NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Mereka berdua menginap di desa itu selama sehari semalam. Esok paginya, keduanya berkemas dan keluar dari penginapan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah memastikan semua barangnya terkemas dan tidak ada yang tertinggal, Evren dan Xavier keluar dari penginapan. Berjalan menuju tempat kuda mereka diikat.

“Kemarin kalian datang dari arah hutan Arder, apa kalian berasal dari Vandalia?” Tanya pemilik penginapan yang ternyata sedang memberi makan kudanya. Ia bertanya sambil menunjuk ke arah hutan arah mereka berdua datang.

“Benar, kami dalam perjalanan menuju perbatasan utara,” Ucap Evren sambil berjalan mendekat dan mengusap leher kudanya.

“Apa kalian prajurit?”

“Bukan,” Jawab Xavier.

“Untung saja kalian bisa keluar dari kota itu. Di sana sudah hampir seperti kota zombie, tidak ada orang yang bisa keluar dari kota itu dengan harta benda utuh,” Ucapnya lagi.

“Memangnya kota itu kenapa?” kali ini Evren benar-benar penasaran karena sepotong informasi yang diberikan oleh pemilik penginapan.

“Nasib jauh dari ibukota ya begini, padahal dulu sekali Vandalia adalah kota yang makmur. Tapi sejak kaisar terdahulu wafat, kota yang jauh dari ibukota jadi terbengkalai. Apalagi perang ada di mana-mana dan korban perang juga terus bertambah. Akhirnya kota seperti Vandalia membusuk secara perlahan.”

Evren sedikit tertegun saat mendengar ucapan pemilik penginapan. Selama ini hidupnya hanya fokus di medan perang. Lalu merasakan sambutan meriah saat kembali ke ibukota. Ia pikir kehidupan di seluruh kerajaan Alterus sama makmurnya seperti kehidupan di ibukota. Namun kali ini ia melihat fakta yang berkebalikan dengan apa yang ia kira selama ini.

Setelah itu, Evren berpisah dengan pemilik penginapan dan memacu kudanya menuju kota selanjutnya. Di perjalanan, ia melihat kerumunan orang di sebuah tempat. Warga datang membawa bakul berisi hasil panen lalu ditukarkan dengan hasil panen jenis lain, ada juga yang ditukar dengan barang lainnya yang bukan hasil panen. Lalu Evren teringat dengan ucapan Xavier. Ia melirik ke belakang, ke arah Xavier yang sedang duduk dengan tenang sambil mengamati jalanan yang mereka lewati.

“aku kira kamu hanya membaca puisi atau buku cerita seperti anak bangsawan lainnya.”

Xavier yang sejak tadi diam pun menoleh dan melihat Evren meskipun yang terlihat hanya kepala belakangnya.

“Apa salahnya dengan puisi?”

Evren mendengus pelan lalu berkata, “bukankah itu hanya permainan kata?”

Xavier terkekeh pelan saat mendengar kalimat yang terlontar dari seorang Evren. Pandangan seperti itu sering ia terima dari orang yang tidak menyukai para bangsawan. Ternyata jenderal muda ini menjadi salah satunya.

“puisi juga cara lain untuk menuliskan apa yang terjadi di dunia ini, hanya saja caranya lebih indah.”

Evren tidak langsung menjawabnya, lalu Xavier melanjutkan,

“masalahnya bukan ada pada puisinya, melainkan pada mereka yang membaca puisi agar dilihat berilmu dan dipuji.”

Jawaban dari Xavier berhasil membungkam Evren. Evren mencoba memikirkan kalimat Xavier dan merasa ada benarnya juga. Sama halnya seperti dirinya yang membaca buku militer, semua itu informasi tentang militer dan itu berguna untuk dirinya dan pasukannya. Mau itu puisi atau cerita, tetap ada yang bisa dipelajari dari dalamnya.

“kamu sangat suka membaca?”

“Iya, karena ada banyak hal yang bisa diketahui dari selembar kertas. Bahkan dunia yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, aku bisa mengetahuinya dari buku.”

Setelah menempuh perjalanan seharian, akhirnya mereka sampai juga di gerbang masuk kota Merath. Kota besar terakhir bagian utara sebelum memasuki area perbatasan.

“Pakai ini.”

Xavier dari belakang mengulurkan sebuah kain kepada Evren.

“Gunakan untuk menutup wajahmu,” perintahnya lagi.

“Kenapa?”

“Lihat para penjaga itu,” Xavier menunjuk para penjaga gerbang yang juga menutup hidung dan mulutnya menggunakan kain.

“Aku pernah membaca di buku karya Cyrus kalau kota dekat perbatasan rawan terkena wabah penyakit dari para pengungsi,” Ucap Xavier.

Evren juga mengetahui hal itu karena bagaimanapun juga ia sudah bertahun-tahun berada di medan perang. Wabah seringkali mudah muncul dan sangat cepat menyebar akibat dari virus dan bakteri dari mayat yang bergelimpangan di medan perang.

Namun karena pasukannya memiliki tim medis dari Kerajaan, dirinya tidak pernah mengalami langsung terkena wabah. Apalagi setelah selesai berperang biasanya ia akan kembali ke ibukota atau pergi ke medan perang selanjutnya. Tidak pernah menetap lebih dari tiga hari setelah perang berakhir.

Evren menuruti ucapan Xavier dan menutup wajahnya. Setelah mengurus prosedur masuk, gerbang dibuka agar mereka berdua bisa masuk ke dalam kota. Mereka berdua semakin yakin ada sesuatu yang salah di dalam kota. Meskipun penjagaan ketat, gerbang kota selalu terbuka walaupun hanya satu pintu gerbang saja yang dibuka. Tapi kali ini malah ditutup rapat hingga seekor lalat pun tidak bisa masuk ke dalam.

Suasananya jauh berbeda dengan kota sebelumnya. Semua orang memakai penutup wajah dan setiap rumah pintunya tertutup rapat. Beberapa petugas terlihat menggotong mayat lalu dikumpulkan di pinggir jalan.

“Apa kita perlu menginap di sini?” Tanya Xavier saat melihat kondisinya lebih parah dari yang ia kira.

“Setelah kota ini, kita harus melewati hutan, lembah, dan naik ke atas pegunungan. Apa kamu yakin mau langsung berangkat tanpa istirahat?”

“Tidak bisakah kita beristirahat di hutan atau lembah saja?”

“Bisa sih kalau kamu tidak apa-apa, nanti aku akan mencari tempat peristirahatan yang cukup aman.”

Xavier mengangguk lalu Evren segera memacu kudanya agar bisa keluar dari kota secepat mungkin.

Ternyata pemandangan seperti itu harus mereka lihat hingga keluar dari kota. Setelah mengurus prosedur keluar, Evren memacu kudanya lebih santai. Tubuhnya terasa cukup lelah. Apalagi hari sudah mulai larut. Perjalanan mereka masih panjang dan yang dilihatnya sejauh mata memandang hanyalah gelap.

Sesuai peta yang dibawanya, kota Merath merupakan kota terakhir dan setelahnya tidak ada desa sama sekali hingga ke pegunungan Draven. Barulah di balik pegunungan itu ada beberapa desa kecil sebelum barak militer di perbatasan.

Evren meskipun dari luar terlihat santai, tapi tubuhnya terus waspada sejak ia keluar dari gerbang kota. Para pembunuh yang mengejarnya sebelumnya hanya terluka. Itu artinya mereka masih bisa mengejarnya lagi. Mungkin juga akan ada kelompok baru yang akan datang menyusul.

Kuda akhirnya memasuki area hutan Velmor. Semakin ke dalam, pohon di sekitar mereka semakin tinggi dan besar. Setiap jarak seratus hingga tiga ratus meter, Evren mengeluarkan belatinya dan menggores kulit pohon di dekat permukaan tanah.

“Kenapa kamu menandainya sangat ke bawah? Itu sulit dilihat,” Tanya Xavier yang cukup penasaran. Ia memang mengetahui dasar seperti menandai jalan yang dilewati, namun ia pikir hanya perlu memberi tanda saja. Tidak ada standar khususnya.

“Pintar! Itu tujuannya, sebisa mungkin jejak kita harus disamarkan. Kamu ingat perampok kemarin? Mereka bukan perampok melainkan kelompok pembunuh bayaran,” Ucap Evren sambil menggores kulit pohon untuk meninggalkan jejak.

Xavier tidak menyahuti ucapan Evren. Ia tidak terlalu terkejut karena sudah sempat menebaknya dalam hati. Namun tetap muncul rasa tidak nyaman ketika mendengar hal itu langsung dari Evren.

Jenderal yang membawa perdamaian selama bertahun-tahun, tiba-tiba mendapat tuduhan pemberontakan dan diasingkan. Lalu selama perjalanan bahkan masih harus menyelamatkan diri dari kelompok pembunuh bayaran.

Lalu Evren kembali berbicara.

“Tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu sampai tiba di perbatasan. Aku tidak pernah berjanji kalau tidak yakin bisa menepatinya,” Ucapnya lalu ia tersenyum menampilkan deretan giginya ke arah Xavier. Sedangkan Xavier hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Setelah memastikan jejaknya aman, Evren tidak kembali naik ke atas kuda melainkan menuntunnya. Menurutnya tidak efisien jika harus turun setiap seratus meter, jadi ia memilih berjalan kaki saja.

“Sepertinya hutan ini tidak aman untuk jadi tempat beristirahat, terlalu lebat dan sunyi.”

Xavier yang sebelumnya tidak memperhatikan sekitar pun akhirnya mulai melihat-lihat.

Pohonnya semakin tinggi-tinggi dan besar. Daunnya begitu rimbun hingga hampir tidak ada celah untuk cahaya masuk.

Lingkungannya sangat lembab dan benar apa yang dikatakan Evren.

Terlalu sunyi.

Hutan yang hidup selalu bersuara.

Tapi ini bahkan suara jangkrik pun tidak ada.

Tanpa bertanya lagi, Xavier hanya diam. Mengikuti keputusan Evren dan mulai mempercayai instingnya.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!