Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Kamu Perempuanku
Tanpa berkata apa-apa, Bara membawa Arum keluar dari lorong pasar.
Kendaraan dinas menunggu di tepi jalan. Rian membuka pintu belakang, tetapi Bara tidak langsung menurunkan Arum. Gadis itu masih gemetar di dalam jaket lorengnya.
"Jangan takut," kata Bara akhirnya. "Ada aku."
Tiga kata yang sama pernah ia ucapkan setelah mengusir Hartono. Kali ini Arum tidak hanya mendengarnya. Ia mencengkeram seragam Bara dan membiarkan kepalanya bersandar di dada lelaki itu.
"Saya tadi benar-benar takut."
"Aku tahu."
"Saya sudah berteriak, tapi orang-orang hanya melihat."
"Kamu melakukan yang benar. Kamu membuat suara, menyebut apa yang mereka lakukan, dan bertahan sampai bantuan datang."
Arum mengangkat wajah. Ia mengira akan dimarahi karena pergi sendiri. Bara memang marah, tetapi ia tidak mengambil keberanian yang tersisa dari dalam dirinya.
"Naik dulu," katanya.
Bara meletakkan Arum di kursi belakang. Saat hendak ikut masuk, kaki kanannya melemah. Tangan kiri segera menahan bingkai pintu.
Arum melihat setitik darah di telapak tangannya.
"Tangan Mayor terluka."
"Nanti."
Rian duduk di depan dan memberi isyarat kepada pengemudi. Sepanjang perjalanan, Bara menahan Arum di sisi tubuhnya agar guncangan kendaraan tidak membuat pergelangan kakinya sakit. Jaket loreng tetap membungkus bahu gadis itu.
Di pertengahan jalan, Arum berkata pelan, "Pak Mayor."
"Apa?"
"Kenapa Mayor datang begitu cepat?"
"Rian mengirim lokasi."
"Maksud saya, Mayor sedang rapat."
"Rapat bisa ditunda."
"Karena saya pengurus rumah Mayor?"
Bara menatap jalan di depan. Rahangnya masih keras. "Karena kamu perempuanku."
Jantung Arum tersentak.
"Saya belum menjawab soal calon istri."
"Aku tidak bilang kamu sudah menjadi istri."
"Lalu perempuanku itu apa?"
Bara menoleh. "Orang yang harus pulang dengan selamat ke rumahku. Orang yang kalau terluka membuatku meninggalkan rapat. Orang yang tak boleh disentuh siapa pun tanpa izinnya."
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi setiap kata terasa seperti ikatan yang dipasang satu per satu.
"Kalau kamu tidak suka sebutan itu, katakan."
Arum memandang jaket yang menutup tubuhnya. "Saya tidak bilang tidak suka."
"Bagus."
"Mayor senang memutuskan sendiri."
"Kamu baru saja memberiku izin."
Arum memalingkan wajah ke jendela agar Bara tidak melihat senyumnya.
Di Blok C-3, Bu Yanti sudah menunggu setelah dihubungi Iwan. Perempuan itu membantu Arum mengganti pakaian dan memeriksa bekas cengkeraman di lengan. Setelah memastikan tak ada luka lain, ia mendampingi Arum membuat kronologi singkat untuk laporan POM.
"Mbak akan ikut sore nanti kalau kamu perlu memberi keterangan tambahan," kata Bu Yanti. "Jangan simpan takutnya sendirian."
"Terima kasih, Mbak Yanti."
Bu Yanti menepuk tangannya, lalu menatap Bara. "Sekarang giliran pasien satunya. Pak Mayor kelihatan hampir roboh."
"Aku baik-baik saja."
"Semua laki-laki di asrama bilang begitu sebelum masuk poliklinik."
Ponsel Bu Yanti berbunyi. Iwan meminta berbicara langsung dengan Arum untuk memastikan apakah ia bersedia melanjutkan laporan resmi. Bu Yanti menyalakan pengeras suara agar ia tidak perlu memegang ponsel dengan pergelangan yang memar.
"Mbak Arum," ujar Iwan, "dua pelaku sudah diterima Polsek. Kami butuh persetujuanmu untuk memakai rekaman dan hasil pemeriksaan luka. Kamu berhak meminta pendamping dan berhenti kapan saja kalau merasa tidak nyaman."
Arum melirik Bara. Lelaki itu tidak memberi jawaban atas namanya. Ia hanya duduk di seberang, menunggu pilihannya.
"Saya mau melanjutkan laporan," kata Arum. "Kalau mereka dilepas tanpa proses, perempuan lain bisa mengalami hal yang sama."
"Baik. Sore nanti petugas perempuan datang membawa berita acara. Tidak perlu ke kantor kalau tubuhmu belum kuat."
"Terima kasih, Pak Iwan."
Setelah sambungan berakhir, Bara berkata, "Kalau berubah pikiran, tidak apa-apa."
"Mayor tidak marah?"
"Yang mereka lakukan tetap salah. Tapi keputusan menjalani pemeriksaan panjang ada padamu."
Arum mengangguk. Di keluarga Prasetyo, keputusan selalu dibuat di atas kepalanya. Di dekat Bara, bahkan kemarahan lelaki itu tidak digunakan untuk merampas suaranya.
Setelah Bu Yanti pergi mengambil makanan hangat, Arum menyuruh Bara duduk di bawah lampu ruang tengah. Ia membuka telapak tangan lelaki itu.
Sebuah serpihan kayu tertanam di sisi bawah jari kelingking, mungkin dari batang yang direbut Codet.
"Ini bukan luka kecil."
"Kecil."
"Kalau dibiarkan, bisa infeksi."
"Kamu mulai seperti Handoko."
"Bagus. Berarti Mayor akan menurut."
Arum membersihkan pinset, lalu menarik serpihan perlahan. Bara tidak mengaduh, tetapi urat di lengan menegang.
"Sakit?"
"Tidak."
"Bohong Mayor buruk."
"Kamu terlalu sering mengulang kalimatku."
"Supaya Mayor tahu rasanya diatur."
Serpihan keluar. Arum mengoleskan antiseptik dan membalut telapak tangan. Setelah itu, ia berjongkok hendak memeriksa kaki Bara.
Lelaki itu menahan bahunya. "Cukup. Kamu yang baru diserang."
"Tapi kaki Mayor sakit karena menolong saya."
"Aku memilihnya."
"Dan saya memilih merawatnya."
Bara perlahan melepaskan tangan.
Arum mengoleskan minyak pada sisi lutut dan paha yang kaku tanpa memijat bagian luka. Sentuhannya berhati-hati. Ketika selesai, ia duduk di lantai karena tenaga mendadak habis.
Bara mengulurkan tangan yang baru dibalut. "Naik ke kursi."
Arum tak bergerak. "Boleh saya duduk sebentar?"
"Di sini dingin."
Ia mengangkat Arum ke kursi, lalu duduk di sampingnya. Ruangan sunyi. Hanya jam dinding dan napas mereka.
Arum menatap balutan di tangan Bara. "Kenapa semua orang yang mendekati saya jadi terluka?"
"Jangan ulangi kata-kata mereka."
"Tapi..."
Bara menarik Arum ke dalam pelukannya.
Tidak mendadak, tidak memaksa. Ia berhenti setengah jalan, memberi ruang bagi Arum untuk mundur. Gadis itu justru merapatkan tubuh dan menyandarkan kepala di bahunya.
"Kamu bukan pembawa sial," kata Bara. "Kamu membuat rumah ini punya suara."
Mata Arum panas.
"Sebelum kamu datang, aku makan kalau ingat, tidur kalau tubuh menyerah, dan membiarkan luka mengering sendiri. Sekarang ada orang yang menempelkan jadwal obat di dinding dan memarahiku karena tidak memakai tongkat."
"Jadwalnya dokter."
"Tulisan tambahannya milikku."
Arum tertawa kecil. Pelukan itu mengencang sedikit.
Di bawah cahaya lampu, dua orang yang sama-sama terbiasa menghadapi malam sendirian duduk tanpa perlu menjelaskan kesepian masing-masing.
Untuk beberapa menit yang damai, bunyi jam dinding terdengar seperti irama rumah yang akhirnya benar-benar dihuni.
Namun, setelah napasnya tenang, kegelisahan lain muncul di dada Arum.
Bara adalah Danyon. Namanya dihormati di markas. Masa depannya sedang diperhatikan untuk kenaikan pangkat.
Sementara Arum bahkan tidak tahu ke mana bantuan ayahnya pergi, tidak punya keluarga yang mau mengakuinya, dan datang ke rumah ini dengan seluruh hidup di dalam tas kusam.
Kalau suatu hari Bara benar-benar memintanya menjadi istri, apakah satu batalyon akan tetap tersenyum seperti di kantin?
Atau mereka akan bertanya hal yang sama seperti Bu Yatmi?
Kamu kira kamu pantas berdiri di samping dia?