"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Tak terasa tiga hari sudah berlalu begitu cepat. Masa-masa adaptasi Kenzie di sekolah pun berjalan dengan sangat lancar. Sesuai janjinya, setelah tiga hari pertama mengorbankan raga menemani Kenzie bersekolah, kini Kenzie sudah bisa ditinggal mandiri di kelas batita. Tugas Gavin kini murni menjadi hot daddy siaga yang mengantar jemput Aruna dan Kenzie setiap pagi dan sore.
" Hari ini Enji, di kelas sendiri tanpa di temenin Daddy lagi. Nanti main yang baik sama teman - teman ya." Nasehat Gavin selama perjalanan menuju Children Smart School dimana Kenzie bersekolah dan tempat Aruna mengajar.
Bocah kecil mengangguk kepala kecilnya seperti mengerti dengan perkataan sang Om. Kalo mulai hari ini Ia tidak akan di temani lagi di dalam kelas oleh sang Oom.
"Good job, Boy." Ucap Gavin memberi jempol dari balik kaca spion pada Kenzie. Kalo keponakannya mengerti dengan ucapannya.
Gavin terus memberikan nasehat yang bisa di mengerti oleh sang keponakan. Di sepanjang perjalanan menuju ke sekolah. Sesekali Aruna juga menimpali nasehat yang diberikan Gavin pada keponakan mereka.
##
Hari ini adalah hari yang berbeda bagi Gavin. Setelah satu bulan penuh berkutat dengan berkas-berkas legalitas, pembagian aset, dan pengurusan perpindahan jabatan almarhum Bang Rendy ke atas namanya, Gavin akhirnya resmi menginjakkan kaki di Aditama Group sebagai CEO baru.
Pukul 08.15 WIB, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit tersebut.
Pintu kemudi terbuka. Gavin keluar dengan penampilan yang luar biasa menakjubkan. Tidak ada lagi kaus putih polos yang penuh noda cokelat atau rambut berantakan penuh tepung. Hari ini, ia mengenakan setelan jas formal tiga potong berwarna *navy* gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Rambutnya ditata rapi ke belakang, memancarkan aura tegas, berwibawa, sekaligus berbahaya.
"Selamat pagi, Pak Gavin. Selamat datang," sapa Tian, sang sekretaris, yang sudah berdiri menyambutnya di lobi dengan draf jadwal di tangannya.
"Pagi, Tian. Bagaimana situasi di atas?" tanya Gavin dingin, langkah kakinya terdengar tegas mengetuk lantai marmer lobi saat mereka berjalan menuju lift khusus direksi.
"Sesuai dugaan Anda, Pak. Kedatangan Anda hari ini memicu riak kecil di kalangan dewan komisaris dan direksi. Beberapa kepala divisi yang dulu menjadi kaki tangan almarhum Pak Rendy menyambut baik, tapi... faksi dari Pak Bramantyo tampaknya kurang menyukai pergerakan Anda," bisik Tian dengan volume suara yang sangat rendah begitu pintu lift tertutup.
Bramantyo. Gavin menyipitkan matanya tajam. Nama itu adalah salah satu nama yang masuk ke dalam daftar kecurigaan Gavin sejak pembicaraannya dengan Pak Eza tempo hari. Pria tua itu adalah salah satu direktur senior yang paling vokal mempertanyakan kapasitas Gavin memimpin perusahaan.
Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, atmosfer terasa begitu formal dan kaku. Gavin melangkah masuk ke dalam ruang kerja barunya—yang dulu merupakan ruangan milik Bang Rendy. Ia berjalan mendekati meja kerja besar dari kayu jati, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang masih menyisakan aroma parfum maskulin khas kakaknya.
Gavin mendudukkan dirinya di kursi kebesaran tersebut. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Tian yang berdiri tegak di hadapannya.
"Tian, bagaimana dengan penyelidikan rahasia yang saya minta satu bulan lalu? Ada perkembangan soal data manifes kendaraan atau laporan keuangan terakhir sebelum kecelakaan Bang Rendy?" tanya Gavin langsung pada inti masalah.
Tian melangkah maju, meletakkan sebuah draf dokumen tipis yang dilapisi map hitam tanpa logo apa pun. "Saya sudah memeriksa laporan keuangan internal, Pak. Ada kejanggalan pada aliran dana proyek di wilayah Kalimantan senilai miliaran rupiah yang disetujui tepat satu minggu sebelum kecelakaan terjadi. Dan yang lebih mengejutkan... tanda tangan Pak Rendy di berkas itu terindikasi palsu."
Jantung Gavin berdegup kencang. Tangannya mencengkeram sisi meja kerja dengan erat. Berarti peringatan Pak Eza sama sekali tidak main-main. Ada musuh dalam selimut yang sengaja memalsukan dokumen dan kemungkinan besar menyingkirkan Bang Rendy demi menutupi kejahatan mereka.
"Siapa yang bertanggung jawab atas proyek Kalimantan itu?" tanya Gavin, suaranya terdengar begitu rendah dan mengancam.
"Divisi Operasional, Pak. Dan proyek itu diawasi langsung di bawah arahan Pak Bramantyo," jawab Tian mantap.
Gavin menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyuman dingin terukir di wajah tampannya. "Menarik. Rupanya tikus-tikus ini sudah mulai kelaparan sejak Bang Rendy gak ada."
Tiba-tiba, ponsel di atas meja kerja Gavin bergetar, memecah ketegangan di dalam ruangan. Gavin melirik layarnya. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Aruna.
Aruna:
'Hari ini Kenzie pinter banget di sekolah. Gak nangis sama sekali waktu aku tinggal mengajar. Makan siangnya juga habis.'
Ting
Aruna kembali mengirim pesan berupa foto Kenzie yang sedang bermain bersama teman - temannya dan juga makan.
Melihat pesan singkat dari istrinya, raut wajah Gavin yang tadinya mengeras dan sedingin es mendadak melunak seketika. Gurat ketegangan di dahinya mengendur, digantikan oleh binar hangat yang menenteramkan. Di tengah medan perang penuh intrik yang baru saja ia masuki ini, mengetahui bahwa keponakan kecilnya baik - baik saja disana. Tak rewel karena tak ada dirinya di sisi bocah kecil itu.
Gavin mengetik balasan dengan cepat.
Gavin:
'Thanks , Mami Runa. Bilang sama Kenzie. Kalo Daddy nya lagi bekerja keras disini. Sampai jumpa nanti sore'
Gavin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap Tian kembali dengan tatapan mata yang kini dipenuhi kilat tekad yang tak tergoyahkan.
"Tian, jadwalkan rapat umum pemegang saham besok pagi. Saya mau lihat sendiri, seberapa pintar serigala-serigala itu menyembunyikan taringnya di depan saya," perintah Gavin tegas.
Langkah pertama di medan perang telah dimulai. Gavin tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh perusahaan ini, karena ini adalah benteng pertahanan terakhir yang akan ia wariskan untuk masa depan Kenzie kelak.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor