" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Ara mau putus
"Ehhhh, tunggu," ucap Ara memegang tangan Sean yang akan langsung pergi.
"Pak Arya, Ara izin bicara sebentar, ya," ucap Ara yang masih duduk memegang sebelah tangan Sean yang berdiri.
"Sepuluh menit," ucap Arya yang membuat Sean langsung melotot, berani sekali pria itu membatasi waktunya dengan Ara.
"Oke, Pak, sebentar, ya," kata Ara menarik tangan Sean dan berjalan ke sudut ruangan.
"Ayang ngapain di sini?" tanya Ara yang begitu kangen Sean, rasanya ingin memeluk, tapi Pak Arya menatap mereka terus.
"Siapa dia?" tanya Sean, bukannya menjawab, menatap ekspresi takut di wajah pacar kecilnya.
"Dosen Ara, sekarang Ara jadi asisten dosen," kata Ara tersenyum senang.
"Jika butuh pekerjaan, kenapa tidak jadi asistenku saja?" ucap Sean dengan wajah judes penuh rasa tak terima.
"Sayang udah punya asisten, lagian Ara juga nggak paham pekerjaan di perusahaan," kata Ara.
"Jadi kamu lebih memahami pria itu daripada aku?" kata Sean dengan sensi.
"Bukan begitu, ini soal pekerjaan, Sayang," kata Ara mengelus-elus lengan Sean yang dari tatapannya terlihat marah.
"Sayang ngapain ke sini, makan atau ada urusan pekerjaan?" tanya Ara barangkali Sean menghadiri pertemuan bisnis.
"Aku ke sini menemui kamu, ke mana saja aja empat hari ini tidak ada menemui aku dan jarang chat, rupanya udah punya gebetan baru," cemberut Sean yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Sean langsung bergegas datang ke restoran ini sehabis meeting begitu mendengar dari bodyguard kalau Ara ada di restoran dekat mereka menghadiri pertemuan.
Tapi yang Sean lihat adalah Ara yang sedang makan berdua dengan pria yang mungkin seumuran Sean juga, bercanda bahkan juga ada obrolan dengan suara manja walaupun Sean tak mendengar sepenuhnya.
"Ayang kok mikir gitu, kan udah Ara bilang kalau Ara jadi asisten dosen," suara kecil Ara menatap Sean takut-takut.
"Aku tidak mempermasalahkan kamu jadi asisten dosen, justru itu bagus karena kamu pintar, tapi kenapa harus asisten dosen muda?" ucap Sean menatap pria itu dengan kesal sekali.
Pasti pria sialan itu juga memperhatikan pacar kecilnya yang manja setiap saat beberapa hari ini.
Ara itu manjanya bikin jatuh cinta!
"Kan Pak Arya yang nawarin buat jadi asisten dosen, bukan Ara yang lamar kerja," jujur Ara.
"Ooooh, benar-benar modus," geram Sean.
"Ara, cepat makan, kita harus menyelesaikan menginput nilai kelas C hari ini," panggil Arya tidak peduli beberapa pengunjung lain mendengar percakapannya.
"Ayang, Ara makan dulu, ya. Apa Ayang mau makan sama Ara?" tawar Ara.
"Enggak, aku mau pulang," ketus Sean yang masih ngambek.
"Yaudah, daaa, Sayang," kata Ara tersenyum mengelus lengan Sean.
"Peluk," kata Sean yang walaupun marah tapi sangat merindukan Ara.
"Nanti Ara peluk, sekarang segan, ada dosen dan juga banyak orang," kata Ara yang jadi lebih dewasa dari Sean.
"Daaa, Sayang," kata Ara.
***
Sean keluar dari restoran dengan mood jelek dan perasaan yang campur aduk.
"Bimo," panggil Sean rada berteriak pada Bimo yang duduk di parkiran.
"Iya, Tuan Muda," kata Bimo langsung menghampiri setelah menyuruh bodyguard menyiapkan mobil.
"Mulai hari ini aku mau jadi Tuan Muda yang sesungguhnya," ucap Sean.
"Ma, maksudnya?" gelagapan Bimo, bukankah selama ini Sean tetap menjadi Tuan Muda walaupun sempat meninggalkan rumah utama selama empat bulan.
"Mulai hari ini aku ingin menjalani kehidupan layaknya Tuan Muda, aku ingin ke mana pun didampingi bodyguard, mobil mewah, publikasikan semua pencapaianku, dan tunjukkan pada publik bahwa aku adalah pewaris takhta Grup Brisbane," ucap Sean dengan penuh ambisi.
"Aku ingin siapa pun mengenal dan tau seberapa berkuasanya aku," ucap Sean masuk ke dalam mobil.
"Ba, baik, Tuan Muda," ucap Bimo yang bisa menyimpulkan kalau di dalam sepertinya Ara sedang bersama pria yang lebih tinggi strata sosialnya daripada yang Sean perlihatkan pada Ara.
Tak tanggung-tanggung, Sean sampai dibuat ingin memamerkan segala hal yang dia punya, padahal biasanya selalu di-*private*, itu pun publik tahu karena beberapa orang yang menyebarkannya.
***
Beberapa hari berlalu.
Sejak Sean mem-publish tentang siapa dirinya, membuatnya sangat populer dan digilai banyak wanita, bahkan beberapa skandal tentangnya mulai menghebohkan publik.
"Tuan Muda," Bimo langsung mendobrak masuk ke dalam ruangan Sean tanpa mengetuk.
"Ada apa?" ucap Sean menahan kesal ketika Bimo masuk ke dalam ruangan saat dia sedang berdiskusi dengan beberapa manajer.
"Itu, itu, pa, pacar, Non Ara, mengamuk di lantai dasar," ucap Bimo membuat Sean langsung berlari tanpa berkata apa-apa lagi.
Sesampai di lantai dasar, Sean melihat Ara yang duduk di lantai menendang kaki resepsionis dengan wajah sangat kesal, hampir menangis.
Brak
Kotak bekal yang dilemparkan Ara mendarat tepat di depan sepatu Sean yang baru datang.
Semua orang terdiam melihat Sean yang mengambil kotak bekal itu lalu berjongkok di hadapan Ara.
"Ada apa? Mengapa mengamuk?" ucap Sean memunguti sendiri barang-barang dalam tas Ara yang berjatuhan di lantai.
"Pegang ini," kata Sean memberikan kotak bekal dan tas Ara pada bodyguard-nya.
"Balikin tas Ara," kata Ara merebut tas dan kotak bekalnya menatap Sean dengan kesal.
"Nggak," kata Sean mengambil kotak bekal yang akan dibuang Ara ke tong sampah.
Sean yakin pasti Ara membawakan makanan ini untuknya.
"Jahat," kata Ara memukul dada Sean yang mencoba mendekapnya.
"Ada apa, katakan?" ucap Sean dengan lembut memeluk Ara dengan paksa karena terus tantrum di tengah banyak orang.
"Nggak mau dipeluk orang yang udah beristri," kata Ara dengan ekspresi hancurnya dan air mata berderai-derai.
Sean memberikan kotak bekal dan tas Ara pada bodyguard-nya agar segera dibawa ke ruangannya.
"Baby, tenanglah," ucap Sean menenangkan pacar kecilnya dengan lembut dan sabar, tidak peduli begitu banyak orang di sekitarnya.
"Apa yang dia tanyakan?" ucap Sean menatap resepsionis baru yang kini wajahnya sangat cemas.
"Nona ini bertanya tentang hubungan Tuan Muda dengan Nona Shania," ucap resepsionis itu dengan gemetaran ketika Sean menanyainya.
Sekarang Sean bisa menyimpulkan kenapa pacar kecilnya mengamuk.
"Apa kau lupa kalau tugas resepsionis hanya memberikan informasi terkait dengan jadwal dan kegiatanku, bukan urusan pribadi?" tanya Sean melirik Bimo mengisyaratkan untuk mengganti resepsionis itu.
"Maaf, Tuan Muda, tapi Nona ini juga memaksa masuk," ucap resepsionis itu yang tidak ingin disalahkan sepenuhnya.
"Dia adalah pacarku, kapan pun dia boleh menemui aku," ucap Sean yang mengejutkan semua orang.
Tidak ada yang mengira kalau gadis kecil itu adalah pacar Tuan Muda.
"Ikut aku," kata Sean berjalan menggenggam tangan Ara.
"Nggak mau," kata Ara bahkan menepis tangan Sean.
"Baby, ikut aku," ucap Sean langsung menggendong pacar kecilnya yang nakal itu.
Sean tidak marah ataupun malu karena Ara tantrum di lantai dasar, sepertinya ada beberapa perkataan yang mengguncang perasaannya hingga membuat dia menjadi tantrum.
"Ara mau putus, nggak mau lagi sama Sayang,"