.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN
Suasana tenang di Paviliun Awan Surgawi tidak bertahan lama. Di atas meja jati yang terletak di ruang depan, tumpukan surat undangan bersampul sutra emas dan beraroma wewangian mahal terus bertambah tinggi. Surat-surat itu datang dari berbagai faksi paling berpengaruh di Ibu Kota: para pangeran yang haus kekuasaan, klan menteri senior, hingga asosiasi kultivator elite. Semua memiliki satu tujuan—mencari tahu apakah Tuan Muda Keluarga Ji ini benar-benar seekor naga yang menyamar atau sekadar pemuda beruntung yang menipu dunia.
Di dalam kamar, Ji Huang sedang berguling malas di atas kasur bulu angsa tiga jengkalnya. Dia baru saja menemukan posisi bantal yang sempurna untuk menopang lehernya ketika Xiao Cui melangkah masuk dengan wajah cemas, membawa nampan penuh surat-surat emas tersebut.
"Tuan Muda," panggil Xiao Cui dengan suara sangat pelan. "Tumpukan surat ini... ini semua undangan perjamuan malam untuk Anda. Pangeran Kedua, Pangeran Ketiga, dan Perdana Menteri secara khusus mengirimkan pelayan pribadi mereka untuk menunggu jawaban Anda di luar gerbang penginapan."
Ji Huang menarik selimut sutranya hingga menutupi telinga. "Bakar saja semuanya, Xiao Cui. Bilang pada mereka kalau aku sedang sibuk mengurusi proyek penting bersama Dewa Tidur. Berganti pakaian dari jubah tidur ke jubah resmi kekaisaran membutuhkan energi fisik yang sangat besar. Aku menolak bergerak."
"Tapi Tuan Muda!" Xiao Cui membaca salah satu surat dengan mata berbinar. "Undangan dari Pangeran Ketiga ini menyebutkan bahwa malam ini di kediamannya akan disajikan Arak Nektar Dewa berusia seratus tahun yang diambil langsung dari ruang bawah tanah istana kuno. Katanya, arak itu memiliki rasa manis buah persik surga yang tidak tertandingi dan tidak mengandung rasa pahit energi spiritual sama sekali!"
SRET!
Selimut sutra Ji Huang mendadak ditarik turun. Sepasang mata sayunya yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar. Aroma arak manis berusia seratus tahun tanpa kontaminasi Qi pahit? Itu adalah jenis cairan yang sangat langka di dunia fana yang membosankan ini.
Ji Huang menegakkan tubuhnya, menghela napas panjang dengan wajah pasrah yang dibuat-buat. "Aduh... Pangeran Ketiga ini benar-benar tidak punya tenggang rasa. Dia sengaja memancing jiwa suciku dengan godaan duniawi yang berat. Demi menghormati kerja keras para pembuat arak kuno itu, terpaksa aku harus mengorbankan waktu rebahan malamku. Siapkan jubah paling longgar yang kita punya, Xiao Cui. Aku tidak mau perutku kesempitan saat minum."
Dua jam kemudian, Ji Huang tiba di Kediaman Pangeran Ketiga. Aula perjamuan malam itu luar biasa megah, diterangi oleh ratusan lampion batu giok yang memancarkan cahaya lembut. Meja-meja rendah dari kayu cendana berjejer penuh dengan makanan mewah, dan ruangan itu sudah dipenuhi oleh para jenius muda dari berbagai klan militer dan sekte besar Ibu Kota.
Kedatangan Ji Huang langsung memicu keheningan sesaat. Namun, alih-alih tampil berwibawa seperti pendekar besar yang ditakuti di Lembah Angin Hitam, Ji Huang berjalan dengan langkah diseret, jubah sutra birunya sengaja tidak diikat kencang agar longgar, dan matanya terus berputar mencari letak botol Arak Nektar Dewa.
Dia langsung duduk di kursi yang disediakan, mengabaikan tatapan selusin pasang mata yang menatapnya dengan campur aduk antara penasaran dan tidak suka. Di seberang mejanya, duduk seorang pemuda tampan dengan jubah putih bersulam perak. Dia adalah Zhao Feng, jenius nomor satu di Ibu Kota dari Klan Militer Zhao, yang baru saja menembus ranah Foundation Establishment tingkat dua pada usia muda.
Zhao Feng yang merasa reputasinya sebagai jenius terancam oleh desas-desus tentang "Pendekar Sumpit", langsung mengangkat cangkir gioknya dengan senyuman dingin.
"Tuan Muda Ji Huang, nama Anda benar-benar menggemparkan Ibu Kota akhir-akhir ini," kata Zhao Feng, suaranya lantang hingga menarik perhatian seluruh isi aula. "Namun, dunia kultivasi adalah tentang pembuktian murni, bukan sekadar cerita dongeng dari para bandit penakut di lembah. Kudengar Anda pandai berpuisi atau... mungkin menggunakan alat tulis sehari-hari untuk bertarung? Bagaimana kalau malam ini Anda menunjukkan sedikit kemampuan Anda untuk menghibur kami semua di sini?"
Beberapa jenius muda di sekitar Zhao Feng terkekeh mengejek, ikut memprovokasi. Mereka yakin cerita tentang sumpit di Lembah Angin Hitam hanyalah hiperbola yang sengaja dibesar-besarkan oleh Keluarga Ji demi menakuti lawan.
Ji Huang sama sekali tidak mendengarkan ucapan Zhao Feng. Perhatiannya saat ini seratus persen tersita oleh sepiring bebek panggang madu dingin dan cawan berisi Arak Nektar Dewa yang baru saja dituang oleh pelayan.
SLUURP!
Ji Huang meneguk arak tersebut. Matanya langsung berbinar cerah. "Wah! Manis sekali! Benar-benar tidak ada rasa pahit obat. Ini baru arak yang berkualitas," gumamnya senang. Dia kemudian mengambil sepotong daging bebek dengan tangan kosong, memasukkannya ke dalam mulut, dan mulai mengunyah dengan nikmat.
Melihat dirinya diabaikan sepenuhnya demi sepotong daging bebek, wajah tampan Zhao Feng langsung berubah menjadi merah padam karena murka. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum.
BANG!
Zhao Feng menggebrak meja kayu cendananya hingga cangkir-cangkir di atasnya bergetar. "Ji Huang! Jangan berlagak tuli! Aku, Zhao Feng, menantangmu untuk bertukar jurus! Jika kamu tidak berani, akui saja di depan Pangeran Ketiga bahwa semua rumor tentangmu di Lembah Angin Hitam adalah kebohongan fana yang memalukan!"
Zhao Feng menarik pedang pusaka dari pinggangnya—sebuah pedang tingkat tinggi bernama Pedang Angin Perak yang memancarkan aura spiritual tajam dan dingin.
Ji Huang menghentikan kunyahannya. Dia menatap Zhao Feng dengan pandangan yang sangat, sangat terganggu. Di dalam mulutnya, dia sedang memisahkan sepotong tulang rawan bebek dari sisa dagingnya.
Berisik sekali anjing kota ini, batin Ji Huang jengkel. Kenapa orang-orang di dunia ini hobi sekali berteriak saat orang lain sedang menikmati minuman manis? Benar-benar merusak suasana.
Karena terlalu malas untuk bangkit berdiri, apalagi mengeluarkan sumpit bambu, Ji Huang hanya memajukan bibirnya sedikit. Dengan gerakan santai seperti orang yang sedang membuang sampah makanan dari mulutnya, Ji Huang menyemburkan tulang rawan bebek kecil yang ada di lidah fisiknya ke arah Zhao Feng.
WUSH—!!!
Sebuah fenomena yang mengerikan terjadi dalam sekejap mata. Tulang rawan bebek yang ukurannya tidak lebih besar dari sebutir kacang itu, saat lepas dari bibir Ji Huang, mendadak dilapisi oleh Maksud Pedang Mutlak yang tidak kasat mata. Ruang di dalam aula perjamuan seolah-olah terbelah menjadi dua saat objek kecil itu melesat membelah udara dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan kultivator biasa.
Zhao Feng bahkan tidak sempat berkedip, apalagi menggerakkan energinya untuk bertahan.
PING!!!
Suara dentang logam yang sangat nyaring bergema, disusul oleh suara retakan yang tajam. Pedang Angin Perak—senjata pusaka yang dirumorkan tidak bisa dihancurkan oleh besi biasa—mendadak patah menjadi dua bagian tepat di tengah bilahnya akibat dihantam oleh sepotong tulang rawan bebek!
Sisa momentum dari serangan tersebut menciptakan gelombang angin pedang yang sangat besar, menghantam dada Zhao Feng hingga pemuda jenius itu terpental ke belakang bersama kursinya, menabrak tembok aula dengan keras sebelum akhirnya merosot ke lantai dalam kondisi linglung dan syok mental yang luar biasa.
TUK.
Potongan tulang rawan bebek itu akhirnya jatuh dengan tenang di atas lantai lantai marmer, sama sekali tidak hancur atau tergores, seolah-olah benda itu baru saja dijatuhkan oleh seorang koki dari meja dapur.
Seluruh aula perjamuan malam Pangeran Ketiga mendadak berubah menjadi sunyi senyap, pekat bagaikan kuburan kuno. Para pangeran, menteri, dan jenius yang tadinya tersenyum mengejek, kini membatu di kursi mereka masing-masing dengan wajah seputih kertas. Rahang mereka jatuh bebas ke lantai, mata mereka menatap potongan tulang bebek di lantai dan pedang patah milik Zhao Feng bergantian dengan pandangan penuh horor yang mutlak.
Menghancurkan pedang pusaka seorang kultivator ranah Foundation Establishment dengan sumpit bambu sudah dianggap mitos gila. Tapi malam ini... pemuda bermata sayu itu melakukannya hanya dengan menyemburkan tulang sisa makanan dari mulutnya sambil duduk santai?!
Ji Huang mengabaikan semua kepanikan mental orang-orang di sekitarnya. Dia kembali menuangkan Arak Nektar Dewa ke dalam cawannya dengan ekspresi wajah cemberut yang sangat ketara.
"Tuh kan, karena kamu berteriak-teriak tadi, sisa daging bebek di mulutku jadi tertelan tanpa sempat dikunyah dengan benar," keluh Ji Huang dengan nada jengkel sambil menunjuk Zhao Feng yang masih terduduk lemas di pojokan tembok. "Benar-benar tidak sopan. Xiao Cui, tuangkan araknya lagi. Setelah ini kita pulang, suasana di sini terlalu bising untuk pencernaanku."