NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Percakapan hangat itu terhenti saat ponsel di saku celana Gema tiba-tiba bergetar pelan.

Gema langsung melihat nama yang muncul di layar, lalu mengangkat panggilan itu tanpa banyak berpikir.

“Iya, La. Ada apa?”

Di seberang sana, suara Lala terdengar terburu-buru dan panik.

“Kak, aku sudah mencari keberadaan Bu Indari, ibunya Sarah. Kabar terakhir yang kudapat dari kerabatnya, beliau sekarang sedang berada di Jogja untuk urusan mendesak.”

Tatapan Gema langsung berubah lebih serius.

“Ya sudah, kalau kamu dapat kontaknya, segera hubungi dan minta beliau datang ke rumah sakit. Ceritakan yang sebenarnya tentang kondisi Sarah.”

“Dari tadi aku hubungi nomornya tidak aktif, Kak.”

Gema memijat pelipisnya pelan. Wajahnya yang tadi tenang kini terlihat tegang.

“Bagaimana kondisi Sarah sekarang?” tanya Gema kemudian.

“Masih begitu, Kak. Beberapa kali mengigau ketakutan dan cemas berlebihan.”

Rahang Gema mengeras samar mendengar jawaban itu. Ia menunduk sejenak, jemarinya mengetuk pelan meja kayu di depannya seperti sedang berpikir cepat.

“Ya sudah. Kamu pantau dulu di sana. Aku bersiap berangkat sekarang, kebetulan aku shift sore.”

“Baik, Kak.”

Panggilan terputus.

Gema menghela napas panjang sebelum meletakkan ponselnya di atas meja. Rangga yang sedari tadi diam memperhatikan putranya akhirnya ikut bersuara.

“Ada pasien kritis?”

Gema tersenyum tipis, tetapi sorot matanya masih menyimpan beban.

“Bukan pasien biasa.”

Rangga mengernyit kecil.

Gema terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya pelan ke kursi.

“Sarah mengalami trauma psikis yang sangat berat, Yah. Kondisinya belum stabil sepenuhnya.”

Rangga memandangi wajah putranya cukup lama. Ia tahu nada bicara itu. Nada seorang dokter yang sedang berusaha tetap tenang meski pikirannya dipenuhi banyak kemungkinan buruk.

“Orang dekat?” tanya Rangga hati-hati.

Gema tidak langsung menjawab.

Di luar sana hujan masih turun tipis, memburamkan pemandangan jalan raya di balik kaca kafe. Aroma kopi dan roti hangat tetap memenuhi ruangan, tetapi entah kenapa suasana di meja mereka mendadak terasa lebih berat.

“Aku cuma tidak suka melihat seseorang dihancurkan oleh keserakahan orang lain dan berakhir hancur sendirian,” jawab Gema akhirnya dengan pelan.

Dan Rangga tahu, jawaban itu tidak sesederhana kedengarannya.

Gema melirik jam tangan peraknya. Jarum pendek hampir menyentuh angka dua siang. Sudah saatnya ia bersiap untuk berangkat.

Ia meneguk sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin, lalu menatap Rangga yang masih duduk di hadapannya dengan tatapan penuh arti.

“Aku harus bersiap untuk shift sore, Yah,” kata Gema sambil meraih ponselnya dari atas meja dan memasukkannya kembali ke saku celana.

Rangga mengangguk paham. Ada riak enggan di matanya, seolah masih ingin menahan putranya lebih lama, tetapi ia tahu kewajiban Gema sebagai dokter tidak bisa ditunda. Lelaki tua itu ikut berdiri saat Gema beranjak dari kursi.

“Hati-hati di jalan, Gema. Selesaikan urusanmu dengan baik,” ucap Rangga pelan, menepuk lengan Gema sekali lagi.

“Iya, Yah. Ayah juga langsung pulang setelah hujan reda, jangan terlalu lama di luar,” balas Gema hangat.

Setelah berpamitan, Gema melangkah keluar dari R2 Bakery. Udara dingin dan sisa gerimis langsung menyambut kulitnya begitu ia melewati pintu kaca. Di dalam mobil, suasana mendadak terasa senyap, kontras dengan musik jazz lembut yang baru saja ia tinggalkan di kafe.

Gema mencengkeram kemudi dengan erat. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan, melintasi jalanan kota yang basah, langsung menuju ke bangsal perawatan tempat Sarah berada. Ada rasa cemas yang perlahan merayap di dadanya, mendesaknya untuk segera sampai di rumah sakit.

Gema memarkir mobilnya di area khusus dokter dengan tergesa. Begitu mesin mati, ia langsung melangkah lebar membelah koridor rumah sakit yang beraroma khas antiseptik. Langkah kakinya yang beritme cepat bergema di sepanjang lorong, seirama dengan detak jantungnya yang kian tidak tenang.

Langkah Gema terhenti di depan pintu bangsal. Di sana, Lala sudah berdiri dengan wajah cemas, memeluk sebuah papan klip dokumen di dadanya.

“Bagaimana kondisinya sekarang, La?” tanya Gema langsung, tanpa basa-basi.

Lala mendongak, napasnya sedikit tertahan melihat kedatangan Gema yang lebih cepat dari perkiraannya. “Baru saja ditenangkan oleh perawat, Kak. Tapi, tensinya sempat naik lagi karena dia terus memanggil ibunya.”

Belum sempat Gema membalas ucapan Lala, mendadak dari dalam kamar rawat terdengar lengkingan keras alarm monitor jantung, disusul suara jeritan histeris Sarah yang memecah kesunyian koridor.

"Jangan! Jangan bunuh anakku!" jerit Sarah parau.

Tanpa membuang waktu, Gema langsung mendobrak pintu kamar rawat tersebut. Di dalam, tubuh Sarah sudah menegang hebat dan mulai menyentak kaku di atas ranjang akibat serangan kejang parah.

Gema dengan sigap menerjang maju, menahan tubuh Sarah yang berguncang. Matanya tidak lepas dari pergerakan jarum infus yang terancam tercabut akibat guncangan tubuh pasiennya. Ia juga harus ekstra hati-hati menjaga posisi tubuh Sarah; perempuan itu sedang mengandung, dan guncangan hebat dikombinasikan dengan tekanan darah yang melonjak tinggi seperti ini bisa membahayakan janin di dalam rahimnya.

“Lala, bantu tahan kepalanya! Miringkan ke kiri agar tidak tersedak air liur!” instruksi Gema dengan nada menuntut, sementara lengannya sendiri menahan bahu Sarah yang tegang sempurna.

Seorang perawat dengan tangan gemetar berlari membawa spuit berisi obat penenang yang baru saja disiapkan sesuai prosedur kedaruratan. “Sudah siap, Dok!”

“Masukkan lewat IV, perlahan!” perintah Gema tegas.

Cairan obat itu mengalir masuk melalui selang infus. Gema menghitung detik demi detik di dalam hatinya yang berdegup kencang. Perlahan, setelah semenit yang terasa seperti keabadian, sentakan kaku pada otot-otot tubuh Sarah mulai mengendur. Napas perempuan itu masih pendek dan berat, tetapi serangan kejangnya berhasil diredam.

“Biiip... Biiip... Biiip...”

Grafik pada monitor jantung lambat laun mulai melandai, meski angka detak jantungnya masih berada di ambang batas normal atas. Sarah memejamkan matanya rapat-rapat, tak sadarkan diri akibat pengaruh obat dosis tinggi tersebut.

Gema menegakkan punggungnya, menyeka keringat dingin yang ikut bercucuran di dahinya sendiri. Kamar rawat itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas Lala dan para perawat yang masih syok dengan kejadian barusan.

“Pasang masker oksigen non-rebreathing, naikkan ke sepuluh liter per menit,” ucap Gema, suaranya kini terdengar serak dan lelah. “Pantau terus saturasinya sampai stabil di atas 95 persen. Tolong panggil dokter spesialis kandungan juga untuk memeriksa kondisi janinnya segera. Kita harus pastikan ketuban dan plasentanya tidak bermasalah setelah kejang tadi.”

“Baik, Dokter Gema,” jawab perawat itu, langsung bergerak memasangkan masker plastik ke wajah pucat Sarah.

Gema melangkah mundur beberapa depa, memberikan ruang bagi para perawat untuk bekerja. Ia menatap perut Sarah yang mulai membuncit di balik selimut rumah sakit. Kalimat mengigau Sarah sebelum kejang tadi terus berputar tanpa henti di kepalanya, membuka kembali ingatan pilu tentang alasan mengapa Sarah bisa berakhir tragis seperti ini.

“Dia mau membunuh anakku!”

Gema tahu persis luka yang dipendam Sarah. Perempuan itu diusir dengan kejam oleh suaminya sendiri hanya karena hasil ultrasonografi (USG) menunjukkan bahwa ia sedang mengandung seorang anak perempuan. Penolakan dari lelaki egois dan mertua yang serakah itu tidak hanya menghancurkan hati Sarah, tetapi juga meremukkan kondisi mentalnya hingga ia terus-menerus didera delusi ketakutan bahwa bayinya berada dalam bahaya besar.

Lala yang menyadari perubahan ekspresi seniornya itu berjalan mendekat dengan langkah ragu. “Kak Gema... Kakak rasa trauma karena penolakan suaminya yang membuat Sarah sampai kejang dan drop seperti ini?”

Gema tidak langsung menjawab. Ia kembali menoleh ke arah jendela kaca besar di ujung ruangan. Hujan di luar semakin lebat, menyamarkan apa pun yang berada di luar sana.

Ya Allah, kasihan sekali dia... batin Gema getir. Tangannya terkepal di balik saku jas putihnya, berjanji dalam hati tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti perempuan malang ini lagi.

1
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
Miu.Nuha
gampang bngt 😭
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...
Myz Pena
agak curiga dengan suaminya ni.. jangan sampai dia selengki /CoolGuy/
Myz Pena
boleh nggak sihh bilang ini mertua jahat.. asli kesellll /Angry/
THE GIRL COOL😑
ya allah sedihhhhhh ayahhhhhhh gue yg di tinggal ayah sejak berusia 5 tahun aja rindu *tapi bohong!🤣 jujur gue gak kangen karena gue benci sama ayah gue
THE GIRL COOL😑
semangat leo!!! kamu tau gak kamu sama kaya aku dan hidup aku😭
Apriyanti
kamu gema yg harus bertgg jawab🤣
mama Al: Tanggung jawab apa nih?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!