NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kisah Masa Lalu

Rania keluar dari rumah sakit siang harinya. Semua proses diurus sendiri oleh Arya. Sementara Salsa harus pergi ke kampus karena ada kuliah pagi. Kejadian malam tadi tidak ada satu orang pun yang membicarakannya. Bahkan orang tua Rania juga tidak menghubunginya sama sekali, termasuk juga dengan Dewi.

Sesampainya di rumah, Ia melihat orangtuanya sedang menonton televisi di ruang santai. Sang ibu melihat Rania masuk dan mendapati wajah putrinya begitu pucat. Lalu Ia melihat punggung tangan Rania yang terdapat perban kecil.

"sayang, kamu kenapa? ini tangannya kenapa?" Hanum bertanya dengan panik meraih tangan Rania. Tidak mendapatkan jawaban dari Rania, ia melihat ke arah Arya dengan raut wajah penuh tanya. Begitu juga dengan ayah Rania.

"maaf Bu, yah, Arya ga becus jagain Rania. Tadi malam dia jatuh ke kolam dan ini baru saja keluar dari rumah sakit."

"kenapa tidak bilang?" tanya Bagaskara dengan suaranya yang menggelegar membuat Rania dan Arya cukup terkejut.

"ayah, jangan buat Rania terkejut," tegur sang istri.

"Aku yang minta Arya buat jangan bilang ke kalian, maaf," dustanya.

Rania merasa berhutang budi kepada Arya. Jika sampai masalah ini diketahui, Arya pasti akan menjadi sasaran kemarahan sang ayah. Jika sampai itu terjadi, terasa seperti membalas air susu dengan air tuba.

"ya sudah, istirahat ke kamar ya. Nanti ibu antar makanan."

Setelah mengantar Rania, Arya langsung pulang ke rumahnya sendiri lalu membuka laptop untuk mendengarkan apa yang sedang dilakukan oleh Rania.

Sementara itu Rania langsung mengirim pesan ke Salsa untuk menceritakan seluruh kejadian setelah dirinya pingsan. Saat di rumah sakit tadi Salsa belum sempat cerita seluruh kejadiannya karena Arya keburu datang.

Beberapa saat kemudian, Salsa mengirim tangkapan layar dari sebuah pesan dari temannya. Di situ tertulis jelas bagaimana kronologi sejak Arya pergi membawanya ke rumah sakit hingga ia kembali lagi untuk menghukum Feli. Bulu kuduk Rania berdiri saat membayangkan hal itu. Sebelumnya ia hanya mendengar kekejaman Arya dari cerita Salsa. Tapi kini ia harus mendengar kejadian asli yang baru saja terjadi. Dulu ia hanya kedinginan semalaman dan berakhir demam. Tapi kali ini satu nyawa melayang untuk ditukar dengan nasibnya.

"kalau pasrah aku yang mati, kalau mengubahnya maka orang lain yang mati," gumamnya lirih.

Arya yang mendengar itupun semakin bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Rania. Tebakan gadis itu sebelumnya tentang kambing hitam yang dibawa oleh Dona sudah benar, dan kali ini gadis itu membicarakan tentang nyawanya sendiri. Akhirnya ia meminta seseorang untuk menyelidiki apa yang terjadi akhir-akhir ini. Mendengar tentang kemungkinan kematian Rania dari mulut Rania sendiri membuatnya merasa takut. Jika hari itu benar-benar datang, mungkin ia akan gila dan tidak sanggup bertahan hidup lagi.

Dulu saat Arya masih kecil dan belum paham apapun, sebuah kecelakaan merenggut sosok ayah dan ibunya. Bahkan setelah kejadian itu sampai sekarang ia tidak mengingat wajah orang tuanya sama sekali. Arya hanya bisa mengingatnya melalui sebuah album foto.

Tempatnya tinggal merupakan sebuah perumahan elit, tidak ada kedekatan antara para tetangga. Arya hanya hidup bertiga dengan seorang pengasuh dan asisten sang ayah. Sejak proses upacara pemakaman, ia tertarik dengan seorang gadis kecil dengan wajah bulatnya. Senyumnya sangat cerah dan juga sangat cerewet. Membawa angin segar diantara wajah sendu dan tangisan dari para pelayat yang lain. Semua orang menatapnya kasihan, tapi gadis kecil itu tersenyum kepadanya.

Setelah proses pemakaman selesai, rumahnya menjadi begitu sepi dan dingin. Dulu meskipun sendirian, ia masih memiliki tujuan untuk menunggu orang tuanya pulang. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang bisa ditunggunya.

TING TONG!

Bel rumahnya berbunyi menggema di seluruh penjuru rumah. Arya mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu. Lalu sosok gadis kecil berlari masuk ke dalam. Terlihat seperti matahari yang menyinari dunia gelapnya.

"Arya Arya, aku bawa kue. Arya ayo makan kue bareng, ini enak lohh."

"heem."

Rania kecil membuka bungkus kuenya tapi malah terbalik dan jatuh ke lantai membuatnya tidak bisa dimakan lagi. Wajahnya langsung berubah dan air mata menggenang di mata bulatnya. Hidung dan pipinya memerah lalu suara tangisan terdengar memecah sunyi.

"sayang ada apa?"

"ibuu, kuenya jatuh huaa. Rania mau makan kue sama Arya ibuu."

Sang ibu tersenyum lalu mengusap kepala Rania.

"kebiasaan kan kamu, makanya pelan-pelan kalau mau ngapa-ngapain."

"terus gimana? nanti Arya kelaparan."

"ibu punya kue satu lagi, ibu saja yang buka ya biar nggak jatuh lagi."

Arya melihat pemandangan di depannya dalam diam. Ia merasa hatinya sakit dan tenggorokannya tercekat. Tapi ada rasa hangat juga yang ia rasakan. Melihatnya hanya diam saja, Bagaskara menghampiri Arya lalu menggendongnya.

"ayo kita pindah ke meja makan untuk makan kue."

"ayo ayo ayo," jawab Rania dengan penuh semangat lalu menarik tangan ibunya.

Kue strawberry terhidang di atas meja. Rania memakannya dengan begitu bahagia, sedangkan Arya hanya melihatnya saja. Ia merasa begitu asing dengan suasana di rumahnya.

"Arya tidak suka kue? kalau tidak suka, kuenya buat Rania semua ya."

Arya mengangguk dan hampir saja ia mendorong piring kuenya ke arah Rania. Tapi teguran dari ibu dan ayah Rania membuatnya menghentikan gerakannya.

"Rania jangan begitu ya, kamu sudah punya bagian sendiri. Arya juga punya bagian sendiri, jangan direbut."

"iya ibuu."

Arya kecil mencoba menyuapkan kue itu ke mulutnya dan rasanya sangat enak. Krimnya yang begitu lembut dan manis ditambah rasa dan wangi strawberry membuat hatinya tiba-tiba terasa senang.

"Arya suka?"

"suka.. mm tante?"

"panggil ibu saja," ucap Hanum. Lalu Bagaskara ikut menyaut, "dan ayah."

"ibu? ayah?"

"iya, mulai sekarang kalau butuh apa apa boleh ke ibu dan ayah ya."

Setelah berada di rumah Arya cukup lama, Rania digendong oleh sang ayah karena sudah tertidur lalu mereka pulang. Sebelum pulang, ibunya Rania sempat mengobrol sebentar dengan asisten ayahnya. Lalu sejak itu, mereka berdua menjadi walinya untuk semua urusan. Dan sejak itu juga ia suka sekali berada di dekat Rania. Selalu mencari cara agar setiap hari bisa bertemu untuk waktu yang lama. Selalu meminta agar bisa berada di sekolah dan kelas yang sama.

Rania pun selalu menempel dan membuntutinya hingga ia dewasa. Emosinya selalu terlihat begitu jelas jika itu menyangkut dengan dirinya. Tapi semuanya berubah secara tiba-tiba sejak hari itu. Tidak pernah ia lihat Rania bersikap dingin dan ketus kepadanya. Bahkan tidak pernah terbayangkan sekalipun hari itu akan tiba. Bahkan tidak hanya dingin dan ketus, tapi Rania terang-terangan menolak dan mengusirnya seperti sampah.

"apa yang sebenarnya terjadi? dimana salahnya?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil mengusak rambutnya. Ia mulai merasa cukup frustasi karena perubahan sikap Rania yang begitu drastis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!