Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Raka dicabut dari proyek utama malam itu juga.
Baskara mengirim instruksi ke sekretaris perusahaan sebelum makan malam selesai. Semua akses Raka ke dokumen kerja sama Santoso dibekukan. Ruangannya di kantor tidak dikunci, tetapi sistem internal tidak lagi menerima kata sandinya.
Bagi keluarga seperti Wiratama, itu bukan sekadar hukuman.
Itu peringatan.
Raka berdiri di ruang tengah, wajahnya tenang. "Kalau Papa pikir ini membuatku menyesal, Papa salah."
Baskara tertawa dingin. "Kamu belum tahu rasanya kehilangan tanggung jawab besar."
"Aku lebih takut kehilangan rasa benar."
"Rasa benar tidak membayar gaji karyawan."
"Skandal juga tidak."
Maya cepat menyela sebelum pertengkaran semakin jauh. "Mas Raka, jangan bicara dengan Papa seperti itu. Kamu tahu Papa sedang banyak tekanan."
Raka menatap Maya. "Tekanan yang sebagian dibuat sendiri."
Dinda berdiri di belakang ibunya, wajahnya pucat. Ia mungkin baru menyadari bahwa permainan sudah tidak lagi sekadar tangisan dan sindiran.
Alya tidak bicara.
Ia sedang membaca pesan dari Rafi.
Santoso mulai menyerang balik. Mereka menyebar narasi bahwa Alya tidak stabil dan keluarga Wiratama sedang dikendalikan anak baru pulang. Ada akun bayaran.
Alya mengetik:
Biarkan dulu. Catat semua akun.
Rafi membalas:
Sudah.
Baskara menunjuk tangga. "Alya, mulai besok kamu fokus sekolah. Tidak ada urusan perusahaan, tidak ada urusan Santoso, tidak ada aksi seenaknya."
"Baik."
Jawaban patuh itu membuat semua orang curiga.
Baskara menyipitkan mata. "Kamu mengerti?"
"Mengerti. Papa ingin aku diam."
"Papa ingin kamu tahu batas."
Alya tersenyum. "Batas siapa?"
Baskara hampir marah lagi, tetapi ponselnya berbunyi. Ia pergi sambil menjawab panggilan.
Raka menghampiri Alya setelah ayahnya pergi. "Jangan ikut campur dulu. Aku bisa urus."
"Mas baru dibekukan akses."
"Itu sementara."
"Papa tidak terlihat sedang sementara."
Raka menghela napas. "Aku tetap kakakmu."
Alya menatapnya. "Justru karena itu aku tidak akan diam."
Raka hendak menjawab, tetapi Rafi datang dari pintu samping. Ia tidak pernah masuk ruang keluarga tanpa alasan.
"Ada tamu," katanya.
Maya mengerutkan kening. "Tamu siapa malam-malam?"
Jawaban datang dari luar.
"Saya."
Seorang pria paruh baya masuk bersama sekretaris Baskara yang tampak panik. Pria itu memakai batik gelap, membawa tas dokumen kulit, dan memiliki wajah seorang notaris yang sudah terlalu sering melihat keluarga kaya berbohong.
"Pak Surya?" Baskara yang baru kembali dari koridor tampak terkejut. "Kenapa Anda datang?"
Pak Surya menatap Alya sebentar, lalu berkata, "Saya diminta almarhumah Ibu Maheswari untuk menyerahkan dokumen saat Nona Alya resmi kembali ke keluarga Wiratama."
Nama ibu Alya membuat ruangan berubah sunyi.
Maya tampak seperti melihat hantu.
Baskara berkata kaku, "Dokumen apa?"
Pak Surya membuka tas. "Dokumen waris dan kepemilikan saham."
Dinda berbisik, "Saham?"
Pak Surya mengeluarkan map tebal. "Sebelum meninggal, Ibu Nadira Maheswari menempatkan sebagian saham pribadi dalam pengawasan notaris. Saham itu secara sah jatuh kepada putri kandungnya saat putri tersebut berusia delapan belas tahun atau kembali diakui dalam kartu keluarga ayahnya."
Alya menatap map itu.
Di kehidupan lalu, dokumen ini tidak pernah sampai padanya. Ia baru tahu tentang saham ibu ketika semuanya terlambat, ketika suratnya sudah dipalsukan, ketika haknya sudah berpindah.
Ternyata Pak Surya masih hidup.
Di kehidupan lalu, ia meninggal dalam kecelakaan sebelum Alya sempat mencarinya.
Kali ini, Eyang pasti sudah bergerak lebih dulu.
Baskara berkata, "Ini tidak pernah dibahas."
Pak Surya menjawab tenang, "Karena tidak perlu dibahas. Ini dokumen sah."
Maya berdiri. "Tunggu. Nadira punya saham pribadi sebanyak apa?"
Pak Surya membuka halaman. "Tujuh belas persen saham Wiratama Holding, dengan hak suara tertunda sampai ahli waris aktif."
Ruang tengah benar-benar membeku.
Tujuh belas persen.
Jumlah itu cukup untuk membuat Alya bukan lagi anak yang bisa disuruh naik ke kamar.
Raka menatap Alya, lalu map itu. Di matanya muncul keterkejutan dan kelegaan.
Baskara mengambil dokumen, membacanya cepat. Wajahnya semakin gelap.
"Ini tidak mungkin."
"Sangat mungkin," kata Pak Surya. "Ibu Nadira menerima saham tersebut dari ayahnya sebelum menikah dengan Anda. Setelah menikah, saham itu tidak masuk harta bersama karena ada perjanjian pranikah."
Maya menggenggam sandaran kursi.
Selama ini ia mungkin mengira Nadira hanya istri pertama yang mati dan meninggalkan anak merepotkan. Ia tidak tahu perempuan mati itu masih memegang pisau dari kubur.
Pak Surya menyerahkan pena kepada Alya. "Nona Alya, Anda perlu menandatangani penerimaan dan aktivasi hak suara. Tidak harus malam ini. Saya bisa memberi waktu."
Alya mengambil pena. "Saya tanda tangan sekarang."
Baskara langsung berkata, "Alya, kamu belum paham konsekuensinya."
"Kalau begitu Papa bisa jelaskan setelah aku tanda tangan."
Ia membubuhkan tanda tangan.
Pak Surya memeriksa, lalu mengangguk. "Sah."
Dinda tampak seperti ingin duduk tetapi lupa caranya.
Maya memaksakan senyum. "Selamat, Alya. Ini kabar baik."
"Benarkah?"
"Tentu. Kamu bagian dari keluarga."
Alya menatapnya. "Tadi pagi aku masih anak tidak stabil."
Maya tidak bisa menjawab.
Baskara menutup dokumen. "Saham ini tetap harus dikelola oleh keluarga. Kamu masih sekolah."
"Hak suara saya bisa diwakilkan," kata Alya.
Baskara sedikit lega. "Benar. Papa bisa..."
"Mas Raka yang mewakili."
Raka terkejut. "Alya."
Baskara meledak. "Tidak."
Pak Surya berkata, "Pemilik saham berhak menunjuk kuasa suara."
"Dia baru delapan belas!"
"Cukup usia secara hukum."
Alya menatap ayahnya. "Papa baru saja membekukan akses Mas Raka. Aku mengembalikannya lewat sahamku."
Raka menatap Alya dengan mata yang sulit dibaca.
Baskara seperti kehilangan pijakan. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan?"
"Tahu. Aku sedang memakai hak yang Mama tinggalkan."
Kata Mama membuat Baskara terdiam.
Maya tiba-tiba berkata, "Nadira sudah meninggal. Jangan gunakan namanya untuk menyerang keluargamu sendiri."
Alya menoleh perlahan.
"Tante Maya," katanya lembut, "jangan sebut nama ibuku seolah Tante mengenalnya."
Maya membeku.
Pak Surya menutup tas. "Saya akan mengirim salinan resmi ke kantor besok pagi. Nona Alya, kalau ada tekanan untuk mengubah kuasa suara, hubungi saya."
"Terima kasih, Pak."
Setelah Pak Surya pergi, rumah terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Baskara tidak berkata apa-apa. Ia naik ke ruang kerja.
Maya membawa Dinda pergi.
Tinggallah Alya, Raka, dan Rafi di ruang tengah.
Raka akhirnya berkata, "Kenapa menunjuk aku?"
"Karena Mas lebih paham perusahaan."
"Hanya itu?"
Alya menatapnya. "Dan karena tadi Mas memilihku."
Raka mengusap wajah. Saat tangannya turun, matanya sedikit merah.
"Kamu membuatku merasa lebih buruk."
"Kenapa?"
"Karena kamu mempercayaiku lebih cepat daripada aku pantas mendapatkannya."
Alya tidak menjawab.
Di luar, hujan mulai turun.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali ke rumah Wiratama, Alya merasa ibunya tidak sepenuhnya meninggalkannya sendirian.
Nadira Maheswari masih melindunginya.
Dari masa lalu.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔