Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Tuduhan
Bab 15
Tuduhan
Arjun langsung berdiri dan menatap ke sekeliling. Dia mencoba mencari pohon mangga yang ada dalam video tersebut.
"Di mana tempatnya Roy?" Tanyanya setelah tak menemukan pohonnya.
"Masih maju lagi ke sana."
"Ayo buruan temenin gue ke sana," pinta Arjun.
"Sabar dikit napa. Ini kopi gue belum dibayar, talangin dulu dong."
Hmm
Dengan terpaksa Arjun mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang 20.000. tentu saja tangan Roy dengan mengambil uang tersebut dan dia pun langsung membayar.
"Sekarang mendingan lo ikutin gue," titah Roy.
"Ya udah buruan jangan lama-lama gue udah nggak sabar soalnya,"
Akhirnya Roy dan Arjun meninggalkan warung kopi tersebut dan seperti yang dikatakan oleh Roy Arjun mengekori sahabatnya itu di belakang menuju ke lokasi yang tadi.
Saat tiba di depan rumah kontrakan yang sama persis dengan video, Arjun langsung bergegas menuju ke pintu. Tangannya berangkat hendak mengetuk pintu tapi dicegah oleh Roy.
"Jangan terburu-buru, Jun. Sabar napa, ini malem loh." Roy memberi peringatan terlebih dahulu.
Sedangkan Arjun seolah tak peduli karena dia sudah tidak sabaran untuk bertemu dengan Mila dan membawa wanita itu pulang ke rumah mereka.
Tok
Tok
Tok
Sekali, dua kali dan yang ketiga kalinya pintu terbuka menampilkan wajah Mila yang mengantuk. Begitu wajahnya mendongak dan berhadapan dengan wajah Arjun, Mila langsung kaget.
"Mau ngapain ke sini?" Sinis Mila.
"Mas mau ngajak kamu pulang sayang," ucap Arjun dengan lembut.
"Jangan mimpi, pergi sana!" Usir Mila dan dia langsung menutup pintu tapi tangan Arjun lebih cepat menghadangnya.
Mila pun berdecak kesal dan Dia berusaha melepaskan tangan Arjun. Tapi tenaga Arjun yang lebih kuat sehingga pintu itu terbuka kembali dan Mila di tarik keluar oleh pria itu.
"Ayo ikut pulang, kau tidak boleh seperti ini."
"Tidak mau, lepas!" Ronta Mila.
Plak
Tamparan Arjun mendarat sempurna di pipi Mila hingga meninggalkan bekas jari di wajahnya. Mila langsung memegangi pipinya yang terasa sangat panas.
"Kemasi barangmu sekarang. Aku tunggu lima menit." Titah Arjun.
Mila menggeleng, dia tak ingin ikut pulang. Dia sudah nyaman di sini.
"Baik kalau kau tak ingin pulang."
Arjun menyeret Mila masuk ke dalam, sementara bila masih berusaha terus meronta agar bisa lepas dari Arjun.
Karena keributan kecil itu beberapa tetangga kontrakan ada yang keluar dan menyaksikan keributan mereka dan pada akhirnya Mila mau masuk ke dalam bersama Arjun.
"Buju buset dah, kejam amat tuh jadi laki," cibir Roy yang sejak tadi hanya sebagai penonton dari bawah pohon sambil ngudud.
Di dalam rumah, tubuh Mila di hempaskan ke kasur. Sedangkan Arjun mulai merangkak naik mendekati Mila.
Kenapa kau memilih kabur dari rumah, hah? Apa sudah bosan hidup, hmm." Arjun mencengkram leher Mila.
Mila hanya bisa menggeleng dengan mata berlinang.
"Kalau ditanya itu jawab." Arjun mencengkam rahang Mila dengan sangat kuat.
"Sakit, Mas. Lepas," lirih Mila.
"Sakit, ya ... Masih belum mau jawab?" Bentak Arjun.
"Aku capek," ungkap Mila dengan suara gemetar. Tubuhnya seperti menggigil saat Arjun melepas ikat pinggang.
Mila menggeleng kuat agar Arjun mengehentikan aksinya. Namun seolah tak peduli Arjun pun mulai mengayunkan ikat pinggang tersebut ke tubuh mika sehingga suara klepek-klepek terdengar sangat nyaring.
Tubuh Mila meringkuk dan mengguling ke kiri ke kanan menahan rasa sakit yang Arjun berikan. Ikat pinggang itu masih terus diayunkan oleh Arjun.
"Hah, dengar kataku. Jadilah istri yang penurut seperti biasanya. Kenapa selalu membangkang!" Seru pria itu.
Mila tak mampu lagi menjawab, bibirnya seolah kelu. Menahan luka, sakit dan juga sesak menjadi satu dalam dirinya.
Tak hanya sampai di situ saja mata Arjun menelusuri tubuh Mila yang tampak merah-merah bekas cambukan ikat pinggangnya tapi hal itu justru membangkitkan hal lain dalam diri Arjun.
Tangan Arjun terulur untuk menyentuh paha Mila yang tersingkap memberikan usapan lembut dan naik ke pangkal pahanya.
"Sayang sekali kalau hanya dianggurin," bisik Arjun yang mulai memberikan sentuhan di titik tertentu.
Sementara Mila hanya bisa menggeleng lemah untuk menolak akan hal yang Arjun lakukan. Namun pria itu tak peduli dan dia terus melanjutkan aksinya lalu menggauli Mila dengan paksa.
Setelah mendapatkan pelepasan Arjun langsung beranjak dan mencari kamar mandi yang posisinya ada di dapur.
mila terisak lirih dan sudut matanya menatap ke arah ujung kaca meja rias yang di mana di sana baru dia pasang kamera kecil untuk penjagaan.
"Tunggu saja pembalasanku mas Arjun, akan aku pastikan ini yang terakhir kau melakukan hal keji kepadaku."
Mila beringsut turun dari tempat tidur dan Arjun telah kembali. Di tatapnya wajah Mila yang tampak bengkak, dan tubuh lebam akibat ulahnya.
"Ini sakit ya, sayang?" Usap Arjun pada lengan Mila.
Mila hanya meringis sambil menghindari sentuhan itu. Rasanya sangat muak dengan tingkah pria yang selalu saja sesuka hati. Entah kenapa dia dulu bisa jatuh cinta pada sosok Arjun.
Menyesal? Tentu, Mila sangat menyesal dari awal hingga saat ini kenapa masih bertahan. Ternyata, janji suci itu hanya di bibir saja. Tak ada ketulusan dan cinta yang benar-benar membuatnya bahagia.
Karena Mila tak pernah merasakan sedikit saja kebahagiaan yang Arjun berikan dalam rumah tangga mereka.
"Siapin kopi." Arjun melenggang menuju sofa ruang tamu. Dengan santainya dia menyalakan sebatang rokok sembari menatap Mila yang berjalan tertatih masuk ke kamar mandi.
Tak berapa lama, Mila membawa secangkir kopi instan yang memang dia beli jika kepengin ngopi.
"Duduk sini," titah Arjun menepuk samping kursinya.
Dia minta di temani, dan Mila pun menurut. Meski terpaksa. Untuk mengeluarkan suara rasanya sudah tidak ingin.
Baru saja Mila duduk, ponselnya berbunyi di dalm kamar. Dia pun hendak bergerak tapi Arjun menahannya dan pria itu yang masuk ke kamar untuk mengambil ponsel Mila.
Panggilan telepon dari bos Andra dan Arjun menggeser tombol hijau.
"Halo, Mil. Kenapa pesanku tidak kau balas. Besok kamu siap'kan?" Tanya Andra langsung.
Mila menatap nyalang pada Arjun yang telah mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari atasannya.
Klik
"Kau mau pergi? Kemana? Sama siapa saja?" Tanya Arjun curiga.
Pria itu mengecek pesan masuk di ponsel Mila yang di kirim oleh Andra.
"Cih. Perhatian sekali bosmu ini. Kau ..." Arjun menatap tajam pada Mila. Memajukan wajah hingga jarak mereka selisih lima senti.
"Kau selingkuh?" Lanjut Arjun.
"Jangan sembarangan bicara Mas. Aku tidak melakukan apa-apa, atas dasar apa kau menuduhku seperti itu?" Akhirnya Mila bersuara karena dirinya merasa terpojok oleh kata-kata pedas Arjun.
Arjun tersenyum miring, "jangan pernah berani kau lakukan itu. Kalau kau tidak mau mati di tanganku." Gertak Arjun.