang suami untuk bertugas.
Sebuah kenyataan pahit harus di hadapi oleh Amelia ketika mendapatkan sebuah kabar mengenai sang suami. apakah yang terjadi dengan Zaki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katanya mau pindah
Satu bulan kemudian
"Amelia!!" teriak Susi.
"Ada apa Mbak?" tanya Amel kepada Susi.
"Amel, besok kamu akan dipindah di salah satu cabang restoran milik dari ibu Pak Malik!" seru Susi kepada Amelia.
"Ngapain juga sih Mbak aku harus pindah ke restoran, Kenapa aku tidak di sini saja. aku lebih cocok berada di toko kue ini." jawab Amel.
"Sudah, lebih baik kau menuruti perintah nyonya besar dari pemilik perusahaan ini." Kalau tidak, dia bakal marah." jawab Susi.
"Tugasku Ngapain mbak di sana?" tanya Amel kepada Susi.
"Mbak Belum tahu, besok Mbak disuruh Untuk mengantarkan mu kesana." jawab sushi.
"Ya sudah kalau begitu, besok aku akan kesana daripada nanti Mbak Susi selalu bilang aku cerewet." canda Amel.
"Huh..., terkadang aku benar-benar merasa kesal dengan Pak Malik, karena cara bicaranya yang begitu kasar dan terkadang menghina orang dengan seenak kepalanya." ucap Susi.
"Kita ini kan cuma pegawai, Mbak. kalau kita menantang pun kita tidak akan mendapatkan apa-apa." jawab Amel.
"Tapi, tidak seperti itu juga kali, Amel. Pak Malik sangat berbeda dengan ibunya. bahkan bu Nina orangnya begitu baik, begitu sabar Bahkan dia berbicara begitu lembut dengan orang lain. dia tidak pernah memandang status sosial seseorang." jawab Susi.
"Terkadang sifat seseorang itu tidak bisa disamakan dari orang tuanya, Mbak." Jawab Amel.
"Kau benar, Amel. Bahkan aku harus belajar dari semua sikap yang kau miliki. kau begitu sabar dalam menjalani semua rencana Tuhan, kau menjadi janda di usia yang begitu mudah. Kalau aku sih bisa-bisa aku mati bunuh diri ditinggalkan suamiku yang menikah itu dalam hitungan beberapa bulan saja." ucap Susi.
"Lalu, jika kita melakukan bunuh diri..,Apakah dosa kita tidak bertambah banyak, Mbak. kita tidak bisa mendoakan orang yang kita cintai di alam sana, malah kita menyusulnya dengan melakukan bunuh diri, itu namanya dosa ditambah dosa, Mbak." Jawab Amel.
Susi adalah wanita yang berumur lebih tua dari Amel, Namun Wanita itu benar-benar sangat menyukai sifat-sifat Amel yang begitu sederhana.
"Sudahlah mbak, terkadang kita tidak bisa memutar waktu. kita hanya menjalankan takdir yang ditulis oleh Tuhan, tergantung kita mampu menjalankannya atau tidak.' Jawab Amel yang benar-benar membuat Susi begitu tersentak dengan kata-kata gadis muda yang ada di depannya itu.
"Ya udah kalau begitu, besok aku tunggu di depan rumahmu. besok pagi kita berangkat bersama biar kau tahu di mana restoran milik bu nina itu." jawab Susi.
"Ya sudah kalau begitu, mbak. besok kalau mau menjemputku Mbak SMS aku dulu aja. takutnya Aku melakukan pekerjaan rumah malah lupa melihat ponselku." jawab Amel.
"Nggak usah pakai seperti itu kali, masa kamu nggak bisa bangun pagi? aku nggak percaya kalau kamu nggak bisa bangun pagi, lagipula kau itu adalah wanita yang akan menjadwalkan semua yang kau lakukan dengan begitu tepat." ucap Susi yang membuat Amel tersenyum.
Hari ini terlihat Ayah Samsul menjemput Amel, dia tidak sendirian, dia bersama salah satu keponakannya. Amel yang hendak keluar dari toko kue.., dia begitu terkejut ketika melihat ayah mertuanya sudah berada di luar toko kue
"Bapak." ucap Amel yang melihat Pak Samsul berada di luar toko kue.
"Assalamualaikum Mbak Amel!!" seru Andi yang sudah berada di sana.
"Waalaikumsalam, Andi. tumben kamu kesini, Andi?" tanya Amel kepada Andi.
"Tadi Andi merengek meminta antarin Bapak melihat tempat kerjamu, bocah kecil ini benar-benar nggak betah di rumah." ucap Pak Samsul yang membuat Amel tersenyum.
Bocah berusia 8 tahun yang sudah ditinggal oleh ayahnya, ibunya pergi merantau mencari perkerjaan menjadi TKW. hal itu membuat Andi sering sekali mampir ke rumah Ayah Samsul karena dia tidak punya teman berbicara.
Akhirnya setelah hari itu bocah kecil itu sering sekali mampir ke rumah Ayah Samsul dan membuat Amel sering bergadang karena Andi selalu merengek meminta tidur dengannya. keesokan hari Amel Sudah berdandan, dia mengenakan pakaian yang rapi dan bersiap-siap untuk menunggu jemputan dari Sari.
"Memangnya restoran itu berada di mana, Amel?" tanya Bu Ratna kepada Amel.
"Belum tahu Bu, Amel kan belum berangkat." jawab Amel.
"Tempatnya jauh tidak?" tanya Pak Samsul kepada Amel.
"Belum tahu pak, katanya sih tidak jauh dari restoran itu." jawab Amel.
"Memangnya di sini ada restoran?" tanya Pak Samsul yang membuat Amel juga ikut bingung.
"Apa, apa jangan-jangan nanti kamu pindah ke kota Amel?" tanya Pak Samsul kepada menantunya tersebut.
"Belum tahu juga sih Pak, tapi kalau di pindah ke kota." jawab Amel.
"Bagaimana ini, Amel kan tidak pernah ke kota Pak." jawab Amel.
"Tapi kalaupun kamu pindah ke kota kamu kasih tahu saja bapakmu, kan bapak mempunyai rumah di Bandung. semoga saja restoran mu itu di Bandung, apa lagi dekat Wahana wisata." jawab Bu Ratna yang terlihat tersenyum.
"Tapi Bu, kalau dipindah ke Bandung masa aku pindah sendirian ke sana?" tanya Amel kepada bu Ratna.
"Ya tidak mungkin dong ibu melepaskan Putri Ibu, kalau sampai Kamu beneran pindah ke kota apalagi di Bandung Ibu bakal pindahan ikut kamu ke Bandung. kita tinggal aja di rumah sederhana milik nenekmu itu." jawab Bu Ratna.
"Entahlah Bu, apalagi Amel juga belum tahu." ucap Amel yang kemudian menatap ponselnya yang berdering.
"Kelihatannya temanmu menjemputmu, Amel. ucap Pak Samsul yang mendengar suara motor berada di luar rumahnya.
"Iya Pak, kemungkinan besar itu Mbak Susi yang menjemputku." jawab Amel yang kemudian mencium tangan Bu Ratna dan Pak Samsul.
"Ingat, nanti langsung kabari Ibu!!" seru Bu Ratna.
"Baik bu." jawab Amel yang kemudian pergi dari rumah. terlihat di luar rumah Pak Samsul sudah bertengger Susi yang menunggu Amel diatas motornya.
"Mbak ngapain sih Enggak masuk aja, pakai bunyiin bel melulu?" tanya Amel kepada Susi.
"Males ah." jawab Susi yang kemudian tersenyum kepada Amel.
Akhirnya Amel dan Susi pergi ke tempat yang tidak jauh dari pabrik Kue. di sana terlihat sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun sederhana. Amel dan Susi mengetok pintunya,
TOK..
TOK..
"Ada orang nggak di tempat ini?" tanya Susi kepada Amel.
"Katanya Mbak Susi ini tempatnya, kok malah." tanya ucap Amel.
Seorang satpam sudah menunggu Amel dan Susi, pria itu menyuruh Susi dan Amel untuk masuk ke rumah yang tidak terlalu besar itu. namun Ternyata rumah itu adalah sebuah kantor pemasaran perumahan milik keluarga Malik.
"Assalamualaikum!!" seru Amel dan Susi.
"Waalaikumsalam." jawab bu Nina yang sudah melihat dua wanita berdiri di ruang tamu rumah sederhana itu.
** * bersambung ****
tak ada kelajutan tentang anak 3 Malik dan Amelia
lanjut dong ceritanya
Alus novelnya sangat
mantap
tapi sayang lansung tamat
tak ada nyabung tentang kehidupan anak Malik dan Amelia di hari tuanya gitu
cnt pertma nya yg jd suami ke 2 ameli.bnr kata pepatah gk dpt gadia nya janda nya pun gk apa.ku tunggu janda mu..
sukses
semangt
mksh
terlalu larut.
sedih boleh asal jgn meratapi...