NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Rumah Veyra

Jumat sore, mobil Alvero melaju meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi perlahan tergantikan oleh hamparan sawah yang membentang di kanan-kiri Jalan.

Semakin jauh melaju, udara terasa semakin segar. Di kejauhan, siluet gunung berdiri kokoh seolah menyambut siapapun yang pulang.

Malam sudah jatuh saat mobil memasuki perkotaan Sukabumi Cibadak. Lampu-lampu jalanan bergerak di kaca mobil.

Veyra menurunkan kaca jendela mobil. Angin langsung menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang.

"Aku kangen suasana di sini." Gumamnya.

Alvero mengelus tangan Veyra pelan. "Sebentar lagi kita sampai."

Veyra kembali membuka mata, ia menoleh lalu mengangguk, dengan senyum lebar. Tapi terlihat dipaksakan.

Di kursi belakang. Mbak Rini dan Renzio tertidur. Mungkin karena perjalanan yang memakan waktu sekitar enam jam.

"Mas, aku takut..." Suara Veyra keluar lirih.

Sebelah tangan Alvero terulur, ia mengelus kepala Veyra lembut. "Gak apa-apa sayang."

Jarak menuju rumah semakin dekat. Namun perasaan Veyra semakin gundah. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Mobil akhirnya berhenti tepat di satu bangunan pinggir jalan yang berdiri kokoh. Sebelum turun, Alvero menoleh ke bangku sebelahnya. "Aku turun buat buka gerbang, ya."

Veyra hanya mengangguk.

Pintu mobil terbuka, Alvero segera turun. Saat tangannya hendak membuka kunci gerbang. Suara seseorang mengejutkannya.

"Alvero, kalian udah datang."

"Iya, Ayah." Jawab Alvero sambil tersenyum.

Farhan, membantu membuka gerbang. Lampu-lampu garasi dan teras depan ruko menyala terang.

Setelah gerbang terbuka cukup lebar, Alvero kembali naik dan memasukan mobil ke dalam garasi.

Saat mesin dimatikan. Veyra ikut membuang napas.

"Ayok sayang." Ajak Alvero.

Veyra mengangguk. Sebelum turun, ia menarik. Napas beberapa kali.

"Mbak, Zio masih tidur?" Alvero membuka pintu penumpang.

"Udah, Pak. Tapi biar saya gendong aja." Jawab Mbak Rini.

Tubuh Veyra terpaku beberapa detik di depan mobil. Matanya mulai berair, menatap sosok laki-laki paruh baya yang tersenyum lembut ke arahnya.

"Ayah," kata Veyra lirih. Air matanya jatuh perlahan.

Farhan langsung mendekat, memeluk putri sulungnya. Ia terus mengecup kepala Veyra.

"Jangan nangis," Farhan melepas pelukannya. Matanya beralih menatap perut Veyra. "Kalian baik-baik aja, kan?" Tanyanya. Tangannya mengelus perut Veyra.

Veyra hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.

Sekarang, Farhan mendekati Mbak Rini. Ia berdiri tak jauh darinya sambil menggendong Renzio.

"Cucu kakek, kebangun, ya." Farhan mencubit pelan pipi gembul Renzio.

Renzio tersenyum kecil.

"Ayok naik. Kalian pasti capek!" Ajaknya.

Farhan menggenggam tangan Veyra, membantu putri sulungnya menaiki tangga. Alvero dan Mbak Rini mengekor di belakangnya.

Di samping garasi yang luas itu, ada tangga menuju kediaman Veyra. Karena lantai bawah, dijadikan tempat usaha sembako. Yang sudah lama beroperasi.

Saat sampai di lantai atas, Farhan membuka pintu. Aroma eucalyptus langsung menyambut mereka.

"Veyra pulang, Yah?" Elea muncul dari balik pintu kamar.

Mendengar suara itu, tubuh Veyra refleks mematung. Napasnya berhenti satu detik.

Perempuan paruh baya berjalan ke hadapan Veyra. Elea masih sehat, hanya ada garis halus di wajahnya, dan beberapa helai rambut yang mulai memutih.

"Kebiasaan, ya. Pulang suka tiba-tiba, gak ngabarin Bunda dulu." Omel Elea. Ia sudah berdiri di hadapan Veyra.

Veyra menelan ludah. Tenggorokannya terasa begitu kering. Ia berusaha menahan sesak yang menghimpit dadanya.

Veyra memaksakan senyum. "Aku... aku takut bikin Bunda repot."

"Ahh kamu," matanya kini celingukan ke belakang Veyra. "Adik kamu mana? Dia gak ikut pulang lagi?"

Veyra menggerakkan giginya. Tangannya meremas ujung baju. "Va-Vania..."

"Bun, Vania gak ikut pulang bareng Veyra, mungkin lagi sibuk." Potong Farhan cepat.

Elea hanya mendesah kecil. "Kebiasaan anak itu. Masih kuliah sibuknya ngalahin yang udah kerja."

Elea kembali celingukan ke belakang tubuh Veyra. "Ohh, kamu bawa temen kamu. Kenapa gak bilang. Ayok-ayok masuk."

Veyra langsung menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu dengan Alvero. Ia hanya mengangguk kecil, seolah memberi isyarat, tidak apa-apa.

Mereka akhirnya masuk. Semuanya sudah duduk di ruang tamu.

Perlahan, Renzio sudah mulai sadar dari tidur dan rasa lelahnya. Ia turun dari sofa, menghampiri Veyra.

"Mama," rengeknya.

Elea langsung menatapnya heran. "Ini siapa? Kok manggil kamu Mama?"

Veyra membalas tatapan itu. Bibirnya bergetar. "Ini... ini anakku, Bun."

Elea mendecak kecil, tangannya menepuk pundak Veyra pelan. "Bercanda kamu, ya. Kamu itu belum nikah."

Veyra tidak bereaksi apapun. Ia hanya menatap Alvero dengan sorot sedih.

Alvero hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng.

Tangan Elea terus mengelus tubuh Veyra. "Bunda rasa... kamu sedikit berisi sekarang. Perut juga makin buncit aja."

"Iya, Bund." Jawab Veyra cepat. Tangannya refleks menutupi perut hamilnya.

"Kalian pasti temen deketnya Veyra, ya." Kata Bu Elea, menatap Mbak Rini dan Alvero bergantian. Lalu kembali menatap Veyra. "Kamu juga kapan nikah, lihat tuh. Temen kamu udah berkeluarga."

Veyra tidak bisa menjawab. Kalimat-kalimatnya seolah mendadak habis.

Farhan yang menyadari kebingungan putrinya, ia langsung mengalihkan perhatian. "Bund, kita ajak mereka makan dulu, yuk. Takutnya mereka laper, ini udah mau jam sembilan."

"Aduhh, Bunda lupa, Nak." Katanya sambil berdiri. "Ayok ke ruang makan. Bunda masak lumayan banyak kok."

Elea pergi lebih dulu, di susul Farhan. Sementara Mbak Rini kembali menggendong Renzio.

"Mas... sampai kapan ya Bunda kayak gini?" Katanya lirih.

Alvero melangkah mendekati Veyra. "Sabar ya. Kita juga gak bisa paksa Bunda buat ingat semuanya."

Saat hendak Veyra memeluk Alvero. Suara Elea terdengar berteriak dari ruang makan.

"Veyra, ayok. Sekalian ajak suaminya temen kamu."

Alvero mengelus pipi Veyra. "Kamu duluan, ya."

Veyra menghela napas. Ia berdiri, lalu melangkah lebih dulu ke ruang makan.

Beberapa hidangan sederhana memenuhi meja makan kaca bulat. Aroma memenuhi ruangan.

Sekarang, semuanya sudah duduk di sana. Fokus pada makanan masing-masing. Tidak ada yang banyak berbicara.

Alvero melihat piring Veyra, Ia hendak mengambilkan potongan daging ayam ke piring Veyra. Tapi ia baru ingat, di depan Elea mereka bukan suami istri, jadi memasukkan ke piringnya sendiri.

Makanan di piring mereka sudah habis. Tinggal makanan penutup dan beberapa buah-buahan.

"Vey, adik kamu di sana baik-baik aja, kan?" Tanya Elea, memecah sunyi yang menggantung.

Veyra yang sedang minum langsung tersedak. Alvero refleks mengelus punggungnya. Tapi Veyra cepat-cepat menepisnya.

"Baik-baik aja ko, Bund." Jawab Veyra akhirnya.

"Bunda seneng dengernya. Jagain dia, ya. Kamu kan Kakaknya." Elea menggenggam tangan Veyra yang dingin.

Degup jantung Veyra berhenti sesaat, lalu berdetak cepat. Rasa sesak kembali menekan dadanya. Ucapan itu seperti mengandung sesuatu yang menghancurkan perasannya.

Rasa bersalah perlahan menguasi pikirannya. Setiap kali Elea meminta dirinya untuk menjaga Vania. Tapi Veyra merasa gagal atas sesuatu yang sudah ditakdirkan.

Veyra menghela napas kecil. Ia kembali memaksakan senyum. "Iya, Bund."

"Nama kamu siapa?" Pertanyaannya beralih ke Renzio. Tangannya mengelus pundak anak itu.

"Zio, Nek." Jawab Renzio.

Matanya Elea berbinar. "Wahh, kamu pintar sekali. Nenek juga jadi gak sabar pengen punya cucu."

Veyra menunduk, ia mencengkram ujung kursi. Menelan ludah keras, seolah menelan rasa sakit hatinya. Bukan karena apa-apa, tapi ia ingin menjelaskan kalau Renzio itu cucunya sendiri. Anak kandung Veyra, dan Alvero menantunya.

Tapi percuma, sekeras apapun dijelaskan. Elea akan akan tidak percaya. Dan ia akan berusaha mengingat semua kejadian beberapa tahun ke belakang. Yang akan menyebabkan Elea stres.

Renzio menatapnya bingung ala anak kecil. "Tapi kata Papa, aku cucu Nenek."

"Iya, sini dong. Nenek mau cium kamu." Elea mengulurkan tangannya.

Tanpa ragu, Renzio langsung berhambur ke pelukannya.

Elea tertawa kecil. "Kamu ganteng banget. Mirip sama Papa. Tapi... kok gak ada campuran mirip Mama nya?"

"Aku kan anak Mama sama Papa." Renzio menunjuk Ke Veyra lalu Alvero.

Renzio duduk anteng di pangkuan Elea. "Kalian udah lama nikah?"

Alvero mengangguk kecil. "Sudah, Bun. Sekitar lima tahun."

Ingatannya masih jelas pada tahun sebelum ada kabar Vania kecelakaan. Dan beberapa bulan setelah kepergian Vania. Ingatan Elea stuck, ingatan baru selalu hilang begitu saja.

1
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
SANG
Habis dari mana sih
Pengabdi Uji
Duhh ituu bukann lakik muu 😭😭 Tapi ya netizen gimana lg ya? yaudh lah ya smg km bsa istikomen ttp jd istri yg stia y vey🙄
Pengabdi Uji
Ini siasat Regan buat dketin Veyra apa Al 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!