NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Ibu

Sebuah mobil berhenti tepat di pelataran rumah. Tidak lama, pintu terbuka dan menampilkan sosok Amisha yang turun bersama Clara. Namun Ezra mematung saat melihat siapa yang duduk di balik kemudi.

“Rafa?” seru Ezra, sedikit terkejut namun segera merentangkan tangan.

Rafa keluar dari mobil dan menyambut pelukan Ezra dengan ramah, “Kejutan, Zra,” kekehnya.

“Kapan kau kembali?” tanya Ezra saat pelukan mereka terlepas.

“Sudah beberapa hari yang lalu,” jawab Rafa santai.

Ezra pun melirik ibunya dengan tatapan bertanya, “Kenapa Mama tidak memberitahuku?”

“Namanya juga kejutan,” sahut Amisha.

Rafa menimpali, “Sekarang aku tinggal di rumah Tante. Kalau kau rindu, silakan pulang saja.”

Ezra hanya tersenyum tipis dan menepuk pundak sepupunya itu dengan kesan yang agak kaku. Perhatian mereka teralih saat Clara berlari kecil dan langsung memeluk Azizah dengan erat.

“Mbak Azizah! Clara kangen!”

Azizah membalas pelukan gadis itu dengan senyum tulus. Amisha juga mendekat, dan memeluk menantunya. Ia kemudian memperkenalkan Azizah pada Rafa.

“Rafa, ini Azizah, istri Ezra,” ucap Amisha lembut.

Keduanya saling menyapa dengan anggukan dan senyum sopan. Amisha kemudian menatap Azizah, “Rafa sudah tahu tentang keadaanmu, jadi jangan sungkan, ya.”

Tiba-tiba, Rafa melakukan sesuatu yang membuat semua orang terdiam. Tangannya bergerak lincah membentuk isyarat dengan tenang dan luwes.

‘Assalamu’alaikum, salam kenal, aku Rafa, sepupu Ezra.’

Mata Azizah melebar, binar kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya saat mengetahui ada yang bisa bahasa isyarat di keluarga mertuanya. Ia segera membalas isyarat itu dengan tangannya.

‘Waalaikumsalam, aku Azizah.’

Mereka berdua saling menebar senyum, sebuah koneksi yang tercipta tanpa suara. Ezra yang melihat itu justru menyipitkan mata. Ia menatap bergantian antara Rafa dan Azizah, terutama pada senyum manis yang Azizah tunjukkan pada sepupunya itu. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba mengusik hatinya.

“Rafa! Tante tidak menyangka kau bisa bahasa isyarat,” ujar Amisha menggebu-gebu.

Rafa tersenyum, “Saat aku di luar negeri, aku aktif mengikuti kegiatan sosial pada tuna wicara, Tante. Karena itu aku belajar bahasa isyarat agar bisa mengobrol dengan mereka.”

“Wah, Kak Rafa memang hebat!” Clara mengacungkan dua jempol yang membuat Ezra menoleh tajam pada sang adik.

“Kalau begitu, ayo masuk sekarang. Apa kita akan terus mengobrol di luar?” ajak Amisha.

“Maaf, Tante. Tapi aku harus pergi, karena ada urusan,” tolak Rafa sopan.

Amisha mengernyit, “Memangnya urusan apa yang menanti pria yang baru tiba dari luar negeri ini?”

Rafa terkekeh, “Teman masa kecilku mengajak bertemu, Tante.”

Ezra segera menyahut, “Biarkan saja, Ma. Dia pasti ingin mengeksplorasi kota ini lagi, sudah banyak yang berubah selama dia pergi.”

Rafa membenarkan ucapan Ezra. Setelah berpamitan dengan sopan pada Amisha dan melirik Azizah sekali lagi dengan anggukan hormat, Rafa kembali masuk ke dalam mobil.

Begitu mobil Rafa menghilang dari pelataran, Ezra menarik napas dalam dan menatap Azizah dengan tatapan memberi peringatan lewat mata. Tanda bahwa sandiwara sesungguhnya baru saja akan dimulai.

Mereka berempat pun melangkah masuk ke dalam rumah.

“Jadi, bagaimana kehidupan pernikahan kalian? Semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Amisha setelah duduk dengan anggun di sofa ruang tamu. Azizah dan Clara duduk di sampingnya, sementara Ezra memilih sofa tunggal.

“Baik, Ma. Jika Mama datang hanya untuk mengatakan itu, sebaiknya Mama menanyakannya lewat telepon,” jawab Ezra.

Amisha tidak membiarkan jawaban itu lewat begitu saja, “Kenapa memangnya, Ezra? Apa kau berusaha menyembunyikan sesuatu dariku?”

Ezra menghela napas panjang, matanya melirik tajam ke arah Azizah seolah memberi peringatan keras, “Tidak, Ma. Kenapa Mama selalu berpikiran buruk tentangku? Coba tanya saja Azizah kalau tidak percaya.”

Azizah dengan tenang mengetik sesuatu di layar ponselnya, lalu menunjukkannya.

‘Semuanya baik-baik saja, Ma. Jadi, Mama jangan mengkhawatirkan kami.’

Amisha menghela napas lega, “Alhamdulillah kalau memang hubungan kalian baik-baik saja. Menunggu Ezra setuju menginap di rumah itu sama saja membuang waktu, karena itu Mama memutuskan untuk menginap di sini malam ini. Kalian tidak keberatan, kan?”

Azizah melirik Ezra, meminta isyarat. Dengan berat hati, Ezra mengangguk, “Tidak apa, Ma. Lagi pula, ini rumah Mama juga.”

Amisha tersenyum puas, matanya menyapu sekeliling rumah yang tampak bersih, “Lihat buktinya, Ezra. Istri yang baik pasti tahu caranya merawat suami dan rumah dengan baik. Mama tidak salah pilih, kan?”

Ezra hanya mengangguk singkat, merasa posisinya terpojok.

Perhatian Amisha kemudian beralih pada hiasan di sudut ruangan, “Itu apa, Azizah? Mama baru melihatnya di rumah ini.”

Azizah kembali mengetik.

‘Itu potpourri, Ma. Aku membuatnya dari bunga-bunga yang sudah mulai layu. Daripada terbuang sia-sia, lebih baik dimanfaatkan.’

Amisha tersenyum lebar, lalu melirik Ezra dengan bangga, “Lihat lagi, Ezra. Ini namanya istri kreatif. Kau beruntung memiliki Azizah. Otakmu itu pasti hanya terpikir untuk membuang semuanya, sedangkan Azizah bisa menciptakan sebuah karya.”

“Ya, Ma,” balas Ezra terpaksa. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, sementara Azizah justru yang tampak seperti anak kesayangan ibunya.

Azizah kembali mengetik di ponselnya.

‘Ma, biar Azizah buatkan minum.’

“Teh melati, ya?” pinta Amisha.

Azizah mengangguk, lalu beranjak.

“Aku ikut, Mbak Azizah!” seru Clara sambil menarik lengan Azizah menuju dapur.

Amisha menatap punggung mereka dengan hangat, “Mama senang semua orang menerima Azizah. Bahkan Clara sangat menempel padanya.” Ia lalu menatap Ezra dengan pandangan serius, “Jangan sia-siakan Azizah, Nak. Dia adalah istri yang tepat untukmu.”

Ezra memaksakan senyum tipis, “Ya, Ma.”

“Sebenarnya,” suara Amisha berubah lebih rendah, “Azizah sudah memberitahuku bahwa kau masih bertukar pesan dengan Sienna.”

Darah Ezra mendidih seketika. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, tidak menyangka Azizah akan mengadu di belakangnya.

“Kau sudah menikah, Nak,” lanjut Amisha dengan nada tegas namun penuh kasih, “Aku harap kau sadar hubunganmu dengan Sienna tidak bisa berlanjut. Apa kau ingin terus menyakiti salah satu dari mereka? Putuskan Sienna dan berusahalah menerima Azizah.”

Ezra memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Jika saja bukan karena peringatan dokter mengenai kondisi jantung ibunya, ia pasti sudah meledak dan melontarkan kata-kata pedas untuk membungkam sang ibu agar tidak mencampuri urusan pribadinya. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah menelan amarah itu, membiarkan dadanya sesak oleh kebencian yang semakin tumbuh subur pada sandiwara ini.

......................

Seusai menunaikan salat Magrib, Amisha bersikeras turun tangan membantu Azizah menyiapkan makan malam.

“Sudah, Azizah, jangan sungkan. Mama sudah lama tidak masak untuk keluarga,” ucap Amisha sambil memotong sayuran dengan cekatan. Azizah sempat berusaha mencegah dengan gerakan tangan yang halus, mencoba mengambil alih pisau dari tangan sang mertua, namun Amisha hanya tertawa kecil dan menggeleng.

Azizah akhirnya mengalah, ia pun menyiapkan bumbu dengan telaten. Di sela-sela kegiatan itu, sesekali mereka bertukar senyum. Dan saat Amisha bertanya soal sesuatu, Azizah segera menjawab dengan ponselnya. Keterbatasan Azizah sama sekali tidak menghalangi kedekatan mereka sebagai mertua dan menantu.

Sementara itu, di ruang tamu, suasana jauh dari kata hangat. Ezra duduk tegak di sofa sambil menunjuk buku pelajaran Clara dengan pandangan menuntut.

“Cepat kerjakan, Clara. Jangan banyak alasan,” ujar Ezra.

Clara mengerucutkan bibirnya dan wajahnya juga ditekuk dalam, “Kak Ezra, ini malam Minggu! Kenapa harus belajar? Harusnya kita bisa bersantai atau nonton film!”

“Belajar tidak kenal waktu, Clara. Jangan jadikan malam Minggu alasan untuk malas,” balas Ezra emosi. Ia sama sekali tidak memedulikan rengekan adiknya, pikirannya justru tertuju pada percakapan dengan Amisha tadi dan keberadaan Azizah di dapur. Setiap kali mendengar suara denting alat masak atau tawa pelan Amisha dari arah dapur, rahang Ezra mengeras.

Baginya, malam ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Ia merasa terjebak di rumahnya sendiri, dipaksa menjadi kakak yang disiplin sekaligus suami yang pura-pura bahagia di bawah pengawasan ibunya. Dan di dapur sana, ia tahu Azizah sedang menikmati peran sebagai menantu kesayangan, sementara ia harus berhadapan dengan Clara yang terus mendesah kesal karena diganggu oleh ketegasan Ezra yang tidak kenal kompromi.

Tidak lama, makan malam akhirnya siap tersaji di meja makan. Menu kali ini adalah ayam kecap yang berpadu dengan cah wortel buncis yang terlihat segar. Azizah dan Amisha dengan cekatan menata piring-piring di atas meja. Setelah semua siap, Amisha memanggil Ezra dan Clara yang masih berada di ruang tamu.

Formasi duduk mereka pun terbentuk. Amisha duduk di samping Clara, sementara Ezra dan Azizah duduk berdampingan di sisi meja yang lain. Tanpa menunggu diminta, Azizah segera mengambilkan nasi dan lauk untuk Ezra. Gerakannya luwes, menunjukkan perhatian seorang istri yang berbakti. Amisha yang melihat pemandangan itu tersenyum penuh haru. Saat Azizah hendak melakukan hal yang sama untuknya, Amisha menolak dengan lembut, lebih memilih mengambil makanannya sendiri.

Acara makan malam sederhana itu pun dimulai. Namun di balik diamnya, Azizah sesekali mencuri pandang ke arah Ezra yang makan dengan sangat lahap. Azizah tahu pria itu masih menyimpan amarah sejak pagi, tepat setelah ia menyinggung soal urusan ibadah. Sejujurnya, Azizah sudah bertekad tidak akan memasak untuk suaminya hari ini jika saja mertuanya tidak datang. Sebagai bentuk protes atas sikap dingin Ezra. Namun ketika ia melihat makanan pesanan Ezra di kamar tetap utuh, hatinya mendadak luluh. Ia tidak tega melihat Ezra menahan lapar seharian penuh.

Amisha tertawa kecil melihat betapa rakusnya sang putra, “Kau ini, Ezra. Makan seperti orang yang baru saja kelaparan selama tiga hari saja.”

Clara yang duduk di samping ibunya ikut menahan tawa.

Ezra tidak menanggapi godaan itu. Ia terlalu fokus menghabiskan makanannya. Ia memang lapar setengah mati. Pertengkarannya dengan Azizah tadi pagi benar-benar mengacaukan harinya. Bahkan makanan pesanan yang sempat ia beli tadi pagi sudah ia buang agar ibunya tidak curiga melihat sampah di kamarnya. Ia merasa seperti sedang menjalani puasa yang tidak disengaja. Dan acara mogok makannya terhadap masakan Azizah kini sudah menguap begitu saja. Ia benar-benar kalah jika dihadapkan dengan makanan selezat itu.

“Masakanmu luar biasa, Azizah. Mama pasti akan sangat merindukan rasa ini setelah pulang nanti,” puji Amisha tulus. Ia kemudian menoleh pada putranya, “Ezra, kau dengar itu? Kau sangat beruntung bisa makan masakan Azizah setiap hari.”

Ezra tetap bungkam, fokus sepenuhnya pada piringnya seolah percakapan itu tidak terjadi. Azizah yang menyadari kebisuan suaminya segera meraih ponsel.

‘Kalau Mama ingin makan masakanku lagi, Azizah bersedia kapan saja datang untuk memasakkannya untuk Mama.’

Amisha tampak sangat antusias, “Benarkah? Wah, kalau begitu kapan-kapan kalian harus pulang ke rumah Mama, ya! Kita masak bersama-sama.”

Azizah melirik Ezra yang masih tidak memberikan respon apa pun. Dengan perasaan ragu dan sedikit cemas, Azizah akhirnya mengangguk kecil kepada Amisha, tanpa tahu apakah suaminya akan setuju dengan ide itu.

1
Lilik Juhariah
waduh pasti shiena kan belum tertangkap
Lilik Juhariah
yewwah tapi kenapa milih shiena SBG pacarmu , gak ada di dalam ciri ciri bunga westerina
Ariany Sudjana
waduh, siapa yang menculik Azizah? semoga Azizah baik-baik saja dan bisa diselamatkan. mana Azizah ga bisa bicara lagi /Sob/
Ariany Sudjana
wah semangat yah Azizah, kamu harus tetap bersemangat untuk bisa melanjutkan studinya
Cici Sri Yunita
bagus
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa bersuara lagi dan jadi wanita mandiri
Lilik Juhariah
Ezra Ezra Ezra
Lilik Juhariah
syukurlah sudah lebih baik hubungan mereka
Ariany Sudjana
hahaha Ezra bucin akut
Ariany Sudjana
puji Tuhan, kehidupan rumah tangga Ezra dan Azizah semakin membaik. ayo semangat Ezra untuk bisa berjalan dengan baik, dan Azizah juga semangat untuk ikut terapi, supaya bisa berbicara lagi
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa buat Ezra sholat dan menjalankan perintah NYA
Lilik Juhariah
baguslah , Ezra kembali jadi manusia lagi , bukan robot yg gak punya hati Krn dendam
Ariany Sudjana
iya, semoga Azizah bisa kembali berbicara, supaya tidak harus selalu membalas dengan hp setiap pertanyaan dari Ezra atau orang lain
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Ezra sudah boleh pulang, tinggal Azizah nih, semoga bisa kembali berbicara, supaya komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar
Lilik Juhariah
Zizah istri Sholehah, tiap untaian kata mu bikin aku tercengang, dalam banget maknanya , aku sukaaa
Lilik Juhariah
terus dirimu dg shiena , sampe segimana hubunganmu sampe jd orang bodoh Zra
Ariany Sudjana
semangat terus yah Ezra untuk sesi terapi, bersyukur kamu punya istri yang bijak seperti Azizah, bukan pelacur murahan kesayangan kamu itu
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Ezra dan Azizah semakin membaik. seandainya Azizah bisa bicara, komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar dan rumah tangga mereka bisa lebih baik
Zia Zee
Terimakasih sudah up ya kak author🥰
Ariany Sudjana
asli part ini /Sob/ Azizah sangat dewasa dalam berpikir, semoga hubungan kalian semakin membaik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!