Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Di penginapan ini terbagi menjadi tiga lantai. Lantai dasar digunakan sebagai restoran sekaligus tempat orang-orang bisa memesan kamar. Lalu lantai dua dan tiga berisi banyak ruangan yang dijadikan sebagai kamar inap.
Evren mendapat kamar sendirian di lantai tiga. Ia naik ke atas setelah selesai makan. Meskipun sedikit merasa janggal karena baru kali ini seorang tahanan dibiarkan mendapatkan kamar sendirian, Evren tetap menaiki setiap anak tangga menuju ke kamarnya. Sedangkan pengawal yang bersamanya justru mendapat kamar yang berbeda di lantai dua.
Suara langkah kakinya terdengar jelas di telinganya sendiri saat menyusuri lorong di lantai tiga. Suasananya terlalu hening untuk ukuran sebuah penginapan. Pintu-pintu kamar yang lainnya juga tertutup rapat dan tidak terdengar sedikitpun aktivitas dari dalamnya.
Sesekali ia melirik ke lantai dasar. Tidak lagi terdengar suara tamu bercakap-cakap, tidak ada pelayan yang berlalu-lalang, bahkan denting peralatan makan pun menghilang. Setelah menemukan kamarnya di sudut lantai tiga, Evren langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat.
Pandangannya menelusuri setiap sudut kamarnya lalu jemarinya mengusap meja di depannya dan tidak ada sedikitpun debu yang menempel. Pandangan matanya terhenti pada sebuah jendela yang masih tertutup. Lalu ia berjalan mendekatinya dan membukanya lebar-lebar. Hembusan angin langsung menerpa wajahnya dan memainkan anak rambutnya.
Ia melihat ke arah matahari yang masih cukup tinggi namun sudah menggantung di ujung barat. Cahaya keemasan menerpa wajahnya dari celah rindangnya pepohonan. Kemudian ia memutuskan untuk berbaring dan menutup matanya sejenak sebelum hari benar-benar gelap.
Ia memiliki kebiasaan ini sejak mulai aktif bertempur di medan perang. Terutama setelah kehilangan sang ayah. Ayahnya gugur ditikam pasukan musuh yang menyusup masuk ke barak di malam hari. Oleh karena itu, ia hampir tidak pernah tertidur di malam hari. Namun tidak seorangpun yang mengetahuinya. Karena setiap malam ia selalu berbaring dan menutup matanya sama seperti orang yang sedang tertidur.
Tiba-tiba, beberapa langkah kaki terdengar dari luar kamarnya. Evren tidak langsung bangun, ia memasang telinganya baik-baik sebelum akhirnya ia merasakan sesuatu mendekat dengan sangat cepat. Kepalanya reflek mundur dan sebuah belati kecil tertancap tepat di bantalnya.
“Siapa kalian!?” Teriaknya.
“... “ hening.
Pintu didobrak lalu sejumlah orang menerobos masuk dan menyerangnya dengan membabi buta. Evren meraih pergelangan tangan penyerang terdekat, memutar tubuhnya, lalu merebut pedang dari genggamannya. Sebelum tubuh pria itu menyentuh lantai, bilah pedang sudah lebih dulu menebas penyerang berikutnya.
Dengan gerakannya yang gesit, satu persatu dari mereka tumbang ke lantai. Setelah bilah pedang di tangannya menembus jantung terakhir musuhnya, ia langsung memeriksa satu persatu orang-orang itu. Awalnya ia mengira ini hanya perampokan biasa, namun setelah menemukan sebuah tato laba-laba yang terukir di lengan atas setiap orang, ia simpulkan bahwa ada orang yang mengincarnya.
Tato laba-laba cukup dikenal di kalangan tertentu sebagai organisasi pembunuh bayaran. Hanya orang yang sanggup membayarnya dengan harga tertinggi yang akan dilayani oleh organisasi tersebut.
“Organisasi pembunuh? Tapi siapa?” Gumamnya sambil mengingat lagi orang yang mungkin saja menyimpan dendam sedalam ini. Musuhnya memang bertebaran dimana-mana, tapi semuanya adalah musuh yang bertemu di medan perang. Ada dua kemungkinan : orang yang dikenalnya, atau utusan negeri musuh untuk menghabisinya.
Evren turun ke lantai dua untuk memeriksa kamar Prajurit dan hasilnya nihil. Dua Prajurit pengawal itu tidak berada di dalam kamarnya. Saat turun ke lantai satu juga sama, pemilik penginapan sudah tidak terlihat. Akhirnya Evren kembali naik ke lantai dua untuk memeriksa barang yang ditinggalkan oleh kedua prajurit tersebut. Untung saja surat perjalanannya ditinggal bersama barang lainnya. Ia bisa melanjutkan perjalanan ini dan menghindari kemungkinan tuduhan lain dari istana.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, dengan cepat ia berlari ke lantai tiga mengambil barang miliknya sendiri lalu kembali bergegas turun. Namun terlambat, baru saja kakinya menginjak anak tangga untuk turun, rombongan kedua pasukan pembunuh terlihat sudah datang memenuhi lantai satu.
Evren kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dan mengganjalnya dengan meja. Ia berlari ke arah jendela lalu melompat keluar dan meraih dahan pohon yang paling dekat dengannya. Merayap turun dari pohon lalu berlari menjauh dari penginapan.
Evren tidak menengok ke arah belakang sedikitpun. Ia hanya terus berlari menerobos semak belukar agar bisa sedikit menghilangkan jejaknya. Ditambah malam sudah semakin larut, mereka pasti akan kesulitan untuk bisa menemukannya.
Tujuan Evren malam ini hanya satu, bisa sampai ke pos jaga kota Norveil sebelum fajar. Mulai saat ini, ia bukan hanya seorang tahanan. Sedikit saja terlambat mencapai Norveil, statusnya bisa berubah menjadi buronan.
Setiap tahanan yang berada dalam perjalanan menuju pengasingan, harus melewati rute yang sudah ditentukan oleh pengadilan. Setiap daerah terdapat pos jaga untuk mencatat laporan masuk dan laporan keluar.
Rute yang harus dilalui Evren setelah keluar dari Valenor adalah Kota Meridia, Kota Norveil, Kota Solvaris, Kota Kalestia, Kota Vandalia, dan terakhir Kota Merath. Total ia harus melewati enam kota besar dan harus melapor sebanyak enam kali.
“RAJA BIADAB! KAMU BAHKAN TIDAK MAU MELEPASKANKU SETELAH MEMBUANGKU!?” Teriak Evren meluapkan emosinya di tengah-tengah hutan. Ia merasa tubuhnya sudah mencapai batasnya, namun kakinya harus terus berlari menuju tujuan selanjutnya.
Jauh di belakang Evren, kelompok pembunuh itu juga tidak kenal lelah terus mengejarnya. Meskipun keberadaannya keberadaannya sudah tidak terlihat, namun mereka sudah tau kemana arah Evren berlari.
Setelah hampir semalaman ia berlari, akhirnya siluet sebuah dinding kota yang sangat tinggi sudah mulai terlihat. Evren berhenti berlari dan tubuhnya bersandar pada sebuah pohon besar di sampingnya.
Di depan sana sudah terlihat gerbang masuk ke daerah Norveil. Ia hanya perlu mencapai tempat itu sebelum pergantian shift penjaga. Kedua kakinya sudah tidak bisa ia rasakan lagi, kepalanya pun terasa melayang. Namun senyuman sang ibu tiba-tiba melintas di kepalanya dan ia harus bisa mencapai tempat itu. Kalau sampai statusnya berubah menjadi buronan, itu bisa menjadi alasan Kaisar untuk membantai keluarganya di ibukota.
Saat kakinya akan melanjutkan langkahnya, sebuah anak panah mendarat tepat di depannya membuat Evren langsung berhenti dan menoleh ke arah anak panah itu datang. Ia tidak memiliki senjata apapun sedangkan musuhnya dipastikan memiliki senjata yang lengkap. Di kondisinya sekarang, pertarungan dalam bentuk apapun pasti akan merugikannya.
Satu persatu mulai muncul dari balik pohon. Diperkirakan ada sepuluh orang yang mengejarnya. Karen situasinya tidak menguntungkan, akhirnya ia melangkah mundur secara perlahan lalu langsung berbalik dan berlari secepat mungkin menuju gerbang masuk kota.
Para pembunuh itu melepaskan beberapa anak panah namun semuanya meleset karena terhalang oleh pohon. Mereka mencoba mengejarnya namun tidak ada yang bisa dilakukan lagi ketika Evren sudah semakin dekat dengan gerbang Norveil. Bertindak sekarang resikonya jauh lebih tinggi, akhirnya pemimpin mereka memberi perintah untuk mundur.
Evren terengah-engah dan tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat.
“T-tunggu!” Teriaknya saat melihat dua penjaga baru datang dan penjaga sebelumnya hendak pergi.
“Siapa?” Teriaknya kepada Evren karena mereka belum melihat wajahnya dengan jelas. Hanya terlihat siluet seorang pria yang berjalan terseok-seok.
Brak!
Evren langsung meletakkan surat perjalanannya ke atas meja kecil begitu ia sampai di pos jaga. Kakinya sudah tidak mampu menahan bobot tubuhnya lagi, lalu ia terjatuh terlentang ke tanah dengan nafas yang memburu.
“Ev… Evren... Vance... Hahhh… lapor masuk!”
Penjaga yang sebelumnya akan pergi pun kembali untuk memeriksa surat yang dibawa lalu mencatatnya di baris terakhir sebelum akhirnya diserahkan ke seorang utusan untuk dilaporkan langsung ke istana.
Evren mendesah keras karena usahanya tidak sia-sia. Statusnya aman dan keluarganya pun aman di ibukota.
“Cepat masuk! Jangan berbaring di sini, ini bukan penginapan!” Seru seorang petugas sambil menendang kecil kaki Evren.
Evren langsung berdiri dan berjalan dengan sempoyongan masuk ke dalam kota.
Sementara itu di bagian istana yang terlihat gelap, seseorang berjubah hitam muncul dan menunduk hormat pada sosok tertinggi di negeri ini.
“Yang mulia, dia berhasil lolos.”
Kaisar tidak menoleh, tidak bersuara, tidak bergerak sedikitpun. Namun tangannya mengepal kuat. Suasana di dalam ruangan itu sangat hening. Bahkan pria berjubah hitam itu tidak berani bernafas.
“Dia ternyata memiliki nyawa yang lebih kuat dari yang kukira,” Ucap Cassian, Kaisar negeri Alterus.
Mendengar Sang Kaisar akhirnya berbicara, pria berjubah hitam itu melanjutkan laporannya.
“Lalu putra mahkota sudah sampai di Ravenhold hari ini. Tujuan selanjutnya adalah Draven.”
“Satu lagi manusia yang nyawanya terlalu kuat,” Gumam sang kaisar.
Lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap ke mata-mata utusannya.
“Tahan putra mahkota di Ravenhold selama mungkin, dan segera selesaikan urusan dengan Evren. Jangan sampai mereka berdua bertemu di Draven.”
Kaisar kembali memunggungi utusannya. Lalu ia bergumam, “tapi kalau takdir menuntun mereka bertemu di Draven, mungkin mereka memang cocok menjadikan tempat itu sebagai rumah terakhir.”
Benteng perbatasan di utara selalu menjadi medan tempur yang aktif setiap tahunnya. Belum pernah ada yang bisa membawa perdamaian di sana lebih dari enam bulan. Kalau kedua orang itu benar-benar sampai di sana, mungkin itu akan menjadi kuburan mereka.
“Baik yang mulia,” Setelah menerima perintah, mata-mata itu langsung menghilang dalam sekejap mata.
Sementara itu Sang Kaisar menatap potret kakak sepupunya, yaitu mendiang Kaisar sebelumnya.
“Kak jangan salahkan aku jadi seperti ini, salahkan kamu yang mati terlalu cepat,” Ucapnya pada lukisan di depannya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.