Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Sabtu Malam
"Halo, Pak."
"Halo."
Suara Evan terdengar lebih santai dari pada biasanya. Tidak seperti bos yang sedang memberi instruksi di kantor.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Mereka sama-sama sedang menikmati suasananya.
"Belum tidur?" Tanya Evan akhirnya.
"Belum."
"Saya juga."
Shana tersenyum kecil, jelas meraka belum tidur. Mereka sedang berbicara satu sama lain saat ini.
"Karena pekerjaan?"
"Hm."
Evan terdiam sejenak.
"Lalu kamu?"
Shana memandangi langit-langit kamarnya.
"Tidak tahu."
Padahal ia tahu, dan ia yakin Evan juga tahu. Namun tidak satu pun dari mereka membahasnya.
"Bagaimana kabar nenek?"
"Lebih baik."
"Syukurlah."
"Besok beliau kontrol lagi."
Shana menggangguk meskipun Evan tidak dapat melihatnya.
"Tolong sampaikan salam saya untuk nenek."
"Nanti saya sampaikan, Nenek pasti senang."
Evan terdiam sejenak, kemudian berkata pelan.
"Beliau memang sering menanyakanmu."
"Saya."
"Hm."
"Kenapa?"
Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Karena beliau menyukaimu."
Shana tidak tahu harus menjawab apa. Entah kenapa, mengetahui itu membuat perasaanya hangat.
"Kalau kau ada waktu, datanglah."
"Hah. Saya?"
"Iya."
Shana langsung duduk tegak di atas tempat tidur. Undangan itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa terasa berbeda.
"Saya tidak mau merepotkan."
"Kamu tidak merepotkan."
"Tapi..."
"Saya yakin nenek akan senang."
Begitupun dengan dirinya. Evan sangat menantinya. Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Kemudian terdengar suara Evan pelan.
"Sejujurnya..."
"Hm?"
"Saya juga ingin memperkenalkanmu dengan lebih baik kepada beliau."
Deg.
Shana langsung menahan panas.
"Bagaimana kalau sabtu malam ini? kamu ada acara kah?"
Shana menggeleng. "Sepertinya tidak ada."
"Kalau kamu tidak ada acara, saya akan ajak kamu menemui nenek."
Deg.
Jantung Shana berdetak semakin cepat. Ini bukan lagi sekedar salam, bukan lagi sekedar basa basi. Melainkan undangan yang benar-benar serius.
"Boleh saya memastikan jadwal saya dulu pak?"
"Tentu." Jawab Evan, walau di dalam hatinya, ia sangat berharap satu hal. Semoga Shana bisa.
***
Keesokan paginya, Shana terbangun dengan perasaan yang aneh. Ia teringat obrolan dengan bosnya semalam. Dengan undangannya itu.
"Sabtu malam." Gumamnya pelan dan bergegas merapikan diri.
Di sisi lain, Evan baru saja selesai sarapan bersama neneknya. Nenek memperhatikan cucunya yang terlihat lebih santai dibanding sebelumnya.
"Sepertinya, kamu sedang senang."
Evan mengangkat kepala.
"Kenapa nenek berpikir begitu?"
"Karena dari tadi kamu tersenyum sendiri."
Evan hampir tersedak kopinya
"Nenek berlebihan."
"Oh ya?"
"Ya Nek."
"Memangnya apa yang terjadi kemarin? kau dan Shana?"
Kali ini Evan benar-benar tersedak.
"Tidak ada."
"Bohong. Kau sudah menggenggam tangannya?"
"Nek, ayolah. Cukup Nek."
"Sudah menciumnya?"
Evan membeku, kenapa semua tebakan neneknya benar.
"Ah, pasti tebakan nenek benar semua."
"Tidak, tidak sepenuhnya benar."
Evan belum benar-benar menciumnya. Kemaren itu sebuah kecelakaan yang tak disengaja.
"Kapan kau akan membawanya ke Nenek."
Evan menghela napas panjang.
"Nenek menyukainya."
"Evan tahu."
"Kalau begitu jangan lama-lama."
"Nenek..."
"Kalau terlalu lama nanti diambil orang."
Kalimat itu membuat Evan teringat dengan Arka. Entah kenapa, ia langsung tidak menyukainya.
***
Sesampainya di kantor Shana berusaha bersikap normal. Sayangnya, takdir tampaknya tidak berpihak padanya. Karena begitu pintu lift terbuka, orang yang pertama dilihatnya adalah Evan.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Deg.
Jantung Shana kembali melakukan hal yang sama seperti kemarin.
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi."
Hening. Ia merasa selalu gugup jika bersama dengan Evan, apalagi hanya berdua saja.
Bahkan melihat bayangannya di pintu lift saja sudah membuatnya salah tingkah. Tepat ketika ia sedang berusaha fokus pada angka lantai yang bergerak naik, suara Evan terdengar.
"Kamu sudah memikirkannya?"
Shana langsung menoleh. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, hingga membuatnya sedikit panik.
"Hah?"
"Undangan saya."
"Oh..."
Shana langsung teringat dengan percakapan mereka semalam, tentang nenek. Dan tentang bagaimana ia terus memikirkannya sejak bangun tidur.
"Saya..."
Pintu lift tiba-tiba terbuka, beberapa karyawan masuk. Shana langsung menghela napas lega, karena memiliki alasan untuk tidak membicarakannya.
Namun, Evan rupanya belum menyerah. Pria itu berdiri di sampingnya menunggu jawaban.
"Jadi..."
Beberapa karyawan mulai memperhatikan mereka. Tidak ada yang berani bersuara, hanya suara Evan yang terdengar. Situasi ini justru membuatnya semakin panik.
"Kalau bisa..."
"Apa?"
"Saya akan memberi tahu nenek."
Shana terdiam.
"Nenek menunggu. Baliau sudah bertanya tiga kali sejak pagi."
"Hah, tiga kali."
Pintu lift kembali terbuka di lantai mereka.
Saat semua orang mulai keluar, Evan sengaja memperlambat langkahnya hingga hanya mereka berdua yang tersisa.
"Kau bisa datang?"
Shana menatap pria itu beberapa saat. Lalu menghela napas kecil.
"Baiklah."
Evan mengangkat alis.
"Baiklah apa?"
"Saya bisa."
Sudut bibir Evan terangkat, ia tersenyum.
"Oke..." Jawab Evan singkat.
***
Di ruang kerjanya, Evan baru saja duduk ketika ponselnya bergetar. Pesan dari nenek.
Sudah dijawab?
Evan menggeleng pelan. Lalu membalas singkat.
Sudah.
Kurang dari lima detik, balasan masuk.
Dia mau datang?
Evan tersenyum tipis
Mau
Tiga titik muncul cukup lama. Lalu pesan berikutnya membuat Evan memijat pelipisnya.
Bagus, nenek mulai cari tanggal pernikahan ya?
"Evan..."
Suara Arka tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Evan buru-buru mengunci layar ponselnya. Arka masuk dengan wajah penuh curiga.
"Ada apa? Kenapa masuk tidak mengetuk dulu."
Arka tersenyum, lalu melangkah menuju Evan.
"Aku mengganggu mu?"
"Ya..."
"Kau sedang memikirkan Shana." Tebak Arka kemudian dan membuat Evan terkejut.
"Katakan apa maumu?"
Arka menyeringai lebar. Lalu menyerahkan sebuah berkas ke Evan.
"Dokumen yang kau minta."
Evan menerimanya.
"Kenapa kau yang mengantar dokumen ini sendiri?"
Pertanyaan itu membuat Arka terkekeh.
"Nah, ini pertanyaan yang bagus."
"Lalu."
"Karena aku ingin bertemu dengan Shana."
Evan langsung menatapnya.
"Aku ingin mengajaknya makan siang."
"Kalian tidak sedekat itu."
"Makanya mau didekatkan."
Evan memijat pelipisnya. Sedangkan Arka terlihat senang.
"Oke, aku pergi dulu."
"Arka."
"Hm."
"Jangan macam-macam."
Arka tertawa.
"Terlambat."
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭