"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Menyesakkan
Di atas tempat tidur berukuran queen size dengan seprai sutra abu-abu yang halus, Kayna duduk bersandar. Di pangkuannya, sebuah tablet pintar menyala, menampilkan beberapa artikel mode digital.
Namun, Kayna sama sekali tidak bisa menikmati bacaannya. Bagaimana ia bisa fokus, jika tepat dua langkah di samping tempat tidurnya, seorang pelayan wanita bertubuh tegap bernama Maya berdiri kaku dengan kedua tangan tertaut di depan tubuh?
Tatapan mata Maya tidak pernah lepas dari layar tablet yang dipegang Kayna. Setiap kali jemari Kayna bergerak menyentuh layar, sepasang mata itu akan menyipit, memastikan tidak ada satu pun ruang obrolan, aplikasi pesan, atau mesin pencari publik yang diakses oleh sang nona muda.
"Maya," panggil Kayna, suaranya terdengar serak dan lelah. Ia meletakkan tablet itu dengan helaan napas berat. "Bisa tinggalkan aku sendiri sebentar? Aku hanya ingin membaca artikel, tidak akan melakukan apa-apa."
Maya membungkuk hormat, namun wajahnya tetap sedingin es. "Maaf, Nona Kayna. Ini adalah perintah langsung dari Tuan Mara. Anda baru saja melewati masa-masa kritis setelah koma akibat kecelakaan itu. Tuan Mara tidak ingin Anda menerima informasi yang salah dari internet atau mengalami tekanan mental yang bisa memperburuk pemulihan memori Anda. Saya harus memastikan Anda hanya mengakses hal-hal yang sudah disetujui oleh Tuan."
Kayna mengepalkan tangannya di balik selimut sutra. Kemarahan yang terendam bergolak di dalam dadanya. Amnesia. Kata itu menjadi tameng mutlak bagi Mara untuk mengontrol seluruh hidupnya.
Sejak terbangun dari koma beberapa minggu lalu, ia tidak diizinkan memegang ponsel pribadinya. Setiap kali ia ingin menghubungi ibunya, Liliana, panggilan itu harus menggunakan ponsel rumah dan dilakukan di bawah pengawasan ketat Mara atau orang-orang suruhannya.
Kayna merasa seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri. Semua orang mengatakan bahwa Mara dan Kayna adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, bahwa mereka telah bertunangan dan akan segera menikah.
Mara merawatnya dengan penuh kasih sayang yang begitu intens, memanjakannya dengan kemewahan tanpa batas, dan menatapnya seolah-olah Kayna adalah satu-satunya poros dunianya.
Namun, jauh di lubuk hati Kayna, ada sebuah insting yang terus-menerus berteriak. Insting yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengerikan di balik senyuman manis tunangannya itu.
Pikiran Kayna kemudian melayang pada percakapan telepon singkatnya dengan sang ibu, Liliana, dua hari yang lalu. Saat itu, Mara sedang menghadiri rapat penting di luar kota, dan pengawasan pelayan sedikit longgar karena Liliana yang menelepon duluan ke telepon rumah.
“Kayna, sayang... bagaimana keadaanmu? Ibu sangat merindukanmu,” suara Liliana terdengar cemas di seberang sana. “Butik LiLYRa milikmu di Jogja... para staf di sana terus menanyakan kabarmu. Ada beberapa desain baru yang membutuhkan persetujuan langsung darimu. Ibu tahu kamu belum sehat benar, tapi mereka sangat berharap kamu bisa menengok ke sana sebentar jika sudah baikan.”
Jogja. Kata itu berdengung aneh di kepala Kayna. Begitu ibunya menyebutkan kata 'butik' dan 'Jogja', sebuah letupan emosi yang asing namun membakar tiba-tiba bangkit di dalam dirinya.
Sejak percakapan itu, keinginan untuk pergi ke Jogja menjadi satu-satunya bahan bakar yang membuat Kayna bertahan. Ia ingin melihat butiknya. Ia ingin menyentuh gulungan kain, mencium aroma workshop, dan menemukan kembali potongan-potongan dirinya yang hilang di sana. Dan yang terpenting, ia ingin keluar dari rumah ini, meskipun hanya untuk beberapa hari.
Suara langkah kaki yang berat namun berirama konstan di lorong luar seketika membuyarkan lamunan Kayna. Atmosfer di dalam kamar langsung berubah, menjadi lebih berat dan sarat akan dominasi yang tak kasat mata.
Pintu kamar terbuka.
Maya segera membungkuk dalam-dalam. "Tuan Mara."
"Tinggalkan kami," perintah Mara dengan suara baritonnya yang rendah namun mutlak.
Tanpa sepatah kata pun, Maya segera mundur dan keluar, menutup pintu kamar dengan rapat, menyisakan Kayna dan Mara di dalam kamar yang luas itu.
Mara berjalan mendekat, melepaskan kancing jasnya dengan gerakan yang sangat elegan. Senyuman lembut yang selalu ia tunjukkan pada Kayna kini terulas di bibirnya yang tipis, namun di mata Kayna, senyuman itu terasa seperti topeng yang menyembunyikan sesuatu yang gelap.
Mara duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Kayna dengan lembut. Sentuhan jarinya yang hangat mengirimkan sensasi dingin yang aneh di sepanjang tulang belakang Kayna.
"Bagaimana harimu, sayang? Apakah kepalamu masih sakit?" tanya Mara, suaranya melembut penuh perhatian yang protektif. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Kayna dengan penuh perasaan, seolah-olah wanita di hadapannya adalah permata paling rapuh di dunia.
Kayna mencoba menahan diri agar tidak menghindar. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis. "Aku merindukanmu, Mara. Dan... kepalaku sudah jauh lebih baik. Aku merasa sudah sembuh total."
Mara terkekeh pelan, jemarinya kini beralih memainkan helai rambut panjang gelap milik Kayna. "Baguslah kalau begitu. Aku tidak suka melihatmu lemas di atas ranjang. Aku ingin tunanganku selalu sehat."
Kayna menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. Ini adalah kesempatannya. "Mara... karena aku sudah merasa jauh lebih baik, aku ingin meminta sesuatu darimu."
Alis tebal Mara sedikit terangkat, tatapan matanya yang posesif menatap dalam ke netra Kayna. "Apapun untukmu, sayang. Kau ingin perhiasan baru? Gaun dari desainer Paris? katakan kau mau apa?"
"Bukan itu," potong Kayna cepat. Ia menatap Mara dengan tatapan memohon yang tulus. "Ibu meneleponku tempo hari. Dia bilang, aku memiliki cabang butik LiLYRa di Jogja. Ada beberapa pekerjaan dan desain yang membutuhkan kehadiranku di sana. Aku... aku ingin berkunjung ke butikku di Jogja, Mara. Aku ingin melihat perkembangannya. Kurasa itu juga bagus untuk membantu memulihkan ingatanku."
Seketika itu juga, gerakan tangan Mara yang sedang membelai rambut Kayna terhenti.
Kayna menahan napas, jantungnya berdegup kencang melihat perubahan drastis pada pria di hadapannya. Rasa takut yang murni mulai merayap di dadanya.
"Jogja?" Mara mengulang kata itu dengan nada suara yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang terasa paling mengerikan.
Ia menarik tangannya dari rambut Kayna, lalu bersedekap, menatap Kayna dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang menindas. "Tidak, Kayna. Aku tidak mengizinkanmu pergi ke sana."
"Tapi kenapa, Mara?!" tanya Kayna, rasa frustrasinya mengalahkan rasa takutnya. "Itu butikku sendiri! Ibu bilang aku sangat mencintai pekerjaanku di sana sebelum kecelakaan. Mengapa aku tidak boleh pergi? Aku hanya ingin melihatnya!"
Mara memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Kayna bisa mencium aroma parfum mahal bercampur aroma tembakau tipis yang maskulin dari tubuh pria itu. Mara mencengkeram kedua bahu Kayna dengan lembut namun sangat erat, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Kayna Ramida," desis Mara, matanya berkilat penuh obsesi yang berbahaya. "Jogja terlalu jauh dari Jakarta. Perjalanan udara atau darat yang panjang akan membuat fisikmu kelelahan, dan dokter sudah memperingatkan bahwa otakmu belum sembuh sepenuhnya dari trauma pasca-koma. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat yang jauh di mana aku tidak bisa mengawasimu dan memastikan keselamatanmu setiap detik."
"Kamu berlebihan, Mara! Aku bukan tawananmu!" air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk mata Kayna. "Mengapa kamu harus mengatur setiap jengkal langkahku? Ponselku disita, internetku diawasi seperti kriminal, dan sekarang aku bahkan tidak boleh mengunjungi bisnisku sendiri?! Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?!"
Pertanyaan itu membuat rahang Mara mengeras. Tekanan cengkeramannya di bahu Kayna semakin menguat, membuat Kayna meringis pelan menahan sakit. Mara mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan.
Senyuman mengerikan kembali terukir di bibir Mara.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun, sayang... aku hanya sedang melindungimu dari dunia luar yang kejam," bisik Mara tepat di depan bibir Kayna, suaranya terdengar begitu lembut namun sanggup menghentikan detak jantung Kayna seketika.
Mara mengelus bibir Kayna yang pucat dengan ibu jarinya.
"Kita bicarakan ini nanti. Kau harus istirahat. Aku akan pergi mandi dulu. "
Mara mengecup pelan bibir Kayna, kemudian ia keluar dari kamar itu dan meninggalkan Kayna yang masih terdiam.
...●Bersambung●...