Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Goresan yang Mengikat
Lantai kayu mahoni di bawah kaki Olin seolah menyerap setiap ketukan sepatunya, meredam suara hingga menyisakan kesunyian yang berat di dalam ruang kerja utama. Dua petugas dari dinas catatan sipil itu serempak menoleh, memberikan anggukan formal yang terlampau kaku sebelum kembali menatap dokumen di atas meja. Olin mengabaikan kursi kosong di sisi kanan meja raksasa itu; dia memilih tetap berdiri, mencengkeram erat pinggiran mantel rajut kelabunya untuk menyembunyikan jemarinya yang mulai mendingin.
"Dua puluh empat bulan, Tuan-Tuan," Olin membuka suara, memotong atmosfer intimidatif yang sengaja dibangun Zayyan sejak dia melangkah masuk. Suaranya jernih, datar, dan sarat akan penekanan profesional yang biasa dia gunakan saat mengontrol negosiasi lelang seni. "Pastikan klausul masa berlaku kontrak itu tercantum di lembar lampiran verifikasi kalian, bukan sekadar di berkas privat perusahaan."
Salah satu petugas berkacamata tipis melirik Zayyan sekilas, mencari persetujuan implisit, sebelum akhirnya mengangguk takzim pada Olin. "Semua lembar administrasi telah disesuaikan dengan draf hukum yang dikirimkan melalui peladen terenkripsi tadi subuh, Nyonya. Status hukum pernikahan ini mengikat penuh secara sipil, namun memiliki adendum pemisahan aset mutlak serta batasan waktu sesuai permintaan."
Zayyan menegakkan punggungnya. Kemeja hitam legamnya membungkus bahunya yang kokoh, menciptakan kontras yang tajam dengan latar belakang dinding buku di belakangnya. Dia mengambil sebuah pulpen platina berlogo elips emas—benda yang sama dengan yang semalam dia sodorkan di galeri—lalu meletakkannya tepat di atas garis putus-putus lembar dokumen berhologram garuda emas.
"Duduk dan selesaikan bagianmu, Olin," perintah Zayyan, suaranya bariton rendah, tanpa nada tinggi namun memiliki daya desak yang mutlak. "Petugas memiliki jadwal verifikasi lain di pengadilan wilayah barat satu jam lagi. Aku tidak suka membuang waktu untuk sesuatu yang sudah kita sepakati di bawah lampu merah semalam."
Olin menarik napas panjang. Bau kertas dokumen baru bercampur dengan aroma cendana dari tubuh Zayyan mendadak membuat rongga dadanya terasa sesak. Dia melangkah mendekat, lalu perlahan menduduki kursi kulit di samping meja. Jemari tangannya yang ramping meraih pulpen platina tersebut. Berat logamnya terasa dingin di kulitnya.
Saat ujung pulpen menyentuh kertas, Olin sempat melirik ke arah jendela besar di sayap timur. Matahari fajar Pekanbaru kini telah sepenuhnya menembus kabut, melemparkan sorotan cahaya jingga yang tajam di atas permukaan meja kayu hitam. Cahaya itu mempertegas gurat ketegangan di wajah Zayyan yang sedari tadi terus mengunci pergerakannya.
Sret. Sret.
Dua goresan tinta hitam mengalir cepat, membentuk pola tanda tangan yang selama tujuh tahun ini hanya dia gunakan untuk urusan kurasi seni independen. Begitu pulpen terangkat, petugas sipil dengan cekatan menarik dokumen tersebut, membubuhkan stempel timbul berhologram, lalu memasukkannya ke dalam map kulit hitam.
"Verifikasi selesai, Tuan El-Ghazali, Nyonya Aureline," ucap petugas itu sembari bangkit berdiri dan membungkuk hormat. "Berkas fisik akan disimpan di brankas arsip negara sektor satu, sementara salinan digitalnya telah aktif di sistem kependudukan pusat per menit ini."
Zayyan memberikan isyarat pendek dengan gerakan dagunya pada Malikh yang bersiaga di dekat pintu. "Antar mereka keluar lewat jalur protokoler bawah. Pastikan tidak ada kendaraan pers yang mencatat nomor pelat mobil mereka di gerbang luar."
"Baik, Tuan Besar," Malikh membungkuk, lalu menuntun kedua petugas sipil itu keluar dari ruangan. Pintu ganda berlapis kulit arang itu menutup dengan bantingan halus yang kedap, menyisakan Olin dan Zayyan dalam keheningan yang mendadak terasa begitu pekat.
Olin langsung bangkit dari kursinya, meletakkan pulpen platina di atas meja dengan ketukan yang sedikit keras. "Urusanku di ruangan ini sudah selesai. Aku mau kembali ke paviliun barat untuk melihat Xavi."
"Duduk kembali, Aureline," suara Zayyan menghentikan gerakan kaki Olin yang baru saja berputar setengah jalan. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, berjalan mengitari meja raksasa tersebut hingga posisinya kini berdiri tepat di depan Olin, menghalangi jalur menuju pintu keluar. "Kita baru saja menandatangani ikatan sipil yang sah. Kau pikir liburanmu sebagai kurator independen bisa langsung berlanjut begitu saja pagi ini?"
Olin mendongak, matanya berkilat menantang sepasang mata elang di hadapannya. "Apa lagi yang kau inginkan, Zayyan? Kontrak sudah sah. Xavi sudah aman di dalam jaringan mu."
Zayyan membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara mereka hingga Olin bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam manik mata hitam pria itu yang sedingin es. "Sore ini, faksi Kakek Albert dan jajaran direksi utama akan mengadakan pertemuan darurat di menara kaca. Mereka sudah mendengar tentang runtuhnya Iron Sentry semalam. Kau dan sang Arsitek Kecil harus ikut denganku ke sana. Pakai gaun terbaikmu, Nyonya El-Ghazali, karena sandiwara kita baru saja dimulai."