.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Pusat dan Rencana Nekat si Mulut Pedas
Malam telah meluruh di Kota Amerta, namun keheningan yang menyelimuti halaman paviliun klan cabang terasa begitu asing dan menekan. Tanpa adanya suara sandal rumah kayu yang diseret perlahan dengan bunyi pletag-pletog yang monoton, atau dengkuran halus yang biasa terdengar dari arah kamar tanpa pintu, tempat itu mendadak kehilangan jiwanya.
Di ambang pintu kamar yang kosong itu, Ji Tian duduk meringkuk dengan tubuh tambunnya. Pria paruh baya itu memeluk erat sebuah guling lusuh milik anaknya dengan air mata yang mengalir deras, membasahi kain bantal tanpa sisa.
"Huuuaangg-errr... anakku yang malang!" raung Ji Tian dramatis, suaranya melengking memecah kesunyian malam. Dia mulai tenggelam dalam halusinasi konyol yang diciptakan oleh kecemasannya sendiri. "Apakah di pusat kota sana mereka memaksamu tidur di atas tumpukan batu tajam? Apakah orang berbaju sutra putih itu memberimu makan bubur basi yang dicampur kerikil?! Kulit anakku itu selembut tahu sutra, dia tidak akan tahan!"
Karena terlalu panik dan ingin menenangkan diri, Ji Tian sempat mencoba pergi ke dapur untuk membuat sup ayam penghangat tubuh. Namun, karena pikirannya terus melayang memikirkan nasib anaknya, dia lupa mematikan api spiritual di tungku. Alhasil, bukan sup yang jadi, melainkan panci dapur kesayangannya justru hangus terbakar dan mengeluarkan asap hitam tebal, menambah kekacauan komedi di paviliun yang sepi itu.
Tepat saat asap dapur mulai mereda, sesosok bayangan anggun bergaun hijau melesat masuk ke halaman. Ji Lan tiba dengan napas agak terengah-engah, matanya langsung menyapu kamar yang kosong sebelum beralih menatap pamannya yang sedang meratapi panci gosong.
Tidak lama setelah itu, langkah kaki yang berat terdengar dari koridor. Ji Feng, Kepala Urusan Internal klan cabang sekaligus ayah Ji Lan, melangkah masuk ke halaman paviliun dengan wajah yang luar biasa tegang dan dahi yang berkerut dalam. Dia baru saja kembali dari kediaman inti setelah bertemu dengan beberapa informan rahasia yang memiliki akses ke Kota Utama.
"Ayah!" Ji Lan langsung menyambut ayahnya dengan nada suara yang memancarkan kecemasan yang coba dia sembunyikan di balik topeng ketus. "Bagaimana situasi di Aula Penegak Hukum Pusat? Apakah sidang si bodoh itu sudah selesai? Apa keputusan para Hakim Agung?"
Ji Tian yang mendengar kedatangan Ji Feng langsung bangkit, mengabaikan pancinya yang gosong, lalu berlari mendekat dengan mata sembab penuh harapan konyol. "Kakak Feng! Katakan padaku, anakku tidak digoreng di sana, kan?!"
Ji Feng menghela napas panjang, melambaikan tangannya memberi isyarat agar mereka tenang. "Tenanglah, Ji Tian. Ji Huang tidak dieksekusi, bahkan tidak dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah."
Ji Feng kemudian menceritakan seluruh kronologi mengejutkan yang dia terima dari surat rahasia informan pusat kota. Dia menjelaskan bagaimana Ji Huang, dengan ekspresi lempeng dan gaya malasnya, berhasil memojokkan tiga Hakim Agung berambut putih menggunakan kutipan mutlak dari Kitab Pedang Angin Puyuh milik Leluhur Pendiri klan 400 tahun lalu. Akibat argumen hukum yang cerdik itu, sidang terpaksa ditunda dan Ji Huang kini ditempatkan dengan status tahanan rumah di Paviliun Isolasi Tamu Agung yang sangat mewah.
Mendengar hal itu, Ji Tian langsung mengusap air matanya dan tertawa lega dengan polos. "Hahaha! Sudah kuduga, anakku memang pintar mencari tempat tidur yang empuk!"
Namun, berbeda dengan pamannya yang naif, Ji Lan tidak menunjukkan binar lega sedikit pun. Sebagai seorang kultivator yang cerdas dan memahami seluk-beluk politik klan, sepasang alis tipisnya justru bertaut semakin rapat. Firasat buruk mendadak merayap di dadanya.
"Ini tidak benar, Ayah," ucap Ji Lan dengan nada ketus yang menyiratkan kemarahan tertahan. "Keluarga Utama di pusat kota terkenal sangat arogan dan gila hormat. Mereka tidak akan pernah membiarkan harga diri dan otoritas mereka diinjak-injak begitu saja oleh seorang murid klan cabang compang-camping. Jika mereka tidak bisa menghukum Ji Huang secara legal lewat hukum klan karena takut melanggar aturan leluhur... mereka pasti akan menggunakan cara kotor di bawah meja!"
Ji Feng menatap anak gadisnya dengan tatapan bersalah sekaligus kagum atas ketajaman intuisinya. Pria paruh baya itu mengangguk pelan dengan suara berat. "Firasatmu benar, Lan-er. Surat dari informan pusat yang kuterima beberapa menit lalu mengonfirmasi ketakutanmu. Tetua Agung Keluarga Utama telah mengambil tindakan licik."
"Apa yang mereka lakukan?!" desak Ji Lan, kedua tangannya mengepal erat di samping jubah berburunya.
"Mereka menghasut Huang Zhen," jawab Ji Feng serius. "Besok pagi, mereka akan mengirim Huang Zhen ke Paviliun Tamu Agung untuk menantang Ji Huang berduel satu lawan satu dengan kedok 'pertukaran ilmu sesama saudara klan'. Sesuai hukum klan, duel persaudaraan resmi seperti itu legal dan tidak melanggar aturan, selama tidak menimbulkan kematian."
"Huang Zhen?!" Ji Lan membelalakkan sepasang mata jernihnya, wajah cantiknya seketika memucat karena amarah yang meledak. "Dia adalah salah satu jenius inti dari eselon atas pusat kota yang sudah mencapai Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-6! Sedangkan Ji Huang... dia baru saja menembus Lapis ke-2 dua hari yang lalu! Ini bukan duel atau pertukaran ilmu, ini adalah pembantaian berencana! Mereka ingin melumpuhkan meridian Ji Huang secara permanen dan mematahkan semua tulangnya di bawah kedok sparing resmi!"
Kemarahan protektif yang luar biasa besar mendadak membakar dada Ji Lan. Sifat tsundere-nya hancur lebur oleh rasa takut kehilangan sepupunya yang menyebalkan itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Ji Lan berbalik dengan cepat menuju kamarnya sendiri. Dia mengemas pedang berburu perak kesayangannya, mengikat pelindung pergelangan tangannya dengan kencang, dan memasukkan beberapa botol ramuan penyembuh meridian tingkat tinggi ke dalam kantong sabuknya.
"Lan-er! Apa yang mau kamu lakukan? Jangan bertindak nekat, Kota Utama sangat berbahaya bagi kita!" Ji Feng mencoba menahan langkah anak gadisnya dengan panik.
Ji Lan berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang dengan wajah yang dipasang sejutek mungkin untuk menutupi kepanikannya yang nyata. "Aku pergi ke Kota Utama malam ini juga, Ayah! Aku harus menghentikan kegilaan ini sebelum besok pagi!"
"Kamu... kamu pergi demi membela si pemalas Ji Huang?" Ji Feng menatap anaknya dengan pandangan menyelidik.
"B-Bukan! Tentu saja bukan demi si babi malas itu!" bantah Ji Lan cepat, wajah porselennya mendadak merona merah karena penyangkalan khasnya. "Aku pergi murni karena aku tidak sudi melihat reputasi klan cabang kita dihina secara brutal oleh kelicikan orang-orang pusat kota! Lagipula... bocah pemalas yang tidak tahu diri itu belum membayar ganti rugi atas mangkuk rantang kayu dan sup ayam ginseng seratus tahun milikku yang dia telan habis kemarin! Aku tidak akan membiarkan dia cacat sebelum melunasi hutangnya padaku!"
Sebelum ayahnya sempat mengeluarkan kata-kata larangan lebih jauh, Ji Lan melompat ke atas punggung Kuda Kuku Api spiritual miliknya di halaman depan.
Dengan satu hentakan tali kekang, kuda spiritual itu meringkik kencang dan melesat bagai kilat, membawa tubuh anggun Ji Lan menembus kegelapan malam yang pekat menyusuri jalan raya menuju Kota Utama. Sepanjang perjalanan di bawah sinar bulan, dada Ji Lan berdegup kencang dipenuhi kecemasan yang membara: “Ji Huang... dasar bajingan malas yang menyebalkan... kamu harus bertahan hidup sampai aku datang besok pagi! Jangan berani-berani membiarkan dirimu terluka sebelum membayar sup ayamku!”
Gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa di tempat tujuannya, "korban" yang sedang dia khawatirkan dengan air mata tertahan justru baru saja naik level ke Lapis ke-3 secara otomatis akibat tidur siang, dan sekarang sedang bersendawa kenyang setelah menghabiskan sepiring daging rusa mewah di atas kasur bulu angsa yang super VIP.