Ketika dosa, ego & cinta saling ingin unjuk diri di waktu yg sama, maka takdirlah yg akan menjadi hakimnya!!
Elleanor berkisah seorang gadis muda yang sudah mulai memasuki usia matang untuk sebuah pernikahan. Ayahnya mulai mencarikan jodoh untuk dirinya.
Namun, begitulah darah muda. Tak mau di atur, tak mau di kekang. Elleanor menolak & memilih seorang pria yg dia kenal di lapangan golf.
Tetapi, pilihannya salah, dia malah terjebak menjadi orang ketiga saat dia mengetahui jodoh pilihan ayahnya sudah kembali dari luar negeri.
Entah siapa yg akan Elleanor pilih kali ini. Terus terjebak dalam hubungan toxic yg menjanjikan kenikmatan tetapi di todong rasa bersalah atau memulai hubungan baru dengan si pria misterius yg nampak tak kenal kata ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Virgin
Damian benar-benar meninggalkan Ellea malam itu. Melewatkan malam pertamanya. Hingga pagi ini pria itu belum nampak batang hidungnya.
Kepala pelayan, Bibi Lung datang ke kamar Ellea dan memberitahu jika sarapan sudah siap. Ya, memang, sarapan sudah siap namun mental Ellea yang belum siap bertemu dengan Alan. Satu meja dengannya dan juga dengan Diana.
Tetapi, Ellea tetap memutuskan untuk pergi kesana. Duduk di samping Diana. Sedangkan Alan berada di sebrang sana. Duduk bersebelahan dengan anak pertamanya yang masih sekitar usia dua tahun. Ellea juga melihat seorang baby sister yang menggendong bayi, mungkin itu anak kedua Alan.
Ini pertama kalinya bagi Ellea bertemu langsung dengan anak-anak Alan. Karena setelah gagal makan malam, ayahnya meninggal dan Ellea memilih kembali ke rumahnya.
Meski di selimuti rasa gugup, namun Ellea berakting seperti tidak terjadi apapun di antara dirinya dan Alan. Meniru perilaku Alan yang pandai berakting.
"Apa Damian belum kembali?" Tanya Diana.
"Belum." Jawab Ellea.
"Dia itu memang gila ya! Bagaimana bisa dia meninggalkan istrinya di malam pertama!" Ucap Diana sambil memasukkan daging ke dalam mulutnya.
Ellea hanya menjawabnya dengan senyuman kecil. Berbeda dengan Alan yang nampak sudah tidak nafsu lagi untuk sarapan.
Beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah yang sangat familiar bagi Ellea. Damian datang. Dia langsung duduk di samping Ellea. Menarik kursi Ellea agar lebih dekat dengan dirinya.
"Kak, apa kau tidak bisa jika merubah jadwal mu? Jangan meninggalkan Ellea di malam hari! Kau ini sudah bekerja seharian, lalu malam masih pergi entah kemana. Kapan kau akan menikmati hidup!" Ucap Diana menceramahi kakaknya itu. Sepertinya hanya dia yang berani melakukan hal itu pada Damian.
Damian tak menjawabnya. Dia hanya menatap istrinya itu lekat-lekat.
"Mau aku ambilkan?" Tanya Ellea pada Damian.
Damian mengangguk. Saat Ellea berdiri untuk meraih potongan daging yang berada di tengah meja. Tangan Damian yang nakal sudah gatal untuk menyentuh istrinya itu. Dia memasukkan tangannya ke dalam rok Ellea meski banyak orang disana.
"Damian!" Ellea langsung menghentikan tindakan pria itu. Dia nampak begitu malu pada Diana dan Alan.
"Nampaknya kau melanggar aturan ku!" Ucap Damian menatap Ellea dengan tajam.
Ellea nampak kebingungan. Apa maksudnya. Perasaan dia tak melakukan apapun hingga pria itu datang.
"Keluar kalian semua!" Titah Damian yang suaranya sudah naik satu oktaf.
Sontak semua orang beranjak dari tempatnya tanpa ada yang bergeming. Termasuk Diana dan Alan yang menggendong putranya. Ellea yang melihat itu seakan melihat kekuatan yang di miliki oleh Damian. Bagaimana pria ini bisa mengontrol semua orang di mansionnya sesuka hatinya.
Setelah kepergian para pelayan, baby sister, Diana dan Alan. Damian berdiri tepat di hadapan Ellea.
Ellea gelagapan, takut serta bingung. Apa kesalahannya dan dia harus bagaimana sekarang. Tiba-tiba dia teringat ucapan Diana saat pertama kali mereka bertemu. 'Jika Damian marah, maka turuti saja semua perkataannya!' Dan itu terbukti sekarang.
"Ada apa Damian?" Ellea berusaha membuka suara.
Tetapi begitulah Damian, bungkam. Namun tangannya menarik rok selutut yang di pakai oleh Ellea.
"Kau sudah membaca aturan ku, kan?" Ucap Damian menggigit giginya.
Ellea mengangguk.
"Lalu mengapa kau masih memakai ini?" Damian memasukkan tangannya ke dalam rok dan menarik cel*na dalam Ellea.
Ellea baru teringat perihal itu. Dia benar-benar lupa jika dia di larang memakai benda itu sekarang.
Damian merobek benda itu dalam satu hentakan. dan membuangnya ke sembarang arah. Sungguh, Ellea akan malu setengah mati jika benda itu sampai terlihat oleh para pelayan.
"Nampaknya kau ingin tau bagaimana konsekuensinya, ya? Kau mau di hukum?" Ucap Damian.
Pria itu mulai mencium bibir Ellea, tangannya lihai membuka kancing baju yang terpasang. Meski Ellea menahannya, tetapi Damian tak perduli. Dia membuka kancing baju itu dengan keras hingga salah satunya terlepas.
"Damian jangan disini!" Pinta Ellea yang mengerti Damian akan memakannya sekarang.
Tetapi Damian tak memperdulikannya. Dia terus melucuti kemeja biru yang di pakai oleh Ellea hingga benar-benar terlepas menyisakan bra berwarna hitam yang menggoda.
Benar saja, Damian meremasnya lalu melepas bra itu. Melumatnya dan meny*su disana beberapa lama.
"Damian stopp!!" Ucap Ellea yang merasa sangat malu karena sudah tel*njang dada.
Damian mulai menarik rok Ellea, dia berusaha melepaskannya. Tetapi, sekali lagi Ellea berusaha menahan Damian. Ellea pikir, boleh saja menyetubuhinya tetapi jangan di ruang makan ini. Bagaimana jika ada pelayan yang melihat mereka.
"Damian jangan!" Ucap Ellea sangat Damian menarik roknya turun.
"DIAM!!" Bentak Damian pada Ellea.
Pria itu sudah di kuasi hawa nafsu. Sedangkan Ellea langsung terdiam dan ketakutan. Teringat lagi ucapan Diana, tetapi apakah dia harus diam saja jika di setubuhi disini?
Damian berhasil melepas rok Ellea. Alhasil, wanita itu sudah tel*njang bulat sekarang. Tel*njang di ruang makan.
Damian menaikkan tubuh Ellea ke atas meja makan. Membentangkan kedua paha Ellea lebar-lebar hingga menyuguhkan pemandangan yang indah baginya. Namun, tidak bagi Ellea. Wanita itu sekarang hanya bisa menangis dalam diam. Mempersilahkan Damian menikmati tubuhnya.
Sedangkan Damian sudah di ujung tanduk nafsu. Dia sangat menginginkan Ellea. Dia memasukkan jarinya ke dalam milik Ellea, membuat wanita itu terperanjat dan menahan kenikmatan.
Damian membuat gerakan keluar masuk disana hingga milik Ellea mulai basah. Damian semakin kegirangan melihat itu. Karena, meski Ellea menolak, tetapi tubuhnya tak dapat berbohong.
Damian mulai menjilati milik Ellea dari atas sampai bawah. Menyedot seluruh cairan yang keluar dari sana. Sesekali membiat gerakan memutar di sekitar benda yang mirip biji kacang itu. Membuat Ellea tak mampu menahan diri. Meski di selubung rasa malu, dia juga tak mampu menahan kenikmatan ini. Dia membaringkan tubuhnya di atas meja karena tangannya sudah tak mampu menahan serangan kenikmatan.
Damian semakin bersemangat melihat Ellea terbaring di atas meja. Dia segera membuka ikat pinggang dan celana panjangnya. Mengoc*k miliknya sendiri sebentar, lalu perlahan memasukkannya ke dalam milik Ellea.
Sempit dan mengigit. Itulah yang pertama kali Damian rasakan. Lalu miliknya terasa merobek sesuatu di dalam sana. Sepertinya selaput virgin Ellea sudah robek oleh milik Damian yang panjang dan berurat itu.
"Aahh sakitt!!" Pekik Ellea memegang tangan Damian.
"Hanya sebentar, setelah ini kau akan merasakan nikmatnya!" Ucap Damian mulai menggerakkan pant*tnya maju mundur.
"Ahh Damian! Pelan-pelan!" Pinta Ellea.
Desah*n dari mulut Ellea adalah sebuah cambuk nafsu bagi Damian. Dia semakin mempercepat gerakannya, hentakan demi hentakan di iringi desah*n dari Ellea.
"Aahh.. Aahh.. Ahhh!! Damian sakittt!!"
"Teruskan sayang, aku suka mendengar desah*n mu!" Ucap Damian malah semakin mempercepat hentakannya seperti seekor kelinci yang birahi.
"Ahh.. Ahh.. Aauuu!! Damian.. Aku mohon!! Aahhh!!" Ellea merasa perih di bagian intimnya. Dia masih harus beradaptasi dengan ukuran milik Damian yang besar itu. Selain itu, ini juga pertama kalinya bagi Ellea.
"Maafkan aku!! Aahhh!! Sakittt!!"
"Aku janji tidak akan mengulangi lagi!" Ucap Ellea.
Tetapi Damian masih fokus dengan kegiatannya. Hingga beberapa menit dan Damian hampir mencapai pelepasannya. Dia meremas pay*dara Ellea dan mempercepat hentakannya.
"Ayo teriak, sayang!! Aku hampir keluar!" Ucap Damian.
"Aahhh!! Aahhh!!" Ellea merem melek di serang kenikmatan.
Rasanya perih dan pedas. Hingga dia menangis karena tak dapat menahan rasa sakitnya. Sakit, malu dan merasa di lecehkan bercampur aduk menjadi satu.
"Ohhh!!" Akhirnya Damian mencapai pelepasannya.
Dia mengeluarkan seluruh cairan kehidupannya ke dalam milik Ellea. Hingga wanita itu dapat merasakan semburan hangat di dalam sana.
Damian menatap Ellea yang menangis. Dia menarik miliknya keluar dari milik Ellea. Damian tersenyum simpul saat melihat miliknya terdapat noda darah. Yang artinya, Ellea memang masih virgin dan ini pertama kalinya bagi Ellea.
Pria itu juga mengambil sebuah serbet kecil di atas meja. Memasukkan serbet itu ke dalam milik Ellea seakan dia sedang mencari sesuatu di dalam sana. Ellea yang merasakan itu semakin tidak nyaman.
"Damian, apa yang kau lakukan!" Tanya Ellea dengan suara paraunya karena menangis.
Damian menarik kembali serbet itu dari dalam milik Ellea. Lalu dia membentangkan serbet itu dan menunjukkan pada Ellea.
"Darah virgin mu! Aku akan menyimpannya." Ucap Damian.
Sungguh, Ellea ingin marah dan menampar Damian, tetapi dia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan itu. Di setubuhi di ruang makan saja sudah membuat nyalinya ciut untuk melawan Damian.
Damian memasukkan serbet itu ke dalam saku kemejanya. Dia memakai celananya lagi lalu melepas jas hitamnya. Memakainya pada Ellea yang telanj*ng bulat dan nampak lemah setelah di hukum oleh Damian.
Damian menggendongnya dan membawanya kembali ke dalam kamar pribadinya. Sarapan yang sangat di luar dugaan bagi Ellea.
Ellea hanya berharap, suara desah*nnya tidak terdengar oleh siapapun di luar sana.
Bersambung..
.
good luck authorrr