NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Jejak Api Di Jalan Yang Salah

Pegunungan Cang Lei menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat di permukaannya.

Hal itu disadari Lin Chen pada hari kedelapan belas sejak ia memasuki pegunungan tersebut.

Saat menjelajahi wilayah yang belum pernah ia datangi sebelumnya, ia menemukan sesuatu yang tidak tercantum dalam peta sederhana miliknya.

Sebuah jalan setapak.

Jalan itu tampak baru saja dilalui.

Tanah di sepanjang jalurnya memperlihatkan jejak pijakan yang masih jelas. Beberapa ranting patah menggantung di antara pepohonan, menunjukkan bahwa seseorang bergerak cepat menggunakan teknik pergerakan tubuh.

Namun yang paling menarik perhatian Lin Chen adalah bekas hangus di sisi jalan.

Panjang bekas bakaran itu hampir tiga meter.

Pola yang ditinggalkan tidak beraturan, tetapi jelas bukan hasil kebakaran alami.

Lin Chen berjongkok dan mengamatinya dengan saksama.

Ia menyentuh bagian tepi tanah yang menghitam menggunakan ujung jarinya.

Sudah dingin.

Artinya kejadian tersebut berlangsung beberapa jam yang lalu.

Tetapi ada sesuatu yang membuatnya mengernyit.

Cara tanah itu terbakar berbeda dari biasanya.

Api biasa akan membakar dari luar ke dalam.

Sedangkan bekas ini terlihat seolah ledakan panas berasal dari satu titik pusat lalu menyebar ke segala arah.

Bekas penggunaan teknik energi spiritual.

Dan bukan teknik biasa.

Tatapan Lin Chen menjadi lebih serius.

Saat itu juga, Api Phoenix di dalam tubuhnya berdenyut pelan.

Sebuah reaksi yang tidak pernah muncul tanpa alasan.

Ia berdiri perlahan, kemudian memperluas indranya.

Energi spiritual di sekitarnya segera mengalir ke dalam persepsinya.

Beberapa saat kemudian, ia merasakan sesuatu.

Aura.

Sangat samar.

Namun cukup jelas untuk dikenali.

Aura itu berbeda dari energi kultivator biasa.

Ada lapisan khusus di dalamnya, dan terasa sangat familiar.

Jantung Lin Chen berdegup lebih cepat.

Karena ia mengenali sumber perasaan itu.

Phoenix. Salah satu Phoenix yang bereinkarnasi.

Tanpa membuang waktu, Lin Chen mulai mengikuti jejak tersebut.

Ia tidak terburu-buru.

Berlari sembarangan di dalam hutan yang belum dikenalnya hanya akan mengundang masalah.

Karena itu ia tetap bergerak dengan hati-hati sambil menjaga kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.

Semakin jauh ia melangkah, semakin jelas aura itu terasa.

Seolah ada benang tak kasat mata yang menariknya menuju satu tujuan.

Sekitar setengah jam kemudian, langkahnya mendadak terhenti.

Ia mendengar suara ledakan dari kejauhan.

Disusul suara benturan keras.

Lalu suara batu yang pecah.

Di antara semua kebisingan itu, terdengar suara seseorang yang berteriak.

Namun teriakan tersebut tidak dipenuhi ketakutan.

Sebaliknya, terdengar penuh kemarahan dan perlawanan.

Suara seseorang yang menolak menyerah meskipun berada dalam posisi terdesak.

Mata Lin Chen menyipit.

Tanpa sadar ia mempercepat langkahnya.

Beberapa saat kemudian, ia melewati dua pohon besar dan tiba di tepi sebuah area terbuka.

Pemandangan di hadapannya langsung membuatnya memahami situasi.

Sebuah pertarungan sedang berlangsung.

Dan jumlah lawannya tidak seimbang.

Satu melawan tiga.

Di tengah area terbuka itu berdiri seorang gadis muda.

Rambut merah gelapnya berkibar tertiup angin.

Pakaian putih yang dikenakannya telah robek dan hangus di beberapa bagian akibat pertempuran.

Di kedua tangannya berputar nyala api berwarna biru keputihan.

Indah. Namun juga mematikan.

Setiap gerakannya cepat dan agresif.

Ia menyerang tanpa ragu sedikit pun.

Seolah kemarahan di dalam dirinya telah berubah menjadi bahan bakar bagi seluruh teknik yang digunakannya.

Tetapi Lin Chen segera menyadari sesuatu.

Aura gadis itu tidak stabil. Energi spiritualnya berfluktuasi dengan jelas.

Tanda bahwa ia telah bertarung terlalu lama dan cadangan energinya hampir habis.

Jika keadaan terus berlanjut, kekalahannya hanya tinggal menunggu waktu.

Pandangan Lin Chen kemudian beralih kepada tiga lawannya.

Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang tengkorak perak di lengan kiri.

Lambang itu langsung dikenali oleh Lin Chen.

Sekte Tengkorak Perak.

Sebuah sekte yang namanya tersimpan dalam pengetahuan warisan Phoenix.

Secara resmi mereka adalah sekte kultivasi.

Namun banyak orang mengetahui bahwa sebagian besar kegiatan mereka tidak jauh berbeda dari kelompok perampok.

Mereka sering memburu harta langka, merampas milik orang lain, lalu menjualnya kepada siapa pun yang mampu membayar.

Moral bukanlah sesuatu yang mereka pedulikan.

Dan saat itu, jelas bahwa target mereka bukan sekadar harta biasa.

Tatapan Lin Chen kembali tertuju kepada gadis berambut merah itu.

Api biru keputihan yang mengelilinginya.

Aura yang terasa begitu familiar.

Dan reaksi kuat dari Api Phoenix di dalam tubuhnya.

Tidak ada keraguan lagi.

Gadis itu adalah salah satu dari delapan Phoenix yang bereinkarnasi.

Takdir yang diceritakan dalam warisan akhirnya mulai bergerak.

Lin Chen mengembuskan napas perlahan.

Ia sudah cukup lama mengamati.

Sudah cukup informasi yang dikumpulkan.

Sudah cukup waktu terbuang.

Tanpa ragu, ia melangkah keluar dari balik pepohonan.

"Hei."

Satu kata sederhana.

Namun cara Lin Chen mengucapkannya membuat suasana di area terbuka itu seketika berubah.

Tiga anggota Sekte Tengkorak Perak langsung menoleh ke arahnya.

Sementara gadis berambut merah itu tidak memalingkan kepala, tetapi dari perubahan sikap tubuhnya, Lin Chen tahu bahwa gadis tersebut sudah menyadari kehadirannya.

Pemimpin kelompok itu menatap Lin Chen dari ujung kepala hingga kaki.

Tubuhnya besar dan kekar, dengan rahang tegas serta tatapan seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa banyak perlawanan.

Setelah beberapa saat mengamati, ia berkata singkat,

"Pergi."

Nada suaranya dingin dan penuh peringatan.

"Ini bukan urusanmu."

Lin Chen mengangguk pelan. "Itu benar."

Ia melirik sekilas ke arah gadis berambut merah yang masih bersiap bertarung.

"Tapi aku juga tidak punya kebiasaan membiarkan tiga orang mengeroyok satu orang begitu saja, apalagi itu seorang gadis."

Alis pria itu berkerut.

Ia segera memeriksa aura Lin Chen dengan lebih saksama.

Beberapa saat kemudian, seringai tipis muncul di wajahnya.

Karena yang ia rasakan hanyalah aura seorang kultivator Tingkat Kebangkitan Roh.

Tidak lebih.

"Jadi hanya itu?" Ia tertawa sinis. "Seorang kultivator Kebangkitan Roh berani ikut campur?"

Tatapannya berubah dingin.

"Bunuh dia."

Perintah itu langsung dijalankan.

Salah satu anggota Sekte Tengkorak Perak melesat maju.

Tubuhnya bergerak begitu cepat hingga meninggalkan bayangan samar di belakangnya.

Teknik pergerakan yang digunakannya jelas berada di tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kultivator Kebangkitan Roh biasa.

Jarak antara mereka menyusut dalam sekejap.

Namun Lin Chen tidak mundur.

Ia tetap berdiri di tempat.

Saat lawannya mendekat, energi Phoenix langsung mengalir menuju telapak tangannya.

Nyala api merah keemasan muncul seketika.

Tanpa ragu, Lin Chen melepaskannya.

Bola api itu tidak terlalu besar, hanya sebesar kepala manusia.

Namun energi yang terkandung di dalamnya jauh melampaui ukurannya.

Api merah tua berputar mengelilingi inti emas yang berkilauan seperti logam cair.

Saat bola api itu melesat ke depan, kultivator yang menyerang tiba-tiba merasakan sesuatu.

Sebuah tekanan yang sangat berbahaya.

Instingnya langsung berteriak memberi peringatan.

Tubuhnya bergerak secara refleks.

Ia membatalkan serangan dan melompat ke samping.

Bola api itu melewati tubuhnya dan menghantam sebuah pohon besar di belakangnya.

Ledakan tidak terjadi, namun hasilnya jauh lebih mengerikan.

Bagian batang yang terkena langsung berubah menjadi merah membara.

Dalam hitungan detik, api menyebar ke seluruh bagian dalam pohon.

Empat detik kemudian, pohon raksasa itu roboh dengan suara keras.

Yang tersisa hanyalah kayu hangus dan bara api yang masih menyala.

Keheningan menyelimuti area terbuka tersebut.

Kali ini berbeda dari sebelumnya.

Bahkan anggota Sekte Tengkorak Perak yang tadi menyerang mundur beberapa langkah tanpa sadar.

Matanya bergantian menatap pohon yang terbakar dan Lin Chen.

"Apa itu tadi...?"

Suara pria itu terdengar tidak percaya, bahkan Pemimpin kelompok mereka juga tidak lagi terlihat santai.

Tatapannya menjadi jauh lebih serius. "Dari mana kau mempelajari teknik itu?"

Lin Chen menjawab dengan tenang. "Anggap saja hadiah dari seseorang."

Ia menatap ketiga orang itu satu per satu.

Tatapannya tidak mengandung ancaman berlebihan, namun justru ketenangan itu membuat mereka semakin waspada.

"Kalau kalian pergi sekarang, aku tidak akan mengejar."

Lin Chen berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi kalau tetap ingin bertarung..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Pohon yang masih terbakar di belakangnya sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.

Ketiga anggota Sekte Tengkorak Perak saling berpandangan.

Mereka mulai menghitung ulang situasi.

Secara logika, tiga kultivator Tahap Pembentukan Inti seharusnya mampu mengalahkan seorang kultivator Kebangkitan Roh tanpa kesulitan.

Namun teknik yang baru saja mereka saksikan sama sekali tidak masuk akal.

Dan yang lebih mengganggu adalah aura yang dipancarkan Lin Chen.

Aura itu membuat naluri mereka terus memberikan peringatan.

Setelah beberapa saat berpikir, pemimpin kelompok akhirnya mengambil keputusan.

"Kita mundur."

Nada suaranya terdengar tenang.

Namun semua orang tahu bahwa itu adalah keputusan untuk menghindari risiko yang tidak perlu.

Ia menatap Lin Chen sekali lagi.

"Laporkan kepada Tetua."

"Phoenix memang ada di wilayah ini."

Tatapannya menyipit.

"Dan sekarang ada seorang pemuda misterius dengan teknik yang tidak dikenal."

Sesaat kemudian, ketiganya mengaktifkan teknik pergerakan mereka.

Tubuh mereka menghilang di antara pepohonan.

Dalam beberapa detik, tidak ada lagi jejak keberadaan mereka.

Hutan kembali tenang.

Lin Chen mengembuskan napas perlahan.

Begitu para anggota Sekte Tengkorak Perak pergi, ia langsung merasakan kelelahan yang tertahan sejak tadi.

Satu serangan barusan telah menguras hampir seperempat cadangan energinya.

Kekuatan Phoenix memang luar biasa.

Tetapi tingkat kultivasinya masih terlalu rendah untuk menggunakannya tanpa batas.

Ia menenangkan napasnya sebelum akhirnya menoleh ke arah gadis berambut merah itu.

Api biru keputihan di kedua tangan gadis tersebut masih menyala.

Tatapannya tetap tajam dan penuh kewaspadaan.

Tidak ada rasa terima kasih.

Tidak ada kelegaan.

Seolah Lin Chen bukan penyelamat, melainkan masalah baru yang muncul setelah masalah lama pergi.

Beberapa saat mereka saling menatap dalam diam.

Kemudian gadis itu membuka mulutnya.

"Kau siapa?" Nada suaranya tajam.

Lebih mirip seseorang yang sedang menginterogasi daripada seseorang yang baru saja dibantu.

Lin Chen tidak merasa terganggu.

Sebaliknya, ia justru menganggap reaksi itu cukup menarik.

Ia menjawab dengan tenang,

"Namaku Lin Chen."

Kemudian ia menatap mata gadis itu.

"Kalau kau?"

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!