"Apa kau pikir Alexandra ikut bagian dalam rencana mereka untuk menjebakku?" tanya Marc Maretta serious.
"Nona Alexandra bekerja sebagai tour guide di negerinya. Ia datang menemui kekasihnya di Thessaloniki setelah satu setengah tahun mereka berkenalan. Kelihatannya hubungan mereka tak berhasil," kata pengawal Marchetti.
Gadis yang sedang patah hati, mampukah ia membunuh mafia kejam seperti Marc Maretta, that's impossible!
Perjalanan yang ditempuh Alexandra begitu jauh, dari Indonesia menuju Greece kemudian ke France. Namun dirinya malah terdampar di Milan, Italy. Dan luka tembak di lengannya, itu bukan untuknya!
Alexandra bukan gadis yang lemah tapi jatuh cinta pada mafia membuat dirinya harus menerima kenyataan, dilukai atau melukai.
Apakah Marc Marreta menjadi pilihan hidupnya di antara dua laki-laki lain yang mencintainya?
Antonis yang ingin merebut cintanya kembali atau mungkin Guy Dupuis sahabatnya yang menyayangi Alexandra sejak lama?
Sebuah dilemma bagi Alexandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray B., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi untuk kembali
Tuan Stefano tengah menghubungi seseorang. Cerutunya mengebul di udara, ruang kerjanya wangi tembakau yang kadang membuat sesak tamu yang datang ke kantornya. Ia tak peduli, kekuasaan bisa membeli segalanya.
"Mengapa kau bodoh sekali, Giovanni! Seharusnya proyek di Athens sudah ku kuasai semuanya. Gara-gara kau jadi berantakan sekarang!"
Di ujung sana seseorang yang bernama Giovanni menjawab, "Seharusnya gadis itu tidak berada di dekatnya, dia merusak focusku. Jika tidak dilakukan saat itu juga, kau berpikir aku tak pernah datang ke bandara huh?"
Terdengar suara kesal kembali melanjutkan, "Biar itu menjadikan tembakan peringatan bagi Tuan Besar Maretta yang mau bermain-main dengan urusan kita. Putranya tidak selamanya akan hidup, kita akan kuasai wilayahnya secepatnya!"
Tuan Stefano setuju pendapatnya, "Tapi kali ini lakukan dengan benar! Gadis itu tak ada gunanya kau usik lagi. Putriku akan melemahkan hati putranya Tuan Besar Maretta keparat. Kau pun bisa mempercepat kematiannya, jika tidak bisa di lakukan disini pergilah ke Rusia. Ku tunggu kabar baik selanjutnya!"
Di tutupnya pembicaraan rahasia mereka. Di sulutnya cerutunya lagi, lalu tertawa terbahak bahak sendiri membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada musuhnya.
"Tak lama lagi akan kubalas dendamku. Setelah Giovanni selesai dengan tugasnya, akan kuhilangkan jejaknya juga untuk selamanya."
......................
Puri Lombardy
"Marc, mengapa kau lakukan itu kepadanya? Gadis itu sudah menyelamatkan dirimu! Kau seharusnya berterimakasih, bukan melukainya lagi!"
Tuan Besar Maretta menyidang langsung putranya sendiri dengan makian berapi-api, ruang kerjanya dipenuhi ketegangan. Semalam ia telah mendengar kejadian itu dan Alexandra harus dioperasi kembali.
Dokter Alfredo sudah memberikan penjelasan terinci kepada Tuan Besar, dia akan terus membantu merawatnya sampai gadis itu sembuh.
Marc Maretta terdiam, ia mengakui kesalahannya. Papanya terlalu keras mendidiknya sebagai laki-laki agar selalu kuat tangguh, tapi emosinya sendiri kadang lebih menguasai dari pikirannya.
"Jauhi gadis itu sementara ini agar dia cepat pulih. Dan setelah dia sembuh akan ku kembalikan kepada keluarganya atau kau lepaskan kemana dia ingin pergi. Alexandra tidak terikat dengan keluarga ini atau musuh-musuhmu lagi!"
Perintah Tuan Besar Maretta sudah final, raut wajah Marc Maretta mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ia bangkit dari duduknya tanpa menoleh ke belakang.
"Aku akan menemui Uncle Sergey!" kata Marc Maretta sambil melangkah keluar diikuti Marchetti.
Tuan Besar Maretta pun tersenyum mengiringi kepergiannya.
"Kau akan belajar menghargai sesuatu, anakku! Tak semua bisa dibeli dengan kekuasaan, apalagi sebuah cinta."
...----------------...
Alexandra terbangun, matanya mengerjap beberapa kali lalu membukanya. Ia berada di ranjang mewah ini kembali, kepalanya sedikit pusing.
Ia bergerak mencoba memiringkan tubuhnya ouch, kembali ia meringis menahan sakit. Akhirnya ia kalah, berbaring dalam diam lebih baik untuknya. Tak lama pintu kamarnya dibuka, si mata biru yang kejam itu lagi menghampirinya.
Alexandra tidak ingin melihat wajahnya, ia memalingkan ke arah lainnya. Tapi sekarang dia malah duduk disisi ranjangnya.
Pfftttt .. menyebalkan, juga mengerikan dengan apa yang dia telah lakukan ke dirinya kemarin!
Marc Maretta menyentuh tangannya, tapi gadis itu menolaknya. Ia menatap wajah Alexandra namun gadis itu tidak ingin melihatnya kembali. Dengan suara berat, akhirnya ia pun mengatakannya.
"Maafkan aku, Alexa! Aku tidak sengaja melukai dirimu lagi. Aku akan pergi sementara waktu. Beristirahatlah sampai kau sembuh di sini, setelahnya kau bebas melanjutkan hidupmu. Aku akan antarkan kau sampai tujuan yang kau inginkan."
Ia mencium kening Alexandra pelan
dan beranjak meninggalkan dirinya. Pintu kamarnya kini menutup.
Tanpa disadari, Alexandra meneteskan airmata mengiring kepergiannya. Laki-laki itu terdengar sungguh-sungguh meminta maaf kepadanya.
Alexandra akan bebas melanglang buana lagi, berpetualang sesuai keinginan hatinya. Masa depannya masih panjang dan ia tidak harus terpaku pada satu tujuan.
Gadis muda itu memandang jendela luar, salju kecil mulai turun. Ia tak berharap ada badai dan angin kencang menghadang langkahnya ke depan nanti.
"Tujuan hidupku itu sudah berakhir di Thessaloniki. Diriku sekarang sebenarnya yang sedang terjebak di Lombardy. Hatiku ingin lari atau tinggal disini?"
Alexandra tak sanggup berpikir lagi. Ia mencoba menikmati kesusahan hatinya dalam derai airmata tanpa suara.
...----------------...
Marchetti mengantarkan Marc Marreta ke penthouse di tengah kota Milan. Besok pagi mereka akan berangkat ke Russia. Ia akan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Tuan Muda selama berada di sana.
Marc Maretta memandang kota di bawahnya dari balcony luxury penthouse yang ia beli belum lama ini. Jacuzzi, loungers & dining table di ruang terbuka jarang ia gunakan. Tak ada perempuan atau pun tamu diundang ke sini. Sikapnya dingin, introvert person!
Handphonenya berdering dua kali.
Ia mengangkatnya & menjawabnya, "Besok siang aku tiba Moscow. Suruh Nikolaj jemput aku!"
Marchetti berdiri di sampingnya dan bertanya, "Mengapa tiba-tiba kau memutuskan ke Russia?"
Marc Maretta membalikkan badannya & bersandar pada pagar balcony. Ia melihat ke Marchetti sebentar, lalu meneguk minumannya.
"Kau sudah tahu alasannya. Musuh yang kita cari tidak ada di sini, tapi ia mengejar kemana pun aku pergi. Alexandra akan aman bersama keluargaku sampai ia sembuh," jawab Marc tegas.
"Akan kupastikan seseorang yang menyerang dirinya di Malpensa mendapat balasan yang lebih pedih. Malam ini siapkan perlengkapan yang kita butuhkan. Besok kita mulai berburu!" Marc Maretta menepuk bahu ajudannya dan berlalu.
Marchetti diam ketika Marc Maretta telah pergi meninggalkannya sendiri.
Ia berpikir sambil memandang cahaya di tengah kota. Ia merasakan tidak hanya masalah musuh yang dihadapi mereka, tetapi perubahan sikap bossnya sejak Nona Alexandra datang mengejutkan semua.
Sudah saatnya Tuan Muda Marc Maretta memiliki teman wanita yang mampu mengenali kekurangan & kelebihannya.
Sophia & Alexandra adalah dua nama yang ia amati selama ini dengan diam-diam.
Ia menelpon anak buahnya, "Alessio, kau jaga Nona Alexandra selama aku & Tuan Muda ke Russia. Kami akan kembali secepatnya!"
Handphonenya ia matikan. Tak lama kemudian berdering kembali, ia lihat nama Tuan Besar Maretta dan diangkatnya segera. Ia hanya mengiyakan, "Siap Tuan Maretta akan kulaksanakan perintahmu!"
Marchetti kembali masuk ke dalam penthouse. Tuan Muda Marc Maretta sudah pergi tidur dan ia bisa melanjutkan pekerjaannya, menunggu laporan dari Athens & persiapan perburuan di Russia nanti.
Marc Maretta ternyata belum mengistirahatkan matanya, ia berbaring gelisah & kini beranjak bangun mengambil cigarettes di nakas. Percik kecil menyala di ujungnya.
Ada yang ia pikirkan bukan mengenai perjalanan besok, tapi tentang Alexandra & sikap keluarganya terhadap gadis itu.
So the winner takes it all
And the loser has to fall
Throw a dice, cold as ice
Way down here, someone dear
Takes it all, has to fall
It seems plain to me
Di usianya yang ke 30 lebih banyak ia melihat banyak kekerasan, kekejaman & darah dimana-mana. Mengapa malam ini ia merasa bersalah & berdosa. Tak biasanya ...
Peluru tajam yang ditembakkan di Malpensa itu untuknya, bukan untuk Alexandra. Dia hanya sebagai korban dari segala perbuatannya di masa lalu. Jika Alexandra tidak menghalangi tubuhnya, dipastikan ia yang sudah terkapar saat itu dengan mengenaskan.
Ia harus perbaiki keadaan sebelum semuanya terlanjur merusak. Ia akan kembali ke Russia menemukan pelakunya, karena di sana ia bebas membalas segala urusannya dengan caranya sendiri. Pelakunya tak akan berhenti menyerang & dia harus dihabisi sebelum melukai keluarganya.
...Tak ada yang menghalanginya kali ini. Berharap matahari segera terbit meninggalkan kegalauannya....
...****************...
🏵Pengumuman🏵
Hi good readers!
Terimakasih telah membaca novel karyaku yang perdana ini.
Mohon maaf jika banyak kesalahan kata, kalimat, tanda baca dan lainnya. Begitupun nama tokoh-tokoh yang disebutkan jika seperti tumpang tindih dalam cerita ini.
Beberapa lokasi sebagian besar adalah nyata & sudah dikunjungi author di masa itu 😊 ini juga sambil menulis & mengkhayal merindukan menjelajah kembali ke sana, entah kapan waktunya 😅
Tokoh utama yaitu Alexandra & didukung beberapa tokoh lainnya, masih agak berat mau dilarikan akhir ceritanya kemana oleh author.
Di episode ke 15 ini harapannya semoga bisa terus berkarya hingga episode ke 30 dan selanjutnya.
Dan komen yang membangun dari good readers dapat memberi semangat author menulis cerita yang layak & penuh kejutan.
Terimakasih
Thanks a lot
Efcharisto
Grazie
Merci beaucoup
Maturnuwun
🙏🏵🙏🏵🙏🏵🙏🏵🙏🏵🙏🏵
Alurnya tak biasa. Keren.
Bahasanya enak dibaca.
Untuk novel karya pertama, ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Two thumbs up!
*ikutan nyesek jadinya.
Jd bersa ikut perang...
😁
Smgt n sukses