Burhan menikahi Tania karena perjodohan, Tapi ini adalah awal neraka untuk Tania, menikahi Burhan yang tak pernah mencintai dirinya, har-hari Tania dilalui dengan hinaan, cacian dan perselingkuhan Burhan.
Bagaimana perjuangan Tania untuk kembali bangkit, ikuti kelanjutan ceritanya di novelku ya. Berjudul "Buat Apa Aku Kau Pilih Tapi Akhirnya Aku Kau Bully di Novel Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 USAI PERNIKAHAN
Kini kebahagiaan di keluarga Buk Seno telah lengkap, beliau telah memiliki menantu, dimata keluarga besar Buk Seno sudah merasa lega akhirnya Burhan sudah berumah tangga. Keramaian dirumah Bu Seno masih nampak,Tania yang pulang ke rumahnya besok dijemput oleh keluarga besar Buk Seno untuk tinggal dirumah mertuanya dan setelah itu baru sebaliknya Burhan dijemput untuk nginap dirumah Tania. Dan setelah itu bagaimana keputusan mereka berdua.
Malamnya Bu Seno menemui Burhan dikamar yang sudah dirias "Burhan hari ini kamu sudah menikah, Ibu ingin kamu baik kepada Tania dan buanglah kebiasaan buruk kamu selama ini, lupakan Desi, Burhan,Mama ingin kamu fokus kepada Tania"
"Aku sudah menikahi Tania Ma, dan bagaimana rumahtangga aku kedepan aku berharap Mama jangan ikut campur, aku kepala keluarga nantinya dan aku akan membawa Tania tinggal di apartemen setelah dari rumah ibunya, aku sudah mengikuti keinginan Mama, jadi biarkan aku yang menjalaninya.
"Bu Seno terdiam, tinggal di apartemen, mungkin lebih baik bagi mereka berdua,jadi mereka bisa merasakan nikmatnya pernikahan dan Tania bisa membuat Burhan mencintainya.Karena waktu mereka akan banyak berdua.
"Baiklah jika itu rencana kamu Nak" Bu Seno akhirnya menyetujui keinginan anaknya Hidup Mandiri.
Keesokan sore harinya rombongan keluarga Burhan datang menjemput Tania, Tania yang didandani dengan cantik meninggalkan rumahnya dan untuk pertama kali dia harus meninggalkan ibunya sendiri.Tania menangis karena dia akan tinggal dirumah mertua nya selama dua hari."Jangan menangis Nak, kamu harus menjaga suami kamu dan patuh kepadaNya ya Nak" Bu Karti berusaha tegar melihat perpisahan dengan anaknya satu-satunya.
Rombongan yang menjemput Tania pun berangkat meninggalkan rumah Tania, Bu Karti memandangi mobil yang membawa Tania dari kejauhan sampai menghilang. "Sabar ya Bu Karti" ucap Ibu-ibu yang menolongnya. Bu Karti mengangguk walau dihatinya penuh kesedihan yang mendalam, namun dia harus ikhlas anaknya saat ini sudah berumah tangga dan dia adalah milik suaminya.
Dirumah Buk Seno, nampak rombongan Tania sudah ditunggu,Sesampainya Tania dirumah Buk Seno nampak keluarga sudah menunggu dengan senyuman."Istri Burhan memang cantik" puji keluarga Buk Seno. Burhan yang berada didalam. rumah di panggil untuk menyambut istrinya didepan pintu yang memakai baju batik. sementara barang-barang Tania dibawa oleh keluarga Buk Seno yang masih muda untuk diletakan dikamar Burhan.
Waktu sudah menunjukan hampir magrib saat mereka bersiap sholat magrib dan makan bersama. Lalu akan ada acara pengantar kamar, dimana para gadis akan mengantarkan Tania kekamar Burhan.Tania nampak masih kaki saat berada di keluarga besar Burhan yang nampak kaya-kaya tapi mereka semua tidak sombong.
Kehangatan dalam menyambut Tania nampak dengan perhatian yang besar keluarga tesebut. Setelah makan dan beberapa saat duduk sejenak Tania diantar oleh tiga gadis yang cukup umur kekamar Burhan.
"Kakak ini kamar Mas Burhan ya, kakak akan tidur disini" ucap seorang ponakan Burhan, semoga kakak betah ya"
"Iya Makasih ya sudah mengantarkan kakak" setelah mengantar Tania, mereka bertiga pun pamit dan mengunci pintu kamar tersebut.Tania nampak gugup melihat kamar Burhan yang mewah dan bersih dihiasi dan bau wewangian. Dinar duduk dikasur menunggu Burhan dan pakaiannya pun belum diganti.
Beberapa jam Tania duduk. dikamar itu dia mulai. merasakan gerah dan mengantuk, namun dia harus menunggu suaminya masuk untuk bisa izin tidur dikasur tersebut. Mata Tania mulai merah menahan kantuk, akhirnya dia tertidur diujung sofa tersebut. Tepat tegah malam Burhan masuk ke kamar tersebut, dan melihat istrinya sudah tertidur di ujung sofa.
"Tania__"Burhan membangun kan Tania namun karena kelelahan Tania tidak bangun,Burhan mengangkat tubuh Tania kearah lurus untuk tidur dan menyelimutinya.Sementara Burhan tidur di sofa tempat duduk dikamarnya,dia tidak mau seranjang dengan Tania.
Keesokan subuhnya Tania terbangun dengan pakaian yang belum diganti dan tubuhnya ditutupi selimut,Tania bangkit karena suaminya tidak ada disisinya,Tania duduk dan memandangi sekelilingnya, dilihatnya suaminya sedang tidur dikursi santai kamar tersebut berselimut.Tania sedikit heran kenapa Burhan tidak membangunkannya dan tidur dikasur bersamanya."Mungkin Mas Burhan kecapean juga dan takut membangunkan aku" Tania berusaha berfikir positif kepada suaminya.
Tania bangkit dari tempat tidurnya dan membereskan kasur yang baru ditidurinya dan melipat selimut seperti semula.Tania mengambil Tas yang dibawanya dari rumah untuk mengambil handuk dan pakaian ganti.Berlahan Tania berjalan dikamar itu tanpa bersuara takut membangunkan Burhan yang sangat nyaman tidurnya.
Sehabis mandi Tania melihat Burhan masih tidur,dan Tania pun melakukan sholat shubuh seorang diri.Setelah selesai sholat Tania berusaha mendekati Burhan,ingin membangunkan Burhan untuk sholat subuh tapi ada keraguan dihatinya karena Burhan sangat lelap tidurnya.Namun Tania memberanikan diri untuk membangunkan Burhan karena waktu subuh yang cepat akan berganti pagi.Secara pelan Tania membangunkan Burhan.
"Mas__Mas Burhan,bangun Mas,sholat shubuh, waktu sudah sempit Mas.Burhan tidak merespon panggilan Tania,dia hanya mendelik sedikit lalu tidur lagi."Mas__bangun Mas sholat shubuh hampir habis Mas" Tiba-tiba Mata Burhan yang masih mengantuk terbangun walau belum terbuka lebar.
"Ah__!" Burhan mendorong Tania dengan tangannya,sampai tubuh Tania sedikit terdorong ke belakang, "Apaan sih kamu menganggu aku tidur saja, sholat aja sendiri, orang masih ngantuk."
"Tapi Mas__"Tania berusaha bicara dengan suaminya itu bahwa subuh sudah hampir habis, Namun Tania menghentikan perkataannya,saat Burhan menutup telinganya.Tania hanya terdiam dalam diamnya, apakah yang dikatakan oleh Buk Seno mengenai perilaku Burhan akan diperlihatkan setelah pernikahan ini,dan apakah ini awalnya.
"Aku bisa pelan-pelan menghadapi Mas Burhan jika memang ini yang dikatakan oleh Buk Seno sebelum pernikahan.Tania bangkit dari duduknya,didekatinya kembali Burhan tapi bukan untuk membangunkannya tapi menyelimuti suaminya, kemudian Tania beranjak dari kamar tersebut untuk menuju dapur, tujuannya adalah untuk membuat sarapan pagi bagi suami dan keluarga yang masih ada menginap dirumah Buk Seno.
"Bik Asih" Tania melihat Bik Asih yang sudah berada di dapur sibuk dengan sayurannya untuk bahan sarapan pagi. "Bik Asih pagi sekali ya bangunnya"
"Eeh Non Tania sudah bangun juga Non?"pengantin baru udah bagun sepagi ini" Tania tersenyum mendengar sapaan Bik Asih.
"Iya Bik Tania udah biasa bangun segini, ngak biasa kesiangan, biasalah Bik bantu ibu masak karena mau berjualan"
"Oh Gitu jadi ibu nya Non jualan pagi-pagi" Bik Asih melanjutkan obrolan nya yang merasa enak dengan Tania yang ramah.
"Iya bik, Ibu Tania jualan pecal di pasar Bik, kadang nasi uduk juga, sorenya ibu jualan tahu isi"
"Wah ibu Non rajin ya cari uang" Tania tersenyum. mendengar pujian Bik Asih.
"Bukan rajin Bik, memang harus jualan, jika tidak jualan kami makan apa Bik, bisa-bisa kami puasa Bik.Karena sejak Bapak meninggal Ibu yang bekerja dengan jualan Bik, Tania waktu itu kan sekolah, Setelah Tania kerja Ibu Tania tetap juga jualan, katanya sudah terbiasa"
"Iya Non, ibu yang sudah terbiasa cari uang, biasanya malas untuk berhenti, karena sudah biasa kerja keras, jadi kalau duduk dirumah aja jadi bingung sendiri.
" Iya Bik Kata Bibi sama persis dengan ibu Tania"Mereka berdua tertawa.