NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 | Bundir?

Tangan Orion tergantung di udara, kaku dan canggung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu memegang kendali atas emosi orang lain itu merasa benar-benar kehilangan arah. Penolakan tajam dan isakan tertahan Luna menghantam bagian terdalam dadanya dengan rasa bersalah yang asing.

​"Nanae..." gumam Orion lagi. Nada suaranya tak lagi dalam dan memikat, melainkan bergetar samar, sangat kontras dengan sosoknya yang menakutkan beberapa menit lalu. "Aku... aku tidak bermaksud–"

​"Kembali ke kursi pasien. Atau keluar dari ruangan saya sekarang," potong Luna tanpa mengangkat wajahnya dari telapak tangan. Suaranya serak, dingin, dan bergetar, namun tersirat ketegasan yang tak bisa dibantah.

​Orion menatap bahu Luna yang masih berguncang pelan. Rasa enggan yang amat sangat membakar dadanya untuk melangkah jauh dari wanita itu. Namun, melihat betapa hancurnya pertahanan Luna hanya karena tindakannya, Orion perlahan menarik tubuhnya mundur. ​Ia bangkit dari sofa cokelat susu itu, lalu melangkah mundur dua tapak. Tempat yang ditinggalkannya terasa dingin seketika.

​"Aku tidak akan keluar," bisik Orion pelan, menolak meninggalkan ruangan. Ia berjalan menuju kursi tunggal di seberang meja kerja Luna. Kursi yang sejak awal seharusnya ia duduki, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Matanya tak pernah lepas dari sosok Luna di sofa. "Aku di sini. Di tempat yang kamu mau."

Luna mengambil napas panjang yang patah-patah. Perlahan, ia menurunkan tangannya dan menyeka air mata di pipinya menggunakan punggung tangannya yang tertutup jubah putih bagian lengan. Matanya yang memerah menatap Orion yang kini duduk tegak di seberang sana dengan raut wajah muram yang tak biasa.

​"Apa yang kamu lakukan tadi..." Luna menegakkan punggungnya dengan sisa-sisa tenaga, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang kacau. "...adalah pelanggaran berat. Kalau ini terjadi lagi, saya tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan posisi saya sebagai psikiatermu."

Binar ketakutan melintas cepat di mata abu-abu Orion. "Jangan," sela pria itu cepat, jemarinya mengepal erat di atas paha. "Jangan lempar aku ke orang lain lagi."

​"Kalau begitu bertingkahlah seperti pasien, Orion!" seru Luna, air matanya kembali menetes satu bulir karena kelelahan emosional. "Saya di sini untuk membantumu lepas dari trauma dan gangguan mentalmu, bukan untuk dijadikan objek obsesimu!"

Suasana ruangan mendadak menjadi hening dan begitu pekat. Orion menatap tanda kemerahan di leher Luna, jejak yang ia buat sendiri lalu menatap mata cokelat wanita itu yang tampak penuh luka dan rasa takut.

​"Ini bukan sekadar obsesi, Nanae," bisik Orion dengan nada yang teramat jujur hingga terdengar menyayat hati. "Aku memang tidak tau bagaimana cara berinteraksi dengan manusia tanpa menyakiti mereka... karena dari dulu, tidak ada yang pernah mengajariku cara menyayangi sesuatu tanpa merusaknya."

Luna tertegun. Kata-kata itu meluncur tanpa manipulasi, jujur, dan memperlihatkan luka trauma mendalam yang selama ini disembunyikan Orion di balik topeng gila dan dominannya.

​Wanita itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mencoba menahan emosi yang kembali berkecamuk. Sebagai psikiater, ia tahu kata-kata Orion adalah kunci awal dari dinding penolakannya. Namun sebagai seorang wanita, ia tahu pria ini sangat berbahaya jika diberi celah sedikit saja.

Luna menarik beberapa lembar tisu dari mejanya, menyeka sisa air mata di wajahnya, lalu merapikan kerah kemeja birunya untuk menutupi tanda di lehernya. ​"Sesi hari ini selesai," ucap Luna dingin, memutus kontak mata. Ia menekan tombol interkom di meja kerjanya. "Petugas, tolong bawa pasien kembali ke kamarnya."

Orion tidak memprotes. Saat pintu terbuka dan dua petugas keamanan masuk, Orion bangkit berdiri secara sukarela. Sebelum dilangkahkannya kaki keluar ruangan, Orion menoleh sedikit ke arah Luna yang sengaja membelakanginya sambil pura-pura menatap jendela.

​"Maafkan aku, Nanae," bisik Orion pelan, cukup kuat untuk didengar Luna sebelum pintu kayu itu akhirnya tertutup rapat.

☆☆☆

Luna masih terduduk di kursinya selama beberapa menit, berusaha mengumpulkan kembali setiap kepingan kesadarannya yang sempat berserakan. Setelah merasa cukup tenang, ia bangkit dan melangkah pelan menuju cermin berbentuk persegi yang menempel di dinding dekat jendela.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Luna menurunkan kerah kemeja birunya. ​Matanya melebar tipis saat melihat pantulan dirinya di cermin. Di atas kulit lehernya yang putih bersih, bercak kemerahan samar itu tercetak jelas. Bukti nyata dari sentuhan lancang dan hisapan bibir Orion beberapa saat lalu. Sensasi hangat dan geli yang sempat menjalar tadi seolah kembali membakar permukaan kulitnya.

Luna memejamkan mata erat-erat, merutuhi ketidakberdayaannya. Bagaimana kalau Maya atau staf lain melihat ini? Apa yang akan mereka pikirkan?

​Tanpa berpikir panjang, Luna meraih kotak P3K dari laci mejanya. Ia mengambil selembar plester medis berukuran sedang, lalu menempelkannya tepat di atas bekas kecupan Orion. Ia merapikan kembali kerah kemejanya, menghela napas panjang, lalu meraih tas serta kunci mobil dari atas meja.

Dengan langkah terburu-buru, Luna keluar dari ruang konseling, menyusuri koridor RSJ Silver Oak yang mulai sepi, dan bergegas menuju area parkir VIP tanpa memedulikan sapaan beberapa perawat yang berselisih jalan dengannya.

​Suara sistem pengunci otomatis berbunyi saat Luna memasuki mobil sedan putih miliknya. Ia menjatuhkan diri di kursi kemudi, menyandarkan kepalanya pada lingkar kemudi, dan membiarkan keheningan interior mobil membungkus dirinya. Meski mesin sedan putih itu sudah menyala dan pendingin udara mulai berhembus pelan, pikiran Luna sama sekali tidak berada di dalam kendaraan tersebut.

​Sepanjang perjalanan menembus jalanan kota yang mulai temaram ditelan senja, fokus Luna terbagi. Jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat, sementara matanya sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, menatap plester yang menempel di lehernya.

Bayangan kejadian di ruangannya kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Sensasi sentuhan telapak tangan Orion yang hangat di pipinya, aroma maskulin yang menyergap indra penciumannya, hingga bisikan serak pria itu tepat di permukaan kulitnya: "Milikku. Hanya milikku."

​"Sial," umpat Luna pelan, meremas kemudinya lebih kuat. Pipi dan telinganya mendadak terasa panas.

​Sebagai seorang psikiater, ia seharusnya bisa menganalisis tindakan Orion secara rasional. Tapi sebagai seorang wanita, reaksi tubuhnya sendiri justru membuat Luna merasa frustrasi. Bagaimana bisa seorang pasien pembangkang yang baru ditemuinya seminggu lalu sanggup mengacak-acak pertahanan dirinya hingga membuat tangisnya pecah?

Namun, di tengah rasa kesal dan canggung yang memburu, kata-kata terakhir Orion sebelum pria itu dipindahkan kembali ke kursi pasien mendadak terngiang jelas di telinganya.

​“Aku memang tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan manusia tanpa menyakiti mereka... karena dari dulu, tidak ada yang pernah mengajariku cara menyayangi sesuatu tanpa merusaknya.”

​Luna memperlambat laju sedan putihnya saat lampu lalu lintas berubah merah. Ia menatap kosong ke arah deretan mobil di depannya.

Ada kejujuran yang luar biasa dingin dari kalimat itu. Tidak ada nada manipulasi, tidak ada nada bercanda, hanya ada rasa kesepian dan kerusakan mendalam dari seorang Orion yang selama ini disembunyikan di balik topeng gila dan sikap dominannya.

​Luna mengusap wajahnya gusar, menatap pantulan dirinya di kaca mobil. ​"Kamu benar-benar gila, Rellunae," bisiknya pada diri sendiri. "Dia bahaya... tapi kenapa kamu malah makin penasaran sama dia?"

☆☆☆

Tengah malam yang hening mendadak pecah oleh dering ponsel yang nyaring di atas nakas. ​Luna yang baru saja tertidur lelap terbangun dengan napas tersengal. Jemarinya meraba-raba meja dalam kegelapan, meraih ponselnya lalu menggeser layar tanpa melihat nama pemanggil.

​"Halo?" suara Luna terdengar serak, sarat akan kantuk.

​"D-Dokter Luna! Tolong, Dok! Ini dari bangsal VIP!" suara perawat jaga terdengar sangat histeris, diiringi teriakan riuh dan suara angin yang berembus kencang di seberang telepon.

​Kantuk Luna menguap seketika. Ia langsung duduk tegak di atas ranjang. "Ada apa?! Orion berulah lagi?!"

​"Orion, Dok! Dia berhasil menjebol pintu akses ke atap gedung RSJ! Dia... dia berdiri di tepi pembatas atap dan mau melompat!"

​"Apa?!" jantung Luna serasa merosot sampai ke dasar perut.

​"Kami sudah coba bujuk, tapi dia mengamuk! Dia cuma mau bicara sama Dokter! Tolong cepat kemari, Dok, sebelum dia benar-benar nekat!"

Tut... tut... tut.

​Panggilan terputus. Luna tidak membuang waktu satu detik pun. Ia melempar selimutnya, menyambar jaket kulit hitam, celana jeans, dan kunci yang tergeletak di meja. Kali ini bukan kunci sedan putihnya. Ia butuh kecepatan yang tidak ditahan oleh kemacetan jalanan malam.

Di dalam garasi, sebuah Kawasaki Ninja 250cc berwarna hitam legam dengan garis hijau meraung keras saat mesinnya dihidupkan. Luna memakai helm full-face, memutar gas, dan melesat membelah keheningan malam bagaikan kilat.

Di atas jalanan kota yang lengang, sedan putihnya tidak akan sanggup mengejar waktu. Luna memacu motor sportnya dengan kecepatan gila, menembus dinginnya angin malam, melompati beberapa lampu merah, dan meliuk-liuk di tikungan tajam tanpa mengendurkan gas sedikit pun. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Jangan mati sebelum aku sampai, Orion!

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi Luna untuk sampai di kompleks Silver Oak. Suara decitan ban motornya menggemakan area parkir. Tanpa mematikan mesin dengan benar, Luna melempar helmnya, menerobos pintu darurat, dan berlari menaiki tangga manual menuju lantai paling atas.

Brak!

​Luna mendorong pintu besi pembatas atap hingga membentur dinding. ​Angin malam yang sangat kencang menyambut tubuhnya, menerbangkan rambutnya yang terurai. Di sana, beberapa petugas keamanan dan perawat menahan napas dengan wajah pucat pasrah. Cahaya lampu sorot mengarungi sosok seorang pria bertubuh jangkung yang berdiri tepat di atas pembatas beton yang amat sempit.

Satu langkah salah saja, Orion akan jatuh bebas dari lantai lima.

​"Jangan mendekat!" geram Orion tanpa menoleh. Pakaian pasiennya berkibar tertiup angin kencang. Tangannya memegang pagar pembatas dengan santai, seolah ketinggian puluhan meter di bawahnya hanyalah genangan air dangkal.

​"Orion!"

​Suara teriakannya yang sarat akan napas memburu membuat pria itu membeku. Perlahan, Orion menoleh ke belakang. Sepasang mata abu-abunya menyipit, lalu binar yang sangat familiar kembali menyala saat melihat sosok Luna yang berdiri dengan jaket kulit dan napas tersengal-sengal di depan pintu rooftop.

​"Nanae..." gumam Orion pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kamu benar-benar datang."

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!