Sesungguhnya mencintai seseorang dengan setulus hati itu sangatlah sederhana, tak ada alasan, tak ada tuntutan, juga tak berharap balasan, cukup melihatnya tersenyum bahagia maka hatimu akan merasa bahagia.
Seseorang yang memiliki ketulusan dalam cintanya akan terus berusaha agar orang yang di cintainya merasa bahagia, meskipun terkadang tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Seperti dalam kisah ini.
Seorang gadis yang setia menunggu cinta pertamanya yang hampir 3 tahun tak ada berita, tiba tiba saja di lamar oleh seorang pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya di masa lalu. kebimbangan menimpanya,sampai akhirnya mereka menikah atas permintaan orangtuanya, perlahan diapun mulai menyukai suaminya.
Namun entah apa yang terjadi, setelah hampir satu tahun berumah tangga, suaminya merasa dirinya tak mampu membahagiakan istri yang sangat ia cintai, dia pun berusaha untuk mempersatukan kembali istrinya dengan cinta pertamanya. Apa yang terjadi?...
yuk readers ikuti kisah serunya 😉
❤❤❤
happy reading.... 😊🤗👏
=====================================
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di rumah baru
Pagi itu, selepas Subuh, Afifa kembali ke dapur. Ia membuka kulkas, menemukan dua butir telur dan beberapa bumbu sederhana.
Nasi goreng saja, pasti Kak Fauzi suka, batinnya sambil menyiapkan bahan.
Di ruang keluarga, Fauzi masih duduk bersandar di sofa, menikmati teh hangatnya sambil menonton acara religi di televisi. Matanya fokus ke layar, tetapi pikirannya tak tenang.
Apa yang terjadi denganku semalam? desahnya dalam hati. Ia menghela napas, berusaha menenangkan debaran yang entah kenapa masih tertinggal.
Tak lama kemudian, aroma nasi goreng tercium ke seluruh ruangan. Afifa menatanya rapi di meja makan, lengkap dengan dua gelas air putih. Selesai itu, ia ke kamar untuk menyiapkan kemeja kerja Fauzi, meletakkannya di atas ranjang yang sudah rapi.
“Mandi dulu, Kak. Afifa sudah siapkan bajunya,” ucapnya lembut, sedikit ragu, tapi tetap mencoba terdengar biasa saja.
Fauzi menoleh sekilas, matanya menatap Afifa sejenak, lalu mengangguk. “Iya… makasih,” balasnya datar, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.
Afifa menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Hatinya mengerut.
Kenapa rasanya… dingin sekali? Apa aku melakukan kesalahan?
Beberapa menit kemudian, Fauzi keluar dengan kemeja yang sudah dikenakannya. Lengan kemejanya sengaja digulung setengah, membuatnya tampak rapi sekaligus santai.
Afifa yang sudah menunggu di meja makan tersenyum saat melihat Fauzi keluar kamar. Dia spontan berdiri menatap sosok suaminya yang nampak begitu tampan, gagah dan segar. Rambutnya yang hitam berombak dan agak basah tersisir rapi ke belakang. Tanpa terasa lengkungan manis terukir di wajahnya. Untuk ke sekian kalinya, Afifa terpesona, jantungnya berdebar, hampir tak percaya, bahwa sosok sempurna yang berjalan menuju ke arahnya ini telah resmi menjadi suaminya. “Silakan, Kak,” ucapnya sambil menarik kursi untuknya.
Mereka duduk berhadapan. Fauzi menyuap nasi gorengnya perlahan, sementara Afifa menatapnya, ragu ingin membuka percakapan.
“Kak…” suara Afifa hampir tak terdengar.
“Hm?” Fauzi mengangkat alisnya.
Afifa mengutak-atik sendoknya. “Boleh… kalau kamar kosong di belakang dijadikan mushola? Biar Fifa yang merapikannya.”
Fauzi mengangguk singkat, matanya tak lepas dari piring. “Iya, boleh. Kalau butuh bantuan, panggil Bi Yati.”
“Iya, Kak,” jawab Afifa lirih. Ia ingin sekali menanyakan tentang kejadian semalam, tentang mengapa Fauzi tiba-tiba menjauh, tetapi kata-katanya seolah terkunci di tenggorokannya. Apa aku salah? Apa dia menyesal?
Fauzi melirik jam di dinding. “Sudah jam tujuh. Aku ke toko dulu,” ucapnya sambil berdiri.
Afifa ikut bangkit, menatap punggung suaminya. “Hati-hati, Kak,” ucapnya, lalu meraih tangannya dan menciumnya dengan penuh hormat. Tatapannya mengikuti Fauzi hingga menghilang di balik pintu pagar.
Sepeninggal Fauzi, Afifa membereskan piring, mencuci peralatan makan, lalu mengumpulkan pakaian kotor ke mesin cuci. Pagi itu, semangatnya terasa berbeda. Ia ingin membuat rumah itu lebih nyaman, lebih “hidup.”
Kamar belakang ia bersihkan dan rapikan, sajadah dan mukena dipindahkan ke sana. Ia menata beberapa Alquran di rak kecil, dan meletakkan karpet tipis agar terasa lebih hangat. Di ruang tamu dan sudut rumah lain, ia menaruh hiasan bunga segar yang membuat aroma rumah semakin wangi dan sejuk.
Saat jarum jam menunjuk pukul lima sore, suara pintu pagar terdengar. Fauzi pulang.
“Assalamualaikum,” suaranya terdengar dari ruang depan.
“Waalaikumussalam,” sambut Afifa dengan senyum hangat.
Fauzi melangkah masuk. Aroma bunga menyeruak, membuatnya spontan menarik napas panjang. Pandangannya berkeliling. Rumah itu kini tampak lebih hidup—rapi, segar, dan nyaman.
Masya Allah… rupanya dia pandai menata rumah juga, gumamnya sambil menoleh ke arah Afifa. Tatapan matanya bertemu wajah istrinya yang teduh, sederhana dengan balutan jilbab pastel. Seketika rasa lelahnya hilang, tergantikan dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Afifa meraih tangannya dan menciumnya. “Apa Kak Aji suka?” tanyanya dengan mata berbinar, tak sabar menunggu jawaban.
“Tentu…” jawab Fauzi singkat, bibirnya melengkung tipis.
“Fifa juga sudah membereskan kamar belakang jadi mushola. Kak Aji mau lihat?” ajaknya antusias.
Fauzi mengangguk. Mereka berjalan ke kamar belakang. Pandangannya menyapu ruangan itu—sajadah tersusun rapi, Alquran berjajar, dan bau wangi kayu gaharu memenuhi ruangan.
“Bagus,” ujarnya pelan, namun tulus.
Afifa tersenyum bahagia. “Alhamdulillah, Fifa senang kalau Kak Aji suka,” ucapnya sambil menuangkan teh hangat untuk suaminya.
Malamnya, setelah shalat Isya, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Televisi menayangkan acara ringan, tetapi keduanya hanya diam. Fauzi tenggelam dalam pikirannya, sementara Afifa beberapa kali melirik, ingin membuka pembicaraan tentang kejadian malam sebelumnya.
“Kak…” Afifa memberanikan diri.
“Hm?” Fauzi melirik sekilas, ekspresinya tetap datar.
Afifa menggigit bibirnya. “Fifa… boleh tanya sesuatu?”
“Besok saja, Dek. Kakak capek,” potong Fauzi, matanya kembali ke televisi.
Ucapan singkat itu membuat dada Afifa sedikit sesak. Ia mengangguk kecil, pura-pura paham.
“Kalau begitu, Fifa tidur duluan, ya. Nanti Kak Aji nyusul.”
“Iya,” jawab Fauzi tanpa menoleh.
Afifa beranjak ke kamar. Rasa kecewa mengendap di dadanya, tapi ia tak ingin menunjukkannya. Lama ia menunggu, berharap Fauzi masuk kamar. Namun, hingga matanya terpejam, Fauzi tak kunjung datang.
Pukul 3.30 pagi, alarm alami tubuhnya membangunkannya. Afifa membuka mata, mendapati Fauzi tertidur di sampingnya, memeluk guling. Napasnya teratur, wajahnya tenang.
“Hhhh…” Afifa menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. Sudah tiga malam pernikahan mereka, namun tak ada apa-apa di antara mereka.
Kenapa, ya Allah? Apa aku tak cukup baik untuknya? Atau… dia tak menginginkan aku? batinnya perih. Ia menatap Fauzi sekali lagi, lalu bangkit pelan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Di keheningan malam, ia kembali menundukkan kepala, berdoa lirih.
Ya Rabb… jika ada yang salah dari diriku, perbaikilah aku. Dan jika hati suamiku belum luluh, lembutkanlah untukku. Aku… hanya ingin menjadi istri yang membahagiakannya.
Bersambung… ❤️
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
InsyaAllah dibaca SCA 2 nya, semakin menarik sepertinya dan bikin penasaran dengan kisah Fauzi dan Afifa, Farid dan Wulan bagaimana ya 🤔🤔🤔
Semangat kak Rahma dan teruslah berkarya
👍👍👍🤗🤗🤗
😊😊😊
🤣🤣🤣
Doa terbaik buat kak Rahma dan keluarga, sehat sehat dan sukses selalu 🤗🤗
🤗🤗🤗
🤧🤧🤧
🤔🤔🤔