Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
CAPTER 15
SEBAIKNYA JANGAN MENANTANGKU
Telepon genggam Naura terus berbunyi dan membuat Hasan tidak bisa mengaji dengan tenang. Tidak ingin terganggu dengan bunyi telepon yang terus berdering, dia dengan langkah cepat menuju tempat tidur Naura, tangannya segera meraih telepon genggam itu. Tertera nama Andy dilayar panggilan masuk, kesal karena pria itu terus mendekati istrinya dia pun menerima panggilan masuk itu.
“Hai Honey!." Suara Andy diujung sana.
“Ngapain kamu nelfon?!.” Jawab Hasan.
“Upsss...ketahuan lagi nih, mana Naura?!." goda Andy dengan menanyakan Naura.
“Ngapain nanyain Naura?!.” jawab Hasan angkuh.
“Apa urusannya sama kamu...aku cuma ada urusan sama Naura bukan kamu!.”
“Urusan Naura juga urusanku!.”
“Ihh...sejak kapan pede banget!."
“Sejak aku menikahinya yang pasti!.”
“Ohhh...jadi kamu suaminya...suami dadakan itu?!.”
“Terserah kamu bilang aku suami apa tapi yang pasti aku menikahinya secara agama dan sah secara hukum negara!."
“Nggak usah emosi kali...jaman sekarang juga banyak orang yang udah nikah tapi punya hubungan lain.”
“Apa?!.”
“Kenapa kaget...aku juga punya hubungan sama Naura tentunya jauh sebelum kamu hadir.”
“Aku tidak peduli hubungan apa itu sebelumnya tapi sekarang dia adalah istriku!.”
“Emang kenapa kalau dia istrimu yang penting kan hatinya masih buatku...lagian kamu nggak bakal bisa dapetin hatinya.”
“Jangan menantangku ya!.”
“Siapa juga yang mau menantangmu...bukan sainganku.”
“Lihat aja nanti kalo sampek aku ngelihat kamu deketin Naura, aku pastikan semua gigimu rontok!."
Naura yang sudah selesai dan keluar dari kamar mandi terkaget mendapati Hasan berdiri didekat tempat tidurnya dan juga memegang handphone miliknya.
“Sedang apa kamu?.” tanyanya dengan suara tinggi.
“Nihhh!.” Tidak menjawab malah memberikan telepon genggam Naura.
Melihat panggilan telepon masih tersambung, Naura langsung mendekatkan ketelinganya dan berjalan menuju ruang pakaian.
“Ngapain kamu nelfon?!.” tanya Naura.
“Mau godain suami kamu...ehhh malah dia yang ngangkat." Jawab Andy sambil tertawa.
“Terus gimana reaksinya?!." tanya Naura.
“Pastinya marah besar!." Jawab Andy
“Beneran?!.”
“Ya iyalah marah besar...lepas dari kata dia cinta apa nggak sama kamu yang namanya suami dapetin pria lain ngomong kalo punya hubungan sama istrinya apa nggak kebakar hatinya!.” Uangkap Andy.
“What?!." Naura terkaget.
Andy tertawa terpingkal-pingkal mendengar Naura yang kaget dan tidak percaya.
“Gila...cari mati lu!.”
“Tenang...cepat atau lambat dia juga bakal ngerti dan pastinya nggak bakal ngerontokin gigiku."
“Emang dia bilang mau ngerontokin gigi kamu?!.” setengah tidak percaya.
“Yupp...tapi tenang jangan panik sayang, udah dulu ya telfonnya temenku udah dateng soalnya.”
“Ok see u besok ya.”
“Ok Honey.”
Setelah selesai berpakaian Naura keluar dari ruangan dan berjalan ke meja rias, seperti biasa menerapkan minyak zaitun kekulit dan juga menerapkan beberapa krim perawatan wajah. Hasan terus memandangi Naura di depan meja riasnya dengan pandangan mematikan.
“Harus aku apakan kucing betina ini.” Gumannya dalam hati.
Sebenarnya Naura sadar kalau suaminya sedang memperhatikannya namun dia bersikap seolah tidak mengerti dan dia terus dengan ritualnya dimalam hari. Dia tersenyum puas mendapati kemarahan Hasan padanya dan bahkan akan melanjutkannya. Baginya seperti ada kenikmatan tersendiri ketika membuat suaminya itu marah, meski sebenarnya masih ada rasa takut dihatinya.
“Ngapain lihatin aku kayak gitu?.” ujar Naura ketus.
“Apa ada larangan...atau tercantum dalam perjanjian?.” melemparkan pertanyaan.
“Tentu dilarang karena itu juga tercantum dalam perjanjian yang udah kamu sepakati.”
“Kalau sampek ketemu itu kertas beneran aku sobek.” Ujar Hasan dalam hatinya.
“Emang tercantum dibagian mana?.” Hasan melepar pertanyaan lagi.
“Ihhh...dasar!." Tidak melanjutkan.
“Dasar apa hah...ayo terusin pengen denger aku?!.” tantang Hasan.
“Itu kan udah jelas dalam perjanjian kalau dilarang melakukan kontak fisik dan juga kontak batin!.” Naura mengingatkan.
“Apa kontak fisik?!.”
“Iya kontak fisik!.”
“Jadi ngelihatin termasuk ke kontak fisik juga?!."
“Iya lah!.”
Hasan yang tidak percaya dengan apa yang dipaparkan oleh Naura sontak terbangun dari duduknya. Dengan langkah lebar dia menghampiri dan mendekati Naura. Naura yang belum siap dengan kehadiran Hasan didepannya tidak bisa mengambil tindakan. Dengan kaget dia menatap Hasan, dan detik berikutnya Hasan sudah mengangkat tubuh Naura dan membaringkannya diatas kasur. Naura yang masih terkaget hanya bisa membeku, sementara dengan sigap Hasan sudah berada diatas tubuhnya.
“Aku tunjukkan mana yang disebut kontak fisik.” Bisiknya ditelinga Naura.
Sementara tangannya sudah menyentuh paha putih Naura dan tangan satunya berada dikepala Naura, mengusap lembut rambutnya. Hati dan pikirannya ingin memberontak tapi tubuhnya justru berhianat. Sentuhan tangan Hasan selah menghidupkan aliran listrik disekujur tubuhnya bahkan berdenyut diubun-ubun, jantungnya berlari kencang, tubuhnya bergetar dan nafasnya mulai tidak normal.
Respon tubuh Naura membangunkan hasrat kejantanan Hasan, bahkan tubuhnya juga mengalami hal sama yang dialami Naura. Hasan sudah tidak bisa mengontrol dirinya dan juga keinginan batinnya, nafasnya semakin berat suaranya juga mulai parau. Menatap wajah Naura penuh damba dan buih-buih cinta yang meletup dan Naura mendamba dengan tatapan itu.
“Adek...apa Mas boleh menyentuhmu?!.” tanya Hasan parau.
Ucapan dan suara Hasan bukan membuatnya tersadar, justru semakin membuat derita disekujur tubuhnya, Naura tidak menjawab dia malah memilih memejamkan mata memberikan isyarat kesediannya. Hasan menangkap signal itu dengan benar, perlahan bibirnya mulai mendekat dan meraih bibir kecil Naura. Mengecupnya dengan lembut dan bibir Naura memberinya respon, tidak puas dengan itu perlahan bibir Hasan melumatnya dan menuntutnya lebih bahkan sedikit menggigitnya.
“Emmmm....” Suara erangan Naura.
Kedua bibir itu saling menuntut lebih dan lebih seolah tidak berpuas hanya dengan itu. Gerakan yang tadinya lembut menjadi lebih kasar dan semakin berani.
“Emmm....” Erangan dari mulut Naura kembali terdengar.
Suara itu tidak hanya memecut tapi juga menambah energy Hasan untuk ******* bibir Naura lebih dalam dan kuat, lidahnya juga mulai bermain didalam mulut istrinya, mengulumnya dan sesekali menariknya.
“Uhhhhh....” Desah Naura yang semakin memacu jantung Hasan dan juga jantungnya sendiri.
Bahkan tangan Hasan yang tadinya hanya menempel dipaha Naura kini mulai bergerak disekitar pahanya, memberikan rangsangan yang hebat disekujur tubuh kecil nan seksinya. Bergelirya keatas melalui pangkal paha menuju perut bagian bawah dan sedikit dibawah pusar.
“Emmmm....” Suaranya parau.
“Tok tok tok”
Suara ketokan pintu tiba-tiba membunuh hasrat kedua insan yang sedang menguasainya. Dengan spontan keduanya memisahkan diri, Hasan seketika turun dari kasur dan Naura membangunkan dirinya yang tadi terlentang. Keduanya tidak berani melihat satu sama lain.
Suara ketokan pintu itu terdengar lagi dan Hasan segera membukanya. Dengan senyum manisnya bik Siti berkata,
“Makan malamnya sudah siap Den...tuan sudah nunggu dibawah.” Ucapnya dengan ramah.
“Iya bik bentar lagi kita turun.” Ujar Hasan dengan nafas yang belum stabil.
Mendapati nada suara Hasan yang sedikit berbeda ditambah lagi rona wajahnya memerah disertai keringat, membuat bik Siti tersadar dan dengan perasaan bersalah dia turun kebawah. Kepala bik Siti masih dipenuhi dengan dugaan-dugaan akan hal itu sehingga dia tidak menyadari kalau pak Malik bicara padanya, baru setelah mengulanginya lagi bik Siti tersadar.
“Iya tuan!.” Ucap bik Siti
“Ada apa bik?.” tanya pak Malik curiga.
“Perasaan tadi naiknya sek normal kenapa pas turun jadi aneh” batin pak Malik
“Nggak ada apa-apa tuan!." Jawab bik Siti
“Yakin bik?!." minta kejelasan.
“Iya tuan yakin."
“Hmmm..mana anak-anak?!.”
“Katanya bentar lagi turun Tuan.” Jawab bik Siti dan pamit untuk kembali kebelakang.
Tak lama kemudian Hasan dan Naura turun, keduanya terlihat canggung dan saling membisu.
“Kenapa semuanya jadi aneh.” Guman pak Malik.
“Ayo sini Sayang."
“Iya Pa." Jawab Naura lalu menarik kursi untuk duduk dan diikuti oleh Hasan.
Melihat keduanya saling diem – dieman lagi membuat kepala pak Malik pusing, dan terus berpikir apa yang harus dia lakukan agar keduanya menjadi akrab dan saling mencintai.
“Ya Allah.” Gumannya sambil menekan jidadnya.
“Kenapa Pa.. Papa sakit?.” seketika Naura bersuara.
Pak Malik mengangkat kepalanya dan menjawab pertanyaan Naura sambil tersenyum lembut.
“Nggak sayang...cuma radak pusing.”
“Nana panggilin dokter ya?!.” ucap Naura.
“Nggak usah sayang....”
“Yakin pa?!.”
“Iya...loh itu kenapa ma bibirnya?.” tanya pak Malik spontan.
Mendengar pertanyan papanya wajah Naura langsung merah padam karena malu, dia bingung untuk menjawabnya sebaliknya dia malah menoleh ke Hasan. Hasan pun seketika menjadi kikuk, dia juga kehilangan akal untuk mencari jawaban. Dia hanya menundukkan kepala sambil memijat pelipis matanya.
“Kenapa sayang?!.” tanya pak Malik sekali lagi.
Bahkan dengan polosnya pak Malik memanggil bik Siti yang ada dibelakang.
“Bik tolong sini bentar!.” Teriak pak Malik dan membuat keduanya semakin kikuk.
“Iya tuan.” Jawab bik Siti sambil berlari keruang makan.
“Iya tuan ada apa?.” tanya bik Siti begitu berada didepannya.
“Bik ada obat sariawan nggak?.”
“Obat sariawan Tuan?!."
“Iya ada nggak?.”
“Hmmm...ada Tuan tapi buat siapa?.”
“Itu bibir Naura sariawan.” Sambil menunjuk ke bibir Naura yang luka.
“Duhhh lah Tuan ini kok nggak peka.” Batin bik Siti.
“Iya Tuan habis makan malam saya kasihkan ke Non.”
“Makasih ya Bik.”
“Na hati-hati makannya biar nggak perih.” Ucap pak Malik khawatir.
“Iya Pa.”
“Nak ayo dimakan jangan diem.” Ucap pak Malik ke Hasan.
“Iya Pa.” Jawabnya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan malam,seperti yang diminta pak Malik dengan segera bik Siti berjalan kearah Naura dan memberikan obat sariawan.
“Ap ini Bik?.” tanya Naura
“Itu Non...tadi yang diminta Bapak.”
“Udah bik simpan aja.”
“Tapi Non.”
“Udah simpan aja aku nggak sariawan kok.”
“Terus kenapa bisa luka Non?.”
“Ihhh...bibik ini udah mulai cerewet, pokoknya simpen aja.”
“Terus kalo tuan nanya Non?!.”
“Tinggal bilang udah kan beres.” Lalu berjalan pergi meninggalkan bik Siti setelah melirik ke Hasan yang sedang duduk bersama papanya.
Bik Siti yang mengetahuinya langsung tersenyum tipis dan mencoba menggoda Naura.
“Kenapa dilirik Non?!." ucapnya
“Siapa yang ngelirik bik!.” Ujar Naura dan segera pergi dari hadapan bik Siti.
----
Naura yang sendirian didalamkamar mulai bosan, kebiasaan baru yang dia lewati setelah menikah ternyata mulai menyatu dengan dirinya. Tidak ada sosok Hasan dikamar membuat suasana menjadi sunyi, Naura yang sudah biasa berdebat spontan jadi bingung harus melakukan apa dikamarnya.
“Duhhh bosen banget...mau baca buku itu takut si wadimor tiba-tiba nongol." Gumannya.
Dan begitu mengucapkan wadimor pikirannya teringat adegan bibir yang mereka pergulatkan tadi, spontan tangannya memegang luka dibibir. Perasaan gila itu muncul lagi didirinya, bahkan kegelisahan menunggu Hasan yang tidak kunjung kembali ke kamar membuatnya kesal. Tidak menunggu perintah kakinya turun dari kasur dan berjalan kebawah untuk mengintip suaminya yang masih betah ngobrol dengan papanya.
“Apa sihhh yang mereka bicarain...betah banget.” Gumannya pelan.
Bik Siti yang hendak menutup gorden tak sengaja melihat Naura yang sedang mengintip suaminya. Dengan berjalan sangat pelan agar tidak terdengar bik Siti datang untuk mengagetkannya.
“Ngapain ngintip-ngintip Non!." Sambil menyentuh pundak Naura.
“Ihhh Bibik siapa lagi yang mau ngintipin...orang mau ambil air minum kok ke bawah.” Naura berkilah.
“Ohhh mau ambil air... Bibik kira mau jemput den Hasan.”
“Amit-amit dah Bik jemput orang itu!."
“Jangan gitu Non ma suami sendiri..den Hasan ganteng manis lho, paling diluaran sana nggak sedikit yang naksir dia.”
“Syukur dehh kalo ada yang naksir!.”
“Hssttt Non...kalo sampek beneran bisa nangis darah Non nanti!.”
“Nggak mungkin lah!.”
“Omongan itu adalah do’a Non.”
“Udah dehhh Bik.” Ujar Naura dan kembali naik keatas.
“Katanya mau ambil air minum Non!.” Teriak bik Siti dari bawah.
Hasan yang mendengar suara bik Siti mengucapkan kata Non langsung menoleh ke arah datangnya suara, begitu juga dengan Pak Malik.
“Ada apa Bik?.” tanya pak Malik.
“Nggak ada apa-apa Tuan..itu Non tadi turun katanya mau ambil air minum tapi malah balik lagi ke atas.” Ujar bik Siti yang sebenarnya memberikan isyarat pada Hasan.
Awalnya Hasan tidak mengerti maksud dari ucapan bik Siti tapi setelah pak Malik melanjutkan pembicaraan dan menyinggung istrinya juga, akhirnya dia mengerti maksud bik Siti bicara demikian.
Sambil malu-malu Hasan pamit ke pak Malik untuk kembali ke kamar dengan alasan kalau dia banyak kegiatan di kampus. Dan begitu masuk kamar Hasan mendapati Naura sedang memainkan lampu tidur dimeja dekat kasur, mematikan dan menghidupkannya kembali.
“Kenapa mba?!." suara Hasan mengagetkannya.
Naura yang masih teringat pembicaraan mereka seputar jin membuatnya menjerit dan membenamkan kepalanya
dibantal.
“Mba ini aku.” Ucap Hasan sekali lagi.
“Bisa nggak...nggak ngagetin aku!.” Dengan suara kesal.
“Yang mau ngagetin siapa...masak orang buka pintu nggak kedengeran!.”
“Nggak...aku nggak dengar.”
“Gimana mau dengar kalo fokus mainin lampu.”
“Emang nggak boleh...udah sana tidur!.” Sambil menarik selimut.
Malam sudah mesakin larut dan ditemani kesunyian, baik Hasan atau Naura keduanya tidak bisa tidur, hanya berguling – guling diatas kasur dan yang satunya sesekali mengganti posisi tidurnya. Bahkan kali ini Hasan merasa sofa itu terlalu sempit dan tidak bisa membuatnya nyaman. Tenggorokannya juga terasa kering, dia pun bangkit dan pergi kedapur untuk mengambil segelas besar air dan membawanya ke atas.
Begitu tiba dikamar dia mendapati Naura meringkuk kedinginan diatas kasur, dengan pelan-pelan dia menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya.