Leonel Stevano_ CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat.
Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah merasa tertarik dengan lawan jenis. Tentu saja dia bukan Homo! tolong di garis bawahi. Karena menurutnya, wanita itu ribet! Segala apa yang Mereka lakukan nampak membingungkan. Itu sebabnya ia tidak begitu tertarik menjalin hubungan serius dengan perempuan. Leon tidak suka hal yang berbau ribet dan merepotkan.
Di dunia ini. Hanya ada satu orang yang mampu membuat nya mau di repotkan. Karna baginya justru itu adalah suatu kebahagiaan nya, membuatnya merasa Menjadi bagian penting dalam kehidupan wanita itu.
Shevana maurer_ Gadis biasa yang hidup seorang diri. Gadis manis yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya. Ceroboh, keras kepala dan terkenal dengan sifat bodo amatan nya.
Bekerja menjadi salah satu pegawai di Perusahaan ternama. Selama hidup.. Dia belum benar-benar tahu apa yang menjadi tujuanya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan lelaki dingin yang arogan dalam suatu insiden karena kecerobohan nya. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, karena faktanya pria itu terus saja mengusik hidup tenang Shevana.
He is the Devil Teaser!
Tetapi siapa sangka, kemunculan pria itu di hidupnya justru membuat dia sedikit demi sedikit mengerti tujuan hidup nya. Kehidupan nya yang biasa saja berubah menjadi penuh kejutan. Karena di balik sifat dinginya, pria itu begitu senantiasa menjaga dan melindunginya.
Bagai duri bagi yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_Quella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Lima belas Cara Stevano
"Kau keluar dari apartemenmu, Sheva?" tanya Flora ketika panggilan terhubung.
Sementara Shevana tidak beralih menatap pria yang tanpa rasa bersalah sebagai tersangka itu dengan tajam.
"Sheva.." panggil Flora kembali.
"Panjang ceritanya, Flo." Shevana mendesah panjang, "Lain kali aku akan menghubungimu kembali. Aku masih ada urusan, Dah.." klik.
Shevana menutup panggilan sepihak untuk menghindari cercaan yang sudah pasti telah ada di ujung bibir Flora. Shevana tahu betul sahabatnya itu tidak akan bisa diam jika tahu hal yang sebenarnya terjadi.
Well, bahkan ini seperti bukan suatu hal yang benar-benar terjadi sebenarnya.
Memang, setelah pengakuan Leon kala itu kini Shevana benar-benar tidak bisa lagi melarikan diri dari kehidupan Leon. Bahkan, sekarang Leon dengan sikap semaunya memaksa Shevana untuk tinggal bersama pria itu.
Hal itu benar-benar sesuatu yang membuat Shevana geram lantaran dengan liciknya Leon menyewakan apartemennya kepada orang lain hingga membuat Shevana tidak bisa menolak keinginan Leon agar Shevana tinggal bersamanya di penthouse.
Well, Shevana ingin meledak saat ini.
"Setelah ini apalagi?"
"Apa?" tanya Leon kembali tanpa rasa bersalah.
"Kau membeli lalu menyewakan apatemenku pada orang lain. Menurutmu apa lagi, huh?!"
"Kau jelas tahu maksudku, Ana."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Leonel Stevano!" marah Shevana.
Leon balas menatap Shevana lembut, "Semua demi kebaikanmu. Keinginannku hanya satu, kau baik-baik saja."
"Aku bahkan sudah lebih dari baik-baik saja, Leon." Shevana memberi jeda, "Bahkan jika aku tetap di apartemen, aku akan tetap baik-baik saja." desah Shevana tidak habis pikir.
"Bagimu, tidak bagiku."
"Apa yang membuatmu meragukan ku dalam menjaga diriku sendiri?!"
"Tidak. Bukan aku meragukan mu. Aku hanya khawatir ketika tidak bisa mengawasimu dengan mata kepalaku sendiri." jelas Leon tegas.
Shevana sendiri langsung bungkam. Dia kebingungan dengan segala hal yang Leon lakukan untuknya. Bukan Shevana tidak mengerti, Shevana hanya sedang berusaha mengingkari apa yang perasaannya rasakan. Mungkin, lebih tepatnya Shevana sedang mencoba membohongi dirinya sendiri.
"Mengklaim diriku sebagai milikmu dan membuatku tinggal satu atap bersamamu. Apa kau pikir itu tindakan benar?" Shevana menatap Leon lekat, "Bukan seperti ini caranya membuatku baik-baik saja, Leon. Bukan seperti ini.."
"Baiklah. Kau boleh meninggalkan tempat ini.."
"Benarkah?" sahut Shevana antusias.
Leon mengangguk, "Ya."
"Leon.."
"Itupun jika kau mau menjelaskan apa yang terjadi padamu. Kalau kau tidak bisa maka lupakan." potong Leon membuat Shevana membolakan mata.
"Leon!" protesnya.
"Keputusanku final, Ana." ucap Leon menyinggungkan senyum.
Shevana terdiam beberapa saat. Kenapa dia harus menceritakan alasan itu padanya? Memangnya siapa dirinya?
Benar-benar menyebalkan!
"Sudah malam. Istirahatlah." ucap Leon setelah beberapa saat mereka terjebak hening.
Leon kemudian berjalan menuju pintu dan ketika hendak membukanya, seruan Shevana membuat Leon berhenti.
"Kau tidak berhak mengaturku. Lagipula aku tidak pernah mengatakan setuju sebagai milikmu."
Leon berbalik, "Aku tidak membutuhkannya."
"Aku bukan barang, Leonel Stevano! Tidak bisakah kau mengerti apa yang ku maksud, huh?!"
"Tentu jelas kau manusia. Siapa yang mengatakan bahwa kau adalah barang?"
"Lalu kenapa kau selalu bertindak semaumu? Aku juga punya perasaan."
"Tidak ada karena untuk pertanyaan mu." setelahnya Leon membalikkan langkah lalu membuka pintu. Shevana masih menatap Leon dengan diam. Dan sebelum benar-benar menutup pintu Leon berhenti sejenak, "Kau adalah wanitaku. Milikku. Tanpa persetujuanku kau tidak akan kemana-mana."
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Shevana. Dia tidak mengerti. Shevana benar-benar tidak habis pikir dengan bagaimana cara Leon berpikir.
Pria itu sulit ditebak. Shevana tidak tahu kalau Leon semenyebalkan ini.
Shevana masih kesal, tetapi Leon malah terlihat santai. Pria itu bahkan tidak mengindahkan semua protesan Shevana.
**
Pagi yang cerah.
Terlihat seorang wanita paruh baya memasuki penthouse Leon kemudian berhenti di ruang tamu dan menjelajahi isi ruangan dengan mata hijaunya. Wanita paruh baya itu tak lain adalah Clara Stevano.
Clara jarang sekali berkunjung ke penthouse Leon. Setelah acara keluarga kemarin, Leon memang belum mengunjungi kediaman Stevano kembali.
"Mrs. Stevano." sapa Mala tersenyum melihat kedatangan Clara.
Clara sendiri hanya mengangguk sembari matanya terus menjelajah. "Aku tidak tahu kalau Leon menambah pelayan lagi." ucap Clara membuat Mala mengangguk sopan.
"Beberapa waktu ini Tuan muda sudah mengurangi jumlah pelayan di penthouse ini, Mrs. Stevano."
Clara terlihat sedikit terkejut, "Jadi maksudmu ini belum seberapa?"
Mala hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa semua baik-baik saja, Mala?"
"Seperti yang terlihat, Mrs. Stevano."
"Lalu untuk apa Leon menambah pelayan baru? Aku tahu anakku tidak suka rumahnya menjadi banyak penghuni."
"Semenjak Tuan muda membawa Nona Shevana untuk tinggal disini, Tuan muda sempat merekrut banyak pelayan namun karena permintaan Nona Shevana akhirnya Tuan muda setuju untuk mengurangi para pekerja."
"Shevana tinggal disini?"
"Saya tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Hanya saja kemarin malam mereka sempat bertengkar. Nona Shevana marah ketika Tuan muda mengambil alih apartemennya dan menyewakannya pada orang lain."
"Dan memaksa Shevana untuk tinggal bersamanya, right?"
"Benar, Mrs. Stevano."
"I see.." gumam Clara menyinggungkan senyum.
Well, akhirnya pertanyaan Evan mengenai mendapatkan seorang wanita dengan cara Stevano terjawab sudah. Clara bahkan yakin jika Evan mendengar kabar ini dia akan menertawakan putranya.
Benar-benar Stevano sekali.
"Apa Leon masih tidur?"
Mala menggeleng, "Tuan muda sudah bangun sejak pukul enam pagi tadi, Mrs. Stevano." jawab Mala sebelum undur diri melihat Leon di kejauhan.
"Mencariku, Mom?" sapa Leon keluar dari dapur.
Clara menaikkan sebelah alis nya. "Kau sedang apa?" tanya Clara melihat Leon melepaskan celemek di tubuhnya.
"Apa yang membawa mommy berkunjung pagi-pagi?" tanya Leon balik.
"Jawab pertanyaan Mommy dulu, kau habis memasak?"
Leon tersenyum tipis, "Seperti yang kau katakan. Jadi apa yang membawa Mommy pagi-pagi sudah ada disini?"
Clara menghela nafas, "Mengunjungi mu, apalagi? Kau sudah lama tidak mengunjungi rumah."
Leon meringis bersalah, "Leon benar-benar sibuk Mom-"
"Sibuk membuatku kesal, Bibi." potong Shevana menuruni tangga.
"Hay, Sayang.. Bagaimana harimu?" sapa Clara menghampiri Shevana dengan mengecup kedua pipinya. Shevana tersenyum kecil melihat tatapan binar Clara setiap melihatnya.
"Aku baik, Bibi. Hanya saja, seperti yang kau tahu. Pria menyebalkan di belakang itu selalu saja membuatku naik darah." balas Shevana menunjuk Leon dengan dagunya.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun." protes Leon.
Shevana meliriknya sinis, "Tidak melakukan apapun, huh? Lalu bagaimana soal apartemen ku?!"
Leon mengendik. "Bagaimana apanya? Apartemen mu masih utuh di tempatnya." jawab Leon membuat Shevana mengeram.
"Kau menyewakan nya tanpa seizin ku. Dan memaksaku untuk tinggal bersama mu. Apanya yang tidak melakukan apapun, huh?!" pekik Shevana yang masih saja kesal mengingat itu.
"Aku sudah membelinya. Aku tidak butuh izin siapapun untuk menyewakannya."
"Kau ini benar-benar, ya!"
Leon terkekeh melihat raut wajah marah Shevana. Dia mendekat ke arah dua wanita cantik di depannya dengan mengulas senyum tanpa rasa bersalah. "Itu juga demi kebaikanmu. Kau sedang mengalami sindrom. Tekanan emosional mu tidak stabil. Sebab itu aku memaksamu untuk tinggal bersama." Leon menoleh ke arah Clara, "Apa ada yang salah jika aku mengkhawatirkan nya, Mom?" ucap Leon meminta pendapat.
Sedang Clara sendiri lebih memfokuskan pandangannya pada Shevana yang meringis mendengar alasan pria itu." Apa itu benar sayang?"
Shevana mengangguk samar.
Clara dengan cepat menoleh ke arah Leon," Kau sudah benar Leon, jaga Sheva baik-baik atau Mommy sendiri yang akan mengurus nya. "ucapnya memberi tatapan peringatan pada Leon yang menyeringai lebar.
"Pasti, Mom. Jangan khawatir kan apapun. Aku akan selalu bersamanya." balas Leon membuat Shevana menahan semua umpatannya.
That Devil! pria itu benar-benar licik.
"Kau sudah baik-baik saja, Sheva?" tanya Clara khawatir.
"Sheva baik-baik saja, Bibi. Tidak perlu khawatir. '' jawab Shevana tersenyum tipis.
"Bagaimana Mommy tidak mengkhawatirkanmu, kau sudah seperti anak mommy sendiri tahu."
"Bini, Sheva baik-baik saja. See.. Aku bahkan tidak terluka sama sekali."
"Memang bukan tubuhmu yang sakit. Tapi mentalmu." Clara mengusap kepala Shevana sayang, "Mulai sekarang diamlah di sini dan tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Itu akan membantu memulihkan pesikismu."
Demi Tuhan .. Shevana ingin mencekik Leon saat ini juga! Kalau bukan karena Leon melebih-lebihkan kondisi Shevana, Clara mungkin akan mendukung Shevana untuk pergi dari sini.
"Sheva tidak sakit keras, Bibi. Dan lagi, Sheva sudah merasa lebih baik sekarang." ucapnya membuat Clara menggeleng.
"Tidak. Kau harus tetap diam di penthouse atau Bibi akan membawa mu pulang ke mansion keluarga Stevano." ucap Clara membuat Shevana dengan cepat menggeleng kan kepalanya.
Dia menatap Leon yang hanya tersenyum miring melihatnya kebingungan, akhirnya Shevana mengangguk, dia menghela nafas berat," Baiklah.. Sheva akan tetap di sini. "
"Memang harus." Clara mengulas senyum, "Kau sudah sarapan sayang?"
Shevana lantas menggeleng lesu.
"Aku sudah menyiapkan lasagna untukmu.'' ucap Leon menatap Shevana lurus.
"Kau harus Sarapan. Aku akan mandi," Leon beralih pada Clara, "Leon harus bekerja, Mom. Aku akan mengunjungi mu lain kali." ucap Leon mengecup sekilas pipi Clara sebelum berlalu.
Clara tersenyum kecil melihat punggung Leon menjauh.
"Dia sangat menyayangi mu, Sheva." ucap Clara membuat Shevana menoleh kearahnya.
"Baru kali ini Bibi melihatnya mau repot bangun pagi hanya untuk memasak untukmu. Sebelumnya, Leon tidak pernah mau di repotkan oleh sesuatu yang dia anggap ribet." Clara menoleh, balas menatap Shevana dalam, "Dan itu, terkecuali untukmu. ''
"Bibi terlalu berlebihan. " balas Shevana kikuk.
"Kau hanya perlu mempercayainya. Buktikan sendiri bahwa dia memang benar menyayangimu, Sheva. '' ucap Clara meyakinkan.
Shevana berkedip lugu.
Apa itu benar? Aku masih belum mempercayainya, pria itu bahkan selalu membuatnya naik pitam setiap hari.
Well, sepertinya mustahil.
***
Ps ; Tolong ya, tolong..
Kami para author tidak menuntut banyak. Bisakah untuk tidak pelit? Ada beberapa yang mengatakan demikian, tapi sadarkah kalian.. Disini penulis tidak mendapat apapun selain vote & coment. Untuk itu mohon pengertian nya.
Tangkyuuu 💗
More info; IG @r_quella99
semoga segerah menikha 😃💪
semangat nulis terus ya thor!!!