**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Tania Mengaku
"Aku tidak akan lupa."
Keira memang tidak lupa. Namun keesokan paginya, saat ia melihat Mama Liana masih tertidur di balik kaca ICU, rasa hangat dari ciuman ulang tahun itu kembali tertutup oleh dingin kenyataan.
Mama belum sadar.
Dokter berkata kondisinya terkendali, tetapi setiap bunyi monitor tetap membuat Keira menahan napas. Rayhan berdiri di sampingnya, lebih diam dari biasa. Di ponselnya, pesan dari Arya masuk tanpa henti.
CCTV RS Umum Depok sudah didapat.
Tania terlihat masuk pukul 10.37.
Dia keluar pukul 11.08, tepat sebelum alarm perawat.
Ada saksi perawat.
Keira membaca pesan itu dari layar Rayhan. Tangannya perlahan mengepal.
"Aku ingin dengar dari mulutnya," katanya.
Rayhan menatapnya. "Kau yakin?"
"Kalau tidak, aku akan terus membayangkannya."
Maka siang itu mereka pergi ke kantor polisi sektor Depok, ditemani Daisy dan satu staf legal Kurnia Group. Tania sudah berada di sana bersama ibunya. Wajah Tania pucat, rambutnya tidak serapi biasa, matanya bengkak karena menangis. Ibunya juga tidak lagi sesombong kemarin. Tas branded masih ada di pangkuan, tetapi tangannya menggenggam tali tas terlalu kuat.
Begitu melihat Keira, Tania menunduk.
Rayhan tidak duduk. "Bicara."
Penyidik yang menangani laporan menatap berkas. "Tania Gondokusumo datang untuk memberikan keterangan tambahan. Katanya ingin mengakui peran dalam kejadian di rumah sakit."
Tania mengangkat wajah sedikit. "Aku akan mengaku. Tapi aku minta... setelah ini, jangan hancurkan keluargaku."
Daisy tertawa dingin. "Keluargamu baru terasa berharga setelah kau hampir menghancurkan keluarga orang lain?"
Tania gemetar. "Aku salah."
Rayhan menatapnya tanpa ekspresi. "Kau belum menjawab."
Tania menelan ludah. "Aku datang ke RS Umum Depok karena aku tahu Tante Liana dirawat di sana. Aku pernah melihat tagihan dan obat Keira di kamar kos. Aku... aku cuma ingin membuat Keira malu seperti aku malu."
Keira merasa dadanya diremas, tetapi ia tidak memotong.
"Aku bilang pada Tante Liana bahwa Keira dibicarakan satu kampus. Aku tunjukkan video Rolls Royce, komentar forum, dan caption Cindy. Aku bilang Keira mungkin melakukan itu untuk biaya rumah sakit. Aku bilang orang-orang tertawa karena keluarga Salim miskin tapi Keira tiba-tiba punya gelang dan rumah."
Setiap kalimat terasa seperti duri yang ditarik keluar dari luka.
Keira membayangkan Mama mendengar semua itu sendirian, di ranjang rumah sakit, dengan jantung yang sudah lemah.
"Apa lagi?" tanya Rayhan.
Tania menangis lebih keras. "Aku bilang kalau Tante benar-benar sayang Keira, seharusnya jangan membuat Keira sampai menjual dirinya."
Ruangan menjadi sunyi.
Keira tidak bisa bernapas.
Penyidik menuliskan pengakuan itu, lalu mendorong kertas berita acara ke depan Tania. "Baca ulang. Kalau benar, tanda tangani."
Tania memegang pulpen dengan tangan gemetar. Ibunya menunduk di sampingnya. Suara yang kemarin penuh perintah kini tinggal bisikan.
"Keira, kami bisa minta maaf. Kami bisa bayar biaya apa pun yang keluarga kalian keluarkan. Tolong jangan bawa ini lebih jauh."
Keira menatap perempuan itu. Kemarin, mulut yang sama menyuruhnya berlutut. Hari ini, mulut itu meminta belas kasihan.
"Uang tidak bisa menghapus apa yang Mama dengar," kata Keira.
Ibu Tania menangis tertahan. "Saya tahu."
"Tania harus menulis pernyataan bahwa semua yang dia katakan pada Mama adalah fitnah. Dia kirim ke komite kampus, grup angkatan, dan pihak rumah sakit jika diperlukan. Setelah itu, dia tidak boleh menghubungi saya, Kelvin, atau Mama lagi."
Tania mengangguk cepat. "Aku tulis. Aku akan tulis semuanya."
Rayhan bergerak setengah langkah, tetapi Keira menahan lengannya.
"Biar aku," bisiknya.
Ia berjalan ke depan Tania. Tania langsung memejamkan mata, seolah siap menerima pukulan. Keira mengangkat tangan, tetapi tangannya berhenti di udara.
Ia bisa menampar Tania. Ia punya hak untuk marah. Namun saat melihat wajah gadis itu, Keira hanya merasa lelah. Terlalu banyak hal rusak karena iri hati kecil yang diberi makan sampai menjadi racun.
"Mama hampir mati," kata Keira pelan.
Tania membuka mata. Air matanya turun tanpa henti.
"Aku tahu."
"Tidak." Suara Keira tetap lembut, tetapi kali ini tidak lunak. "Kau tidak tahu. Kau hanya takut setelah akibatnya terlalu besar."
Tania menunduk.
Rayhan datang ke samping Keira. "Kau tidak perlu memaksakan diri."
Keira menatap tangannya sendiri. Jarinya masih gemetar. "Aku tidak mau tanganku mengingat wajahnya."
Rayhan memahami.
Ia berdiri di depan Tania.
Ibu Tania langsung bangkit. "Jangan! Dia sudah mengaku. Kami akan ikuti proses hukum. Tolong, jangan..."
"Sepuluh," kata Rayhan.
"Apa?"
"Sepuluh tamparan. Untuk setiap kalimat kotor yang kau masukkan ke telinga Tante Liana."
Penyidik tampak hendak bicara, tetapi staf legal Kurnia Group menunduk dan mengatakan sesuatu pelan. Tania sendiri mengangkat wajah, pucat pasi.
"Kalau setelah ini kau berhenti mengejar keluargaku..."
"Aku tidak sedang bernegosiasi," jawab Rayhan.
Tamparan pertama membuat kepala Tania tersentak ke samping.
Keira memejamkan mata.
Kedua. Ketiga. Keempat.
Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada kepuasan yang membuat ruangan terasa ringan. Yang ada hanya suara telapak tangan menghantam pipi, tangis ibu Tania, dan napas Keira yang patah.
Pada tamparan kesepuluh, Tania hampir jatuh dari kursi.
Rayhan menurunkan tangan. Wajahnya tetap dingin, tetapi mata gelapnya menyimpan sesuatu yang lebih buruk daripada marah.
"Mulai hari ini, kau tidak boleh mendekati Keira, Kelvin, atau Tante Liana. Kau pindah kampus, pindah kos, pindah kota kalau perlu. Kalau satu kali lagi namamu muncul di sekitar mereka, aku tidak akan berhenti di sepuluh."
Tania menangis sambil mengangguk.
Keira keluar dari ruangan lebih dulu. Di koridor kantor polisi, udara terasa panas dan penuh asap rokok dari luar pagar. Ia memegang dinding, mual tiba-tiba naik ke tenggorokan.
Rayhan menyusul.
"Kei."
"Aku tidak merasa lega."
"Memang tidak harus."
"Kupikir setelah dia mengaku, aku akan lebih mudah bernapas."
Rayhan berdiri di depannya, tidak menyentuh sebelum Keira mengangkat tangan sendiri. Saat ia akhirnya menggenggam ujung kemeja Rayhan, laki-laki itu baru menariknya pelan ke pelukan.
"Kadang balasan tidak menyembuhkan luka," katanya. "Tapi itu menghentikan orang yang memegang pisau."
Keira menutup mata di dada Rayhan.
Sore itu mereka kembali ke RS Kurnia. Liana masih belum sadar, tetapi dokter berkata tanda vitalnya stabil. Keira duduk di samping kaca ICU, menceritakan dengan suara pelan bahwa orang yang menyakitinya sudah mengaku.
"Mama, jangan minta maaf lagi," bisiknya. "Keira tidak kotor. Keira tidak menjual apa pun. Keira masih anak Mama yang sama."
Rayhan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Untuk pertama kalinya, Keira tidak merasa sendirian saat mengatakan itu.
Di balik kaca, monitor Mama berbunyi pelan, seolah ikut menjawab lembut.