NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.Ketika Dua Dunia Bertemu

Enzo melirik bibir Chantika. "Kamu melupakan sesuatu."

"Apa?"

"Satu ciuman."

Pipi Chantika langsung memerah. "Kamu jangan mulai lagi deh."

"Aku cuma minta ciuman dari istriku. Apa gak boleh?"

Chantika langsung menggeleng tegas. "Tidak."

"Kenapa?"

"Kita belum menikah. Jadi--"

Namun belum sempat Chantika melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Enzo menariknya dalam satu sentakan dan merangseknya ke body samping mobil.

"Enzo! Apa yang kau lakukan?" Chantika menatapnya penuh peringatan.

"Minta ciuman dari istriku," ucap Enzo dengan nada suara rendah.

Perlahan ia menundukkan wajahnya, namun Chantika langsung menahan dada pria itu.

"Ada yang mengawasi kita." Chantika memberi isyarat lirikan sekilas ke arah lantai dua, tapi cukup bagi Enzo untuk menangkapnya.

"Aku tahu," ucap Enzo tenang. "Dia mengawasi kita sejak mobil kita berhenti." Enzo tersenyum miring. "Adikmu."

"Lalu...kenapa masih melakukan ini?"

"Melakukan apa?" tanya Enzo seolah tidak melakukan apa-apa.

"Kau menyudutkan aku kayak gini dan--"

"Dan apa?" potong Enzo. "Kayak gini?"

Tanpa aba-aba Enzo melahap bibir Chantika. Chantika membulatkan matanya. Ia ingin menolaknya, mendorongnya. Namun entah mengapa ia tak mampu. Bahkan saat Enzo menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya, Chantika tanpa sadar malah melingkarkan tangannya di leher pria itu, membalas ciumannya.

Saras menatap keduanya dari lantai atas dengan tatapan tak percaya. "Hubungan mereka sudah sejauh itu?"

Sementara itu Enzo melepaskan bibir Chantika saat napas wanita itu mulai tersengal, namun tak sepenuhnya menjauh. Ia menempelkan dahinya di dahi Cantika. Napas mereka masih memburu, tatapan mata mereka bertemu.

"Aku harus masuk," kata Chantika akhirnya. Ia mendorong pelan dada pria itu.

Enzo akhirnya melepaskan pelukannya meski tak rela.

"Selamat malam," ucap Chantika.

"Selamat malam," balas Enzo.

Chantika berbalik melangkah menuju pintu rumah.

Di balik tirai jendela yang hanya terbuka sedikit, bayangan Saras tampak bergerak pelan sebelum menghilang.

Enzo meliriknya sekilas. Tatapannya tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara Chantika tetap melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah.

Setelah Chantika masuk ke dalam rumah dan pintu tertutup rapat, Enzo akhirnya kembali ke mobilnya.

Ia menyalakan mesin, lalu perlahan meninggalkan kediaman keluarga Rahardja.

Beberapa menit kemudian, saat mobil melaju membelah jalan malam, Enzo mengenakan headset nirkabel dan menghubungi seseorang.

Sambungan itu segera tersambung.

"Apa kamu sudah menemukan semua informasi tentang istriku?" tanya Enzo tanpa basa-basi.

"Sudah, Bos," jawab pria di seberang telepon.

"Nama lengkapnya Chantika Putri Rahardja. Usia dua puluh lima tahun. Profesi anggota Kepolisian Republik Indonesia. Pangkat Iptu. Saat ini menjabat sebagai perwira lapangan di Unit Resmob."

Enzo sedikit mengernyit. "Dia di Resmob? Iptu?"

"Iya, Bos."

Vito melanjutkan laporannya. "Nyonya dikenal sebagai salah satu perwira muda paling berprestasi di kesatuannya. Beliau sudah beberapa kali memimpin operasi penangkapan pelaku kejahatan bersenjata, berhasil menangkap sejumlah buronan yang telah lama masuk daftar pencarian orang, serta membongkar jaringan narkotika lintas kota."

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,

"Prestasinya itu yang membuat beliau mendapat kenaikan pangkat lebih cepat dibandingkan rekan-rekan seangkatannya. Nama Nyonya juga cukup disegani di lingkungan kepolisian."

Enzo terdiam beberapa saat. Tatapannya tetap lurus ke jalan, sementara jemarinya mengetuk pelan lingkar kemudi.

"Kalau begitu..." ucapnya akhirnya. "Buatkan beberapa perhiasan untuk istriku."

"Model seperti apa, Bos?"

"Sederhana. Jangan mencolok." Enzo melanjutkan dengan nada tenang. "Di dalamnya harus ada pelacak dengan daya tahan tinggi, tombol darurat yang langsung mengirim lokasi kepadaku, dan alat perlindungan diri yang bisa digunakan jika nyawanya benar-benar terancam."

"Baik, Bos."

"Pastikan bentuknya tetap elegan. Aku tidak ingin dia curiga."

"Siap, Bos."

Sambungan telepon pun berakhir. Enzo tetap memandang jalanan di depannya.

"Kalau pekerjaannya memang mengharuskannya menghadapi para penjahat..." Sorot matanya berubah lebih tajam. "...maka tugasku adalah memastikan dia selalu bisa pulang dengan selamat."

***

Di sis lain...

Vito menatap layar ponselnya beberapa saat setelah sambungan telepon berakhir.

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Bos benar-benar berubah."

Tepat saat itu sekelompok pria masuk, beberapa diantaranya membawa gelas kopi.

Salah seorang pria bertubuh besar yang baru duduk di seberang meja langsung menatapnya.

"Bos?"

"Iya," sahut Vito.

Pria itu meletakkan gelas kopinya. "Jangan bilang... Bos benar-benar nikah sama polisi itu?"

"Bukan cuma polisi." Vito memasukkan ponselnya ke saku. "Iptu Resmob," lanjutnya tenang. "Kerjaannya nangkep penjahat."

Ruangan mendadak hening. Hingga beberapa detik kemudian...

"Hahaha!"

Gelak tawa langsung pecah.

"Bos kita hebat juga."

"Ketua malah nikah sama orang yang kerjaannya ngejar orang kayak kita."

"Kalau Nyonya tahu siapa Bos sebenarnya, gimana reaksinya, ya?"

Tawa mereka kembali pecah.

Namun Vito hanya menatap mereka datar. "Cukup."

Suasana langsung kembali tenang.

"Jangan pernah meremehkan Nyonya," tegas Vito. "Beliau sekarang istri Bos."

Semua langsung mengangguk.

Salah seorang anggota yang lebih muda menggaruk kepalanya. "Bang Vito..."

Vito menoleh. "Hm?"

"Aku kadang bingung."

"Bingung kenapa?"

"Kita ini sebenarnya orang jahat atau bukan?"

Beberapa orang langsung saling pandang.

Vito menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kita bukan aparat. Kita juga bukan hakim. Jangan pernah menyamakan diri dengan mereka."

Pria muda itu mengangguk pelan. "Terus..."

Vito menatap satu per satu anak buahnya yang kini fokus menunggu jawabannya. "Kita hidup dengan aturan organisasi. Bos melarang perdagangan manusia. Bos melarang menyentuh anak-anak. Bos melarang menyakiti orang yang tidak terlibat."

Sorot mata Vito semakin tajam. "Bos juga menghukum siapa pun yang melanggar aturan itu, termasuk orang kita sendiri."

Ia berhenti sejenak. "Itu bukan berarti kita orang suci. Kita tetap hidup di dunia gelap. Kita tetap melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Tapi Bos selalu bilang..."

Vito mengingat kalimat yang sering diucapkan Enzo. "Kalau suatu hari kita harus menanggung akibat dari pilihan hidup ini, jangan pernah menyalahkan siapa pun selain diri sendiri."

Sejenak tak seorang pun angkat bicara.

Pria muda itu menunduk pelan. "Jadi... Bos gak pernah nganggep kita pahlawan?"

Vito menggeleng. "Tidak. Bos hanya memastikan kita tidak menjadi monster."

Tak seorang pun menjawab atau mengomentari, membuat ruangan itu dipenuhi keheningan.

***

Malam telah larut. Kamar Chantika hanya diterangi cahaya redup lampu tidur. Wanita itu sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.

Di tengah keheningan malam... Terdengar suara langkah kaki dari arah balkon.

Kening Chantika sedikit berkerut. Ia belum benar-benar terlelap. Hingga suara itu terdengar.

Klik.

Pintu balkon terbuka perlahan.

Seketika mata Chantika terbuka. Napasnya tertahan. Sebagai seorang anggota Resmob, instingnya langsung bekerja. Ia memasang telinga.

Seseorang masuk ke dalam kamarnya.

Klik.

Pintu balkon kembali tertutup.

Lalu... Langkah kaki itu terdengar semakin dekat.

Tap.

Tap.

Tap.

Sosok itu semakin mendekati ranjang tempat Chantika berbaring.

Chantika kembali memejamkan mata, berpura-pura masih tertidur. Namun seluruh indranya telah bersiaga, menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Hingga...

Sreet!

Dalam sekejap, selimut tersibak.

 

...🔸🔸🔸...

..."Menjadi kuat bukan berarti tak pernah terluka, melainkan tetap memilih melindungi meski harus memikul luka seorang diri."...

..."Dunia hitam dan dunia putih mungkin dipisahkan hukum, tetapi hati manusia sering kali berjalan di antara keduanya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Oma Gavin
gas enzo prepare dari sekarang keluar dari rumah mertua mu hidup mandiri bersama chantika minimal mengurangi resiko eama rubah betina saras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!