SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 RAHASIA YANG TIDAK BOLEH PUNYA NAMA
Arkan menutup mata.
Sistem benar-benar tidak mengenal waktu.
Di saat Olivia Tan baru saja mengatakan bahwa orang biasa tidak akan dikejar bank, keluarga, tetangga, dan aset dalam hari yang sama, sistem masih sempat menghina kursi tua yang didudukinya.
Namun kali ini Arkan tidak membalas.
Ia terlalu sibuk memikirkan satu hal.
Rahasia.
Bukan hanya soal uang.
Bukan hanya soal bank.
Bukan hanya soal dari mana ia mendapatkan dana sebesar itu.
Melainkan soal sistem yang kini berada di kepalanya.
Jika satu orang saja tahu, hidupnya tidak akan pernah tenang. Jika ibu tahu, ia mungkin akan ketakutan. Jika Naya tahu, gadis itu bisa merasa dunia abangnya terlalu berbahaya. Jika Olivia tahu, mungkin semua akan berubah menjadi urusan hukum, penelitian, atau bahkan sesuatu yang jauh lebih rumit. Jika bank tahu, mereka akan panik. Jika musuh tahu, mereka tidak akan menyerang uangnya lagi—mereka akan memburu sumbernya.
Arkan menggenggam ponselnya lebih kuat.
Di seberang sana, Olivia masih menunggu.
“Pak Arkan?” suara perempuan itu terdengar tenang. “Apakah Bapak masih bersama saya?”
Arkan membuka mata.
“Iya.”
“Baik. Saya tahu semua ini mungkin datang terlalu cepat. Karena itu, sebelum kita bicara soal bank, rumah sakit, aset, atau properti, saya perlu memastikan satu hal. Mulai malam ini, semua informasi finansial Bapak harus memiliki satu pintu.”
Arkan menatap Bu Sari dan Naya yang masih duduk di depannya. Mereka tidak mendengar suara Olivia, tetapi jelas bisa melihat perubahan wajah Arkan.
“Satu pintu maksudnya?”
“Semua pertanyaan tentang uang, aset, pembelian, bantuan, kerja sama, dan permintaan pinjaman harus melalui Bapak atau saya. Tidak melalui ibu Bapak. Tidak melalui adik Bapak. Tidak melalui keluarga besar. Tidak melalui tetangga. Tidak melalui pihak sekolah.”
Olivia berhenti sebentar, memberi ruang agar kalimat itu benar-benar masuk.
“Uang besar sering membuat orang terdekat menjadi sasaran paling mudah.”
Arkan menatap ibunya.
Bu Sari tampak lelah. Wajahnya masih menyimpan kekhawatiran yang belum selesai. Naya juga diam, memegang mapnya di pangkuan dengan kedua tangan. Mereka berdua belum paham dunia seperti apa yang mulai mendekat ke arah keluarga kecil ini.
Arkan tidak ingin mereka menjadi sasaran.
“Baik,” jawab Arkan. “Semua lewat saya.”
“Saya juga menyarankan agar Bapak tidak memakai istilah yang terlalu besar di depan keluarga untuk sementara. Jangan menyebut nominal. Jangan menyebut total aset. Jangan mengatakan Bapak punya akses yang tidak biasa. Cukup katakan bahwa ada kerja sama investasi legal yang sedang ditangani konsultan.”
Arkan terdiam.
Kalimat itu hampir sama dengan alasan yang tadi ia buat sendiri, hanya saja versi Olivia terdengar jauh lebih rapi.
Di kepalanya, sistem berbicara datar.
[Subjek Olivia Tan mampu menyusun kebohongan legal dengan kualitas lebih tinggi.]
[Catatan: istilah yang tepat adalah narasi perlindungan.]
Arkan menarik napas.
“Kau juga menyebutnya kebohongan,” batinnya.
[Sistem hanya mengakui struktur kalimat.]
[Tetapi demi keselamatan rahasia, narasi ini diperlukan.]
Arkan menahan rahangnya agar tidak mengeras.
Rahasia.
Kata itu kembali muncul.
Olivia melanjutkan, “Pak Arkan, saya sudah menerima dokumen awal dari struktur aset yang menunjuk Bapak. Saya tidak akan menanyakan hal-hal yang belum perlu Bapak jelaskan malam ini. Tugas saya bukan menggali kehidupan pribadi Bapak. Tugas saya memastikan Bapak tidak dihancurkan oleh konsekuensi uang yang terlalu besar.”
Arkan menunduk sedikit.
Untuk sesaat, ia merasa ingin bertanya.
Apakah Olivia tahu dari mana sistem datang?
Apakah Olivia menerima dokumen itu dari siapa?
Siapa yang mengirim penunjukan itu?
Apakah ada perusahaan nyata di balik semua ini?
Namun sebelum pertanyaan itu keluar, layar ponselnya berkedip pelan. Sebuah teks sistem muncul, hanya bisa terlihat olehnya.
[Protokol Kerahasiaan Absolut aktif.]
[Identitas Sistem Triliuner Absolut tidak dapat diungkapkan kepada pihak mana pun.]
[Jika Tuan Rumah mencoba menjelaskan keberadaan sistem secara langsung, sistem akan mengalihkan informasi menjadi narasi legal yang dapat diterima.]
[Jika pihak lain melihat layar sistem, tampilan akan berubah menjadi aplikasi manajemen aset biasa.]
[Jika pihak lain mencoba melacak sumber sistem, mereka hanya akan menemukan struktur finansial legal.]
[Kesimpulan: rahasia sistem tidak akan terbongkar.]
Arkan membeku.
Matanya terpaku pada layar.
Jadi sistem sudah memiliki perlindungan sendiri.
Bukan hanya memberinya uang. Bukan hanya memberinya komentar sinis. Sistem itu juga memastikan dirinya tetap menjadi sesuatu yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun.
Olivia tidak akan tahu.
Bank tidak akan tahu.
Ibu dan Naya tidak akan tahu.
Tidak ada yang akan tahu.
Di luar sana, orang-orang boleh menebak. Mereka boleh mengira Arkan didukung investor rahasia, keluarga konglomerat tersembunyi, perusahaan asing, dana warisan, atau jaringan bisnis besar.
Mereka boleh salah sebanyak apa pun.
Sistem akan tetap tidak bernama bagi dunia.
Arkan menelan ludah.
“Pak Arkan?” Olivia memanggil lagi.
Arkan sadar ia terlalu lama diam.
“Saya mengerti,” jawabnya pelan. “Mulai sekarang, semua penjelasan lewat jalur legal.”
“Bagus. Itu keputusan pertama yang tepat malam ini.”
Di kepalanya, sistem berbicara.
[Keputusan pertama yang benar secara eksternal.]
[Keputusan pertama yang benar secara internal adalah tidak pingsan saat melihat saldo.]
Arkan hampir memejamkan mata lagi.
Olivia terdengar membuka sesuatu di seberang telepon. Mungkin dokumen. Mungkin catatan. Suaranya tetap tenang, tetapi ritmenya mulai lebih tegas.
“Besok pagi, Bapak membawa Ibu Sari ke rumah sakit mana?”
Arkan terdiam, lalu menatap ibunya.
Bu Sari langsung gelisah. “Kan, jangan yang mahal-mahal. Rumah sakit biasa saja.”
Olivia tidak mendengar suara Bu Sari dengan jelas, tetapi Arkan mendengarnya.
Sistem pun langsung memberi komentar.
[Subjek Ibu Sari masih berusaha menghemat biaya kesehatan.]
[Prioritas koreksi: tinggi.]
Arkan menatap ibunya dengan lembut, lalu berkata ke telepon, “Saya belum menentukan.”
“Kalau Bapak mengizinkan, saya akan mengatur di rumah sakit swasta terbaik di Pontianak dengan jalur prioritas tertutup. Tidak perlu antre umum. Tidak perlu banyak bicara di meja pendaftaran. Bapak datang, identitas keluarga diverifikasi, pemeriksaan berjalan.”
Bu Sari langsung menggeleng, meski tidak tahu detailnya. Naluri hematnya seperti sudah membaca arah pembicaraan.
Arkan menatap ibunya sebentar.
Lalu ia membuat keputusan.
“Atur saja.”
Bu Sari terkejut. “Kan…”
Arkan menurunkan ponsel sejenak dari telinga, lalu menatap ibunya. Suaranya lembut, tetapi tidak ragu.
“Bu, kali ini Arkan yang urus.”
Bu Sari membuka mulut, tetapi tidak jadi membantah.
Mungkin karena ia melihat sesuatu di mata Arkan.
Bukan nekat.
Bukan sombong.
Melainkan ketegasan seorang anak yang sudah terlalu lama menunda keselamatan ibunya hanya karena uang.
Arkan kembali menempelkan ponsel ke telinga.
“Besok pagi rumah sakit prioritas. Tapi tidak mencolok.”
“Dipahami,” jawab Olivia. “Saya akan hadir lebih dulu. Pihak bank juga akan saya atur agar tidak langsung mendekati Bapak sebelum saya bicara dengan mereka.”
“Bank tadi sudah menghubungi saya.”
“Saya tahu.”
Arkan mengerutkan kening. “Anda tahu?”
“Pak Arkan, mulai malam ini, setiap pihak besar yang berusaha mendekati Bapak akan terlihat dalam radar administrasi saya. Bukan karena saya mengawasi hidup pribadi Bapak, tetapi karena Bapak saat ini berada dalam fase paling rawan.”
“Rawan?”
“Ya. Orang baru kaya biasanya rawan pamer. Orang mendadak kaya biasanya rawan dimanfaatkan. Tapi Bapak lebih rumit.”
Arkan diam.
Olivia melanjutkan, “Bapak mendadak masuk kategori aset ekstrem, tetapi kehidupan sosial Bapak masih berada di lingkungan yang mengenal Bapak sebagai orang sederhana. Ketimpangan itu berbahaya. Orang akan bertanya. Orang akan curiga. Orang akan mendekat. Sebagian akan meminta. Sebagian akan menggali. Sebagian akan menyerang.”
Bu Sari dan Naya memandang Arkan tanpa suara.
Mungkin mereka tidak mendengar detail Olivia, tetapi suasana wajah Arkan cukup membuat mereka ikut tegang.
“Jadi apa yang harus saya lakukan malam ini?” tanya Arkan.
“Tidak banyak,” jawab Olivia. “Jangan keluar rumah untuk urusan tidak perlu. Jangan menjawab telepon dari nomor tidak dikenal selain yang sudah saya verifikasi. Jangan mengunggah apa pun. Jangan memberi uang kepada siapa pun. Jangan membeli apa pun secara impulsif.”
Di kepala Arkan, sistem langsung menyela.
[Tambahan: jangan makan mi instan untuk merayakan status triliuner.]
Arkan menahan napas.
Olivia melanjutkan, “Dan yang paling penting, tidurlah.”
Arkan hampir tertawa kecil, tetapi tertahan.
Tidur?
Setelah semua ini?
Setelah dalam satu sore ia dipermalukan, mendapat tiga triliun, mengetahui akses aset dua puluh lima triliun, menolak tetangga, menolak kerabat, ditelepon bank, dan sekarang mendapat pendamping legal?
Bagaimana caranya tidur?
Seolah membaca pikirannya, Olivia berkata, “Saya tahu itu terdengar sulit. Tapi besok Bapak akan mengambil banyak keputusan. Orang yang lelah mudah membuat kesalahan.”
Sistem langsung menambahkan.
[Subjek Olivia Tan kembali benar.]
[Status Tuan Rumah: lelah, bingung, masih miskin secara refleks.]
[Rekomendasi: tidur setelah makan layak.]
Arkan memilih mengabaikan bagian terakhir.
“Baik,” ucapnya kepada Olivia. “Besok pagi.”
“Saya akan mengirimkan jadwal, lokasi, dan instruksi singkat melalui pesan aman. Tolong jangan teruskan pesan itu kepada siapa pun.”
“Baik.”
“Pak Arkan.”
“Iya?”
Suara Olivia sedikit melunak, meskipun tetap profesional.
“Bapak tidak perlu menjelaskan semua hal kepada semua orang. Bahkan kepada orang yang Bapak sayangi. Kadang melindungi mereka berarti menahan sebagian kebenaran sampai mereka siap menerima bentuk yang aman.”
Arkan menatap ibunya.
Lalu Naya.
Kalimat itu membuat dadanya terasa berat, tetapi ia tahu Olivia benar.
Karena kebenaran penuh tentang sistem bukan sesuatu yang bisa mereka terima.
Bukan sekarang.
Bukan nanti.
Mungkin tidak akan pernah.
“Terima kasih,” ucap Arkan pelan.
“Sampai besok, Pak Arkan.”
Panggilan berakhir.