NovelToon NovelToon
DARAH DIATAS PUALAM

DARAH DIATAS PUALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.

Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.

Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.

Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : TANDU BERDARAH SANG RATU

​⚠️ 𝙋𝙀𝙍𝙄𝙉𝙂𝘼𝙏𝘼𝙉 𝙆𝙊𝙉𝙏𝙀𝙉:

𝘾𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙬𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙚𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙨𝙠𝙧𝙞𝙥𝙨𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙧𝙪𝙩𝙖𝙡, 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙣𝙪𝙝𝙖𝙣. 𝙆𝙚𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙧𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣.

Hujan di Dermaga 9 berubah menjadi badai yang bising, menghantam permukaan laut hingga bergolak hebat. Di dalam kabin kapal kargo yang hangat, Elder Marcus baru saja menuangkan 𝘸𝘩𝘪𝘴𝘬𝘦𝘺-nya ketika salah satu anak buahnya tersungkur melewati pintu dengan wajah hancur dan napas yang putus-putus.

"M-Marcus... mereka... mereka semua mati," ratap pria itu sebelum kehilangan kesadaran.

Marcus tersentak, gelas 𝘸𝘩𝘪𝘴𝘬𝘦𝘺-nya pecah di atas lantai kayu. Ketika ia melihat melalui jendela kabin ke arah area kontainer, siluet Elara berdiri tegak di bawah lampu sorot dermaga yang bergoyang ditiup angin. Wanita itu memegang sebilah pisau rambo yang meneteskan darah, menatap lurus ke arah kapal dengan tatapan membunuh.

Rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidup mendadak mencengkeram dada Marcus.

"Panggil semuanya! SEKARANG!" raung Marcus melalui radio komunikasinya, suaranya melengking panik. "Seluruh unit faksi maritim, turun ke Dermaga 9! Kepung tempat ini! Bunuh jalang itu! Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup!"

Dalam waktu kurang dari lima menit, sirene darurat pelabuhan meraung-raung. Lebih dari seratus orang anak buah faksi maritim datang dari gudang-gudang logistik dan dek kapal.

Mereka datang membawa pipa besi, parang, hingga senapan otomatis, mengepung area kontainer terbuka tempat Elara berada.

Di bawah guyuran hujan deras, Elara melepaskan mantel hitamnya yang sudah berat karena basah. Kain tebal itu jatuh ke genangan air, menyisakan gaun hitamnya yang kini melekat ketat di tubuh.

"Kalian memilih malam yang salah untuk mati," bisik Elara, suaranya hilang ditelan oleh gemuruh guntur.

𝘋𝘖𝘙 𝘋𝘖𝘙

Rentetan tembakan pertama menyalak. Sebelum peluru sempat mencapainya, Elara sudah bergerak, menjatuhkan diri dan berguling di balik barisan palet besi. Dia memanfaatkan ruang sempit di antara kontainer raksasa.

𝘊𝘙𝘈𝘚𝘏

Pisau rambo di tangan kanannya menyayat tenggorokan pria pertama yang mendekat, sementara tangan kirinya merebut kapak kecil dari pinggang korban tersebut. Dengan dua senjata di tangannya, ia memotong urat nadi, menghancurkan tempurung lutut, dan memecahkan tengkorak siapa saja yang masuk ke dalam radius serangannya.

"Tembak dia! Tembak!" teriak salah satu komandan lapangan, namun barisan anak buah Marcus justru saling menghalangi karena jumlah mereka yang terlalu padat di koridor kontainer yang sempit.

Elara memanfaatkan kekacauan formasi itu. Ia menyusup di antara kerumunan, menggunakan tubuh musuhnya sendiri sebagai tameng hidup dari rentetan peluru temannya sendiri.

Jeritan kesakitan, bunyi tulang yang patah, dan bau anyir darah yang pekat kini mendominasi Dermaga 9, bersaing dengan deru badai. Elara bergerak tanpa lelah.

Gaun hitamnya yang ia sobek sampai atas lutut kini telah berubah warna, basah kuyup oleh kombinasi air hujan dan darah segar manusia. Wajahnya terciprat noda merah, membuat sepasang matanya berkilat dengan kegilaan.

Melihat lebih dari separuh pasukannya tumbang dalam waktu singkat dengan cara yang mengenaskan, nyali para bajingan itu runtuh, mereka mulai mundur ketakutan.

Namun, bagi Elara, keputusasaan musuh bukanlah alasan untuk berbelas kasih. Itu adalah tanda bahwa perburuan menjadi lebih mudah.

​"Siapa yang mengizinkan kalian pergi?" suara Elara mengalun rendah, dan dingin.

​Pria-pria yang tadinya beringas kini berebut berbalik arah, saling sikut dan terjatuh demi menjauh dari Elara. Elara melesat maju, menutup jarak dalam hitungan detik. Langkahnya ringan, namun serangannya seberat hantaman godam.

​Ia menebas bagian belakang lutut seorang pria yang sedang merangkak kabur, lalu tanpa menengok, melemparkan kapak kecil di tangan kirinya tepat ke punggung pria lain yang mencoba memanjat kontainer.

​Beberapa orang nekat melompat ke laut demi menyelamatkan diri.

Mendengar kecipak air di bawah dermaga, Elara berhenti di tepi beton. Ia memungut sebuah senapan otomatis 𝘴𝘶𝘣𝘮𝘢𝘤𝘩𝘪𝘯𝘦 𝘨𝘶𝘯 milik korban yang tergeletak di dekat kakinya.

​Tanpa ekspresi, ia mengarahkan moncong senjata ke permukaan laut yang bergolak.

​𝘙𝘈𝘛-𝘛𝘈𝘛-𝘛𝘈𝘛-𝘛𝘈𝘛

​Rentetan kilatan api membelah kegelapan malam. Peluru-peluru panas menembus air laut, mengubah warna ombak yang berbuih menjadi kemerahan.

Jeritan dari dalam air timbul tenggelam sebelum akhirnya senyap, menyisakan jasad-jasad yang mengapung tak berdaya ditelan arus pelabuhan.

​Sisa pria yang masih tertinggal di atas beton dermaga berlutut, membuang senjata mereka, dan menangis meminta ampun dengan tubuh gemetar hebat.

​Elara berjalan melewati mereka. Ujung pisau rambonya yang berlumur darah diseret di atas beton, menciptakan bunyi gesekan yang menyiksa psikologis mereka yang tersisa.

Ia mengayunkan senjatanya dengan tebasan-tebasan pendek yang presisi ke arah urat leher mereka saat ia berjalan lewat.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, koridor kontainer itu benar-benar lumpuh.

Ia berjalan melewati tumpukan jasad yang bergelimpangan di atas beton dermaga, menaiki tangga besi menuju kapal kargo tempat Marcus bersembunyi.

Marcus, yang menyaksikan seluruh pembantaian itu dari balik kaca dek, gemetar hebat hingga kencing di celana. Ia mencoba mengunci pintu kabin, namun sebuah hantaman kuat dari luar membuat pintu besi itu jebol dari engselnya.

𝘉𝘙𝘜𝘈𝘒

Elara melangkah masuk, rambut hitamnya yang basah menempel di wajahnya, dan pakaiannya meneteskan darah ke atas karpet.

"E-Elara... Nona Elara... Tolong... Aku bisa memberikan seluruh jalur maritim padamu... semuanya!" gagap Marcus, merangkak mundur hingga punggungnya membentur meja kerja.

Elara tidak menjawab. Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang. Tanpa peringatan, ia menjambak rambut beruban Marcus, menarik kepala pria tua itu ke belakang, dan menghantamkannya ke sudut meja kayu ek yang tajam hingga tulang hidungnya hancur.

"AAAGHH!"

Elara mencengkeram leher Marcus, mengangkat tubuh gempal itu dengan kekuatan yang luar biasa, dan mengempaskannya ke atas meja. Sebelum Marcus sempat memohon lagi, Elara menghujamkan kapak kecil yang ia bawa tepat ke tengah dada Marcus, memaku tubuh sang Elder di atas mejanya sendiri.

Darah menyembur, mengenai wajah Elara. Marcus mengejang beberapa saat, matanya membelalak kaku menatap langit-langit kabin sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Tepat pada detik ketika napas terakhir Marcus berembus, pintu ganda dek kapal dihantam terbuka dari luar.

Dante menerjang masuk dengan senjata terhunus, wajahnya dipenuhi kecemasan yang luar biasa dan napas yang memburu hebat setelah memacu mobilnya membelah badai dari kediaman utama. Di belakangnya, beberapa mobil jip pasukan inti baru saja berhenti di dermaga.

Namun, langkah Dante seketika terhenti di ambang pintu.

Di atas meja, Elder Marcus telah tewas mengenaskan dengan dada terbelah. Dan di samping jasad itu, Elara berdiri dengan tenang.

Wanita itu sedang memegang sebotol 𝘸𝘩𝘪𝘴𝘬𝘦𝘺 mahal milik Marcus yang belum dibuka, menuangkannya sedikit ke atas tangannya untuk membersihkan sisa darah yang lengket di jemarinya.

Elara menoleh lambat ke arah Dante. Di bawah temaram lampu kabin, penampilannya yang bersimbah darah terlihat sangat mengerikan sekaligus menakjubkan.

"Kau terlambat, Dante," ucap Elara, suaranya mengalun datar, begitu tenang seolah-olah ia baru saja menyelesaikan makan malam. "Tikusnya sudah mati."

Dante perlahan menurunkan senjatanya. Matanya menatap pemandangan di depannya dengan rasa takjub yang membuat dadanya terasa sesak.

"Jalanan utama diblokir anak buahnya... aku nggak bisa sampai lebih cepat," suara Dante parau, ada getaran frustrasi yang nyata di sana.

"Kamu... nggak apa-apa?"

Elara menatap Dante yang dirundung rasa bersalah. Sebuah garis senyum tipis, dingin namun puas, terbit di bibirnya. "Aku nggak apa-apa. Ayo pulang."

1
Fazira
Semangat Kak💪
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
Fazira
Cemburu yaa😍
Fazira
Gimana rasanya dipeluk Elara julian🤭
nebula🌌
elaraaa
Kustri
dikerubuti laki" hebat, kira" siapa diantara mrk yg akan jd pasangan elara🤔
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
Kustri
ck! dante, kau akan jatuh klu gk bisa mengontrol emosimu,
Kustri
kamulah yg akan mjd org pertama😤👊🪠🧹🤭
nebula🌌
"menarik"
nebula🌌
good
nebula🌌
semangaaaat..
juliaaan👍👍
nebula🌌
elaraaa
nebula🌌
wooaa elaraaaa/CoolGuy/
Fazira
Dante jangan mati dulu yaa
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
Skyline Scribe: Iyaaa👍
total 1 replies
Fazira
orang baru masuk
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
Fazira: apakah... nggak kan kak? /Sob/
total 2 replies
Fazira
ceritanya makin berat
semangat kak💪💪
Skyline Scribe: siap💪
total 1 replies
Fazira
Julian ini emang hobi provokasi orang
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
Skyline Scribe: apa yaa 🤔
total 1 replies
Fazira
jadi kepo masa kecilnya elara
Skyline Scribe: tunggu aja backstory nya elara👍
total 1 replies
Fazira
ngeri sekali thor
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..
Skyline Scribe: /Shhh//Shhh/
total 1 replies
Kustri
luar biasa thor👍
Skyline Scribe: Makasih kak😍
total 1 replies
Kustri
julian malah bikin rusuh nanti, ingin menguasai organisasi (susah nulis'a) 🤭
Kustri: dan qu suka baca karyamu thor!

untung on going bisa ngikuti ampe brp partpun, biasa'a qu klu liat lbh dr 100 agak malas
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!