Lahir dengan bakat dan mencintai pertarungan berdarah, dia tumbuh dengan acuh tanpa hasrat pada dunia, kemampuan menciptakan metode kultivasinya sendiri, analisis pertarungan, dan betarung dengan pendekar yang berada pada beberapa tahap Alam kultivasi yang lebih tinggi darinya tanpa kalah..
Dikenal dengan membunuh ratusan ribu nyawa tanpa mengerutkan alis, membuat setiap pendekar berkeringat dingin hanya dengan mendengar namanya 'Zen Kagendra, Dewa Perang Ares', dia eksistensi yang diagungkan dan tak terkendali bahkan oleh leluhurnya sendiri...
Tapi semua berubah ketika dia bertemu dengan wanita tanpa kemampuan bertarung.. menatap tajam matanya tanpa rasa takut... Wanita itu muncul sebagai alasan Zen Kagendra membantai dimensi ketujuh dan akhirnya berenkarnasi ke sebuah kerajaan kecil di dimensi ke tiga...
Genius? Kaisar langit? Dewa terhormat?
Aku akan menginjak - injak mereka, menikmati setiap jerit sakit mereka dan memandang rendah mereka dari puncak piramida kekuatan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SepatuMerah98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Membantu Kuat
Chapter 15
Membantu Kuat
Pagi pun tiba, sedikit cahaya mengintip dari cakrawala timur. Sedikit demi sedikit sinar matahari menembus kegelapan sebelum fajar menyingsing, melintasi pegunungan, samudra, dan pada akhirnya menyelimuti halaman kediaman Zen Kagendra. Setelah berlatih tertutup semalaman, ada warna emas yang menyelimuti tubuh Zen Kagendra. Energi itu adalah energi hasil pengoperasian “Kanuragan Naga Api Emas Perkasa”.
Zen Kagendra perlahan membuka matanya, “Tingkat persepsiku sangat bagus, pengalaman bertarung di hutan kemarin sudah selesai kukompresikan dan sedikit membantuku untuk meningkatkan tingkat kultivasiku.”
Meskipun berlatih secara tertutup semalaman, kemajuan tingkat kultivasi Zen Kagendra hanya sedikit. Namun, meski hanya sedikit untuk seorang pendekar, setiap kemajuan akan selalu membuat kegembiraan karena di dunia ini bahkan ada pendekar yang berlatih bertahun-tahun, tapi tidak menambah kemajuan pada tingkat kultivasinya.
“Jika tetap begini dalam tiga tahun paling-paling aku hanya akan mencapai ‘Alam Panglima’. Itu terlalu lama, untuk mempercepat aku perlu menghisap energi inti binatang setan dan bertarung sengit untuk memaksimalkan potensiku.” Zen Kagendra berpikir dan merenungkan semua kondisi.
“Selain itu, untuk mencapai tahap empat dari “Teknik 9 Dinding Tubuh Permata”, hanya bisa dilakukan dengan pertarungan. Pada dasarnya ini akan sempurna untuk mengembara membunuh ratusan binatang setan. Selain aku akan memaksimalkan potensi dengan bertarung, aku juga akan mendapatkan inti binatang setan yang bisa aku gunakan untuk mempercepat tingkat kultivasi.” Zen Kagendra terus memikirkan skema yang ingin ia jalani saat mengembara, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Pikir Zen Kagendra.
Sebelum dia meninggalkan kerajaan, ada beberapa hal yang ingin dia katakan pada teman dan saudaranya karena dia lahir di kerajaan Zen. Dia tidak akan membiarkan Kerajaan Zen lebih rendah dari pada kerajaan lain, bahkan dengan kekaisaran. Oleh karena itu, dia memanggil Arya Mayang, Zen Anjani, dan Zen Ananta. Meskipun mereka bertiga tidak sejenius dirinya, namun potensi mereka masih tidak bisa diperkirakan. Tidak terkecuali Arya Mayang, meskipun dia bukan anggota Kerajaan Zen, tapi ayahnya, Arya Prabu berteman baik dengan Zen Kuntara. Lagi pula sebelumnya Arya Prabu hanya seorang pedagang biasa di Kerajaan Zen, apalagi dengan kemampuanya itu tidak akan sulit untuk mengangkat Arya Prabu menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Zen.
“Tok...Tok...Tok…” Suara pintu diketuk.
“Mereka akhirnya datang.” Zen Kagendra bergumam dan melangkah mendekati pintu untuk membukanya.
Setelah dibuka ada anak laki-laki tampan yang memiliki wajah sedikit imut. Ia memakai pakaian hijau lengan panjang. Dia adalah Zen Ananta, di sampingnya ada dua perempuan yang terlihat memakai pakaian merah muda bermotif bunga dan pakaian biru bermotif garis-garis.
Mereka berdua adalah Zen Anjani dan Arya Mayang. Arya Mayang memakan pakaian biru bermotif garis-garis, sedangkan Zen Anjani memakai pakaian berwarna merah muda bermotif bunga. Melihat Zen Kagendra membuka pintu, mereka tersenyum.
“Saudara Kagendra, Paman Zen Kuntara mengatakan bahwa kau memanggil kami, ada pelu apakah?” Sapa Zen Ananta.
“Pertama, ayo kalian masuk!”
Mereka bertiga memasuki kamar Zen Kagendra setelah dipersilahkan masuk dan duduk bersila di lantai bersama Zen Kagendra. Zen Kagendra duduk di depan mereka bertiga, dia tersenyum mengamati tingkat kultivasi mereka.
“Kalian pasti sudah tau bahwa aku akan berangkat berpetualangan besok.” Zen Kagendra berbicara dengan tersenyum.
Zen Ananta, Zen Anjani, dan Arya Mayang menanggapi dengan mengangguk, “Emm.”
“Alasanku memanggil kalian kemari adalah berkaitan dengan itu. Aku akan berangkat besok dan pagi ini aku akan memberikan tips untuk mempercepat kenaikan kekuatan kalian.”
“Tips? Benarkah?” Tanya Zen Ananta dengan penuh penasaran. Melihat Zen Ananta yang sangat antusias, Zen Kagendra tersenyum puas. Hal pertama yang harus dimiliki seorang pendekar adalah kemauan, bakat, dan sumber daya adalah hal-hal nomor kesekian.
“Baiklah, aku akan berbicara metode yang digunakan untuk mempercepat kemajuan kalian. Ingatlah! Aku tidak menulis ini, kalian hanya bisa mengingatnya” Zen Kagendra diam sejenak lalu melanjutkan.
“Pertama, pelajarilah keterampilan bela diri perkuatan tubuh ‘Teknik 9 Dinding Permata’ yang ada di perpustakaan istana. Tidak perlu untuk mencapai tingkat puncak, hanya lakukan semampu kalian dengan kegigihan. Kedua, maksimalkan potensi kalian dengan cara bertarung. Pertarungan terbaik adalah pertarungan seimbang dengan musuh yang sedikit lebih kuat dan memiliki niat membunuh, untuk itu aku menyarankan kalian untuk bertarung dengan binatang setan pada tingkat yang sama dengan kalian. Ketiga adalah gunakan setiap energi inti binatang setan yang kalian bunuh tepat setelah kalian membunuh binatang setan itu. Pada saat itu pula kalian bisa langsung berlatih ‘Teknik 9 Dinding Permata’ karena tenik perkuatan tubuh hanya akan mendapat kemajuan jika berlatih setelah bertarung. Keempat adalah gunakan komposisi pada metode pelatihan kedua dan ketiga. Gunakan terus berulang setiap tiga hari sekali.”
Zen Kagendra selesai memberikan metode pelatihan untuk mempercepat kemajuan kekuatan mereka. Mereka yang mendengarkan terdiam dan membayangkan metode kejam pelatihan Zen Kagendra. Melihat Zen Ananta, Zen Anjani, dan Arya Mayang diam dengan kening yang berkerut. Zen Kagendra secara tidak langsung tahu apa yang mereka pikirkan. Zen Kagendra hanya tersenyum.
“Tentu semua itu hanya sebagian kecil dan kenaikanya tidak terlalu wow. Meskipun itu hanya sebagian kecil, mereka tetaplah awal dari metodeku, dan untuk sekarang hanya metode itu yang berguna untuk kalian.”
“Tiga tahun lagi, kalian harus masuk sebagai murid bagian dalam Perguruan Menggebrak Bumi dan semuanya berawal dari situ. Sekarang hanyalah prolog.”
Mendengar semua penjelasan Zen Kagendra, Zen Ananta yang awalnya tidak yakin tentang metode pelatihan sulit yang di berikan olehnya sekarang tersenyum. Dia segera mengetahui bahwa metode awal ini hanya untuk membentuk tubuh dan jiwa bertempur.
Terlepas dari kesulitan berlatih teknik “Perkuatan Tubuh 9 Dinding Permata”, membunuh binatang setan pada tingkat yang sama itu sangat sulit bagi pendekar umum. Zen Kagendra juga menambahkan harus menyerap inti binatang setan tepat setelah membunuh binatang setan itu. Menyerap inti binatang setan bukanlah hal yang mudah karena pendekar harus berkonsentrasi menaklukkan jiwa binatang setan. Apalagi hal itu dilakukan saat mereka dalam kondisi lelah setelah bertarung dengan binatang setan. Pada dasarnya kesulitan akan dinaikkan tiga sampai empat kali, dan mereka harus terus mengulang setiap tiga hari sekali.
“Baiklah, karena kalian sudah mengerti, maka kalian boleh kembali. Ingatlah, jangan mengatakanya pada siapa pun karena metode ini hanya cocok untuk kalian saat ini.” Zen Kagendra berbicara mencoba mengingatkan mereka.
“Emm,” Zen Anjani dan Zen Ananta mengangguk dan mulai berjalan keluar dari kamar.
Ketika melihat ini Zen Kagendra bingung karena Arya Mayang masih tetap duduk dan tidak kembali ke kediamanya.
“Apa kau punya hal lain yang perlu dibicarakan?” Zen Kagendra tersenyum melihat wajah merah Arya Mayang.