Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah semua selesai makan, Seina diam-diam menarik kakak sulungnya ke sudut halaman, ia memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka.
Kemudian ia merogoh kantong kecil di bajunya, tangannya yang mungil bergerak cukup lama hingga akhirnya berhasil mengeluarkan sesuatu.
Itu adalah sebuah telur rebus.
Seina mengangkatnya dengan kedua tangan, lalu menyodorkannya kepada sang kakak sambil tersenyum manis.
"Kakak..."
"Ini untuk Kakak."
Di kehidupan sebelumnya, Seina telah belajar satu hal.
Seseorang yang benar-benar melindunginya jauh lebih berharga daripada harta sebanyak apa pun. Karena itu, sejak awal ia ingin menjaga hubungan baik dengan kakak sulungnya.
Ia harus membuat kakaknya berdiri di pihaknya. Dengan begitu, ketika badai kembali datang di masa depan, ia tidak akan lagi menghadapi semuanya seorang diri.
Kakak sulung Seina menatap benda yang tiba-tiba berada di telapak tangannya dengan bingung.
Matanya beralih dari telur rebus itu kepada adik kecil di hadapannya.
"Apa ini?" tanyanya pelan.
Saat sarapan tadi, ia yakin tidak melihat telur di atas meja. Karena itu, ia sama sekali tidak mengerti dari mana telur ini berasal.
Melihat wajah kakaknya yang dipenuhi kebingungan, Seina segera tersenyum manis.
"Jangan khawatir, Kak."
"Ini bukan telur sisa kemarin."
"Ibu memberikannya kepadaku pagi tadi. Aku sengaja menyisakan satu untuk Kakak."
Sambil berkata demikian, Seina kembali mendorong telur itu ke arah kakaknya, namun kakak sulungnya justru menarik tangannya.
"Hmph..."
"Jangan berpikir kau bisa membuatku berpihak padamu hanya dengan sebutir telur."
Ia masih mengingat perkataan adik-adiknya tadi. Mereka semua curiga gadis kecil ini memiliki tujuan tersembunyi.
Ia tidak boleh mudah tertipu, namun ketika kembali menatap wajah Seina yang penuh harap, hatinya perlahan mulai goyah.
Tatapan jernih itu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang berpura-pura.
Ia menghela napas pelan.
"Itu pemberian Ibu untukmu."
"Kau saja yang memakannya."
Ia hendak mengembalikan telur itu, tetapi Seina segera menggeleng kuat-kuat.
"Apa yang sudah diberikan Ibu kepadaku adalah milikku."
"Dan aku ingin memberikannya kepada Kakak."
"Aku sudah makan tadi."
"Yang ini memang sengaja kusimpan untuk Kakak."
Suaranya terdengar begitu tulus hingga membuat kakak sulungnya terdiam, ia kembali menatap telur rebus di tangannya.
Kemudian memandang wajah Seina sekali lagi.
Entah mengapa, ia benar-benar tidak sanggup mengecewakan gadis kecil itu.
Pada akhirnya, ia menerima telur tersebut.
Melihat itu, senyum Seina langsung mengembang cerah.
Di balik semak-semak tak jauh dari sana, seseorang menghentakkan kaki dengan kesal.
"Kakak! Kau pengkhianat!"
Suara itu berasal dari kakak keempat Seina yang sejak tadi diam-diam mengintip.
Sebenarnya, sejak Seina menarik kakak sulungnya ke sudut halaman, ia sudah merasa curiga. Ia segera mengajak kakak kedua dan kakak ketiga mengikuti mereka secara diam-diam.
Dalam benaknya, gadis kecil itu pasti sedang menjalankan rencana licik.
Siapa sangka.. Yang mereka lihat justru Seina bersusah payah mengeluarkan telur rebus dari kantong bajunya yang sempit, lalu memberikannya kepada kakak sulung mereka tanpa ragu sedikit pun.
Pemandangan itu membuat ketiga kakaknya sama-sama terdiam.
Kakak keempatlah yang paling sulit menerima kenyataan.
Baginya, tindakan Seina justru terlihat seperti siasat baru untuk mengambil hati seluruh keluarga.
Sementara itu, kakak kedua hanya menundukkan kepala, wajahnya memerah karena malu.
Tadi pagi dialah orang pertama yang mendukung usulan untuk mengusir Seina dari rumah. Kini ia justru merasa dirinya jauh lebih kekanak-kanakan daripada seorang gadis berusia enam tahun.
Sebaliknya, kakak ketiga hanya berdiri sambil memandang sekilas ke arah mereka.
Ekspresinya tetap datar seperti biasa.
Selain buku-buku yang selalu dibacanya, hampir tidak ada hal lain yang mampu menarik perhatiannya.
Melihat adik keempat masih hendak memprotes, kakak sulung akhirnya membuka suara.
"Sudah cukup."
"Dia adik kita."
"Kalau seorang anak berusia enam tahun saja tahu cara berbagi, seharusnya kita yang lebih tua merasa malu."
"Mulai hari ini, jangan ada lagi yang membicarakan mengusirnya."
"Kalau Ayah sampai mendengar tingkah kalian, jangan salahkan beliau kalau memberi hukuman."
Mendengar ucapan itu, kakak keempat langsung menutup mulutnya.
Walaupun wajahnya masih dipenuhi rasa kesal, ia tidak lagi berani membantah.
Tak jauh dari sana, di balik dinding rumah bambu, Mira dan suaminya ternyata menyaksikan semua kejadian itu sejak awal.
Melihat kelima putranya akhirnya mulai menerima Seina, wajah Mira dipenuhi senyum lega.
Ia menoleh kepada suaminya.
"Sekarang kau sudah tenang, bukan?"
"Aku yakin putri kita tidak akan diabaikan."
"Walaupun dia yang paling kecil, kakak-kakaknya pada akhirnya akan menyayanginya."
Sang ayah memandang putri kecilnya yang sedang tersenyum cerah di halaman.
Tatapan tegang di wajahnya perlahan menghilang.
Ia mengangguk pelan sambil berkata dengan nada tegas, "Memang seharusnya begitu."
"Kalau ada yang berani membuat putriku menangis, orang pertama yang akan menghukumnya adalah aku sendiri."
cerita nya juga seru