Gaza Munarga adalah seorang ahli waris yang memegang kendali atas perusahaan Tirtama Group selama lima tahun semenjak kematian sang ayah.
Ia dikenal sebagai pria es yang mampu membekukan mental seseorang saat bertatapan dengannya.
Zara Maharani, seorang wanita yang hanya tinggal bersama kedua adiknya. Sebagai anak sulung, ia mesti rela berkorban membanting tulang mencari pundi-pundi nafkah demi kelangsungan hidup bersama kedua adiknya itu.
Kepribadian Zara yang polos. Namun, memiliki sifat di mana ia senang memarahi orang lain di saat ia sedang kesal.
Hingga dua insan ini dipertemukan dalam sebuah kecelakaan tanpa sengaja. Kekesalan yang berujung karma bagi Zara, hingga pada akhirnya Gaza menikahi Zara hanya bertujuan untuk membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mamikirkan Zara
Kini Zara mengantar Gaza di depan teras untuk berangkat bekerja. "Berikan pada saya, Nona." ucap Sekertaris Lee, meminta tas Gaza pada Zara.
"Oh, ini."
"Oh, ya. Tuan muda mengatakan bahwa Anda tidak perlu bekerja di perusahaan lagi mulai sekarang."
"Benarkah? Lalu apakah saya boleh mencari pekerjaan di luar?" tanya Zara dengan wajah yang berbinar.
"Sebaiknya Anda menanyakannya pada Tuan muda saja, Nona," jawab Sekertaris Lee dengan tersenyum simpul.
"Lupakan, anggap saja aku tidak bertanya." Zara kembali menekuk wajahnya.
"Kalau begitu kami berangkat dulu, Nona." Sekertaris Lee membungkuk hormat pada Zara.
"Berhati-hatilah, jika terjadi sesuatu pada Tuan mudamu, aku akan merasa kesepian, sebab tidak akan ada lagi orang yang memberi aturan dalam hidupku." Zara mengecilkan suaranya pada kalimat terakhir.
Sekertaris Lee hanya mengangguk pelan tanpa berekspresi lalu memasuki mobil.
"Hei, parasit," sahut Winda yang kini menunggu Zara masuk ke rumah.
Zara menghentikan langkahnya, mengepalkan tangan sembari menggertakkan gigi. "Lebih baik perbaiki gaya bicaramu, itu terlalu munafik untuk dikatakan oleh wanita sepertimu."
Winda terkekeh. "Ck, kenapa? Kau tersinggung dengan apa yang aku katakan?" Sambil melangkah pelan menghampiri Zara.
"Aku hanya mengasihanimu, kau mungkin berjuang mati-matian untuk mendapatkan simpatik dari Tuan muda Gaza, tetapi pada akhirnya akulah wanita yang ia pilih, haruskah aku menghibur wanita malang sepertimu agar kau tidak lagi membuang waktumu hanya untuk mengoreksi kehidupan orang lain?" balas Zara dengan senyum mengejek.
"Kau ...." Winda mengepalkan tangan begitu kesal dengan ucapan Zara. Tidak pernah sekali pun ada orang yang berani melawan ucapannya, tapi kali ini ia bertemu dengan Zara yang sama sekali tak takut dengan apa pun. Kecuali satu, seberani apa pun dia, tetap ia tak berani menatap wajah Gaza, suami dalam perjanjian itu.
"Masih ada lagi? Jika tidak ada aku ingin menghabiskan waktuku untuk satu hal yang berguna, terlalu membosankan jika hanya dengan berdiri di sini bersama wanita yang berpikiran sempit." Zara melangkah meninggalkan Winda yang kini dengan wajah merah menahan amarah.
Zara melihat Pak Zang tengah memperhatikan dan memberi perintah pada pelayan-pelayan yang lain untuk membersihkan meja makan yang baru digunakan.
"Biar kubantu," ujar Zara pada seorang pelayan muda yang seumuran dengan adiknya.
"Nona muda, jangan lakukan ini, biar saya saja," bantah pelayan tersebut sembari menyita piring kotor yang dipegang oleh Zara.
"Kenapa kau melarangku? Apa barang di rumah ini tidak boleh kusentuh tanpa persetujuan dari Tuan Gaza?" Zara mengerutkan alis tak mengerti.
"Bukan, bukan begitu maksud saya, Nona. Hanya saja, Anda adalah istri Tuan muda Gaza, saya tidak berani membiarkan Anda mengotori tangan Anda dengan melakukan pekerjaan seorang pelayan." Pelayan tersebut terus menggeleng tidak setuju.
"Nona muda, tolong jangan lakukan itu, biarkan kami yang melakukan ini semua." Pak Zang tergesa-gesa menghampiri Zara.
"Ayolah, terlalu bosan bagiku tinggal di rumah ini tanpa melakukan kegiatan apa pun."
"Tidak, Nona. Tuan muda akan marah jika mengetahuinya," protes Pak Zang.
"Tidak akan, dia tidak akan marah, dia juga tidak akan peduli selama aku tidak merusak barang-barang di sini," ujar Zara menyangkal.
"Tapi, Nona."
"Ayolah, Pak Zang." Zara mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
"Nona, berjanjilah untuk tidak memberitahukan semua ini pada Tuan muda, jika Tuan muda tahu, pekerjaan Pak Zang mungkin bisa saja terancam," ujar Pelayan itu yang tampak khawatir.
"Tenang saja, aku berjanji." Zara pun dengan girangnya membantu pelayan itu membersihkan meja makan.
Melihat Zara yang sulit untuk dicegah, Pak Zang pun akhirnya cuma bisa menghela nafas dengan panjang, ia pergi untuk menyelesaikan pekerjaan lain.
"Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat muda seperti adikku, kenapa kau bekerja? Bukankah seharusnya kau pergi kuliah?" tanya Zara.
Pelayan itu hanya tersenyum kecut. "Saya hanya memiliki seorang nenek yang menjadi keluarga saya satu-satunya, Nona. Beliau sedang sakit, saya harus bekerja untuk menutupi biaya obat beliau."
"Gadis yang malang, aku turut merasakan kesulitanmu." Zara mengelus bahu pelayan itu mencoba memberikan semangat.
"Siapa namamu?" tanyanya lagi.
"Gita, Nona."
"Gita, apa kau tidak melanjutkan studimu?"
"Saya kuliah, Nona. Pagi ini saya tidak memiliki jadwal, jadi saya bekerja di sini selagi memiliki waktu," jawab Pelayan itu dengan sopan.
"Pasti sulit bagimu melewati semuanya. Aku akan turut membantu jika aku memiliki uang, jadi kau jangan bersedih lagi, kau tidak sendirian mengalami kejamnya kehidupan ini, jadi tetaplah semangat demi mereka yang harus diperjuangkan." Zara menepuk pelan pundak Gita sembari tersenyum kecil.
"Iya, Nona. Anda orang yang sangat baik, senang bisa saling bercerita." Gita menunduk hormat sembari tersenyum.
"Ayo, biar kubantu mencuci piringnya." Zara membawa tumpukan piring itu berjalan ke dapur.
"Nona, jangan. Biarkan aku saja yang melakukannya." Gita segera mengejar.
Tak peduli bagaimana Gita membujuknya, tetap saja Zara ingin mengerjakan apa yang ia inginkan, sampai akhirnya Gita menyerah dan membiarkan Zara melakukan itu.
Di sisi lain, Gaza yang kini dalam perjalanan, terus terbayang akan Zara, sampai ia sendiri merasa kesal dengan pikirannya sendiri yang sulit untuk ia kendalikan.
"Anda terlihat tidak baik, Tuan. Apa kita ke rumah sakit terlebih dahulu?" tanya Sekertaris Lee yang heran karena tak biasanya melihat Gaza tidak memegang berkas dan dokumen saat dalam perjalanan.
"Aku tidak akan ke rumah sakit selama masih bisa berjalan dan membuka mata." Kalimat yang lagi-lagi selalu mampu membuat Sekertaris Lee bungkam, kalimat itu menjadi ciri khas Gaza setiap kali Sekertaris Lee menawarkan ke rumah sakit jika ia sedang sakit.
"Lee, apa aku memiliki jadwal rapat hari ini?" tanya Gaza tiba-tiba.
"Ada, Tuan. Pukul 12:30 siang ini," jawab Sekertaris Lee.
"Antar aku ke kampus anak ingusan itu, aku ingin bicara padanya."
"Anak ingusan?" Sekertaris Lee mengangkat alisnya tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Gaza.
"Pria yang bicara padaku saat menjemput wanita itu." Sambil menerawang menatap kendaraan yang berlalu lalang.
"Oh, baik, Tuan."
***
"Wendi, dekan memanggilmu ke kantornya," ujar seorang dosen pada Wendi ketika ia akan memulai kelas.
"Apa saya membuat kesalahan, Pak?" tanya Wendi tak mengerti kenapa ia tiba-tiba dipanggil oleh dekan.
"Pikirkanlah sendiri, apa kau pernah membuat kesalahan pada seseorang yang berkuasa di kota ini? Dia datang untuk menemuimu sekarang."
Semua teman-teman yang ada di ruangan, saling berbisik-bisik menatap Wendi, Wendi dikenal sebagai lelaki yang tak banyak bergaul, dia pintar dan penurut, tetapi jika ada yang membuatnya marah, dia tidak akan segan-segan untuk berduel dengan orang yang bersangkutan, maka dari itu semua temannya mengira bahwa dia mungkin telah memukul mahasiswa lain hingga walinya datang untuk meminta pertanggung jawaban.
mereka akan melaknat lekaki kayak ferdi yang sok baik pada istri orang dan membuat rumah tangga orang hancur
pola pikir wanita jablay
Ferdy adalah lelaki baik, jadi boleh peluk sana ini
pola pikir wanita setia
suami pelukan dengan wanita lain itu salah begitu juga istri pelukan dengan lelaki lain itu salah
pola pikir wanita egois
suami pelukan dengan wanita itu salah tapi istri pelukan dengan lelaki lain itu bukan kesalahan karena hanya sahabat
fakta
sebuah novel adalah hasil pola pikir novelisnya yang artinya sebuah novel menggambarkan karakter novelisnya