Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Satu Kamar
Acara keluarga akhirnya selesai mendekati tengah malam.
Sebagian besar tamu sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Hanya keluarga inti yang masih berada di hotel untuk berbincang santai dengan Kakek Dimitri.
Rubi sendiri sudah mulai mengantuk.
Kehamilan membuat tubuhnya cepat lelah, apalagi hari ini ia harus berdiri dan tersenyum hampir sepanjang malam.
Saat ia sedang duduk sambil memijat pelan kakinya, suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari luar.
DUARRR!
Petir menyambar cukup keras hingga beberapa tamu terkejut.
Rubi refleks menoleh ke arah jendela besar ballroom.
Hujan deras turun tanpa ampun.
Angin kencang menghantam kaca hingga terdengar suara berdesir yang cukup menyeramkan.
"Sepertinya badai."
gumam Rubi.
Salah satu staf hotel terlihat buru-buru mendatangi pihak keluarga.
Tak lama kemudian mereka mulai berdiskusi.
Beberapa menit berlalu.
Lalu Alexander menghampiri Rubi.
"Kita tidak bisa pulang malam ini."
Rubi mengangkat kepala.
"Hah?"
"Jalan utama menuju mansion ditutup sementara."
"Karena badai?"
Alexander mengangguk.
"Hujan terlalu deras."
Rubi langsung melihat keluar lagi.
Dan memang benar.
Bahkan dari dalam gedung saja badai itu terlihat cukup mengerikan.
"Kita menginap di hotel?"
tanyanya.
"Tidak."
jawab Alexander.
"Kakek sudah menyiapkan villa keluarga di belakang area hotel."
"Oh."
Rubi mengangguk.
Setidaknya itu lebih baik daripada harus memaksa pulang dalam cuaca seperti ini.
Sekitar tiga puluh menit kemudian.
Mobil mereka berhenti di depan sebuah villa mewah yang terletak tidak jauh dari hotel.
Bangunannya besar.
Dikelilingi taman yang luas.
Meski hujan masih turun deras, keindahan tempat itu tetap terlihat jelas.
Rubi turun perlahan dibantu Alexander.
Begitu masuk ke dalam, kehangatan langsung menyambut mereka.
Beberapa pelayan keluarga ternyata sudah berada di sana lebih dulu untuk menyiapkan segala kebutuhan.
"Nyonya muda."
Seorang pelayan menghampiri.
"Kamar sudah disiapkan."
"Terima kasih."
Rubi tersenyum.
Saat ini yang ia inginkan hanya mandi lalu tidur.
Tubuhnya benar-benar lelah.
Namun saat pelayan hendak mengantar mereka ke kamar, Alexander tiba-tiba berbicara.
"Satu kamar."
Pelayan itu langsung mengangguk.
"Tentu, Tuan Muda."
Rubi yang berjalan di sampingnya hampir tersedak udara.
"Hah?"
Namun pelayan itu sudah lebih dulu pergi.
Meninggalkan Rubi yang masih membeku di tempat.
Begitu mereka mulai menaiki tangga menuju lantai dua, Rubi akhirnya berbisik,
"Tunggu."
Alexander menoleh.
"Ada apa?"
"Satu kamar?"
"Iya."
"Kenapa satu kamar?"
Alexander terlihat heran.
"Karena kita suami istri."
Rubi langsung kehilangan kata-kata.
Secara teknis memang benar.
Tapi selama ini mereka selalu tidur terpisah.
Meski hubungan mereka sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya, tetap saja mereka belum pernah benar-benar berbagi kamar.
Alexander memperhatikan wajah Rubi yang mulai memerah.
Lalu berkata pelan,
"Ada mata-mata Kakek di villa ini."
Rubi berkedip.
"Maksudnya?"
"Kau pikir Kakek akan percaya kalau pasangan menikah menginap di villa yang sama tapi tidur di kamar berbeda?"
Rubi langsung terdiam.
Dan semakin dipikir-pikir, ucapan itu masuk akal.
Kakek Dimitri memang sangat berharap hubungan mereka membaik.
Kalau sampai beliau tahu mereka masih tidur terpisah, bisa jadi akan muncul banyak pertanyaan.
"Tapi..."
Rubi masih ragu.
Alexander menghela napas.
"Aku tidak akan melakukan apa pun."
Kalimat itu justru membuat wajah Rubi semakin panas.
"Aku tidak berpikir begitu!"
Alexander menatapnya beberapa detik.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Dan itu membuat Rubi semakin malu.
Kamar yang disiapkan ternyata sangat besar.
Ada ruang duduk kecil.
Perapian.
Balkon pribadi.
Dan satu ranjang berukuran king size di tengah ruangan.
Rubi langsung memalingkan wajah saat melihat ranjang itu.
Sementara Alexander terlihat biasa saja.
Seolah tidak ada masalah apa pun.
Padahal yang bermasalah justru jantung Rubi.
Begitu pintu kamar tertutup, suasana mendadak menjadi canggung.
Sangat canggung.
Alexander membuka jasnya lalu meletakkannya di kursi.
Sedangkan Rubi berdiri di dekat pintu seperti orang kehilangan arah.
"Aku mandi dulu."
kata Alexander.
"Oh."
Pria itu berjalan menuju kamar mandi.
Dan baru setelah pintu tertutup, Rubi mengembuskan napas panjang.
"Ya Tuhan..."
Ia langsung duduk di tepi ranjang.
Tangannya memegang dada sendiri.
Jantungnya berdebar tidak karuan.
Padahal tidak ada yang aneh.
Mereka hanya akan tidur di kamar yang sama.
Hanya itu.
Tapi tetap saja.
Bagaimana mungkin ia bisa tenang?
Setelah bergantian mandi, keduanya akhirnya berada di kamar dengan pakaian tidur masing-masing.
Dan kecanggungan itu kembali muncul.
Rubi duduk di atas ranjang sambil pura-pura membaca buku.
Padahal satu halaman pun tidak masuk ke otaknya.
Sementara Alexander sedang membaca beberapa laporan kerja di sofa.
Hujan masih turun deras di luar.
Sesekali petir menyambar.
Membuat suasana malam terasa semakin sunyi.
Beberapa menit berlalu.
Lalu puluhan menit.
Sampai akhirnya Alexander menutup dokumennya.
"Kau belum tidur?"
Rubi langsung menoleh.
"Belum."
"Kenapa?"
"Tidak mengantuk."
Bohong.
Ia sangat mengantuk.
Tapi gugup jauh lebih kuat.
Alexander menatapnya lama.
Kemudian berkata,
"Kau takut?"
"Apa?"
"Tidur satu kamar denganku."
Rubi hampir menjatuhkan bukunya.
"Tidak!"
jawabnya terlalu cepat.
Alexander terlihat tidak percaya.
Dan memang seharusnya begitu.
Karena wajah Rubi sudah merah sejak satu jam lalu.
Pria itu menghela napas kecil.
Lalu berdiri.
Membuat Rubi langsung tegang.
Alexander berjalan ke arah ranjang.
Setiap langkahnya membuat detak jantung Rubi semakin kacau.
Sampai akhirnya pria itu berhenti di samping tempat tidur.
"Kau terlalu banyak berpikir."
ucapnya tenang.
Lalu ia mengambil beberapa bantal tambahan.
Dan berjalan menuju sofa panjang di dekat perapian.
Rubi berkedip.
"Hah?"
"Aku tidur di sini."
katanya.
"Selesai."
Rubi menatap sofa itu.
Kemudian menatap Alexander.
Lalu sofa lagi.
"Itu sempit."
Alexander mengangkat bahu.
"Tidak masalah."
Untuk pertama kalinya malam itu rasa bersalah muncul di hati Rubi.
Sofa itu memang besar.
Tapi tetap saja tidak senyaman ranjang.
Apalagi Alexander bertubuh tinggi.
"Punggung Anda nanti sakit."
Alexander hampir tersenyum.
"Kau mengkhawatirkanku?"
Pertanyaan itu membuat Rubi langsung diam.
Karena jawabannya adalah iya.
Dan mereka berdua tahu itu.
Satu jam kemudian.
Lampu kamar sudah dimatikan.
Hanya lampu tidur kecil yang masih menyala redup.
Rubi berbaring di atas ranjang.
Namun belum juga tertidur.
Entah karena suara hujan.
Atau karena menyadari ada seseorang lain di dalam kamar.
Seseorang bernama Alexander Dimitri.
Pria yang awalnya hanya suami karena kesepakatan.
Namun kini perlahan-lahan mengisi ruang di hatinya tanpa izin.
Rubi menoleh pelan.
Dari tempatnya, ia bisa melihat Alexander yang sedang berbaring di sofa dengan mata terpejam.
Entah sudah tidur atau belum.
Hening.
Sangat hening.
Sampai akhirnya suara berat itu terdengar.
"Kau belum tidur."
Rubi langsung membeku.
"Ternyata Anda juga belum tidur."
"Belum."
Beberapa detik berlalu.
Lalu tanpa sadar Rubi tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, ia tidak merasa sendirian.
Dan entah kenapa, meski badai masih mengamuk di luar villa, malam itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉