NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bimbang

Malam itu, langit tertutup awan kelabu, tak ada bintang yang terlihat. Sera duduk di tepi jendela kamarnya, memeluk lutut, menatap halaman rumah yang mulai basah disentuh rintik hujan. Di atas meja, kotak pemberian Arga masih tertutup rapat, seperti perasaannya sendiri yang tak bisa ia buka sepenuhnya.

Ia pikir, meninggalkan Jakarta, meninggalkan apartemen Dikta berarti meninggalkan segala rasa yang sempat tumbuh kembali.

Ia pikir, kembali ke rutinitas mengajar, ke rumah ayahnya yang damai, berarti ia sudah pulih.

Dan kembali bertemu Arga setelah sempat LDR-an akan membuat hati Sera tenang.

Namun ternyata, bayangan Dikta lebih kuat dari yang ia kira. Setiap kali memejamkan mata, wajah laki-laki itu selalu muncul, tatapan rindunya, suaranya yang memohon, dan ciuman yang sempat membuatnya lupa segalanya.

Ponsel di meja bergetar. Sera menatap layarnya, dan napasnya tertahan. Dikta.

Nama itu seakan membakar jemarinya. Ia tak mengangkat, membiarkan panggilan itu berhenti sendiri. Namun tak lama kemudian, pesan masuk.

"Aku tahu kau menghindar, Sera. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Setiap sudut apartemen ini masih berbau harummu. Aku salah melepaskanmu kemarin. Tolong... beri aku kesempatan untuk bicara. Hanya bicara."

Jantung Sera berdegup kencang. Ia meletakkan ponsel itu menjauh, seakan benda itu panas. "Kenapa sekarang, Dikta? Kenapa kau baru menyesal setelah bertahun-tahun berlalu?" gumamnya lirih, air mata mulai menetes di pipi.

"Dulu kau ketika kita masih menikah, kau selalu mengabaikanku.. Tak peduli akan kehadiran ku dan lebih mementingkan kekasihmu... Kenapa setelah bercerai kau justru jadi orang yang paling menderita... Paling tersakiti... Kenapa Dikta...."

"Aku sudah punya Arga.. Dia yang selalu ada disisiku. Mendukungku dan mengerti semua akan diriku... Harusnya kau tidak ada didaftar hidupku lagi Dikta....."

Sera menitikkan airmata, menenggelamkan wajahnya diatara lututnya. Tangisnya tergugu.

Hujan di luar semakin deras, seirama dengan kekacauan di hatinya.

Di satu sisi ada Arga yang sabar, yang tulus, yang siap menunggunya kapan pun ia siap. Di sisi lain ada Dikta, masa lalunya, luka lamanya, sekaligus cinta pertamanya yang tak pernah benar-benar hilang.

Malam itu berlalu dengan sebuah dilema didalam hati Sera.

Ia marah tapi tak tahu harus marah pada siapa. Dia juga rindu tapi tak bisa mengutarakannya.

...****************...

Pagi harinya, Sera berusaha menata hati sebaik mungkin. Ia melangkahkan kakinya masuk ke ruang kantor fakultas untuk mengambil berkas, berharap hari ini berjalan tenang. Namun takdir seakan tak pernah lelah mengujinya.

Saat ia hendak melangkah keluar, tubuhnya membeku. Di lorong, tak jauh dari pintu ruangan itu, berdiri sosok yang tak ingin ia temui saat ini juga. Dikta.

Laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna navy yang rapi sangat kontras dengan kulitnya. Wajahnya terlihat lelah, berbeda jauh dari sosok pengusaha percaya diri yang dulu ia kenal. Terdengar suara-suara bisikan dsri para mahasiswa yang kagum pada wajah tampan Dikta.

Saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti berputar. Dikta melangkah mendekat, langkahnya perlahan, seakan takut Sera akan lari.

"Kau... Kenapa ada di sini? Dan kenapa bisa tahu kampusku mengajar?" tanya Sera, suaranya bergetar, matanya menatap lurus ke depan, tak berani menatap mata itu.

"Aku menunggumu" jawab Dikta pelan namun tegas. "Aku tahu kau menghindar. Tapi aku tak bisa diam saja, Sera. Bukan setelah apa yang terjadi di antara kita."

"Sudah berakhir, Dikta." Sera mencoba mempertegas, meski hatinya berteriak sebaliknya. "Kita sudah bercerai lima tahun lalu. Apa yang terjadi di apartemenmu itu... hanya kekhilafan. Itu tak berarti apa-apa buatku."

"Tak berarti apa-apa bagimu?" Dikta maju selangkah, suaranya sedikit meninggi, penuh kepedihan. "Bagaimana bisa kau bilang begitu? Saat kau ada di pelukanku, saat kita berciuman... aku merasakan semuanya, Sera. Kau masih mencintaiku, bukan? Katakan kau masih mencintaiku!"

Sera menoleh kesana kemari karena semua orang memperhatikan mereka. Sera menarik lengan Dikta untuk mencari tempat agak sepi agar mereka bisa berbicara tenang tanpa gangguan.

Dikta menarik tangan Sera hingga perempuan itu menabrak dadanya yang bidang.

"Bahkan dari cara mu menatapku saja sudah bisa ditebak kalau kau juga merindukanku Seraphina...." lirih Dikta menahan punggung Sera.

Sera segera menolak dada Dikta dan kembali memasang wajah dingin dihadapan laki-laki itu.

"Kau salah paham Dikta! Itu hanya kelemahanku sesaat. Aku terbuai oleh kata-katamu. Tapi aku tak mau kembali ke masa lalu yang menyakitkan itu. Aku sudah punya kehidupan baru. Dan Arga..."

Saat nama itu keluar dari mulutnya, raut wajah Dikta berubah, kesedihan berubah menjadi kecemburuan yang mendalam. "Arga? Laki-laki itu? Apa kau benar-benar memilihnya, Sera? Padahal kau tahu... kau tahu hatimu sebenarnya milik siapa!"

"Aku tak tahu!" seru Sera, suaranya pecah. "Aku tak tahu, Dikta! Kau datang kembali setelah lima tahun, membawa semua kenangan ini, lalu kau tanya siapa yang kupilih? Kau hancurkan dulu hatiku, dan sekarang kau kembali seakan tak pernah ada yang terjadi. Sekarang siapa yang kejam diantara kita..Kau atau aku?"

Melihat air mata di wajah Sera, ketegasan dan keegoisan Dikta luntur seketika. Ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh wajah perempuan itu, namun Sera mundur selangkah, menghindar. Gerakan itu bagai pukulan telak bagi Dikta.

"Maafkan aku..." ucap Dikta lirih, matanya berkaca-kaca. "Aku tak bermaksud memaksamu. Tapi tolong... jangan menutup pintu itu sepenuhnya. Biarkan aku menebus kesalahanku. Biarkan aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi laki-laki yang pantas untukmu."

"Tak ada yang perlu diperbaiki Dikta... Kau dan aku sudah berakhir... "

Tanpa menunggu jawaban, Sera berbalik dan berlari menjauh, meninggalkan Dikta yang berdiri terpaku di lorong itu, meninggalkan perasaan yang semakin kusut tak berujung.

Bersambung...

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!