(Sedang direvisi)
Seorang gadis bernama Miranda memiliki rasa trauma dengan yang namanya kaum pria sejak dia berumur 10 tahun. Didepan matanya dia melihat bagaimana papanya dan Tantenya sendiri melakukan hubungan intim didepan mamanya dan dirinya.
Mamanya berjuang sendiri untuk menyembuhkan traumanya sejak mereka keluar dari rumah mereka. Sejak dari kejadian itu dia mulai membatasi dirinya dengan yang namanya pria. Dia menutup dirinya dan merubah dirinya jadi wanita yang jelek dan culun supaya tidak ada pria yang tertarik dengan dirinya.
Siapakah yang dapat memberikan cinta untuk Miranda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilda ellen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin bertemu
Dengan gugup Veby ingin menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Veby menggemgam erat tangan Miranda dan sambil menatap Miranda.
"Sayang, apa bisa kamu memberikan waktu kepada keluarga mu? Mereka sangat merindukan mu, nak! Tante tahu, apa yang telah kamu alami selama ini, tapi kalau bisa Tante ingin kamu mau memaafkan mereka. Tante yakin, mama mu pasti sedih melihat kamu yang selalu membenci papa mu sendiri! Dia pasti ingin kamu dan papamu bersama kembali." ucap Veby sambil menggemgam tangan Miranda. Miranda tampak diam dan dia tiba-tiba teringat permintaan mamanya sebelum meninggal.
Flass back.
Tubuh Sartika tampak terbaring dengan tak berdaya. Wajahnya yang cantik kini sudah.tidak adalagi, yang ada hanya wajah yang tampak kurus. Ditangannya juga sudah tertusuk jarum dan memakai alat pernapasan untuk bisa bernafas.
Miranda yang masih tampak remaja duduk disampingnya. Setiap dia pulang sekolah, dia akan selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk menjaga mamanya. Miranda menggemgam tangan mamanya dengan erat sambil mengelus pipi mamanya dengan wajah sendu.
"Sayang, apa bisa mama minta permintaan?" tanya Sartika dengan suara yang lemah.
"Tentu saja bisa, ma! Ira akan berusaha untuk mengabulkannya!" ucap Miranda dengan sedih, dengan berusaha menahan air matanya.
Dia tidak ingin mamanya melihat dia menangis, apalagi sewaktu dia sampai dia mendapat kabar dari dokter yang merawat mamanya, kalau waktu mamanya tidak lama lagi. Penyakit tumor otak mamanya sudah menyebar.
"Mama, ingin disaat mama pergi nanti kamu harus tetap berjuang menggapai cita-cita mu! Mama, sudah menyiapkan semuanya untuk keperluan pendidikan mu! Semuanya ada didalam lemari mama, sayang! Didalam lemari ada kotak, bukalah. Di dalamnya, ada buku rekening yang sudah mama buat atas nama mu!" ucap Sartika dengan tersenyum tapi dengan suara yang lemah.
"Iya, ma! Tapi, mama janji harus tetap disisi Ira! Mama pasti bisa melihat Ira jadi sarjana!" ucap Miranda. Sartika hanya tersenyum saja mendengar ucapan putrinya dia tidak bisa berjanji pada Putrinya itu, karena dia tahu waktunya sudah tidak lama lagi.
"Dan mama mohon kamu harus bisa memaafkan papa mu!"
"Ma!" potong Miranda, dia tidak ingin mamanya melanjutkan ucapannya, karena dia memang belum mau memaafkan papanya.
"Sayang, mama tidak ingin disaat mama pergi! Kamu sendiri di dunia ini, sayang! Dan juga mama ingin kamu sembuh total sayang! Mama yakin jika kamu melupakan semuanya, sakit mu pasti hilang sayang!" ucap Sartika dengan lirih.
"Sekarang mama tidurlah! Mama harus banyak istirahat! Nanti kita akan bicarakan lagi!" ucap Miranda dengan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya sayang! Mama akan istirahat! Tapi ingat, mama mohon maafkan lah papa mu! Kalau saja mama tidak egois dan mendengar ucapan papa mu, mama tidak akan kuartir, kalau mama pergi meninggalkan mu selamanya!" ucap Sartika.
"Cukup, ma! Mama jangan pernah menyalahkan diri mama! Sekarang mama tidurlah!" ucap Miranda dengan kesal. Sartika tahu kalau putrinya kesal padanya, tapi dia tersenyum dan sambil mengelus pipi Miranda dengan penuh kasih sayang.
Sartika merasakan matanya kini sudah berat, pandangannya saja sudah mulai tidak jelas, dan dia juga merasakan tenaganya untuk mengelus pipi putrinya saja sudah tidak ada lagi. Miranda sebenar-benarnya merasakan tangan sudah tampak lemah, Miranda dengan cepat langsung menggemgam tangan mamanya yang di pipinya. Dia melihat mamanya tersenyum padanya dan mamanya langsung menutup matanya. Miranda tahu kalau mamanya sudah pergi untuk selamanya, air matanya yang ditahannya kini sudah tidak terbendung lagi.
Dia langsung menjerit Menangis dan langsung memeluk mamanya yang sudah tidak ada lagi. Karena teriakan dengan menangis, semua dokter dan perawat langsung berlari masuk kedalam ruangan mamanya.
Flass back end.
Miranda juga mendengar apa yang dikatakan dokter Jenny padanya. Kalau dia mau sembuh total, dia harus bisa melupakan semuanya. Di harus menatap ke depan.
"Baiklah, Ira mau bertemu dengan mereka!" ucap Miranda. Veby yang mendengarnya langsung sangat bahagia.
"Terimakasih sayang! Tante yakin mereka pasti sangat senang mendengarnya! Baiklah sayang, Tante pulang dulu ya!" ucap Veby dengan tersenyum bahagia.
"Iya Tante!" ucap Miranda dengan memaksa tersenyum.
Veby langsung pulang dengan diantar supirnya dengan wajah bahagia. Tapi sedangkan Miranda tidak tampak wajah bahagia dari wajahnya. Dia langsung masuk kedalam kamarnya dan membuka lemarinya.
Dari dalam lemari, Miranda mengambil kotak kecil dan dia langsung membuka kotak itu. Didalam kotak itu ada tampak beberapa surat-surat, saat dia membuka dia melihat tulisan mamanya dan ditujukan untuk papanya. Didalam kotak itu juga ada buku rekening atas namanya dan foto mamanya dan papanya, juga ada dua buku harian mamanya.
Sejak mamanya dan papanya berpisah, mamanya diam-diam selalu buat surat untuk papanya, tapi mamanya tidak pernah mengirimkannya. Mamanya selalu memasukkan kedalam kotak itu. Miranda langsung mengambil foto mamanya dan papanya.
"Hiks hiks hiks Ma, Ira kangen! Mereka datang ma! Ira belum siap! Hiks hiks hiks! Ira ingin sekali memeluk mama!" ucap Miranda dengan menangis.
Miranda langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya, sambil memeluk foto mamanya.
***
Veby dengan wajah bahagia masuk kedalam rumah. Dia melihat suaminya dan keluarga Miranda sedang berada di ruang tamu, dan ada juga Putranya Felix.
"Ma, sudah pulang?" tanya Felix dengan bingung, karena mamanya cepat balik. Veby langsung duduk disamping suaminya.
"Ira tadi sudah diijinkan pulang!" ucap Veby.
"Oh, ya aku ingin memberitahu kabar baik untuk kalian! Miranda mau bertemu dengan kalian!" ucap Veby.
Renaldo dan yang lainnya mendengarnya langsung bahagia. Mira pun langsung berlari ingin memeluk Veby. Tapi, secara refleks Veby langsung menolak tubuh Mira, dia tidak ingin Mira memeluknya. Semuanya melihat itu, Mira yang merasakannya hanya diam saja.
"Tidak perlu memeluk ku! Aku melakukannya hanya ingin putri sahabatku kembali pada keluarganya saja, aku merasa tidak tenang melihat dia hidup sendiri dan tinggal dirumah yang kecil. Padahal dia punya rumah yang besar. Aku tidak akan pernah melupakan kalau karena mu lah, sahabat ku menderita! Permisi!" ucap Veby dengan dingin.
Mira yang mendengar ucapan Veby merasa sedih, dia mengira Veby sudah mau memaafkan dirinya. Putra dan Felix yang mendengar ucapan Veby hanya diam dan menatap kepergian Veby meninggalkan mereka. Cantika mamanya Mira yang duduk disampingnya langsung memeluk Mira.
"Jangan masukkan kedalam hati, nak!" nasehat Cantika. Mira yang sadar apa yang dikatakan Veby, jadi dia tidak ingin memasukkannya kedalam hati.
"Maaf kan istri saya, Mir!" ucap putra dengan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kak! Ucapan kak Veby semuanya benar!" ucap Veby.
Mike yang dari tadi diam, memilih pergi dari mereka. Dia memutuskan untuk keluar, dia sebenarnya merasa sedih mendengar ucapan Veby kepada mamanya. Tapi, dia tidak bisa menyangkal kebenarannya. Kalau saja, mamanya tidak menikah dengan papanya, semuanya ini tidak akan terjadi. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan mamanya saja, papanya, neneknya dan kakeknya juga patut disalahkan. Walaupun dia tahu kalau mamanya dan papanya tidak menikah, dia pasti tidak ada di dunia ini. Dia merasa lebih baik dia tidak pernah ada di dunia ini.
"Kenapa? Apa yang sudah kamu pikirkan, Mike?" tanya Felix yang sudah berdiri di samping Mike. Ternyata Felix mengikuti Mike dari belakang saat Mike keluar.
"Aku hanya memikirkan apa yang harus aku katakan padanya, saat kami bertemu nanti! Aku takut, dia tetap memilih untuk pergi dari kami semua!" ucap Mike dengan menatap jalan.
Tadi dia memang sangat senang mendengar kalau adiknya ingin bertemu dengan mereka, tapi ketika mendengar ucapan Veby wajah bahagianya langsung hilang. Dia jadi kuatir, kalau ini hanya kebahagian semu saja.
***