NovelToon NovelToon
SEPASANG MATA DEWA

SEPASANG MATA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dokter Genius
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Agus budianto

Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 15 MIRANDA

Mereka mulai mengobrol, hingga beberapa menit kemudian Ivan pamit untuk kembali karena hari sudah gelap.

"Kamu sudah membantuku hari ini, biar aku antar sampai ke rumah," ujar Julia.

"Baiklah," balas Ivan.

Kakek Mahendra juga hendak bangkit dari tempatnya, tapi langsung merasakan sakit pada bagian pinggangnya.

"Aduh..." kakek Mahendra merasakan rasa sakit yang luar biasa seolah pinggangnya akan patah saja.

"Kakek kan sedang sakit, biar pelayan membawa kakek untuk beristirahat," ujar Julia.

"Sakit pinggang ini benar-benar menyiksa ku," ujar kakek Mahendra.

"Kakek, sakit pinggang bila tidak segera di obati memang sangat menyiksa," ujar Ivan.

"Hah, bukannya tidak mau di obati, tapi tidak ada obat yang mampu menyembuhkannya," balas kakek Mahendra.

Kakek Mahendra melanjutkan bahwa dirinya sudah berobat ke berbagai rumah sakit, dan meminum berbagai macam obat, tapi sama sekali tidak ada perubahan sedikitpun. Pinggangnya begitu sangat sakit jika dirinya berdiri.

"Bolah aku periksa?" tanya Ivan.

"Kamu bisa ilmu medis?" balas kakek Mahendra bertanya balik.

"Aku mengerti pengobatan tradisional," jawab Ivan.

"Ivan, kamu benar-benar menarik, menilai batu begitu hebat, bahkan juga menguasai ilmu pengobatan, benar-benar berbakat," ujar kakek Mahendra.

"Kakek terlalu berlebihan, biar aku periksa dahulu!" balas Ivan.

Kebetulan sekali Ivan juga ingin mencoba kekuatan ilmu pengobatan yang di miliki oleh mata dewa, pikirnya.

Ivan meminta kakek Mahendra duduk menyamping dan menaikkan bajunya. Ivan juga duduk di belakang kakek Mahendra menghadap ke pinggangnya.

Sekilas cahaya terlintas di kedua matanya. Pandangan Ivan langsung menembus pinggang dari kakek Mahendra. Melalui kekuatan mata dewanya, Ivan juga langsung mengetahui letak masalah pada pinggang kakek Mahendra.

"Kakek, saraf kecil pada bagian pinggang anda terjepit, hal itu yang membuat pinggang anda begitu sakit," ujar Ivan.

"Ketika berdiri anda akan merasakan seolah pinggang akan patah saja, posisi tidur juga hanya bisa terlentang saja, dan saat jongkok juga merasakan pinggang seperti akan terlepas," sambung Ivan.

"Karena kamu bisa mengetahuinya, apa kamu juga bisa menyembuhkannya?" balas kakek Mahendra dengan penuh harap.

"Tentu saja, tapi rasanya akan sangat sakit, kakek tahan sebentar!" jawab Ivan.

Ivan juga meletakkan kedua telapak tangannya pada pinggang kakek Mahendra. Menurut mata dewanya, Ivan hanya perlu memijatnya perlahan untuk memperbaiki saraf kecil yang terjepit.

Julia sendiri juga hanya diam saja melihat Ivan akan mengobati kakeknya.

Kembali lagi sekilas cahaya terlintas di kedua mata Ivan. Energi spiritual juga langsung mengalir dari kedua mata dewa menuju ke telapak tangan Ivan.

Ivan mulai memijat pinggang dari kakek Mahendra secara perlahan. Energi spiritual juga mulai mask ke pinggang kakek Mahendra melalui telapak tangan Ivan yang memijat.

"Aaa... sakit..." kakek Mahendra tampak kesakitan sampai memicingkan matanya.

Energi spiritual yang masuk ke pinggang kakek Mahendra juga langsung menuju ke bagian saraf yang terjepit. Saraf tersebut di perbaiki secara perlahan.

Pijatan Ivan terlihat biasa saja hanya saja energi spiritual yang bersumber dari kekuatan mata dewa yang membuatnya istimewa.

Rasa sakit yang di rasakan oleh kakek Mahendra perlahan juga mulai menghilang di gantikan oleh rasa nyaman.

Beberapa menit kemudian, Ivan juga telah selesai memijat pinggang kakek Mahendra. Energi spiritual juga menghilang bersama dengan kilauan cahaya mata dewa yang hilang.

"Kakek, anda coba berdiri," pinta Ivan.

Kakek Mahendra juga mulai berdiri dengan perlahan. Begitu terkejutnya dirinya tidak merasakan rasa sakit kembali di pinggangnya.

"Pinggangku tidak sakit lagi, ini luar biasa, aku telah sembuh," ujar kakek Mahendra senang sekali dan sangat bersemangat.

Dirinya begitu menderita sebelumnya karena sakit pinggang, tapi kini telah sembuh. Bahkan kakek Mahendra merasakan pinggangnya jauh lebih nyaman dari sebelumnya.

"Ivan, kamu benar-benar hebat sekali, masih begitu muda tapi luar biasa, kakek berterima kasih banyak kepadamu," ujar kakek Mahendra kini menyukai Ivan.

"Kakek terlalu berlebihan, hanya hal sekecil ini saja," balas Ivan.

"Hal kecil..." ulang kakek Mahendra.

Semua rumah sakit saja tidak bisa menyembuhkannya, tapi Ivan malah mengatakan hal kecil saja. Entah potensi sebesar apa yang masih dia miliki. Usianya masih begitu muda, benar-benar menjanjikan, pikir kakek Mahendra.

"Tidak ku sangka Ivan sehebat ini, tapi barusan di begitu keren juga," ucap Julia dalam hati.

Setengah jam kemudian, Ivan telah berada di depan rumahnya di antarkan oleh Julia. Julia seketika mengetahui bahwa Ivan tinggal di gedung rumah susun lima lantai.

"Mampir dulu!" ujar Ivan.

"Lain kali saja, sudah malam," balas Julia.

Julia pamit untuk kembali dan pergi dari sana dengan mobil sport mewahnya.

"Hari ini aku sudah kaya, kedepannya tidak perlu takut tidak makan lagi," ucap Ivan dengan bersemangat.

Pukul 9 malam, Ivan keluar dari rumahnya untuk membeli kuota. Ivan pergi ke sebuah konter yang tempatnya tidak jauh.

Setelah mengisi kuotanya, Ivan tidak langsung kembali, tapi mengobrol dengan pemilik konter tersebut. Kebetulan pemilik konter adalah pria seumuran dengannya yang masih lajang bernama Dio. Hubungan mereka juga baik dan akrab.

"Rokok van!" tawar Dio meletakkan sebungkus rokok pada meja etalase.

"Aku tidak merokok," balas Ivan.

"Merokok tidak, minum jarang, main wanita juga tidak, apa kamu masih laki-laki?" ujar Dio.

"Bagaimana jika lain kali aku ajak kamu ke club malam, di sana wanitanya cantik-cantik, tapi biayanya lumayan mahal, tapi yang penting puas, bagaimana?" sambung Dio.

"Ah, kamu ini..." balas Ivan.

"Haha..." mereka berdua tertawa.

Kemudian seorang wanita lewat dengan berjalan kaki. Nama wanita tersebut adalah Miranda. Miranda baru saja tiba di kota Neo dan sedang menuju ke sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari konter tersebut.

Miranda tampak begitu cantik dan seksi. Menggunakan pakaian ketat yang menampakkan bentuk lekuk tubuhnya. Di tambah rok yang begitu pendek memperlihatkan pahanya yang sangat putih dan mulus.

"Sial, wanita itu cantik sekali," ujar Dio.

"10 juta aku juga langsung bayar tanpa tawar," sambung Dio.

Ivan juga dapat melihat wanita tersebut benar-benar sangat cantik. Bahkan tidak kalah cantik di bandingkan dengan Dania maupun Julia.

Akan tetapi Miranda dapat mendengar apa yang yang di bicarakan oleh mereka. Miranda memiliki kelebihan pada pendengarnya yang lebih tajam di bandingkan orang pada umumnya.

Mengetahui ada orang membicarakannya dengan tidak pantas, membuatnya menjadi marah. Miranda langsung menghampiri mereka.

"Wanita itu sepertinya kemari," ujar Dio mulai panik.

"Apa mungkin dia mendengar apa yang kita bicarakan?" sambung Dio.

"Plak," tiba-tiba saja terdengar suara tamparan.

Tanpa basa-basi Miranda langsung menampar. Namun bukannya Dio yang di tampar, tapi justru Ivan.

"Dasar wanita gila, kenapa kamu menamparku?" Ivan juga langsung tidak terima dan merasakan pipinya yang panas.

"Dasar pria mesum, kamu menatapku dari tadi dengan begitu menjijikan, kamu pasti sedang berangan-angan tentang diriku bukan?" marah Miranda.

Dio juga langsung terdiam tanpa berkata-kata karena takut di tampar juga. Siapa yang menyangka ternyata wanita di hadapannya ini begitu garang.

"Aku tidak pernah memukul wanita, jadi cepat minta maaf!" ujar Ivan.

"Minta maaf... aku Miranda tidak pernah tunduk kepada siapapun," balas Miranda.

"Buk" sebuah tendangan langsung telak menghantam selangkangan Ivan.

"Bruk," Ivan juga langsung terjatuh ke lantai sambil memegangi joni nya.

"Wanita ini orang gila, habis sudah Ivan," ucap Dio dalam hati merasa ngeri.

"Mampus kau," ucap Miranda.

Miranda juga pergi dari sana karena sudah merasa puas. Itu akibat karena berani berbuat kurang ajar kepadanya, pikirnya.

Melihat Miranda sudah pergi, Dio juga segera membantu Ivan yang tergeletak di lantai.

"Ivan, kamu tidak apa-apa kan, tidak pecah kan?" tanya Dio.

Sambil menahan sakit Ivan meraba bagian selangkangannya dan mengetahui bahwa baik-baik saja.

"Dasar wanita sialan, untung saja tidak apa-apa," maki Ivan.

1
Agus Bautista
mana lanjutan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!