Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Byur!!!
Semburan wine menyapa wajah Akila. Tidurnya diganggu oleh hal yang begitu pilu itu. Mata Akila terbuka menatap pria tengah berdiri memperhatikan wajahnya.
"Kau bukan jalang terhormat yang bisa aku tunggu sampai kau bangun. Pergi bersihkan tubuhmu dan ganti pakaianmu!" Ucapnya dengan tegas.
Dia adalah William Hartawan.
Tangan Akila terkepal dari balik selimut itu.
Ia perlahan duduk sedangkan tangannya menahan selimut untuk tidak jatuh. William ini memang seperti bukan manusia lagi. Akila menarik kata-katanya sendiri kalau ia pernah berpikir bahwa William adalah orang yang baik.
"Aku tak bohong bahwa aku bukanlah penyebab kecelakaan itu. Tolong lepaskan aku." Ucap Akila.
"Melepaskanmu? Kau bahkan belum menderita! Apa kau tak ingat dengan berkas yang aku lemparkan padamu? Ada banyak kekacauan yang kau lakukan bahkan orang tuamu menyerahkanmu padaku dengan suka rela. Kau adalah biang masalah. Kau pantas menderita sampai mati ditanganku!" Ucap William.
Akila semakin mengeratkan tangannya menggenggam selimut itu.
Tatapannya menyorot tajam pada wajah William.
"Terserah kau mau bicara apa tentangku, tapi yang tahu diriku hanya aku sendiri bukan orang lain. Kau bahkan tak pantas membicarakan soal aku!" Tegas Akila membuat William meremas kedua pipi Akila dengan kuat.
"Apa nada bicaramu selalu begini? Kau lemah tapi berlagak paling hebat! Akila Georgina, aku pastikan jika kau akan berlutut di bawah kakiku tanpa bisa mengangkat wajahmu lagi." Ucap William seperti sebuah ancaman yang pasti.
Wajah Akila makin memberikan tatapan kebencian, tangannya mencoba menjauhkan tangan William sampai William sendiri yang menjauhkan tangan miliknya itu.
Akila mengusap rahangnya yang terasa perih dan ia yakin kalau pipinya sudah memerah karena ulah William yang kasar.
Tiba-tiba Akila berucap.
"Aku bersumpah bahwa kau akan menyesali semua perbuatan yang kau lakukan padaku dan berlutut meminta maaf padaku!" Ucap Akila Georgina menatap pria terkejam yang pernah ia temui.
Sosok pria yang memiliki visual tampan itu tersenyum penuh ejekan.
"Aku menunggu momen itu, untuk saat ini aku hanya ingin membuatmu menderita sampai kau memohon kematian padaku!" Ucap pria dengan nama William Hartawan itu.
Jalan hidup Akila tampak buruk.
William pergi setelah menantang Akila dengan ucapannya.
Tangan Akila menatap benci pada William, pria itu memperlakukan ia dengan kasar.
"Aku sendiri yang tak bisa mengatakan bahwa aku sama sekali bukan pelaku. Ada banyak hal yang masih menjadi traumaku. Aku mau bahagia tanpa harus memiliki beban. Kalau aku ingin jujur, aku muak hidup dan memiliki takdir seperti ini. Dan aku tak akan pernah merasa bahagia saat diangkat oleh pasangan itu untuk menjadi Putri kedua di keluarganya." Gumam Akila.
Perlahan Akila menuruni ranjang, langkahnya terseok masuk ke dalam kamar mandi.
Mengingat kejadian tadi malam membuat Akila mual, ia muntah mengeluarkan semua isi perutnya.
Akila berharap Tuhan berbaik hati padanya walau sedikit saja.
---
Waktu terus berlalu...
Seharian penuh Akila diminta membersihkan taman yang indah di belakang Markas itu, ada banyak daun yang harus Akila kumpulkan tanpa benda apapun. Padahal Akila itu sakit, tapi William tak mau berbaik hati sedikitpun dengannya.
Bibir pucat dan tubuh yang mulai dingin itu kini terduduk dalam diam, ia memeluk lututnya karena rasa pusing mulai melanda kepala Akila.
Perlahan langkah kaki mendekat.
"Malam ini layani aku sampai pagi." Ucap pria itu tegas seolah tak bisa dibantah.
Tawa kemuakan Akila terdengar, perutnya ingin muntah mengingat perlakuan kasar William saat di ranjang.
"Hei! Apa kau tak jijik padaku hingga kau ketagihan meniduriku?!" Tanya Akila membuat William menunduk menatap Akila yang betah duduk di tanah itu.
"Jijik? Kau barang baru, kenapa aku harus jijik?" Tanya William meremehkan.
Kepala Akila mendongak membuat tatapan mereka bertemu.
"Kau membenciku. Itulah alasan yang membuatmu harusnya jijik padaku. Kau tidak berhak meniduriku! Dan terlebih aku yang mual saat kau..."
William kembali menjambak rambut Akila, ia menatap Akila dengan tajam sekali.
"Beginilah caraku menghancurkan musuh!" Ucap William menatap tajam mata Akila dekat.
"Sakit!" Ucap Akila namun William tak mau melepaskannya.
"Lepaskan bajingan!" Ucap Akila lagi.
William yang geram langsung menarik Akila dan menggendongnya.
Tubuh lemah dan sisa kesakitan Akila membuat perempuan itu kembali pasrah.
Lelahnya bukan main, ia berharap penderitaan miliknya habis saja.
'Tuhan, jika aku tak berhak bahagia maka tolong buatlah aku mati. Kumohon.' pinta Akila menutup matanya saat William melemparkan tubuhnya diatas ranjang.
Mendesah? Tidak, tubuhnya terlalu sakit saat William menarik kepalanya lalu menyatukan bibirnya dengan brutal.
Tidak ada yang lembut, semua terasa kasar seolah Akila harus melayani dan mengikuti maunya William.
Akila tak bisa bergerak lagi sedangkan William bersemangat mencumbui Akila.
"Aku bersumpah akan terus membencimu bahkan di kelahiran selanjutnya. Kau adalah musuh terbesarku William Hartawan." Ucap Akila.
Akila hanya bisa meringis saat William kembali memaksakan kehendaknya untuk kedua kalinya.
Rasa sakit itu kembali terasa, Akila hanya bisa meremas selimut juga bantal menahan gerakan William yang tak memperdulikan rasa sakit yang Akila rasakan.
'Tuhan bebaskan aku, ini melelahkan sekali.' Akila memohon dalam hati penuh harapan.
---
Di tengah malam yang sunyi, setelah William tertidur pulas di sisinya, Akila terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Perlahan ia bangkit dari ranjang, mencoba tidak membuat suara yang bisa membangunkan iblis di sampingnya.
Setiap langkah terasa menyakitkan. Namun rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan hancurnya hatinya. Ia meraih pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya dengan tangan gemetar.
Akila melangkah ke balkon kamar, menatap langit malam yang gelap. Bulan bersinar redup, seolah ikut bersedih dengannya.
"Kenapa semua ini terjadi padaku?" bisiknya lirih, air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan.
Tangannya meraih gelang pemberian Natalie di pergelangan tangannya. Ia menatapnya dengan penuh haru.
Aunty Natalie... jika kau masih hidup, apakah kau akan menghentikan putramu yang kejam ini? Atau kau akan membiarkannya terus menyiksaku seperti ini?
Tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya.
"Kau pikir kau bisa melarikan diri?"
Akila menoleh, melihat William sudah bangun dan berdiri di ambang pintu balkon. Tatapannya masih mengantuk tapi penuh amarah.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar," jawab Akila dingin.
William melangkah mendekat. Tanpa kata-kata, ia menarik tangan Akila dan membawanya kembali ke dalam kamar.
"Kau tidak punya hak untuk melakukan apapun tanpa izinku," ucap William dingin. "Ingat itu."
Akila hanya bisa terdiam, menahan air mata yang ingin jatuh.
William melemparkannya ke ranjang dan kembali berbaring di sisinya, menarik tubuh Akila ke dalam pelukannya yang dingin.
"Tidurlah. Besok kau masih harus bekerja," ucapnya acuh.
Akila memejamkan matanya, merasakan tubuh William yang hangat namun hatinya yang membeku.
'Suatu hari nanti...' janjinya dalam hati. 'Suatu hari nanti semua ini akan berakhir. Entah aku yang mati, atau kau yang menyesal.'
---
Bersambung
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .